HIKAYAT DARI BINTAN

BERANGKAT !!!

Jumat siang ini akan menjadi waktu yang bersejarah bagi saya. Rencana untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bintan, Kepulauan Riau akan segera menjadi kenyataan dalam beberapa menit kedepan. Dan inilah hari Jumat terakhir saya di kota Yogyakarta karena sore ini saya dan rekan-rekan KKN saya akan berangkat menuju Bintan sana. Ah, Pulau Bintan, akhirnya lima bulan persiapan itu selesai juga teman. Dan pukul satu siang ini di parkiran jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), saya masih menanti kedatangan rekan-rekan saya.

Saya teringat ketika pertama kali menginjakan kaki di kampus perikanan ini hampir empat tahun yang lalu. Ah, masa itu telah lewat dan berlalu. Seperti senandung nasyid dari Suara Persaudaraan, “Sungguh Indah, terlalu manis, untuk dilupakan, sungguh mesra, meski beriring ketegangan”. Saat-saat menjadi mahasiswa baru masih terngiang jelas di pikiran saya. Hampir empat tahun semuanya sudah berlalu. Ah, siapa sangka kalau sore ini, saya dan rekan-rekan saya akan menyeberangi Pulau Jawa untuk kemudian singgah dan berkarya selama dua bulan di Pulau Bintan. Ah, nama pulau itu pun baru saya dengar Januari silam ketika akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok KKN Bintan. Masih asing terdengar di telinga saya.

Man, saya ikutan deh KKN di Bintan”, akhirnya saya memutuskan untuk KKN di Bintan sana. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan masukan, saya pun harus segera memutuskan untuk bergabung atau tidak. Firman, si ketua kelompok atau kita menyebutnya koordinator mahasiswa tingkat unit (kormanit) yang juga putra daerah Bintan pun dengan senang hati menerima keputusan saya itu.

Yah, gak apa-apa ‘Nji. Kita masih punya waktu kurang lebih lima bulan untuk mempersiapkan semuanya. Mohon kerja samanya yah ‘Nji”, jawab Firman saat itu juga ketika kebulatan tekad untuk bergabung di kelompok KKN Bintan saya utarakan. Bukan tanpa alasan saya memutuskan untuk bergabung. Setidaknya saya memiliki tiga alasan kenapa akhirnya saya bergabung. Pertama, ini adalah kesempatan bagi saya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di daerah yang baru, di daerah sumatera yang masih teramat asing bagi saya. Kedua, saya ingin benar-benar rehat dan berhenti sejenak dari kepenatan di kampus. Mencari pengalaman baru dengan teman-teman baru pula. Istirahat dari kegiatan akademik dan amanah organisasi. Saya hanya minta waktu dua bulan untuk mencoba memberikan manfaat di tengah-tengah masyarakat langsung. Ketiga, Firman si kormanit ini juga memiliki jaringan dengan pemerintahan di daerah sana. Yah, ayahnya adalah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, cukuplah itu menjadi sedikit jaminan. Ketiga alasan inilah yang akhirnya menguatkan diri saya untuk kuliah dan bekerja secara nyata di Pulau Bintan sana.

Dan siang ini, di parkiran jurusan perikanan, datanglah satu per satu rekan KKN Bintan saya. Beberapa orang memang berencana utuk berkumpul di jurusan perikanan UGM terlebih dahulu, untuk kemudian menuju Terminal Jombor dan berangkat dengan bis ekonomi menuju Jakarta. Perjalanan yang pastinya akan melelahkan teman. Kita akan berangkat bersama menuju Pulau Bintan. Ah, sebuah perjalanan yang pastinya akan menyenangkan teman. Bersama-sama dengan dua puluh empat teman yang lain kita akan memulai perjalanan dari Terminal Jombor, Yogyakarta, kemudian singgah sementara di rumah salah seorang anggota kelompok KKN Bintan di Cinere, Jakarta, Neni namanya, lalu ke Pelabuhan Tanjung Priuk dan kemudian berlabuh di Pulau Bintan sana. Ah, perjalanan yang pastinya akan mengesankan bagi saya. Dan jika ini semua terjadi, ini akan menjadi perjalanan terjauh dalam sejarah hidup saya, setelah perjalanan ke Pulau Bali dan Kepulauan Seribu tepat setahun yang lalu.

Saya, Tama, Yanti, Dito, Yoga, Akbar HI, Anjar, Adiba, Afi, Taufik dan Akbar dengan truk pengangkut barangnya akhirnya telah siap berangkat menuju tempat transit pertama, Terminal Jombor. Tapi Pak Probo, sang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), sedang ada tamu di ruangannya, bagaimana ini teman. Ah, mau tidak mau kita pun terpaksa masuk ke ruanganya dan berpamitan memohon doa restu. Dan ternyata saya mengenal tamu bapaknya, beliau adalah dosen Biologi Universitas Atmajaya Yogyakarta yang pernah bersama saya menjadi nara sumber pada Seminar Lingkungan di SMP Pangudi Luhur I Klaten, Pak Boy namanya.

Ah, Panji, semoga apa yang kau cita-citakan dan kau impikan dapat menjadi kenyataan. Seperti beberapa pesan singkat dari teman-teman yang masuk dalam inbox handphone saya menjelang pemberangkatan siang ini.

Asw. Nji.. Slmt brgkt KKN.. Slmt bkontribusi nyata bg masyarakat!

Prima Psikologi’05

Asw. Bos, gw dapat salam lo dr Prima.. curang lo cm nelp Prima! Berangkat kkn jam brapa? Hati2.. jangan bikin malu dgn mabuk laut yo!

Rezki Teknik Mesin’04

Asslm. Slamat KKN. Smg slamat smpe tujuwn. Smg KKNny lancar. Smg dberikan kekuatan iman. Smg dberikan kesehatn dan terakhir, semoga msh peduli amanah di kampus

Chandra Agribisnis’05

Dan bismillah, tepat pukul 14.30 WIB, truk KKN Bintan bergerak meninggalkan parkiran jurusan perikanan menuju Terminal Jombor. BERANGKAT !!!

Mastori

Dalam sebuah perjalanan, menyusuri pantai utara.” Ah, senandung itu begitu mengharu birukan hati saya setiap kali saya melakukan perjalanan jauh. Dan kali ini, untuk yang kesekian kalinya, hati saya pun bersenandung ria melantukan senandung ini. Ah, dalam perjalanan menuju Terminal Jombor inilah saya, Tama, Akbar HI, Anjar, Yoga dan Taufik berbincang penuh canda dan tawa. Tidak ada satu pun dari kita yang akan menyangka kalau perjalanan ini akan menjadi kenyataan.

Akhirnya, jadi juga kita berangkat KKN!”, seru Anjar setengah tidak percaya.

Aku bakal Jogja-Sick nih selama di Bintan!”, kata Taufik tidak kalah serunya.

Dan Terminal Jombor pun akhirnya menjadi tempat transit kita yang pertama. Tepat pukul tiga akhirnya kita tiba disana. Sudah ada Wahyu, Sari, Bayu, Neni dan Mastori disana. Ah, Mastori, dia adalah anggota kelompok KKN Bintan yang paling menjadi sorotan kita semua. Bisa dikatakan, dia adalah logo dari KKN Bintan kita kali ini. Dan menjelang keberangkatannya ke Bintan kali ini, dia pun bercerita panjang lebar kepada saya tentang pengalaman serunya beberapa jam yang lalu. Ah, Mastori, dia kehilangan dompet beberapa jam menjelang keberangkatan. Kalau kata si Taufik kepada Mastori, “Tenang ‘Mas, setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Dan semoga dengan cobaan ini, KKN kita di Bintan nanti akan dimudahkan!”

Saya pun mengamini dalam hati. Bukankah di waktu Ashar itu, para malaikat selalu mendengarkan doa para hamba Allah. Dan doa dari Taufik, Mastori dan saya, semoga saja didengar oleh malaikat-malaikat yang menaungi langit Terminal Jombor saat itu. Semoga saja Allah mengganti yang hilang itu dengan yang lebih baik. Semoga saja cobaan yang diterima Mastori menjadi penebus segala kesulitan yang nanti akan dihadapi kelompok KKN Bintan ini. Semoga ini adalah yang terbaik untuk Mastori, barangkali saja ini adalah tahapan yang harus dilalui oleh seorang Mastori untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Ah, Mastori. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia pun harus berpikir ekstra agar dia bisa tetap berangkat KKN, ketemu atau tidak dompetnya nanti. Dan yang menarik, setelah menyelesaikan urusan dompetnya itu, sesampainya Mastori di Terminal Jombor setelah diantar teman kos-nya (pantas saja, ketika saya ke kos-nya, dia sudah tidak ada), dia malah bertemu dengan seorang bapak yang juga baru saja kehilangan dompetnya, Pak Mulyanto namanya. Ah, sesama orang yang baru kehilangan dompet akhirnya bertemu. Entah apa yang dirasakan oleh kedua orang yang memiliki kesamaan nasib itu.

Dan inilah hebatnya seorang Mastori. Putra Cirebon dari kampung nelayan ini memang memiliki hati yang teramat mulia teman. Dia dengan senang hati menawarkan bantuan kepada Pak Mulyanto tersebut.

Maaf ‘Pak, kira-kira berapa uang yang bapak butuhkan untuk pulang ke rumah bapak?”, tanya Mastori.

Si Bapak yang berasal dari Semarang dan ingin menuju Boyolali itu hanya butuh lima belas ribu rupiah saja katanya. Dan Mastori memberi uang tiga puluh ribu yang ada pada bapaknya begitu saja. Memang sengaja dilebihkan oleh Mastori. Mengutip perkataan si Ikal, tahukah kawan, kalau uang tiga puluh ribu yang dimiliki Mastori adalah uang yang baru saja beliau pinjam dari temannya sesaat sebelum berangkat ke Terminal Jombor. Dan sekarang uang itu sudah beralih tangan ke Pak Mulyanto. Ah, luar biasa baiknya teman saya ini. Dan saya sama sekali tidak heran kalau seorang Mastori akan melakukan hal ini, karena Mastori yang saya kenal memang seperti ini. Dia tidak pernah berpikir panjang ketika menolong orang. Dia tidak pernah memiliki prasangka kepada seseorang yang akan ditolongnya. Dialah Mastori, teman seperjuangan saya di jurusan perikanan yang tidak ada duanya. Unik dan menarik.

Dan Allah memang Maha Adil. Kelanjutan cerita dari Mastori hampir seperti di novel-novel dan sinetron-sinetron. Pak Mulyanto bercerita kalau beliau memiliki tiga anak putri, dan salah satunya sedang menempuh kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Bapaknya bahkan menawarkan kepada Mastori, kalau singgah di Semarang, berkunjunglah sejenak di rumahnya. Ah, Mastori. Dia telah memiliki satu kunci menuju Semarang. Dan Allah memang Maha Pemurah, tiga puluh ribu rupiah yang Mastori investasikan untuk menolong Pak Mulyanto langsung dilipat gandakan oleh Allah. Mastori tidak akan menyangka kalau kebaikannya telah dibayar tunai dengan tiket menuju Semarang. Ah, saya yakin ketika menolong si bapak, Mastori tidak pernah berpikir kalau si bapak itu punya anak putri atau tidak. Ah, Mastori memang terlampau polos. Saya dan Taufik yang mendengar ceritanya setelah shalat Ashar di mushola Terminal Jombor pun hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil.

Dan bagi diri saya pribadi, karena selama dua bulan KKN nanti saya berada dalam satu sub unit dengan Mastori, di Kelurahan Kawal sana, tentunya akan banyak cerita menarik dari si Mastori. Ah, Mastori, Mastori, nama itu akan menjadi fenomena tersendiri dalam KKN Bintan kali ini.

Dalam Sebuah Perjalanan

Akhirnya tepat pukul 16.15 WIB, bis yang dinanti saya dan teman-teman KKN Bintan berangkat meninggalkan Terminal Jombor. Ramai sekali teman bis yang kita tumpangi ini. Mirip seperti kegiatan transmigrasi bedol desa. Dengan bawaan yang tidak sedikit, dengan total 25 orang peserta minus Firman si kormanit yang sudah berangkat terlebih dahulu karena harus mempersiapkan beberapa hal, perjalanan KKN kali ini benar-benar beda teman. Tidak seperti dengan KKN-KKN lainnya di seputaran Yogyakarta, kita telah mengambil resiko untuk berkelana lebih jauh, tidak kepalang tanggung bahkan, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Ah, perjalanan yang akan selalu terngiang nantinya ketika semuanya nanti telah usai dan berlalu. Perjalanan yang menakjubkan teman.

Lima baris terdepan di bis kita miliki bersama. Dengan dua kursi di sebelah kiri dan tiga kursi di sebelah kanan, kita memang memiliki jatah lima baris terdepan untuk 25 orang penantang tergigih yang tersisa. Baris pertama, ada Yoga, Akbar, Icak, Wahyu dan Bagus. Baris kedua ada Andri, Tama, Adiba, Fairus dan Erni. Baris ketiga ada Akbar HI, saya, Neni, Erhan dan Yanti. Baris keempat ada Desi, Fery, Sari, Ida, Afi. Baris kelima ada Bayu, Dito, Anjar, Taufik dan Mastori. Tepat 25 orang teman. Dengan masing-masing gaya dan karakter yang berbeda-beda, perjalanan menuju ibukota Jakarta ini menjadi sebuah perjalanan yang ceria.

Jalan Raya Magelang pun dilewati dengan berbagai rasa oleh kita semua. Ah, saya mungkin orang yang paling senang dengan perjalanan penuh nostalgia ini. Ketika singgah di Terminal Jombor, saya mengingat saat bersama-sama teman Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UGM pada saat mengikuti Daurah Militansi tiga tahun yang lalu. Dan Jalan Raya Magelang seperti membentangkan sejuta kenangan dalam hidup saya. Sudah berkali-kali saya melintasi jalan yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang ini. Saat bersama teman-teman Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP), saat bersama teman-teman Partai Bunderan UGM, saat bersama teman-teman Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP), saat bersama teman-teman Kelompok Studi Fakultas (KSF) Pertanian, Klinik Agro Mina Bahari (KAB), saat bersama teman-teman Kelompok Studi (KS) se-UGM dan saat bersama teman-teman KKN Bintan kali ini.

Ah, saya menikmati perjalanan yang begitu mengharu birukan hati ini teman. Perjalanan yang juga cukup menghibur bagi saya, ketika Pak Supir menyetel DVD lagu-lagu Koes Ploes yang telah di gubah. Ah, lucu sekali teman. Belum lagi ketika kita singgah di Terminal Drs. Prajitno, Muntilan dan Terminal Magelang Kota. Ramai sekali teman. Bis ekonomi ini semakin ramai dengan riuh rendah suara pedagang dan pengamen jalanan. Semuanya mengadu nasib dalam bis ekonomi ini. Mencari sedikit rezeki demi sesuap nasi. Ah, bis ekonomi telah menjadi sumber pencaharian sendiri bagi mereka, para pedagang dan pengamen. Dan bagi kita, bis ekonomi ini akan menjadi sarana transportasi yang akan mengantarkan mimpi kita dari Yogyakarta menuju Jakarta terlebih dahulu untuk kemudian menyebrangi lautan menuju Bintan.

Dan inilah pertama kalinya saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta dengan bis ekonomi. Ah, selalu ada yang pertama memang. Dan sial, di tengah perjalanan, handphone saya pun mati kehabisan baterai. Saya pun memilih untuk tidur sejenak dengan ditemani oleh musik dangdut yang kini menjadi teman sejati Pak Supir bis ekonomi kita.

Melintasi Purworejo lalu Purwokerto, kita pun singgah kembali untuk makan malam dan menunaikan ibadah shalat Maghrib dan Isya pada pukul 21.30 WIB di daerah Karanganyar, Kebumen. Saya pun langsung menuju mushola untuk kemudian menjamak shalat Maghrib dan Isya bersama Andri, Anjar, Akbar HI dan beberapa penumpang yang lain. Tak lupa saya mengisi ulang baterai handphone saya untuk kemudian saya mendapatkan beberapa pesan dari teman saya. Ternyata Ramadhan tinggal dua bulan lagi teman.

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban, wa balighna ramadhan.. Teman2, sambut kedatangan ramadhan (2 bulan lg) skrg dah 1 rajab. Semoga kita b’temu ramadhan..

Rezki Teknik Mesin’04

Ada pula berita gembira yang juga harus dipertanggungjawabkan dari kampus tercinta. Ah, tiga orang menginfokan hal yang sama teman. Dan kali ini, saya pun hanya bisa membantu lewat doa teman.

Ketua Bajak Tani Akh Ichsan dari Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP). Mohon dukungan seluruh kader dan minta doanya. Intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu). Muhammad ayat 7. Ksbran adl sbuah napas pnjg, tdk tbatas. Nmun, realitany, sabar bbatas pd ilmu qt. Shbt, ksbrn bknlh pnntian mnnunggu dtgny cita2, tp ksbrn adl kerj keras dan ktegaran. Ishbiru!!!

Hari KMMP’05

Asw. Info terbaru. Ketu Panitia Ospek Bajak Tani. M. Ihsan R. Tlng doakan dan beri semangat- jzk

Wahyu KMMP’05

asw. Astaghfirullah.. alhamdulillah.. info tbaru. Ketua Panitia Bajak Tani diamanahkan k qt. Mhn doa, dukungan dan smangat untk M. Ihsan BP’06 dan tmn2 disini. Jzklh. Was

Anis KMMP’04

Berita-berita yang menggembirakan itu pun seperti menjadi bumbu pelengkap pada saat saya makan malam di Warung Lestari yang ada di lokasi pemberhentian sementara ini. Juga menjadi pengantar tidur saya ketika bis ekonomi ini melanjutkan perjalanan panjangnya. Hari sudah semakin larut dan malam. Saya dan 24 orang teman-teman saya pun tertidur lelap dalam perjalanan menuju Jakarta ini. Dan ketika saya terbangun tepat ketika waktu Subuh, saya pun shalat di bis untuk kemudian memutuskan pulang terlebih dahulu ke rumah. Kembali ke tanah air kedua saya, tempat saya sekolah dan dibesarkan, Jakarta.

Kembali ke Jakarta

Dan saya tidak akan menyangka akan kembali ke tanah air kedua saya ini. Jakarta memang telah menjadi tanah air kedua saya setelah Kuningan, Jawa Barat, tanah kelahiran saya. Jakarta telah menjadi tempat saya dibesarkan dan bersekolah. Ah, memang saya bukan asli Jakarta, tapi belasan tahun hidup di Jakarta telah membentuk karakter saya sebagai orang Jakarta. Dan saya pun bangga menjadi orang Jakarta, seperti bangganya saya dengan Kuningan dan Yogyakarta yang telah menjadi tanah air ketiga saya. Ah, akhirnya saya kembali ke Jakarta teman.

Dan Jakarta kali ini tidaklah jauh berbeda teman. Saya, Fery, Akbar dan Tama memutuskan untuk turun di Bekasi Barat, tidak ikut transit bersama teman-teman KKN Bintan yang lain di rumah Neni. Tama ikut Akbar untuk singgah di rumahnya Akbar. Fery memang tinggal di Bekasi dan saya sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi jauh ke Pulau Bintan sana. Ah, Jakarta pagi hari memang masih terasa tenang dan sepi. Dan di sini, di dekat Metropolitan Mall, Bekasi, telah berdiri banyak mall yang lain. Ah, saya tidak hafal nama-namanya. Luar biasa memang proses modernisasi itu terjadi. Semuanya berkaca pada barat. Pembangunan fisik yang jor-joran. Budaya konsumtif yang semakin menjadi-jadi dengan banyaknya mall. Dan tentunya, semua telah merubah gaya hidup dan cara berpikir banyak orang, baik tua, muda maupun anak-anak. Ah, beruntung saya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta.

Dan saya teringat ketika saya masih kecil dan baru pulang mudik dari Kuningan. Kita turun di lokasi yang sama, Bekasi Barat. Dan kali ini pun saya mengulanginya kembali. Tapi kali ini sendiri, tidak bersama ayah, ibu dan adik saya, Fajar yang telah lama meninggal. Kali ini saya sendiri dan mencoba menikmati kesendirian kali ini. Ah, waktu yang tepat untuk merenung teman. Dua puluh dua tahun sudah saya diberi kesempatan hidup oleh Allah. Entah kapan hidup ini akan berakhir. Ah, saya harus mempersiapkan bekal akhirat juga teman. Tidak hanya urusan dunia yang harus saya selesaikan, saya pun mencoba untuk menyeimbangkan antara akhirat dan dunia. Ah, saya teringat almarhum adik saya, Fajar Arohman, yang berpulang pada usia teramat dini, hanya 17 tahun beliau hidup di dunia.

Fajar Arohman. Dialah adik pertama saya. Sahabat dan lawan terbaik saya ketika bermain bola, bulu tangkis dan catur. Ah, dia begitu tangguh teman. Kita seimbang dan saling mengalahkan. Saya teramat bangga memiliki adik seperti dia. Dan janjinya untuk menyusul saya kuliah di Yogyakarta saat itu akhirnya hanya menjadi mimpi. Ketika kelas tiga SMA, beliau menderita penyakit Guillein-barre Syndrome atau GBS. Penyakit yang diderita selama tiga bulan lamanya di ICU Rumah Sakit Islam Jakarta akhirnya mengakhiri hidupnya. Jujur. Jakarta saya berduka kala itu. 8 Januari 2006 menjadi hari kepergiannya. Ah, saya telah kehilangan Jakarta saat itu. Tanah air kedua itu telah mati dan pergi. Sama seperti ketika kakek saya meninggal 8 Januari 2005 di Kuningan. Tanah air pertama saya pun telah mati. Ah, semoga Yogyakarta saya pun tidak pergi dan mati dengan tiadanya orang-orang yang saya cintai karena Allah. Ah, kematian, siapa yang tahu kapan itu akan terjadi?

Dan mikrolet bernomor 26 itu pun mengantarkan saya pulang dari Metropolitan Mall hingga Pangkalan Jati. Menyusuri Kali Malang yang terbentang di sebelah kiri jalan raya, saya seperti menyusuri kembali jutaan kenangan yang pernah saya lalu setiap saya melalui jalan ini. Ah, apakah saya terlalu melankolis? Saya pun tidak bisa menjawabnya teman. Perjalanan itu benar-benar menenangkan saya. Hati saya gerimis. Ah, sebelum akhirnya saya pergi jauh ke Pulau Bintan sana, saya harus berpamitan kepada ayah dan ibu saya, juga kelima adik saya. Saya memang anak pertama dari tujuh bersaudara. Masih ada kelima adik saya yang lain setelah Fajar Arohman. Masih ada Agung Arohman, Gusti Arohman, Sri Endah Lestari, Bangkit Arohman dan Taufik Arohman. Ah, saya pun akan bersua dengan keramaian di rumah saya yang terkadang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Ah, Jakarta saya memang kadang juga berbeda teman. Tetapi saya menikmatinya.

Dan sesampainya di Pangkalan, setelah membayar empat ribu rupiah, saya memutuskan untuk berjalan saja menuju rumah saya. Ah, hanya sekitar lima belas menit waktu yang dibutuhkan. Dan memang sengaja saya memilih berjalan. Mengenang kembali perjalanan. Ah, Jakarta memang begitu berkesan bagi saya. TK saya di sana. Enam tahun sekolah dasar pun saya habiskan di Jakarta. Tiga tahun sekolah menengah pertama dan tiga tahun sekolah menengah atas saya masih di Jakarta. Maka wajar jikalau Jakarta begitu memberikan kesan bagi saya. Walaupun Jakarta telah mati 8 Januari 2006 silam, saya masih tetap mencintainya.

Dan alhamdulillah, sesampainya saya di rumah, saya masih melihat ayah, ibu dan adik-adik saya yang sehat wal afiat. Saya masih merasakan kehangatan keluarga. Ada berita senang dan juga berita duka. Ah, adik saya Bangkit tidak lulus seleksi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri tahap pertama. Sebagai kakak, jujur saya kecewa, dan memang tidak ada yang perlu disalahkan teman. Masih ada seleksi tahap kedua, kita berharap dan berdoa saja di sana. Dan saya pun masih dapat menikmati kenikmatan masakan ibu saya. Ah, saya memang sengaja pulang karena dua bulan ke depan saya pasti akan merindukan masakan beliau. Jakarta sabtu ini memang penuh cinta teman.

Dan beberapa jam menjelang keberangkatan saya ke Pelabuhan Tanjung Priuk, saya masih berada di depan laptop untuk bercerita dan bercengkerama lewat dunia tulisan yang penuh warna. Ah, saya tidak akan pernah tahu apakah saya akan menginjakkan kaki di tanah Bintan sana dengan selamat atau tidak. Apakah sesampainya saya di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, saya masih dapat bertutur lewat tulisan seperti ini. Ah, doakan saja teman. Insyaallah, selepas Maghrib nanti, Akbar dan Tama akan menjemput saya di Naga Swalayan, Jatiwaringin (lima menit dari rumah saya). Dan perjalanan dari Jakarta menuju Bintan, apakah tertulis dalam kitab takdir-Nya. Ah, sekali lagi, saya mohon doanya teman-teman. Semoga nantinya saya dapat kembali ke Jakarta. Semoga teman.

Semalam di Tanjung Priuk

Tepat pukul 19.20 WIB, Akbar dan Tama menjemput saya di depan Naga Swalayan, Jatiwaringin. Ah, sedih rasanya meninggalkan keluarga di Jakarta, tetapi apa daya, perjuangan masih harus dilanjutkan dan kerinduan pada keluarga pun kembali dikorbankan. Pelabuhan Tanjung Priuk yang terletak di utara Jakarta akhirnya akan menjadi titik ke pemberangkatan menuju pulau impian, Pulau Bintan.

Ah, tapi itu pun hanya rencana teman. Sesaat setelah saya naik mobilnya Akbar, Tama menginformasikan bahwa pemberangkatan ditunda satu hari, ada kerusakan teknis di kapal. Ah, rencana untuk bermalam di kapal pun sirna. Bayangan menikmati sunrise dan sunset di tengah lautan pun harus ditunda sementara waktu. Allah tahu mana yang lebih baik bagi hamba-Nya, meski terkadang kita merasa lebih tahu dan sok tahu, menggerutu dan bahkan menyalahkan takdir. Seperti halnya pada kejadian sabtu malam ini, akankah kita bermalam di Tanjung Priuk teman?

Sepanjang perjalanan, saya, Akbar, Tama dan kedua orang tua Akbar tidak henti-hentinya membahas kemungkinan yang akan dilakukan untuk menyikapi masalah ini. Ah, belum berangkat saja sudah ada satu ujian. Nampaknya memang akan menjadi KKN yang menarik teman. Dan memang ujian ini tidak hanya membuat 25 orang anggota kelompok KKN Bintan berpikir ekstra keras, tapi juga sampai membuat ayah ibu Akbar, keluarganya Neni dan Dito, saudaranya Fairus, Yanti dan Bagus pun ikut resah memikirkan. Ah, orang tua mana yang tega membiarkan anaknya terlantar dan kesulitan. Saya tidak bisa membayangkan betapa cintanya mereka kepada kita hingga kita pun tidak akan sanggup untuk membalas kebaikan mereka. Ah, walau terkadang kita tidak menyukai keputusan dari mereka. Seperti halnya kejadian malam ini di Pelabuhan Tanjung Priuk.

Sesampainya saya di Pelabuhan, suasananya memang ramai teman. Saya tertawa kecil melihat teman-teman yang terdampar seperti pengungsi dari Yogyakarta. Ah, lucu sekali teman. Jauh-jauh dari tanah Jogja hanya untuk menggembel di Tanjung Priuk, menarik sekali teman. Dan kejadian ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mungkin teman saya yang lain. Menunggu kepastian yang akan dilakukan akibat pembatalan pemberangkatan malam ini. Ah, semua orang mengalami apa yang dinamakan kepanikan tingkat tinggi. Apalagi si Yoga sebagai wakil ketua. Yah, kebingungan untuk mengambil keputusan.

Yoga pun berkata,“Teman-teman, malam ini kita gak jadi berangkat. Dan sekarang kita memutuskan untuk kembali bermalam di rumahnya Neni. Bis sedang diusahakan menuju kesini. Harap maklum. Sekian”.

Inilah keputusan pertama sebelum rombongan saya, Tama, Akbar dan kedua orang tuanya tiba di Pelabuhan. Dan sesampainya disana, terjadilah proses dialektika yang melibatkan banyak orang, tidak terkecuali kedua orang tua Akbar. Saran dari mereka adalah tinggalkan saja barang-barangnya di sini agar tidak repot untuk mengangkutnya kembali. Dan biarkan kita menginap semua di pelabuhan bersama barang-barang. Ah, pertimbangan baru lagi. Masukan baru lagi. Dan keputusan baru lagi teman.

Maaf ‘Bu, ini Yoga temennya Neni. Insyaallah kita gak jadi pakai bis kantor bapaknya Neni karena kita akan menitipkan barangnya di pelabuhan saja. Maaf banget yah ‘Bu kalau merepotkan. Terima kasih”, kata Yoga menjelaskan pada ibunya Neni ketika membatalkan rencana awal.

Ah, sebuah keputusan yang membingungkan beberapa teman perumus putusan awal. Icak, Andri, Anjar, Dito dan beberapa teman yang lain pun menyayangkan keputusan baru ini. Ah, untuk kali ini saya hanya bisa diam. Tidak berkomentar apa-apa. Saya seperti seorang reporter yang sedang mengamati kejadian yang dialami kelompok KKN Bintan ini agar dapat diabadikan dan dilaporkan kepada khalayak ramai. Ah, keputusan yang sulit memang. Intervensi orang tua, semangat anak muda dan mimpi menuju Bintan, semuanya menjadi bumbu pada masakan yang dinamakan pembatalan pemberangkatan. Ah, rasanya lezat teman.

Ada banyak pertimbangan teman. Menunggu sehari semalam lagi di Pelabuhan jelas akan membuat lelah semuanya. Apalagi belum ada kepastian keberangkatannya. Kembali ke rumahnya Neni pun jelas tidak mungkin karena kita telah membatalkannya. Mencari penginapan untuk menitipkan barang yang banyaknya luar biasa ini pun belum menjadi jaminan. Hingga akhirnya para orang tua pun berhasil melobi petugas pelabuhan untuk mengizinkan kita bermalam di dalam pelabuhan dan menitipkan barang-barang. Ah, keputusan ini akhirnya menjadi keputusan final. Sebuah keputusan yang menyejarah teman, karena nantinya kita akan bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk untuk kali pertama.

Saya jadi ingat perjalanan teman-teman KKN Karimun Jawa yang sampai sepuluh hari tertunda keberangkatannya akibat cuaca yang tidak bersahabat. Kejadian yang dialami mereka lebih dasyhat teman. Barang-barang bawaan mereka sudah terkondisikan untuk siap diberangkatkan di dalam kapal. Tersusun rapih dan sulit lagi untuk dibongkar pasang. Dan ternyata pemberangkatan mereka tertunda. Jadilah mereka selama sepuluh hari harus membeli baju baru dan menikmati sebuah penantian panjang. Ah, menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Seharusnya ada buku yang mengupas tuntas masalah tentang penantian ini, agar menunggu tidak lagi menjadi suatu hal yang membosankan. Ah, kejadian KKN Karimun Jawa kembali terulang pada KKN Bintan. Menarik.

Saya pun teringat film Terminal yang dibintangi Tom Hanks teman. Kalau Tom Hanks terjebak di Bandara, maka 25 orang ini terjebak di Pelabuhan. Kalau bandara dalam film Terminal bertaraf internasional, maka pelabuhan tempat kita akan bermalam juga cukup lumayan lah teman. Tepatnya kita bermalam di ruang tunggu untuk para TKI. Tapi cukup mewah teman untuk standar Indonesia. Jangan membayangkan kalau kita akan bermalam di pelabuhan yang becek, kotor, gelap dan rawan akan tindak kejahatan. Kita cukup beruntung karena ruangan yang diberikan untuk kita bermalam adalah ruangan ber-AC, lengkap dengan toilet dan mushola berstandar nasional, luas dan lebarnya pun luar biasa teman. Ah, benar-benar seperti bandara dalam film Terminal teman, namun tidak terlalu mewah dan wah. Dan keputusan untuk bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk ternyata tidak salah teman, hanya Bagus dan Dito yang tidak bermalam di Pelabuhan karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Dan 23 orang tersisa memutuskan untuk bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk.

Ah, takdir Allah siapa yang tahu. Pemberangkatan kapal kita menuju Bintan pun tidak ada yang tahu. Kalau sesuai rencana, mungkin benar-benar hanya sehari kapal tertunda, tapi siapa yang dapat memastikan teman. Seperti pesan Toggy dan Aldino (dua orang anggota KKN Karimun Jawa) yang semalam tiba-tiba saja menelopon saya, mereka berppesan, semoga bermanfaat KKN-nya. Dan nikmati saja penundaan sehari ini, pasti ada hikmah yang tersembunyi dalam kejadian ini. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan arif dan bijak. Semoga saja hanya tertunda sehari teman. Ah, kita pun bermalam di Pelabuhan. Nasi memang telah menjadi bubur, tidak akan mungkin kembali menjadi nasi. Dan bagaimana menikmatinya, adalah dengan menambahkan kerupuk, bawang goreng, kecap, ayam, kuah dan sambalnya sesuai dengan selera dari teman-teman. Dan inilah yang kita lakukan malam ini, bermalam di Tanjung Priuk.

Terminal Penumpang Nusantara Pura II

Inilah lokasinya teman. Tepatnya di Ruang Tunggu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 26 Agustus 2006. Ah, sebuah ruangan yang cukup nyaman sebagai ruang tunggu saya rasa. Dan 23 teman-teman saya pun menikmatinya. Bermalam di ruangan yang lengkap fasilitasnya, ada posko kesehatan, VIP Room, Smooking Area, juga toilet dan mushola yang dilengkapi AC dan beberapa kipas angin dan ratusan kursi untuk menunggu. Ah, bahkan di balik kaca, saya dapat melihat kapal-kapal besar yang sedang merapat di dermaga. Sebuah pemandangan yang luar biasa teman. Dan saya pun membayangkan diri saya sedang berada di negeri orang. Ah, menarik sekali.

Dan di terminal inilah kita masih menunggu. Saya bahkan berhasil menyelesaikan membaca teenlit seri Alice : Sendiri Lagi Deh. Ah, saya tidak akan membelinya kalau bukan karena ada kupon lomba di dalamnya. Dan karena sudah terbeli, maka sayang kalau saya tidak membacanya. Ah, ternyata teenlit terjemahan milik Phyllis Reynolds Naylor ini begitu barat. Saya sama sekali merasakan perbedaan budaya itu. Ah, bukannya saya ingin terjebak pada budaya timur dan barat teman, tapi memang kita sebagai orang timur sudah saatnya untuk lepas dari intervensi barat, apalagi dalam hal sosial budaya. Kita berbeda teman, dan kita hanya perlu menerima budaya barat itu sebagian, tidak seluruhnya. Ah, benar apa yang dikatakan teman saya, sekaranglah saatnya perang pemikiran, siapa yang kuat, dialah yang bertahan. Dan saya hanya mencoba menyeimbangkan timur dan barat.

Ah, lepas dari polemik itu. Kita pun mengoptimalkan potensi yang ada di terminal yang terkunci dan tertutup rapat kecuali ketika sedang musim TKI dengan berfoto-foto. Ah, sayang sekali teman kalau kenangan ini tidak diabadikan. Dan kesempatan ini belum tentu datang untuk yang kedua kalinya. Jadilah saya, Icak, Taufik, Tama, Mastori, Andri, Fery dan Neni mengambil pose terbaiknya. Berpose melompat seperti merayakan kemenangan dengan latar tembok biru terminal, bergaya seperti foto model yang berada di bandara di luar negeri sana dan semuanya memang dibuat-buat teman. Ah, benar-benar seperti terdampar di negeri orang. Dan foto-foto ini akan menjadi saksi dan kenangan sebelum akhirnya kita benar-benar berangkat menuju Bintan.

Dan setidaknya saya mencatat dua hal menarik ahad pagi ini di Terminal Penumpang Nusantara Pura II. Pertama, saya menyaksikan bagaimana salehnya seorang Akbar HI menunaikan ibadah salat duha delapan rakaat. Ah, semoga kita semua mendapatkan berkah dari ibadah sunnahnya orang ini. Kedua, kita sama-sama menyaksikan bagaimana lucu dan anehnya mendengarkan si Yanti menelopon dengan bahasa Bima. Ah, serasa di negeri asing teman. Tidak ada satu pun yang mengerti bahasa dan logat khas suku Bima, Nusa Tenggara Barat itu. Ah, sama seperti ketika saya dan teman-teman SMA saya dari Jakarta yang baru saja tiba di Yogyakarta dan mendengarkan berita dengan bahasa jawa halus. Ah, serasa sedang menempuh S2 di luar negeri sana. Dan kali ini, mendengarkan si Yanti berbicara, kita serasa berada di bandara negeri asing. Ah, mengesankan teman. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Dan 23 orang ini pun sarapan bersama. Sepuluh orang perempuan, Sari, Yanti, Desi, Adiba, Neni, Fairus, Erhan, Ida, Erni dan Afi serta tiga belas orang laki-laki, saya, Anjar, Mastori, Wahyu, Tama, Akbar, Akbar HI, Andri, Taufik, Bayu, Icak Yoga dan Fery mencoba menikmati bagaimana rasanya menjadi pengungsi. Ah, saat-saat seperti inilah yang akan terngiang teman. Saat makan nasi padang hanya dengan satu tempe dan sedikit sambal hijau seharga empat ribu per bungkus dengan lauk tambahan seperti abon, orek tempe dan telur asin yang dibagi dua. Ah, nikmat sekali kawan. Maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Menanti datangnya Kapal Motor (KM) Ciremai yang akan mengantarkan kita ke Bintan memang terkadang membosankan teman. Butuh strategi untuk membunuh rasa bosan itu. Saya pun tidak ingin mati karena kebosananan. Maka saya pun mengambil laptop dan menyalakannya. Menuliskan apa yang telah saya alami dan mencoba berbagi cerita dan hikmah yang ada di dalamnya. Ah, benar-benar KKN yang luar biasa teman. Dan saya pun tidak tahu hal apa lagi yang akan mengejutkan KKN Bintan kali ini. Sungguh.

Dari Terminal Penumpang Nusantara Pura II ini pun saya melaporkan pesan dari teman serumah saya di Yogyakarta sana, Bowo namanya. Saya pun menjawab sejujurnya.

Ud naek kapal nji?

Belum, kita masih ada di terminal penumpang. Mohon doanya yah!

Wah dsini kita brdoa bwt lo smbil mkn2 rndang. Lo emg naek kplny kpn?

Wah, saya juga banyak cemilan disini. Insyaallah ntar malem baru naek kapal.

Enakan rendang. Ud bnyk, enak, gratis lg. Lo br ntar mlm naekny?

Iya deh, enakan rendang. Iya nih, br ntar malem naeknya. Tp disini tmptny keren!

Lo d trminal mana?

Terminal Penumpang Nusantara Pura II.

Semakin siang teman. Teman-teman banyak yang tertidur pulas karena bosan menunggu dan mungkin kekenyangan. Ah, saya pun masih menikmati suasana tenang seperti ini. Memandang kapal-kapal besar di balik jendela terminal, mendengarkan senandung nasyid yang syahdu dan menuliskan kata hati saya, langsung dari Terminal Penumpang Nusantara II.

Beberapa Jam Lagi Teman!!!

Beberapa jam menjelang keberangkatan kapal (kalau sesuai rencana yah), beberapa menit menjelang berkumandangnya adzan Subuh, beberapa saat menjelang terbitnya matahari dari timur, saya masih berada di depan laptop saya. Masih bercerita dan bercengkerama dengan dunia kata-kata ini.

Ah, kapal kita ditunda kembali keberangkatannya teman. Menyebalkan. Seharusnya jam delapan malam kapal kita berlayar, tetapi dari informasi yang didapatkan, kita baru akan berlayar jam delapan pagi nanti. Ah, saya pun mencoba menikmati saja keadaan seperti ini. Mencoba berpikir positif dan jauhi prasangka saja teman. Tidak ada gunanya saling menyalahkan.

Dan kondisi kita di terminal ini masih baik-baik saja teman. Kemaren sore, setelah mendengar informasi penundaan kembali pemberangkatan tersebut, saya, Akbar HI, Anjar, Bayu, Erni, Fairus dan Adiba memutuskan untuk jalan-jalan keluar terminal penumpang ini. Mencoba menghirup udara bebas yang ada di Tanjung Priuk. Ah, lagipula terminal sudah dibuka untuk penumpang yang lainnya. Sudah tidak eksklusif lagi teman. Dan jadilah sore itu kita nongkrong di sebuah warung.

Ada hal yang seru dan mendebarkan ketika saya dan teman-teman jalan-jalan sore di sekitar pelabuhan. Ternyata ada yang mengikuti dan membuntuti kita teman. Mengerikan sekali teman. Meskipun yang mengikuti hanya seorang, tapi tetap saja mengerikan. Apalagi ini Tanjung Priuk teman, yang kuat yang berkuasa dan menang. Tetapi beruntung, Bayu, Anjar dan Akbar HI menyadarinya sejak awal. Maka kita pun memutuskan untuk nongkrong saja di sebuah warung, lagipula si Anjar ingin sekali makan bakso. Dan orang yang mencurigakan itu pun akhirnya menghilang untuk sementara waktu. Ah, semoga tidak bertemu lagi di KM Ciremai nanti.

Sore ini pun si Yanti masih berceloteh aneh dengan bahasa dan logat Bima-nya yang khas. Bahkan dia diminta bernyanyi lagu daerahnya. Ah, lucunya, dia pun benar-benar menyanyikannya. Dia menyanyikan lagu sedih tentang seorang wanita yang menjadi batu karena terlalu lama menunggu kekasihnya kembali. Ah, semoga kita juga tidak menjadi batu karena terlalu lama menunggu teman. Dan yang membuat kita semua tertawa terpingkal-pingkal adalah ekspresi dari si Yanti yang menyanyikan lagu sedih itu begitu lucu. Sama sekali tidak ada ekspresi kesedihan. Tambahan lagi, kita sama sekali tidak mengerti bahasa Bima yang terdengar aneh itu. Ah, saya pun tidak bisa menahan tawa saya. Gelak tawa terdengar membahana dari sebelah selatan terminal sore itu kala Yanti bernyanyi lagu daerah Bima. Ah, untung saja saya tidak satu sub unit dengan Yanti.

Dan malamnya, kita pun kembali berkumpul membentuk lingkaran besar. Ada yang tahu untuk apa? Ah, tentu saja untuk makan malam teman. Kali ini kita mendapatkan jatah makan dari terminal. Hebat juga yah. Kelas ekonomi saja mendapatkan makan dengan lauk daging ayam, apalagi yang kelas eksekutif yah. Ah, semuanya terasa menyenangkan teman. Maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Nikmatnya sehat. Nikmatnya kebersamaan. Nikmatnya persahabatan dan persaudaraan dalam KKN Bintan. Ah, menarik sekali teman.

Dan menunggu memang tidak selamanya membosankan teman, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya dengan bijak dan arif. Bahkan ketika menunggu, kita dapat melakukan suatu hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahkan saya berhasil menyelesaikan dua bacaan saya, dua bacaan ringan sih. Stranger Than Fiction-nya NoRiYu dan Cakrawala di Sudut Mata Callyndina-nya karya Arfian, teman saya di mentoring SMA 2 Yogyakarta. Ah, selalu menarik memang membaca itu. Benar kata orang kalau membaca itu membuka jendela dunia. Dan saya kembali mengintip sekilas dunia yang penuh warna itu. Ah, menunggu memang tidak selamanya membosankan teman.

Kabar dari teman-teman di Yogyakarta bahkan menjadi informasi yang begitu berharga teman. Seperti balasan dari teman saya yang KKN di daerah Kalasan.

W3. Af1 nji bru bls.. he3, KKD paan nji? Yg ad dsni gw KKR (Kuliah Kerja Rapat). Lu ndri gmn?? Skses prgrm “mlarikan diriny”?

Gunawan Matematika’04

Ah, kenapa semua teman saya mengira saya sengaja melarikan diri dengan KKN jauh-jauh di Bintan sana. Ah, mungkin saya memang harus meluruskan niat saya kembali. Semoga saya tidak sengaja memilih KKN jauh hanya untuk melarikan diri dari amanah. Semoga saja tidak teman. Bukankah apa yang kita dapatkan nanti tergantung dari apa yang kita niatkan. Semoga KKN saya kali ini bermanfaat bagi semua. Mengutip dari quote adik saya Fajar, “Menjadi orang yang berguna bagi orang lain”, itulah tujuan utama KKN saya, tidak lebih.

Ah, semuanya memang begitu menyenangkan teman. Memang benar kalau pengalaman adalah guru terbaik. Saya belajar banyak hal dari KKN Bintan kali ini. Saya mengenal orang-orang yang baru dalam KKN Bintan kali ini. Saya mendapatkan sebuah pengalaman yang begitu berharga teman. Ah, beberapa jam menjelang keberangkatan, semoga semuanya menjadi kenyataan. Kalau Andre Moller sampai menulis buku Ramadhan di Jawa, semoga saya dapat menyelesaikan cerita KKN Bintan saya dengan sempurna. Ah, seperti motto-nya Forum Lingkar Pena, “menggapai takwa dengan tinta”, saya berharap cerita ini dapat terus berlangsung sesampainya saya di Pulau Bintan sana. Ah, semuanya kini tinggal beberapa jam lagi teman!!!

Pelayaran KM Ciremai

Alhamdulillah!!! Saya berteriak kecil dalam hati. Tidak enak kalau dilihat orang satu terminal jika teriak langsung. Takut membuat malu 24 rekan saya yang lain.”Ih, Panji, kayak baru lihat kapal laut aja”. Ah, saya memang senang bukan kepalang ketika kepastian KM Ciremai itu akan berlabuh dan kemudian berlayar. Seperti Padi dengan Menanti Sebuah Jawaban, akhirnya kita pun akan berangkat menuju Bintan teman. Segera!!

Ah, tapi memang semuanya membutuhkan proses teman. Setelah menyaksikan KM Ciremai yang berukuran teramat sangat besar itu merapat, langsung saja ratusan orang datang mengerubungi, layaknya semut yang kedatangan gula, KM Ciremai tiba-tiba ramai dan ah, saya tidak bisa membayangkan akan berada di kapal besar seperti itu. Dan saya menyebutnya Titanic-nya versi KKN Bintan, tetapi tanpa Leonardo Di Caprio dan Kate Winselt. Ah, menarik teman.

Akhirnya 25 orang ini bisa merangsek masuk ke dalam kapal dengan barang bawaan yang bejibun banyaknya tepat pada pukul 10.30 WIB. Ah, perjuangan yang melelahkan teman. Dari dek lima yang harusnya kita tempati, kita pun terpaksa hijrah ke dek enam tepat di bagian luar. Dek lima sudah dikuasai orang lain. Kelas ekonomi memang keras. Dan di dek enam, anginnya ternyata kencang menyejukkan dan semua barang pun sudah selesai diangkut. Waktunya untuk rebahan dan istirahat barang sejenak teman. Ah, nikmatnya. Tetapi tiba-tiba ada pesan masuk dari salah seorang pengurus KAB Pertanian UGM.

Aslm. Cie.. yg dah DMK tk lanjt. Undangn amniah disebr2! Dah tk ksh Aji, Budi, plng. Atm msh mrh y! koq, sms sy dipajang gt. Sy ga nuduh atm ga amanh! Evaluasikn blh aj!

Hanami KAB’06

Sebelum berangkat KKN, saya memang menitipkan beberapa buku untuk pengurus KAB kepada beliau. Takut tidak ada kesempatan teman. Dan tidak lupa saya tulis pesan yang beliau kirim beberapa hari yang lalu. Pesannya yang lucu saya pikir. Semuanya saya tulis di atas kertas bekas undangan DMK yang amniah itu. Ah, saya menganggap semuanya itu biasa saja teman.

Dan baru saja saya ingin mengirim pesan balasan. Si Hanami sudah mengirim pesan lagi. Ah, tapi saya kirim saja dulu balasannya, sebelum saya membaca pesan selanjutnya itu.

As. Sy dah gak marah koq, cm lucu aja sms-nya, makanya sy tulis lagi. Af1.

Panji

Ah, pesan dari si Hanami ternyata hanya laporan tentang titipan dari saya untuk memberikan buku kepada beberapa orang pengurus KAB.

Lapor. Budi dah tk ksh, Mitha pulang, Ulia ga ktmu.

Hanami KAB’06

Dan tidak lama kemudian kembali beliau mengirim pesan kepada saya. Ah, nanti sajalah saya membalasanya, kita harus pindah lagi, karena ternyata kita mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan aman di dek dua. Dan itu berarti, hijrah kembali dengan barang bawaan yang bejibun banyaknya. Ah, benar-benar KKN teman. Sungguh terasa pengalamannya. Sungguh terasa lelahnya. Dan ternyata pesan dari si Hanami itu membuat saya kembali tertawa ringan. Benar-benar orang yang aneh. Ah, tapi pesan terakhirnya itu benar-benar lucu.

Alah, bilang aj! Sbenarny sms sy kekanak2an kn! Cm atm ga mau blng ky gt. Trus nyindir dg halus.

Hanami KAB’06

Ah, sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi pesan itu dan memang tidak perlu dibahas lagi teman, saya kembali balas pesan itu dan meminta maaf. Lucu sekali memang, semuanya ini menjadi warna tersendiri ketika akhirnya KM Ciremai mulai berlayar mengarungi luas samudera. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya akan menuju Pulau Bintan, sebuah pulau yang berukuran paling besar di Kepulauan Riau.

Ah, tapi ternyata kita tidak langsung berangkat teman. Kita masih harus menunggu lama sampai KM Ciremai ini berjalan. Saya dan beberapa teman memilih makan setelah mendapatkan tempat yang nyaman di dek dua ini. Ah, nikmatnya makan siang dengan teri pedas, salondreng, orek tempe dan rendang. Dan setelah makan, saya, Anjar dan Mastori menuju dek tujuh untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Dan, ah, subhanallah teman. Musholla An Nur di dek tujuh benar-benar nyaman. Sejuk dan full AC. Benar-benar memberikan cahaya semangat di tengah kelelahan dan kegelapan. Dan kita pun menjamak qashar shalat Dzuhur dengan Ashar karena itulah keringanan yang Allah berikan kepada musafir yang melakukan perjalanan panjang. Ah, maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan.

Dan akhirnya, pelayaran itu pun dimulai pada pukul 17.00 WIB. Ah, penantian panjang teman. Hampir lima jam kita menunggu dan menanti. Cukuplah untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi di dek dua tempat kita istirahat selama perjalanan nanti. Ah, dek dua besar dan luas sekali teman. Apalagi hanya rombongan kita dan beberapa orang yang ada di dek dua ini. Serasa milik sendiri teman. Padahal tiket kita hanya kelas ekonomi. Lebih dari cukup saya rasa semua ini. Penantian panjang dari sabtu malam hingga senin sore itu terbayar tuntas. Kesabaran itu membuahkan hasil. Dek dua tempat kita beristirahat PW (posisi wuenak) tenan alias nyaman sekali. Ah, subhanallah teman. Menyenangkan!!!

Maghrib dengan menikmati sunset di tengah laut. Mendengarkan lantunan adzan Maghrib di KM Ciremai yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Menikmati birunya langit dan lautan. Ah, hati saya lapang dan tenang. Senandung nasyid dari Fatih pun mengalun meneduhkan menemani pelayaran KM Ciremai kali ini.

Tak terbayangkan, yang mungkin ‘kan terjadi, di masa belia ini, dapatkan iman ini”.

Cerita itu Berasal dari Dek Dua

Ba’da shalat Isya di Musholla An Nur yang berada di dek tujuh, ba’da mengikuti ta’lim (kajian) selepas shalat, saya tersesat ketika ingin kembali menuju dek dua. Tersesat bersama si Anjar. Ah, bodoh. Saya sampai benar-benar pusing dibuatnya. Huah!!! Pusing memikirkan saya jalan kembali menuju dek dua. Belum lagi ombak yang semakin besar teman. Nyut-nyut-nyut-nyut, kepala saya pusing tiba-tiba. Nasehat dari ta’lim tadi berupa empat hal yang menyebabkan kemunduran umat Islam (kurangnya kepahaman tentang makna syahadatain, faktor kepemimpinan, tidak diterapkannya hukum Islam dan penyakit wahn yaitu cinta dunia takut akhirat) juga sedikit menambah berat kepala saya. Ah, KM Ciremai terlalu besar buat saya, begitu juga ombaknya.

Dan, fuih, alhamdulillah. Ketika saya dan Anjar sudah mabok kepayang mencari-cari ruang di dek dua, akhirnya kita menemukan ruang peristirahatan itu. Ah, langsung saja saya rebahan. Saya sudah tidak tahan lagi menanggung beban yang teramat berat ini, kalau kata orang Melayu, berat sangat beban ini. Huah!!! Saya mabok laut dan butuh istirahat segera. Ah, pengumuman tentang bioskop romantis dewasa yang ternyata adalah film-film ‘dewasa’, atau kata si Tama, film orang miskin, membuat saya semakin ingin langsung tidur. Dan dengan kepala mau pecah, saya pun tertidur, entahlah, pulas atau tidak.

Ba’da Subuh yang agak sedikit kesiangan. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama 24 pengungsi dari Yogyakarta (kondisi kita memang memprihatinkan teman) dengan lauk seadanya (ada keripik kentang pedas, teri kacang pedas, salondreng, abon sapi dan rempeyek). Ah, tapi tetap saja nikmat. Tetap saja lezat teman. Apakah mungkin kita sudah berhalusinasi karena melihat ombak menggulung-gulung persis di samping jendela yang ada di dek dua tempat beristirahat, sehingga mempengaruhi kinerja otak dan akhirnya kita berpikir kacau. Ah, nampaknya tidak teman. Memang benar kata banyak orang, rasa terlezat dalam sebuah masakan adalah rasa lapar. Saya dan 24 pengungsi dari Perguruan Gadjah Mada telah membuktikan teori klasik itu teman. Ah, nikmatnya makan setelah lapar teman.

Hari ini ada juga undangan untuk KAB terkait dengan program KSF Goes to School bersama teman-teman Kelompok Studi Universitas (KSU) Gama Cendikia pukul 13.00 WIB di Fakultas Kehutanan. Ah, saya pun mendelegasikan undangan tersebut pada Tika, Penanggung Jawab Sementara (PJS) KAB selama saya KKN dan Hanami yang memang menjadi Kepala Divisi (Ka.Div) Jaringan Internal KAB. Tenang saja teman, saya percaya penuh kepada mereka berdua.

Aslmkm. Insyaallah dcoba ntar ada yg dtg. Aq udh bc email-mu. Subhanallah ji.. sgtu prcy.. smg nnt ga mgecewakan. Tak usahain sbaik mgkn. Btw : PH sp aja ya..

Tika KAB’04

Di dek dua KM Ciremai, saya akhirnya juga menyelesaikan Novel Sejarah karya Tasaro yang berjudul Samita. Ah, novel yang mengambil latar belakang sejarah Laksama Cheng Ho ini ternyata menarik juga teman. Membacanya, saya langsung teringat pada kisah dua pahlawan yang ada dalam dunia persilatan Indonesia, Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng. Ah, saya membacanya dengan takjub karena nilai yang ingin disampaikan dalam novel ini begitu mulia. Tapi saya juga membacanya dengan tertawa lepas bahagia karena setting dan latar-nya itu, Kho Ping Ho (cerita bergambar tentang pendekar silat yang melegenda pada dasawarsa 80-an dan 90-an) sangat. Ah, Tasaro dan Samita, novel yang menyejarah teman.

Dari dek dua KM Ciremai ini juga mengalir banyak cerita yang akan terus saya ingat teman. Ketika si Anjar, Fery, Yoga dan Neni sukses menonton tiga film sekaligus (Vantage Point, Unstopable Marriage dan Pay It Forward). Ketika si Yanti, Desi, Erhan, Erni, Afi, Sari, Fairus, Adiba dan Ida dengan seriusnya menikmati film Princess of Hours selama berjam-jam, sampai 24 episode. Ah, perempuan kalau sudah menonton memang parah benar teman. Ketika kita semuanya tertawa melihat film kartun Ipin dan Upin yang bahasanya melayu sangat. Ah, jadi ingat Firman si kormanit yang bahasa mirip Ipin dan Upin. Lucu.

Ketika semuanya senang campur kesal dengan Mastori yang senang menulis dan difoto. Ketika ba’da Maghrib, saya, Anjar, Dito dan Neni tilawah (red. membaca) Al Qur’an. Ketika kita makan malam bersama untuk terakhir kalinya di KM Ciremai. Ketika sepanjang hari menikmati riuh rendahnya suara mas-mas dan mbak-mbak penjaja makanan, minuman dan mainan. Ketika mengetahui ada yang berbuat macam-macam di dek dua bagian dalam hingga akhirnya pihak security pun harus turun tangan langsung. Ketika akhirnya saya ikut bermain poker bersama Anjar, Fery, Akbar, Fairus, Sari dan Neni. Ah, apakata dunia persilatan nantinya teman. Ketika Bagus memecahkan lampu dengan kepalanya karena badannya tinggi sangat. Ketika mendengarkan tutur kata cerita bapak mekanik tua yang saya lupa namanya. Bahkan saya sangat tersejut ketika mengetahui kalau beliau ternyata penah bekerja di Kapal Tampomas yang kecelakaannya teramat dasyhat itu. Ah, subhanallah teman, ketika Tampomas celaka, beliau ternyata sedang mengambil cuti. Kematian seperti halnya jodoh dan rezeki memang pemberian dari Allah yang misterius. Hanya satu yang perlu dilakukan. Mersiapkan semuanya.

Ah, kabar dari Yogyakarta juga begitu menggembirakan teman. Urusan klaim asuransi kecelakaan yang diurus langsung oleh teman satu rumah saya, Bagus namanya, sarjana hukum pula, selesai dan tidak ada masalah. Senangnya. Saya pun berpesan kepada Bagus agar membeli sebungkus roti bakar untuk teman satu rumah sebagai ucapan rasa syukur atas cairnya uang itu. Terima kasih ‘Gus!!!

Udh kelar, totalny 107 ribu=75%! Sip kan…

Masa smua uangnya bt beli roti bakar? Oya, Bowo tany tuh gmana keadaan dsn?

Cerita dari dek dua akhirnya akan berakhir ketika KM Ciremai ini merapat di Pelabuhan Kijang. Ah, menyenangkan semua cerita ini. Bisa saya ceritakan ke anak cucu nanti teman. Ah, rabu mendekati tengah malam, KM Ciremai segera tiba. Cerita dari dek dua akan selesai segera. Senin pagi hingga selasa malam di KM Ciremai begitu berkesan teman. Seperti berhari-hari terapung di laut saja. Ah, cerita dari dek dua pun usai. Daratan Kijang nampak. Kita pun tiba di Bintan.

Hari Pertama

Ah, akhirnya resmi juga kita dilepas sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) teman. Rabu menjelang siang di kantor Kecamatan Gunung Kijang, setelah melalui berbagai serimonial, Bapak Hasan selaku Camat Gunung Kijang secara simbolik melepas kita selama dua bulan untuk kuliah dan bekerja secara nyata di wilayah Kecamatan Gunung Kijang, tepatnya Kelurahan Kawal, Desa Teluk Bakau dan Desa Malang Rapat. Bismillah.

Siapa sangka kalau ternyata teman-teman di Kelurahan Kawal mendapatkan pondokan yang nyaman. Ibu dan bapaknya baik hati, sarana dan prasara lengkap tersedia, bahkan laundry pun ada. Ah, Ibu Mas dan Pak Has memang orang tua yang baik. Keduanya bahkan berusia sama dengan kedua orang tua saya. Sama-sama selisih sepuluh tahun dan sama-sama kelahiran tahun 1962 dan 1955. Kebetulan yang tidak direkayasa sama sekali teman. Ibu Mas dan Pak Has kini menjadi induk semang bagi saya, Bayu, Fery, Mastori, Icak, Sari, Erni dan Neni. Kita berdelapan berada dalam satu sub unit, di Kelurahan Kawal.

Ba’da subuh (kita kesiangan bangun teman), kita mandi dan berkemas untuk berangkat pelepasan di kantor Kecamatan Gunung Kijang. Sebelumnya kita sarapan dengan nasi sayur waluh dan sambel teri yang telah disediakan ibunya. Ah, nikmat sekali teman. Panganan yang mantap di hari pertama kita KKN. Cukuplah sebagai bekal energi hingga siang nanti. Dan kita pun sarapan dengan lahap di ruang makan keluarga. Sarapan pertama di hari pertama.

Ah, Ibu Mas juga memiliki dua anak. Satu putra dan satu putri. Keduanya sudah menikah dan berkeluarga. Kak Mei dan Bang Faisal namanya. Pagi ini, Kak Mei singgah di rumah kita bersama Zahmi, anak laki-lakinya, cucu dari Ibu Mas. Ah, lucu sekali anak kecil berusia enam tahun, berperawakan gemuk, kulit coklat sawo matang dengan kedua pipi yang tembem. Lucu sekali teman saat kita melihat Zahmi yang ternyata sudah pandai tulis namanya sendiri. Z-A-H-M-I. Belum lagi sifatnya yang pemalu dan pendiam. Suaranya yang ternyata agak nge-bas, cita-citanya yang ingin menjadi polisi dan belum mandi paginya anak itu, membuat kita semua tertawa senang dengan kehadiran Zahmi. Kak Mai, ibu-nya Zahmi pun senang melihat Zahmi kecilnya menjadi fokus perhatian delapan orang mahasiswa KKN dari UGM. Seperti artis dengan penggemarnya. Ah, Zahmi yang lucu nan menggemaskan.

Acara pelepasan di kantor Kecamatan Gunung Kijang juga berlangsung meriah teman. Kita memulainya jam 11 lewat di ruang pertemuan yang ada di kantor kecamatan. Anjar menjadi pembawa acara, Erhan menjadi si pembawa topi di atas nampan (untuk pelepasan secara simbolik), Firman yang memberikan sambutan selaku kormanit, Icak dan Sari ada di balik kamera dokumentasi dan saya yang menutupnya dengan doa. Ah, ramai. Lucu. Seru sekali teman. Aparat pemerintahannya masih muda kebanyakan. Dan yang membuat kita semua tersenyum geli kemudian tertawa terpingkal-pingkal adalah tradisi berbalas pantun yang benar-benar dipraktikan teman. Ah, melayu sangat.

Jadi, setelah Bapak Hasan selaku Bapak Camat Gunung Kijang resmi membuka acara dengan bacaan bismallah, beliau menutup sesi pembukaan dan sambutan ini dengan sebuah pantun. Ah, menarik teman. Tapi sayang ketika Firman memberikan sambutan selaku kormanit, beliau belum mempersiapkan pantun balasan. Putra asli Bintan ini pun hanya tersenyum, tersipu malu dan meminta maaf. Satu kosong UGM tertinggal. Kemudian setelah pelepasan simbolik dengan memakain topi KKN kepada Firman sang kormanit. Saya pun menutup acara ramah tamah ini dengan doa. Ah, jujur teman. Saya pun sempat bingung, ragu dan deg-degan ketika baru sampai di kecamatan, Firman mendaulat saya untuk membacakan doa pada acara ini. Ah, bagus sekali teman. Kemampuan terbaik memang baru akan keluar dan kelihatan ketika kita terpaksa dan terdesak. Dan saya pun tidak bisa menolak ini semua. Ah, akhirnya sebelum memimpin doa pun, saya berhasil menyamakan kedudukan dengan terlebih berpantun ala mahasiswa.

ada banyak drum untuk ditabuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dan doa itu pun akhirnya usai. Tidak ada artinya daya dan upaya manusia tanpa doa. Ah, manusia hanya bisa merencanakan, tapi Allah yang akhirnya menentukan. Semoga KKN kita di Bintan lancar. Amin.

Sambil menunggu konsumsi makan siang disajikan, kita beramah tamah dengan semua aparatur desa. Sekretaris Camat (sekcam), Pak Roni; Komandan Laut Gunung Kijang, Bang Rudi; Lurah Kawal, Pak Isral; Kepala Desa Malang Rapat, Pak Sakir; sisanya saya lupa teman. Fokus kita sudah berpindah ketika boks berisi makanan hadir dihadapan. Waktunya makan siang. Ah, perpaduan Jogja dengan Melayu teman. Siapa sangka kalau kita makan siang dengan diiringi senandung nada dari Letto. Saya tidak sangka kalau suasananya benar-benar serius tapi santai. Mengejutkan teman.

Lalu siangnya, masih di kantor kecamatan, kita ada rapat satu unit. Laporan dari masing-masing sub unit. Pertama, laporan sub unit Kawal, aman damai terkendali. Wah, fasilitas kita lengkap teman. Makanan pokok dan cemilan, kendaraan, baik motor maupun mobil hingga cucian pun di-laundry, kecuali beberapa jenis pakaian tentunya. Hanya tinggal deal-deal-an dengan Ibu Mas tentang tarif dan harga yang harus dibayarkan atas segala sarana dan pra sarana yang kita dapatkan. Kedua, kabar dari sub unit Teluk Bakau yang paling kacau. Lokasi pondokan putra dan putri terpisah jauh sangat. Harus berkendaraan teman kalau tidak mau lelah di jalan. Dan yang paling seru dari semuanya adalah cerita dari pondokan putra Teluk Bakau tentang my brother. Ah, lucu sangat teman. Menakutkan tapi jenaka. Menghibur sekaligus mengundang rasa iba. Seru!!!

Yoga selaku koordnitor sub unit (kormasit) Teluk Bakau melaporkan. Selasa malam hari ketika mereka (Yoga, Akbar HI, Bagus, Akbar dan Tama) baru tiba di pondokannya. Mereka sudah dinantikan oleh beberapa pemuda lokal. Ah, sambutan yang hangat dan meriah teman. Salah satu pemuda yang menyambut kedatangan Yoga dkk. langsung menyapa dengan ramah dan hangat, “Hello my brother”. Ah, senangnya ketika dianggap saudara. Seperti baru bersua dengan saudara jauh saja teman. Ibarat juga pertemuan dua sahabat yang lama terpisahkan. Persaudaran yang begitu mengharu biru. Seperti kisah sahabat Muhajir yang disambut oleh sahabat Anshar. So sweet!!!

Tapi sial, para pemuda itu juga membawa minuman persahabatan. Tuak, anggur atau apalah itu namanya. Minuman alkohol yang cukup memabukan teman. Dan pemuda yang menyapa hangat Yoga dkk dengan sapaan “my brother” ternyata sudah setengah sadar atau bahkan mabok sekalian, entahlah. Bicaranya pelan dan santai, tapi tidak jelas, karena jelas-jelas, my brother sudah mabok ternyata. Oh ya, my brother ternyata juga pandai berbahasa Inggris. Jujur teman, my brother memang pandai berbahasa Inggris bukan karena mabok, tapi karena memang pandai. Duduk berbincang sambil ditemani dengan minuman, membuat Yoga dkk. semakin tertekan. Apalagi hari sudah berganti malam, bahkan sudah masuk hari rabu. Apalagi mereka juga baru saja sampai, masih jet lag. Dan mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menghargai suguhan minuman beralkohol itu. Akbar, Bagus dan Tama memilih untuk meminumnya, cari aman atau memang sekalian, mumpung ada kesempatan. Yoga hanya menempelkan gelas di mulut, tanpa meminumnya, akting yang hebat teman. Tapi Akbar HI lebih hebat, dia menolak untuk minum. My brother pun berkata sambil mabok, “Ustadz.. tidak.. minum ya…”. Ah, suasananya ternyata begitu mencekam.

Masih beruntung bagi mereka, ada Akbar HI yang memang asli Bintan disana. Mengertilah dia dengan gurauan berbahasa melayu itu yang dilafazkan setengah sadar oleh my brother dkk. ketika Akbar HI tertawa, Yoga, Tama, Bagus dan Akbar baru ikut tertawa. Akbar HI diam, mereka ikut terdiam. Kasihan. Bahkan katanya, setiap malam, my brother dkk. selalu berkumpul dan bercengkerama. Ah, lingkungan yang menyeramkan. Pondokan putra di Teluk Bakau begitu mengerikan teman. Di luar prediksi dan perkiraan. Berbeda 180o dengan pondokan putrinya. Nasib-nasib, siapa yang tahu teman.

Ketiga, berita dari Malang Rapat bisa dikatakan biasa saja. Tidak ada kendala yang berarti. Selain ada Firman yang back up-nya kuat, mereka juga berlokasi langsung di rumah bapak kepala desanya. Dan ternyata listrik ada di pondokan mereka. Ah, tidak ada masalah berarti disana. Selesai semua melapor, kita pun pulang ke pondokan masing-masing. Fuih, lelah sekali teman. Saatnya melanjutkan istirahat yang tertunda di pondokan. Tidur siang atau apalah.

Siang hingga Ashar. Pondokan Kawal ramai teman. Ada tiga orang dari sub unit lain yang berkunjung atau lebih tepatnya tertinggal setelah dari kantor kecamatan. Akbar dari Teluk Bakau yang jadi supir mobil pick up milik Kawal, juga Dito dan Wahyu dari Malang Rapat. Ada senda gurau yang menghilangkan penat, ada juga ngedumel dan menggerutu di belakang layar. Ah, inilah dinamika KKN Bintan teman. Ada senang. Ada sedih. Ada bangga. Ada kecewa.

Hari pertama di Bintan, saya sempatkan untuk shalat Ashar berjamaah di Masjid Al Islah yang berada di sebelah barat pondokan, hanya beberapa meter. Kemudian kenalan dan berbincang sejenak dengan imam masjidnya (ah, saya lupa namanya, mungkin Pak Sis) dan juga Bang Rudi (salah seorang warga). Ketika Maghrib tiba, saya pun mengajak Mastori, Fery dan Wahyu untuk berjamaah disana. Ah, ternyata gelap sekali teman suasananya. Matahari hilang, berganti bulan.

Dan, malam akhirnya tiba. Saya mengantarkan Akbar pulang ke Teluk Bakau. Jauh dan gelap. Kanan kiri tidak nampak apapun. Ah, saya tidak bisa membayangkan berjalan sendiri di tengah malam seperti ini. Saya hanya memikirkan bagaimana pulangnya nanti. Sendiri. Ditemani sepi. Ah, bukannya saya takut penampakan atau hal mistis lainnya, saya hanya takut kalau ada tindak kejahatan di jalan. Ah, pasrahkan saja semuanya pada Allah, la hawla wala quwata illah billah.

Alhamdulillah, setelah singgah sejenak di pondokan putra yang sebenarnya cukup nyaman, berkenalan dengan Pak Agus, Bang Deni, Dek Rini dan Dek Bayu lalu ikut mengantarkan para ranger (begitu kita menyebut lima serangkai di Teluk Bakau, Yoga, Akbar HI, Tama, Akbar dan Bagus) menuju pondokan putri kemudian ikut berbincang dan kenalan kembali dengan Ibu Pur (pemilik rumah) serta Pak Kepala Desa Teluk Bakau (kalau saya tidak salah), saya langsung pamit pulang. Alhamdulillah, sampai juga teman. Tips-nya ada dua, berdoa atau membaca surat-surat pendek Al Quran sepanjang perjalanan dan fokus pada cat putih barrier di sepanjang jalan Teluk Bakau dan Kawal. Kalau kata Dora dalam Dora The Explorer, “Berhasil-berhasil-berhasil, hore!!!”

Tiba di Kawal, tepat saat makan malam,kemudian dilanjutkan dengan kunjungan kerja ala Sub Unit Kawal alias silaturahim ke rumahnya Pak RT 04. Ditemani dengan Pak Amirudin (the best guide in Kawal), adik ipar Ibu Mas yang setia membersamai dan menemani, kita pun silaturahim ke rumah Pak Yani. Ramah tamah dan perkenalan yang hangat. Hari pun semakin malam dan kita memutuskan untuk pulang. Ah, saatnya untuk tidur. Selamat tidur!!!

Hari pertama pun kita tutup dengan rapat sub unit. Bayu atau kita memanggilnya Pak RT memimpin rapat perdana ini. Agendanya hanya evaluasi hari pertama ini dan merencanakan hari esok. Bukankah gagal dalam merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ah, hari pertama KKN di Bintan sungguh melelahkan, tapi sangat berkesan.

Lewat Sudah, Tiga Hari ‘Tuk Selamanya

Hei!!! Sudah tiga hari kita KKN di Bintan teman. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. Saya bingung akan mengawalinya dari mana. Kalau saya mengawalinya dengan, “Pada suatu hari…”, ah, saya jadi ingat masa ketika SD. Jadi biarkan saja jemari ini menari di atas laptop sesuai dengan perintah otak yang berkombinasi dengan hati. Ah, tapi sayang, ternyata saya mulai mengantuk teman.

Seperti sifat waktu yang cepat berlalu dan tidak akan kembali, KKN Bintan kita pun telah lewat tiga hari teman. Ah, tidak terasa. Semakin bergejolak dan membahana. Situasi dan kondisi di lapangan yang penuh dengan tantangan serta kabar-kabar dari tanah Yogyakarta semakin mewarnai KKN Bintan kali ini. Ah, seperti pelangi dengan indah warnanya. Saya menikmatinya. Saya mensyukurinya.

Rabu-Kamis-Jumat sudah lewat. Seperti Tiga Hari-nya Float, “Lewat sudah, tiga hari ‘tuk selamanya”. KKN Bintan juga sudah lewat tiga hari. Hari pertama lewat. Hari kedua lewat. Hari ketiga juga lewat. Hari pertama sudah kita lalui bersama dengan berbagai perasaan yang berwarna-warni. Ah, tidak usah kita bahas lagi teman. Dua hari berikutnya, kita datang, berkunjung dan silaturahim ke rumah para pejabat RT. Kita sempatkan untuk singgah ke rumahnya Pak Amirudin yang juga ketua RT 01 dan dilanjutkan dengan pesta degan (kelapa muda) yang dipetik langsung dari pohon kelapa yang ada pekarangan rumahnya. Sebelumnya, kita juga menikmati keindahan Pantai Trikora I bersama teman-teman sub unit Teluk Bakau. Kita juga merasakan shalat Jumat pertama di Kawal. Kita juga singgah ke rumahnya Pak Tamin, ketua RT 03 yang sedang ada hajatan besar di rumahnya, mereka menyebutnya khataman. Ah, ramai sekali teman rumah beliau kala kita singgah kesana. Rumah panggung beratapkan daun kelapa. Budak-budak (anak kecil) yang asik nonton bareng film Pendekar Bujang Lapuk. Dapur dadakan yang ramai ibu-ibu memasak. Hei, suasana desa yang penuh kekeluargaan yang sering dikisahkan di buku-buku pelajaran pendidikan moral dan kewarganegaraan langsung terbangun seketika. Ah, sungguh indah teman.

Saya tidak sangka 3×24 jam itu ternyata telah lewat dan berlalu begitu cepat. Berhembus seperti angin dan mengalir lancar seperti aliran sungai. Ah, cukuplah untuk beradaptasi. Setelahnya kita harus berubah kalau tidak ingin tergilas oleh perubahan itu sendiri. Tiga hari ini cukuplah untuk mengenal karakter tujuh orang teman-teman KKN saya. Bayu, si kormasit atau kita memanggilnya Pak RT yang ternyata bijak tapi ndeso (kalau habis makan suka tidur), Icak yang penuh toleransi dan lucu sangat, Fery yang penuh keberuntungan, Mastori yang suka menulis dan difoto, Sari yang peduli kepada sesama, Erni yang pandai mengurus administrasi keuangan dan bersosialisasi dan Neni si juru bicara dari Kawal.

Ah, lewat sudah tiga hari ‘tuk selamanya. Setelahnya kita harus berlari lebih cepat. Bagaimana dengan Yogyakarta teman? Kita mengawalinya dari PJS saya di KAB. Saya hanya bisa berbalas pesan dengan si Tika.

As. Kemaren siapa jadinya yang mewakili KAB di rapat KSF goes to school? Hanami kayaknya kan gak dateng tuh? Bls segra. Af1 wa Jzk. Ws.

Panji

Wlkmslm. Sabar.. kan dah ku blg skrg msh d Malang. Jd g bs dtg. Trus telpn org2 akhrny Ulia yg dtg tp g smp slese. Gitu..

Tika KAB’04

As. Oke! Tetap semangat yah mbak! Semoga sukses deh KAB dan penelitiannya! Keep Fight and Spirit. Ws

Panji

InsyaAllah.. tetep semangat ko. Amin.. ditegur aja klo ntar lupa ngasih report k kamu. Biar inget. Tkt g amanah. Yup. Mksh. Wslmkm.

Tika KAB’04

Teman saya yang lain ternyata juga mengirimkan satu masalah special untuk KAB. Ah, rancak bana teman. Pesan dari Yogyakarta itu masih bisa sampai hingga Pulau Bintan. Hebat benar teman.

Asslm.. nji, KAB btuh stempel bwt proposal PMB. Solusi? Mb Tik lg d Malang, trus pnitia ada bbrp yg pulang.

Tidak pakai lama. Tidak pakai pikir panjang. Pesan itu langsung saya forward ke Tika. Dan langsung dibalasnya.

insyaAllah ji. Ntar lg ya. Lg ngadep pembmbing u/ olah data ni. Afwan.

Tika KAB’04

Teman saya yang KKN di Kalasan, juga berbalas pesan dengan saya. Rezki namanya, anak Teknik Mesin UGM angkatan 2004. Teman yang aneh tapi nyata.

Asw. Bos, p kbr? Smalem liqo g? Btw, Andrie baru j maen dr t4 KKN gw nich.

As. Alhamdlh gw mash hidup. Yah, smbl nunggu surat transfer dari bos, gw tarbiyah dzatiyah dulu. Wah, ada Andri, berarti kalian rapat forum perdana ya?

Alhmdllh klo msh hidup.. gw kira dah ke laut aje.. wah, klo masalah forum gw kaga tahu dah.. tu kan urusn lo dkk nantiny.

As. Hmm, selain Andri, elu, Gun and Prima, terus siapa lagi yg masuk forum bt tahun depan ? ? Ws.

Kaga bos! Andri pgn ketemu sblm pulang k palembang sore ni.. tp g ketemu gun coz dy lg k jgj. Qt b’3 cm makan bakso bareng. Btw, kata prim, all u can eat ad lg.

Wah, koq Andri malah balik ke Palembang, si Gun malah KKN-nya pulang pergi, dan kalian b3 malah malah makan bakso. Aduh2x. btw, all u can eat-nya berapa duit and sampai kapan?

25ribu tp g tahu pe kapan

Teman-teman di Banten, Bandung dan Klaten juga tidak ketinggalan menanyakan kabar Bintan. Agus (rekan perjuangan saya di perikanan), Tiwi (rekan perjuangan saya waktu di SMA) dan Dodik (rekan perjuangan saya di KAB). Ah, cinta memang berkawan teman.

Ass. Panji, gmn KKNnya? Wah, asyik y bs liburan sambil brkarya Btw adikmu sdh cari kos blm? Apa mo d MTOP aja? Aq skrg lg bwt rvisi nih. Keep our spirit!

Agus Banten

Aslm. Ji, kaifahaluk? Ari km bkny tos KKN? Yg Pulau Pramukan te naon? Btw, km the srius te? Ngenalin sy ke konco2mu iku? Abi hoyong tanya2, tp te enakeun. Coz who am I gt? –tw-

Pratiwi Bandung

Aslm, piye kbrnya, bang panji?

Dodik Klaten

Saya juga sempat berbalas pesan dengan teman saya yang berasal dari Lampung. Cahyani namanya, adik kelas saya di Manajemen Sumberdaya Perikanan UGM.

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban, wa balighna fi ramadhan.. af1 dan ikhlaskan ats sgl khilaf

As. Sama-sama mbak. Oya, katanya abis operasi yah? Moga lekas baikan ya. Ws

Alhmdllh.. pripun kbr kampus?

As. Wah, saya lagi KKN di Bintan, mang ant lagi di Lampung yah? Smg lks sehat dan bs sgra balik k kampus. Ws

o… sy d jgj, aamin. Wish u succes, wasslmkm

As. Sama-sama. Amiin.. Ws.

Dan ada juga pesan dari teman saya waktu Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Pulau Pramuka setahun silam. Baim namanya dari Fakultas Perikanan Universitas Padjajaran angkatan 2002.

Hallo. Pa kbr nih, udah beres lap pklnya? Dapet nilai apa? udah mau penelitian blom?

As. Lap. sih dah beres, tinggal nilainya belum keluar. Klo penelitian nanti setelah KKN di Bintan baru kita urus. Dah lulus belum? Sibuk ngapain nih? Ws.

Lg sibuk nonton tv, mkan, jalan2. Alias nganggur. He.. habs wisuda tp ijazah blom dapat. Wah KKN kok jauh2. Penelitian dimana? Tentang apa?

As. Insya penelitian di Pantai Depok, JGJ ttg wanita p’olah ikan disana.

Ok. Mudah2an smuany lancar, KKN dan penelitianny. Kpn mau ke Pramuka lg?

As. Hmm, blm ada rencana mo ksana lg. Tapi kabar2i yah klo kesana . Ws.

Ah, tiga hari lewat sudah teman. Bintan dan Yogyakarta hanya terpisah jarak. Awal September insya Allah saya sudah kembali ke Yogyakarta dan berjumpa dengan kembali dengan teman-teman dari segala penjuru Indonesia. Ah, semoga semuanya sesuai rencana. Maka berdoa dan berusahalah.

Khataman

Salah satu tradisi yang saya saksikan di Kawal adalah khataman. Ah, sangat tradisional dan religius. Suasana yang terbangun ketika saya menghadiri acara ini juga begitu hangat, layaknya selametan di daerah lain. Saya langsung teringat Kuningan, tanah air pertama saya ketika ramai saudara-saudara berkumpul ada hajatan, ketika pernikahan bibi-bibi saya, belasan tahun silam ketika saya dan Fajar disunat, atau bahkan ketika ayah dan ibu saya melangsungkan pernikahan di tanah kelahiran saya. Ah, saya rindu kampung halaman teman.

Hujan, kau ingatkan aku, tentang satu rindu, dimasa yang lalu, saat mimpi masih, indah bersamamu”

Jumat malam saya, Bayu, Icak, Fery dan Mastori silaturahim ke rumah Pak Tamin, ketua RT 03. Masih bersama dengan Pak Amirudin yang tetap setia menemani. Ah, bapak yang baik hati, beliau benar-benar memuliakan tamu. Seperti halnya saat kita singgah ke rumah Pak Tamin, ketua RT 03 yang punya hajatan khataman ini. Kita dijamu dengan kopi hangat dan pembicaraan yang juga tidak kalah hangat. Duduk lesehan di rumah panggung yang beratapkan daun kelapa dengan diiringi riuh rendah suara budak-budak (anak-anak) yang asik menonton Pendekar Bujang Lapung, gurauan ibu-ibu yang asik memasak bersama di dapur umum dan obrolan bapak-pemuda yang seru. Ah, suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan.

Jadi di Kawal ini ada tiga acara besar yang menjadi kebudayaan tradisional di Kawal. Pertama, khitanan atau biasa kita bilang sunatan. Kedua, khataman, seperti selametan atau syukuran setelah menyelesaikan membaca Al Quran 30 Juz dan ketiga, nikahan. Tidak jauh berbeda dengan tradisi di daerah-daerah lain, ketika hajatan ini biasanya mengundang keluarga dan tetangga. Makan bersama sekedar ungkapan rasa syukur dan ramah tamah. Mungkin yang agak sedikit berbeda adalah tradisi khataman. Mungkin budaya melayu yang kental dengan budaya Islam yang mempengaruhi tradisi ini. Memang budak-budak itu biasa belajar mengaji selepas maghrib hingga Isya. Belajar mengaji Al Quran hingga lancar 30 Juz. Dan setelahnya, sebagai ucapan rasa syukur, orang tua budak pun mengadakan syukuran, atau dikenal sebagai khataman. Tapi tidak selalu khataman diadakan langsung setelah selesai menyelesaikan 30 Juz Al Quran, tergantung kondisi keuangan dan kemelimpahan rezeki. Ah, tradisi yang religius teman.

Setelah duduk ngobrol bersama Pak Tamin barang sejenak sambil menikmati pulut (ketan hitam yang manis rasanya) kita pun ikut ngobrol bersama ibu-ibunya yang sibuk memasak di dapur umum. Kita ikut nimbrung, ikut mengacau di dapur. Ah, saya belajar banyak lelucon khas Bintan. Hei, ibu-ibunya ternyata senang bergurau teman. “Banyak gurau, hilang penat”, seperti kata Bu Mas. Sambil masak ayam kari (ah, saya lupa nama masakannya), semuanya terlihat senang dan menikmati pekerjaan ini. Ngobrol ngalor ngidul, ah, malam yang hangat dan menyenangkan.

Kita kenal banyak orang teman, ada Ibu RT 04 (isterinya Pak Yani), Bang Hendra dan ibunya, dan ibu-ibu lain yang senang bergurau sambil memasak. Ah, tradisi di Kawal memang lucu dan mengerikan teman. Ada teh obeng, ada juga suami yang dijual dan dimakan. Teh obeng adalah istilah orang Pinang untuk es teh, sedang suami adalah makanan khas orang Buton berupa ubi olahan yang dibungkus plastik berbentuk kerucut dengan Rp. 2.500. Ah, aneh-aneh saja teman. Malam menjelang khataman begitu berkesan.

Dan paginya, saya, Bayu, Icak, Mastori, Fery, Neni, Erni dan Sari menghadiri khataman yang sebenarnya. Menikmati nikmatnya hidangan ayam kari dengan tahu pedas, menikmati hiburan lagu khas melayu dengan pantunnya yang khas, menikmati souvenir unik berupa telur rebus, nasi kuning dan bunga kertas dalam gelas plastik, berbincang hangat dengan yang punya hajatan dan berfoto bersama dengan semuanya. Ah, khataman, begitu melayu, begitu religius dan begitu seru!!

Andri dan Malang Rapat

Malam minggu pertama di Pulau Bintan. Ah, rasanya sungguh menyenangkan teman. bukan hanya karena kita ada acara bakar ikan, bukan hanya karena si Andri ulang tahun, bukan hanya karena kita semua (anggota KKN Bintan) bisa berkumpul dan bukan hanya karena ini malam minggu pertama kita di Pulau Bintan. Ah, lalu karena apa kawan. Entahlah, sulit untuk dijelaskan.

Salah satu teman kita yang berada di sub unit Malang Rapat, baru saja milad, merayakan hari jadinya yang ke-22, 10 Juli silam. Andri namanya, putra Pekanbaru, mantan ketua Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), angkatan 2005. Dan beliau sengaja mengundang semua teman-teman di sub unit Kawal dan Teluk Bakau untuk merayakannya, sekaligus syukuran dengan acara bakar-bakar ikan di Desa Malang Rapat, tepatnya di pondokan mereka (rumah kepala desanya). Ah, kalau rezeki memang tidak akan lari jauh kemana teman.

Ba’da Maghrib, saya dan sub unit Kawal sengaja menyarter mobil untuk ke Malang Rapat. Mobil Trans Kepulauan Riau (Trans Kepri) akhirnya menjadi pilihan. Memang jarak antar desa begitu jauh teman. Hubungan jarak dan tarif juga berbanding lurus teman. Maka kita pun mensiasatinya dengan menjemput teman-teman di sub unit Teluk Bakau agar biaya yang ditanggung juga semakin berkurang. Dan dari Teluk Bakau (sub unit yang paling menantang untuk ditaklukan), kita semuanya minus Akbar HI yang harus pulang ke Tanjung Pinang berangkat menuju Malang Rapat, special untuk Andri dan ikan bakar tentunya.

Ah, kondisi di Malang Rapat juga termasuk nyaman teman. Sub unit ini menempati rumah Pak Sakir (Kepala Desa Malang Rapat) sebagai pondokannya. Informasi yang diterima pun langsung tanpa perantara. Malang Rapat kali ini dihuni oleh Firman (kormanit), Anjar (kormasit), Taufik (Sastra Korea), Dito dan Wahyu dari Perikanan, Andri yang punya hajatan, Desi (pecinta alam dari psikologi), Fairus (Farmasi) dan Erhan (Geofisika). Ah, lokasi yang cukup menarik untuk sebuah sub unit, dekat Pantai Trikora dan dekat lapangan pula.

Malam minggu di Malang Rapat ternyata tidak menyenangkan 100% teman. Ada saja wajah-wajah depresi dan penuh beban dari para ranger Teluk Bakau. Tapi saya tidak akan merusak suasana dengan menceritakan kisah itu. Tradisi bakar ikan haruslah menyenangkan seperti dulu saya malam keakraban (makrab) bersama teman-teman perikanan 2004. Meski sempat hujan ketika berangkat dari Teluk Bakau, meski sempat kehilangan HP selama perjalanan, meski sempat bersitegang dengan Akbar karena kesalahpahaman, semuanya harus menyenangkan dan menenangkan. Ah, untuk itulah saya shalat Isya terlebih dahulu bersama Andri. Dan suasana hati saya pun kembali tenang, alhamdulillah.

Dan saya pun kembali bernostalgia teman, dahulu terasa indah, tak ingin lupakan. Apalagi ikan bakar yang melimpah ruah. Kenalan dengan pemuda-pemuda Desa Malang Rapat yang begitu ramah, dan senang gurau. Hei, saya bahkan kenal pemuda asal Bandung yang sudah lama tinggal di Malang Rapat. Ah, jauh-jauh ke Pulau Bintan, ketemu orang Sunda lagi. Kenal juga dengan Pak Ngah, bapak yang dituakan dan disegani di Malang Rapat. Bahkan si Mastori sampai kenalan dengan Pak Saha lalu singgah di rumahnya dan dapat oleh-oleh kerupuk ikan. Banyak cakap dengan Anjar, ikut nimba air dengan Firman dan Andri, hingga akhirnya tertidur duluan bersama Akbar dan Anjar. Ah, saya kekenyangan. Nama saya telah tercoreng oleh Icak dan para ranger sebagai monster lambung dua. Kalaupun saya mati, pasti saya akan jadi raksasa seperti di film-film. Ah, nampaknya saya mabok ikan bakar. Rapat unit pun akhirnya saya tinggal tidur.

Ah, undangan dari Andri di Malang Rapat untuk bakar ikan sangat menyenangkan. Kapan lagi kita bisa makan ikan bakar sampai puas dan kenyang kalau tidak sekarang. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Nikmati saja ini semua. Dan ingatlah, maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan.

As. Met milad ‘Ndri! Moga sukses dunia dan akhirat. Ws @ Panji and Kawal’s

Amiiin… sampein makasihku bwt smuany yah Nji.. thx, @ Andri

Kerja Bakti

Sepulangnya dari hajatan ikan bakar di Malang Rapat yang disponsori oleh Andri, sub unit Kawal sudah ada agenda tersendiri. Agenda yang spesifik untuk para putra di sub unit Kawal. Special invitation untuk Bayu, Icak, Fery, Mastori dan juga saya. Ah, sebuah kegiatan yang familier di telinga kita, setiap ahad (minggu) pagi, biasanya di kampung-kampung. Kalau teman gaul, pasti istilah kerja bakti sudah tidak asing lagi kita dengar. Dan ahad ini, kita pun kerja bakti.

Ketika Jumatan, diumumkan oleh Pak Sis bahwa besok ahad ada kerja bakti di Masjid Al Islah untuk membereskan puing-puing bekas bagian belakang masjid yang dibongkar. Ah, inilah kesempatan kita untuk beramal, dunia akhirat teman. Membangun rumah Allah di muka bumi. Ah, kalau di KKN, kita mengenalnya sebagai bagian dari bidang sarana dan pra sarana fisik. Apalah itu namanya, apalah itu istilahnya, sambil menyelam minum air teman, tanpa tenggelam.

Ahad tiba, tepat pukul 08.00 WIB, saya, Bayu, Icak, Mastori dan Fery menuju tempa kejadian perkara (TKP) di Jalan Wakatobi, di Masjid Al Islah. Hei, tapi mengapa sepi teman. Tidak nampak satu orang pun disana. Bagaimana ini teman. Apakah kita salah informasi? Apakah kita telat dan kesiangan? Apakah batal?

Panji, dibelakang kerja baktinya. Langsung ke belakang aja!”, seru Pak Sis.

Oke Pak! Siap komandan! Laksanakan!”, kita menjawab serentak.

Dan pekerjaan itu pun kita laksanakan dengan segera. Puing-puing bebatuan yang ada di bagian belakang masjid kita pindahkan ke bagian dalam. Istilahnya ngurug, saya tidak tahu bahasa melayu-nya apa. Ah, pokoknya meninggikan permukaannya lah. Fuih, ternyata lelah juga teman. Memindahkan batu dengan tangan, dengan ember, dengan serok, dengan kantong semen, dengan gerobak sorong, dan dengan semangat pejuang ’45 tentunya. Ah, saya tidak menyangka kalau pekerjaan ini cukup menguras keringat teman. Terkuras habis, tapi saya menikmatinya. Saya menikmatinya, walau tenaga saya terkuras. Ah, kerja bakti yang saya lakukan di hari minggu seperti di buku-buku pelajaran teman. Hebat!!

Kerja bakti ini juga lucu teman, apalagi ketika istirahat melepas lelah untuk sementara. Kita disuguhi minuman Ale-Ale yang berhadiah jutaan rupiah teman. Dan keberuntungan pemula seperti di Alkemis sedang tidak berpihak teman. Dari satu dus minuman Ale-Ale itu, kita hanya dapat hadiah seribu rupiah. Ah, bodoh sekali teman, berharap lebih dari sebuah undian, ah, dasar mahasiswa KKN yang kelelahan karena kerja bakti sehingga tidak mampu berpikir jernih.

Dan selepas istirahat melepas lelah, kita melanjutkan kembali perjuangan membereskan serpihan bebatuan masjid. Sedih juga teman, pembangunan masjid ini sampai tiga kali ramadhan. Jamaah yang mengisi shalat fardhunya juga hanya segelintir orang. Kampung nelayan di tanah melayu ternyata tidak begitu religius juga teman. Ah, tapi sudah ada shalat berjamaah lima waktu di Masjid Al Islah ini juga sudah syukur alhamdulillah teman. Saya sendiri belum sempurna shalat berjamaahnya kawan. Ah, Panji payah!!!

Dan menjelang jam 11 siang, kerja bakti di Masjid Al Islah ini pun usai. Ah, meski tidak sampai dua puluh orang yang kerja bakti, pekerjaan ini akhirnya bisa terselesaikan lebih cepat teman. Fuih, kerja fisik yang berkesan teman. Menenangkan rohani dan menyehatkan jasmani. Ah, minggu depan atau dua minggu lagi, kita akan kerja bakti kembali. Ayo kita persiapkan fisik dan mental teman. Semangat!!!

Kawal Madani Cup I

Ah, seusai kerja bakti di pagi hari, saya masih ada agenda lagi di Kelurahan Kawal. Saya sudah berjanji untuk silaturahim kesana dan bercakap-cakap dengan Bang Hardi, Ketua Karang Taruna Kelurahan Kawal. Ah, jam 2 siang ketika panas terik menyengat, saya harus berangkat berangkat. Rasa malas dan lelah harus disingkirkan segera teman. Janji harus ditepati dan satu misi pribadi harus diselesaikan, ikut Turnamen Sepakbola Kawal Madani Cup I.

Sebenarnya saat panas terik seperti ini lebih enak jika istirahat sejenak di pondokan. Menikmati semilir angin laut sambil membaca. Ah, nikmatnya. Tapi itu hanya angan-angan. Apapun yang terjadi, saya harus berangkat ke kelurahan. Tak ada motor teman. Tapi tetap saya harus berangkat. Tapi tidak sendiri teman, saya kesana bareng si Neni. Dan beruntung teman, kita diantar oleh Bang Faisal sampai kelurahan. Ah, baiknya anak putra Bu Mas ini. Sedikit bercerita tentang beliau, beliau ternyata kelahiran tahun 1990 teman, dan beliau sudah menikah. Wah, hebat!! Dan karena itulah saya yang lebih tua empat tahun harus mengakui kedewasaannya dengan memanggilnya Bang. Ah, tidak usah berpikir ke arah sana dulu teman, kita sedang KKN, setelahnya skripsi, baru kita berpikir step berikut.

Di Kantor Kelurahan Kawal ternyata sudah ramai teman. Ah, rupanya sedang ada Technical Meeting (TM) untuk Turnamen Sepakbola Kawal Madani Cup I. Dan kita pun bersua jua dengan Bang Hardi. Bercakap sejenak tentang karang taruna-nya dan bertanya banyak hal. Ah, karang taruna, saya pun pernah terlibat di karang taruna rumah saya ketika kelas tiga SMA, menjelang keberangkatan saya ke Yogyakarta dan tentu saja ketika momen 17 Agustus teman. Dan kali ini saya seperti sedang bernostalgia teman. Ah, berhubungan kembali dengan karang taruna. Mohon bantuannya yah Bang!!

Kita pun kenalan dengan Bang Evi, wakilnya Bang Hardi yang juga bekerja sebagai staf di kelurahan. Kita juga kenal dengan Bang Yanto yang pernah kuliah di Yogyakarta (ah, jauh-jauh ke Bintan, masih saja bersua dengan orang Jogja). Satu lagi yang kita kenal adalah Bang Jamal. Jamaluddin Sing nama lengkapnya. Tinggi. Besar. Hitam. Jenaka. Beliau adalah salah seorang panitia Turnamen Kawal Madani Cup I.

Setelah bercakap-cakap dengan Bang Hardi, kita pun mengikuti TM di ruang pertemuan kelurahan. Hei!!! Saya kembali bernostalgia teman. Saya ingat TM terakhir saya di Gelanggang UGM, ketika ikut Turnamen Futsal setahun silam. Saya juga ingat ketika masih SMA saya masih menjadi wakil kapten kesebelasan di sekolah saya dan saya pun teringat ketika saya masih bocah sering mengikuti turnamen antar kampung (TarKam) seperti ini. Ah, sepakbola memang selalu menyenangkan teman. Saya selalu menikmatinya, kapan pun, dimanapun, termasuk saat TM kali ini.

Ah, tapi ternyata suasana kali ini sedang tidak bersahabat teman. Kita hanya tim undangan dalam turnamen kali ini. Tapi untuk menggenapkan menjadi enam belas tim dan juga menghormati tamu, kita pun diikutsertakan oleh panitia. Manajer kesebelasan lain juga tidak ada yang keberatan teman. “Alhamdulillah, Yes!!”, saya berkata senang dalam hati. Masalah sepatu bola, masalah uang pendaftaran, masalah tarkam yang rawan keributan, dan masalah lain yang nanti akan dihadapi ketika kita memutuskan untuk ikut serta adalah masalah nanti, kita akan pikirkan bersama satu unit, KKN Bintan.

Hei!!! Tapi beberapa menit setelah itu, ketika Bang Jamal sedang menjelaskan aturan yang lain, dari pojok belakang, ada seorang pemuda yang menyatakan keberatan dengan ikut sertanya kesebelasan dari UGM.

Tak perlulah’Bang kita ajak orang asing di turnamen ini. Ini ‘kan hanya untuk warga Kawal. Nanti warga lain iri. Kita ‘kan ‘tak ingin ada kecemburuan sosial!”, protesnya ke Bang Jamal.

Kenapa orang ini baru protes sekarang. Kenapa juga hanya dia yang tidak setuju. Apakah dia takut kalau UGM juara. Atau dia memang seorang yang ingin menjaga kemurnian Turnamen Kawal ini. Ah, saya sungguh kecewa dibuatnya. Pernyataannya itu menunjukkan kalau dia tidak paham bahwa sepakbola adalah tanpa batas, “football without frontier”. Ah, bahkan saya sempat emosi dalam hati, pemuda ini rasis sekali teman, padahal sepakbola dunia saja ingin menyingkirkan jauh-jauh rasis dalam sepakbola, kick racism!!!

Ah, suasana di ruang pertemuan pun mendadak panas seketika. Bang Jamal, Bang Yanto dan salah seorang manajer kesebelasan lain yang juga panitia, membela UGM mati-matian untuk ikut serta. Pertama, untuk menggenapkan tim menjadi enam belas. Kedua, memuliakan tamu. Sedang si pemuda yang saya tidak tahu namanya itu sempat memaksa untuk membiarkan turnamen hanya diikuti lima belas tim saja, atau bahkan dia ingin mengajukan satu tim sendiri. Ah, saya tidak mengerti jalan pikiran pemuda ini. Padahal tidak seorang pun yang mempermasalahkan masalah ini. Suasana semakin memanas teman. Si Neni pun mulai ketakutan karena dia satu-satunya perempuan di ruangan ini. Ah, tidak ada hubungannya teman.

Udah ‘Ji, kita ‘gak usah ikut aja. Pikirin kedepannya nanti. Jangan mentingin ego lu. Gw tau lu pengen banget ikut kan. Tapi pikirin juga yang laen”, kata si Neni yang baru pertama kali ikut TM sepakbola selama hidupnya.

Ah, saya bingung. Padahal kalau kita benar, untuk apa kita takut. Lagipula sepakbola adalah persahabatan. Sepakbola juga menjunjung sportivitas dan fair play. Jadi untuk apa kita takut terjadi keributan kalau kita memang benar. Ah, akhirnya saya pun mengacungkan tangan. Memohon izin untuk berbicara di depan forum TM ini.

Ya udah ‘Bang, kalau memang kita tak diizinkan ikut, kita pun tak masalah. Kita ‘kan hanya ingin berkontribusi dan berpartisipasi. Tidak lebih. Dan kalau memang forum menyepakati kita tak diikutsertakan, tak apa-apa.”

Ah, sebenarnya sih masalah dan apa-apa kalau kita tidak diizinkan ikut. Tapi terkadang ucapan di mulut dan hati memang tidak dapat dikompromikan teman. Ah, sudahlah teman. Saya pun tidak ingin menyulut perang persaudaraan karena hal sepele seperti ini. Ah, saya hanya ingin berteriak pada si pemuda yang menyebalkan itu, “Mau loe apa sih ‘Bang sebenarnya?”

Bang Evi dan Bang Hardi bahkan sampai keluar dari ruangan untuk membicarkan masalah ini. Bang Yanto bahkan sampai melakukan Walk Out (WO). Bang Jamal yang tidak ingin mengambil pusing dan selalu berpikir sederhana akhirnya menyerahkan semua keputusan ini pada forum. Ah, saya menyesali kenapa si pemuda yang saya tidak tahu asalnya itu harus hadir TM.

Bagaimana forum? Apakah kita sepakat dengan daftar tim yang akan bertanding ini?”, katanya sambil menunjuk kertas yang berisi daftar tim itu.

Sepakat!!!”, suara forum serentak.

Bang Evi pun akhirnya datang dan mengucapkan bela sungkawa ke kita karena tim UGM akhirnya tidak diikut sertakan. Tapi saya bingung karena Bang Jamal tetap menuliskan enam belas nomor, harusnya lima belas kalau UGM memang tidak diikut sertakan. Neni pun tersenyum senang karena segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dapat terhindar karena UGM tidak jadi ikut serta. Ah, saya masih harap-harap cemas. Saya masih berpikir kalau terjadi ketidaksinkronan antar panitia. Ah, kita lihat saja nanti teman keputusan akhirnya.

Dan akhirnya ketika drawing (pengundian) dilakukan, tiba-tiba saja Bang Jamal memanggil tim UGM untuk mengambil undian. “Alhamdulillah, Yes!!”, saya kembali berteriak senang dalam hati untuk kedua kalinya. Ah, akhirnya UGM diikut sertakan juga. Ah, sekali lagi, kita hanya ingin berpartisipasi, tidak lebih. Kalaupun kita akhirnya juara, saya pikir itu hanya efek samping semata. Ah, setidaknya misi saya terselesaikan dengan tuntas. Hanya tinggal memikirkan darimana kita mendapatkan sepatu bola minimal sebelas pasang, meminjam kostum bola ke Bu Mas (alhamdulillah, beliau katanya punya) dan latihan sekali dengan semua putra yang tergabung dalam tim KKN Bintan 2008 ini. Seperti Julius Caesar katakan, datang, tanding dan menang. Vini, Vidi, Vici!!!

Tragedi Teluk Bakau

Ah, gila kawan!!! KKN Bintan mengalami cobaan yang berat di awal. Fuih, masalah juga masih berasal dari lokasi yang sama, sub unit Teluk Bintan. Ah, menarik sekali teman. Masalah memang akan mendewasakan kita, mungkin itulah alasan Allah memberikan kita masalah. Masalahnya mungkin kita sering menganggap masalah itu adalah sebuah bencana dan musibah. Ah, KKN Bintan kali ini memang luar biasa kawan!!

Yah, kali ini spesial tentang Teluk Bintan saja dulu teman. Mari kita list masalah yang ada di rumah tangga Teluk Bakau sana. Pertama, tentang harga sewa rumah, biaya hidup, makan dan lain sebagainya yang mahal sangat. Induk semang tempat anak-anak putri di Teluk Bakau mondok menetapkan harga enam belas juta rupiah, tanpa kompromi dan tanpa kecuali. Ah, kalaulah uang seperti daun yang tinggal dipetik dari tangkainya, tidaklah masalah teman. Dana terbatas. Bantuan dari Pemerintah Daerah (PEMDA) Bintan dan Pemerintah Provinsi (PEMPROV) Kepulauan Riau masih menggantung tidak jelas dan tidak pasti.

Kedua, belum lagi pengaruh induk semang di Teluk Bakau juga sangat besar di daerahnya. Kalaupun jadi pindah, maka, teramat sulit untuk menjelaskan alasan kepindahan ini. Bisa saja, Teluk Bakau memboikot. Ah, butuh lobi-lobi ala yahudi teman. Kemampuan menggerakan dan mempengaruhi massa yang dimiliki oleh induk semang yang di Teluk Bakau ini bisa menjadi bumerang tersendiri kalau kita salah menyikapinya. Ah, butuh kejernihan hati untuk berpikir dan bertindak.

Ketiga, masalah yang tidak kunjung berakhir di pondokan putra Teluk Bakau. My brother yang lain ternyata tidak jauh berbeda dengan my brother yang pernah saya ceritakan di awal. Ah, ternyata my brother di Teluk Bakau tidak hanya satu teman, mereka ada banyak. Selain suka minum, latar belakang mereka juga cukup membuat bulu kuduk kita merinding teman, ada yang pernah menusuk orang, ada yang pernah masuk penjara, setidaknya itulah yang sering para ranger ceritakan. Ketakutan yang berlebihan. Paranoid.

Keempat, permasalahan internal yang semakin menghangatkan suasana mencekam di Teluk Bakau. Ah, Teluk Bakau memang penuh gejolak teman. Ternyata ada yang merasa tidak dihargai di sub unit Teluk Bakau, seperti yang dilaporkan Yoga si kormasit Teluk Bakau, dia pernah menerima pesan yang cukup menggelitik saya pikir. Masalah yang internal sangat.

Maaf, kalau kita berdua tidak berguna dan dibutuhkan di Teluk Bakau, lebih baik kita berdua pulang saja ke Jogja. Ida dan Afi.

Ah, jadi sedikit bercerita tentang para personal Teluk Bakau. Kombinasinya memang dasyhat. Selain ada para ranger dengan berbagai karakter yang unik (Yoga, Akbar HI, Akbar, Bagus dan Tama), ada juga Yanti (pandai sangat berbahasa Bima), Adiba (ibu Dibyo yang suka masak dan bergosip), Afi (hanyut-hanyut mendiamkan) dan Ida (si bolang yang seperti memiliki dunianya sendiri). Entahlah, apa yang selanjutnya dilakukan Yoga selaku kepala rumah tangga Teluk Bakau. Saya pun tak punya wewenang untuk mencampuri rumah tangga orang lain teman. Biarlah mereka menyelesaikan dengan aturan ala Teluk Bakau.

Kelima, masalah dengan para pemuda Teluk Bakau (my brother) ternyata sampai ke telinga para pemuda Malang Rapat. Hei!! Bahkan lebih dramatis dan hiperbolis teman. Katanya ada anak KKN sub unit Teluk Bakau yang dipukul oleh pemuda Teluk Bakau. Ah, siapa yang menjadi wartawan dan membesar-besarkan masalah ini teman. Permasalahannya sebenarnya sangat sederhana, para ranger hanya merasa sedikit tidak nyaman dengan sambutan yang terlalu hangat (hingga akhirnya panas) dari my brother. Ah, kesalahpahaman ini pun menyebabkan suasana menjadi mencekam. Para ranger selain Akbar HI akhirnya harus diamankan terlebih dahulu di Malang Rapat untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Akbar HI pun terpaksa ditahan di Kawal meski dia sebenarnya yakin ini hanya kesalahpahaman semata. Ah, tragedi Teluk Bakau telah menjadi headline news minggu ini. Hanya ada dua kemungkinan teman. Terjadi perang antar desa atau semuanya dapat diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat. Dan kita pun masih bingung dengan ending-nya akan seperti apa?

Ah, lima monster yang harusnya dapat dimusnahkan one by one oleh para ranger. Apalagi di Teluk Bakau juga masih ada empat serangkai, Yanti, Adiba, Afi dan Ida yang siap membantu para ranger kalau-kalau monsternya malah menjadi raksasa. Ah, sepertinya saya terlalu banyak menonton film super hero hingga akhirnya berimajinasi tingkat tinggi seperti ini. Bagaimana ini teman? Adakah solusi dari lima permasalahan ini?

Ah, tragedi Teluk Bakau telah tercatat dalam sejarah KKN Bintan 2008. Dan memang Allah tahu yang terbaik untuk teman-teman di sub unit Teluk Bakau. Satu persatu masalah akhirnya tuntas begitu saja. Yanti, Adiba, Afi dan Ida akhirnya diikhlaskan pindah oleh induk semangnya dari kediaman semula dan ditempatkan bersama dengan pondokan putra. Putranya ada di lantai dua, sedang putrinya di lantai satu. Koordinasi pun jadi tidak terbatas oleh jarak lagi. Masalah internal yang dihadapi juga berhasil diselesaikan secara kekeluargaan. Damai. Rujuk. Tidak jadi cerai teman. My brother VS Ranger Teluk Bakau juga berakhir di meja runding. Kesalahpahaman itu telah diluruskan. Tidak ada lagi ketakutan dan suasana yang mencekam di Teluk Bakau karena semuanya hanya perlu saling peduli dan memahami. Ah, tragedi Teluk Bakau akhirnya berakhir dengan kebahagiaan. Seperti Avril Lavigne dengan My Happy Ending-nya. Mengharukan.

13 Juli itu…

Ah, saya terkadang bingung kenapa saya selalu ingat tanggal itu. Semakin saya ingin melupakannya, semakin melekat saja dalam ingatan saya. Ah, saya bingung sangat teman. Seperti 13 Juli kali ini, ketika saya berada jauh di Pulau Bintan, kala malam, saya dan teman-teman sub unit Kawal sedang rapat harian. Tiba-tiba saya ingat kalau sekarang tanggal 13 Juli. Ah, semua kejadian itu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata teman.

Ketika 13 Juli itu hampir berganti hari, saya hampir lupa kalau teman saya ada yang milad. Tidak pikir panjang dan lama, saya pinjam HP Mastori, dan mengirimkan pesan singkat itu, sekedar doa dari seorang teman jauh. Teman yang benar-benar jauh artinya secara harfiah, karena saya berada di Pulau Bintan dan teman saya itu berada di Pulau Jawa.

As. Met milad mbak! Terus perbaiki diri. Trz perbaiki umat deh. Ws. Kawan jauh banget

Dan setelahnya pun balasan tidak langsung saya terima. Saya pikir memang karena sudah malam teman. Atau teman saya sudah tidur. Atau mungkin teman saya menganggap tidak ahsan (baik) untuk berbalas pesan terlalu malam. Entahlah, tapi balasan dari beliau baru saya terima selepas subuh.

Siap! Syukron.. bukan kata2 yg jauh utk seorang kawan jauh. Af1, siapa ya?

Elfa Y.

Ah, saya memang sengaja tidak mencantumkan nama saya. Biar menjadi misteri saja teman. Menjaga hati juga. Sekalian bergurau untuk menghilangkan penat. Ataukah mungkin teman saya itu pura-pura tidak tahu. Ah, saya tidak tahu. Tapi saya balas saja pesan itu masih dengan HP Mastori.

Aq ksh klu saja.. aunt299rim744, klo kawan pandai sangat, pasti tau n_n

Sengaja juga saya ubah gaya bahasa agar identitas ini tidak terungkap. Biar saja teman itu berpikir keras memecahkan identitas saya ini. Ah, kali ini saya memang sedang usil teman. Dan teman saya yang kebingungan atau mungkin pura-pura kebingungan itu membalas kembali pesan saya itu.

Ya Allah, betapa org2 tampak bahagia skali klo sy bingung. Termasuk kwn jauh sy ini nu pipilueun oge.. Ya Allah, buka-kan hatiny u ngaku aja deh.. Piss!

Elfa Y.

Ah, 13 Juli itu memang aneh teman. Mencurigakan. Dari balasan-balasannya saya curiga dia telah mengetahui identitas saya, meskipun saya menggunakan HP Mastori untuk berbalas pesan. Kecurigaan saya pun bukan tanpa alasan teman. Ada dua alasan. Pertama, “.. bukan kata2 yg jauh utk seorang kawan jauh…”, nampaknya dia telah mengetahui identitas saya karena kata-kata yang saya gunakan memang kata-kata yang dia tulis di Buku Tahunan milik saya. Kedua, “…Termasuk kwn jauh sy ini nu pipilueun oge…”, nampaknya dia sengaja menggunakan bahasa Sunda karena saya juga memang orang Sunda.

Ah, tapi saya juga tidak tahu sih, apakah si 13 Juli itu benar-benar tahu saya apa tidak. Dan Mastori yang tidak tahu menahu pun ikut bingung (aduh, maafkan saya Mastori). Bahkan dia meminta Akbar HI yang sedang singgah di Kawal untuk menelopon si 13 Juli itu. Dan hebat benar si Akbar HI. Dia bisa mengetahui identitas si 13 Juli itu dari suaranya.

Mastori, yang sms kamu itu perempuan berjilbab yah?”, tanya Akbar HI.

Mastori pun bingung. Mana dia tahu perempuan itu berjilbab atau tidak. Bingung.

Dan saya yang menyebabkan semua kebingungan ini pun langsung bertanya heran ke Akbar HI. Bagaimana cara dia bisa tahu identitas si 13 Juli itu. Hebat benar!!

Bar, kamu tahu dari mana, klo dia berjilbab”, tanya saya ke Akbar HI.

Dari gaya bicaranya saya tahu juga klo jilbabnya besar panjang kan?”, kata Akbar HI membuat saya semakin heran. Bagaimana dia bisa tahu. Ah, dia pun penasaran macam mana pula rupa teman saya ini, karena menurut dia, nampaknya wajahnya biasa saja. Sayang teman, saya juga tidak punya foto dirinya dan tentang cantik tidaknya, sangat subyektif teman. Tidak perlu ada pembahasan.

Tapi saya pun masih penasaran, apakah si 13 Juli itu pandai sangat hingga bisa mengungkap identitas saya apa tidak. Saya kirim kembali pesan kepada dia. Sebuah pantun melayu yang cukup politis. Saya yakin dia pun paham.

cantik selendang putri melayu, menata bunga di atas nampan, kalau ingin Indonesia maju, pilih saja nomor delapan (8)…”

Dan siangnya, ketika sedang bergurau di Pos Komandan-nya Bang Rudi bareng Mastori, Icak dan Neni. Dia pun mengirim balasan yang cukup membahayakan. Oow, identitas saya terbongkar. Ah, kecurigaan saya yang beralasan ternyata hampir mendekati kebenaran. Berbahaya teman. Berbahaya sangat.

Nomor 8? Maksudny apa? (sok polos). Was it ur next clue? Jgn kget klo ketebak ya. Alhmdlh, survei trakhir di DKI msh pringkat 1 wlw dibayang2i Hanura. Gmn dsana?”

Elfa Y.

Bagaimana teman? Saya pun mulai bingung. Bagaimana dia bisa tahu identitas saya kalau dia tidak kenal saya sangat. Ah, si 13 Juli ini senang juga bermain-main ternyata. Dan baru sore harinya saya memberanikan diri untuk mengirim pesan kembali. Setelah berpikir panjang dan penuh pertimbangan. Masih dari HP Mastori tentunya.

Oke, silahkan tebak! U’ve 2 chance! Setelahnya aq br lapor kabar dsini

Ah, tidak langsung dibalas ternyata. Kita lihat siapa yang menang. 13 Juli atau 12 Juni? Ah, kita beri waktu sampai jam sembilan malam nanti. Kalau memang pesan terakhir saya ini tidak berbalas, biarlah saya mengakui kekalahan dan mengakhirinya dengan sebuah pesan. Dibalas tidaknya nanti, dia tetaplah 13 Juli.

As. Af1 telat, slmt 22 thn yo. Smg sukses dunia dan akhirat aja deh! Ws.

Panji

HATI-HATI DENGAN HATI

Yo jg. Gpp, kmrn kan udah. Syukron ya, kawan jauh..

Elfa Y.

Hei!!! Pagi ini saya mengawali hari dengan sebuah pesan yang mengejutkan hati. Untung dia sudah berpesan sebelumnya, “…Jgn kget klo ketebak ya..”. Ah, prediksi saya ternyata benar. Dia masih mengingat jelas semuanya. Pesan terakhir saya dibalas juga. Singkat. Padat. Jelas. Tajam. 12 Juni ditaklukan 13 Juli. Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Teman saya ini ternyata pandai sangat, ataukah saya memang seperti yang Ada Band lantukan, “.. hanya aku, manusia bodoh..”.

Ah, saatnya untuk membayar hutang yang saya janjikan. Melaporkan bagaimana kabar Yogyakarta. Ah, saya pun bingung membalasnya. Sembari berpikir balasan apa yang paling tepat, saya menyempatkan diri untuk singgah ke Pos Komandan Rudi. Ah, kita terlambat teman. Icak dan Akbar HI ternyata sudah berada di sana terlebih dahulu dan menyicipi Durian yang disediakan Bang Rudi. Saya, Mastori dan Neni pun hanya kedapatan Cempedak dan sunkist kemasan kaleng. Ah, kita belum beruntung teman. Tapi ada satu orang yang paling beruntung di Pos Komandan ini, Mastori, dialah orangnya. Jadi ketika kita sibuk bercakap di Pos Komandan yang berada di tepi pantai ini, Mastori sangat menikmati Cempedak yang tersisa. Di Pos Komandan yang nampak seperti gubuk tua yang rapuh tetapi ternyata adalah Base Camp-nya Angkatan Laut (AL) Kawal inilah, Mastori sangat menikmati percakapan dengan Bang Rudi. Dan Bang Rudi pun nampaknya cocok sekali dengan Mastori yang apa adanya itu, Mastori yang terkadang menyebalkan, terkadang juga menyenangkan. Ah, dua orang yang cocok. Komandan yang apa adanya, suka memakai kacamata hitam dan menenteng senapan. Bicaranya ceplas-ceplos dan asal!! Ah, ceritanya nyaris tidak jauh berbeda dengan cerita Mastori. Lucu sangat. Jenaka. Di saat pagi menjelang siang itulah, saya, Icak dan Neni tertawa bahagia dan terpingkal-pingkal melihat Mastori dan Bang Rudi yang nampak seperti sahabat lama yang lama tak bersua dan baru kembali bersua. Ah, Mastori dan Bang Rudi. Seperti senapan dengan pelurunya.

Dan siangnya, saya pun mendapat balasan dari teman saya di Yogyakarta tentang kabar disana. Dan langsung saja saya forward pesan tersebut ke 13 Juli yang menanyakan kabar tentang Yogyakarta.

Menang poling d JKT njuk ngopo? Nek menang poling mesti bangga tp nek kalah mesti blg klo polingny diadakan oleh lwn politk PKS. Kae wis biasa @ dari teman saya di Jogja. Ada komentar?

Pesan pun terkirim. Ah, sudah selesai berarti hutang saya. Saya telah melaporkan keadaan tentang Yogyakarta. Mengerti atau tidak bahasanya, saya tidak ambil pusing. Dibalas atau tidak, tak masalah. Saya tidak ambil pusing, karena saya dan Mastori masih harus ke UPT Perikanan siang ini, bersua dengan Pak Adri, seperti yang telah dijanjikan. Hei!! Tapi siang itu, tidak hanya saya dan Mastori yang kesana, Fery dan Sari juga ikut serta. Ah, sayangnya Pak Adri sedang menemani tamunya keluar. Jadilah kita ditemani oleh Bu Halimah yang ternyata adalah adik kandung dari Pak RT 01, Pak Amirudin. Ya Allah, sempit sekali dunia ini teman. ternyata semuanya dipersaudarakan oleh Allah sebegitu mudahnya. Seperti halnya jodoh yang sudah Allah tentukan, pesan berbahasa Jawa saya itu pun dibalas si 13 Juli dengan sebuah pesan berbahasa Sunda. Ah, iseng juga ternyata orang ini.

Roaming! Teu kaharti! Menang/ eleh poin-na aya di mujahadahna. Simpati iyeu aya tina kerja krja keras dkwah. Ngarawat simpati the perjuangan. Kumaha Bintan? Wilujeng jhd!

Elfa Y.

Hei!! Darimana dia tahu kalau saya sedang KKN di Bintan. Saya tidak pernah menyebut kata Bintan teman. Ah, mungkin dia baca blog saya, atau dia tahu dari teman seperguruannya. Ah, saya balas saja pesan itu langsung. Ah, hati-hati dengan hati teman. Semoga saja dia tidak membalas pesan terakhir saya ini.

As. Awak tak paham.. Bintan penuh kesan n makna! Tunggu novelny aja! Dr Bintan ‘tuk Indonesia.. Salam SENYUM 20% . Ws.

Panji

Ah, saya juga bingung kenapa setiap bulan Juli tiba, tanggal 13 langsung melintas di kepala. Ah, sialnya juga, dia merespon semua pesan saya itu. Ah, hati-hati dengan hati teman. Bukankah beliau sendiri pernah berpesan, “Jangan bermain api. Kebakaran besar berawal dari percikan api”. Ah, saya tidak ingin terjebak dengan prasangka. Apalagi sampai seperti teman KKN saya di sub unit Malang Rapat yang salah mengirim pesan kepada saya. Saya dikiranya Neni. Lucu sangat.

Tante Neni unitmu dah bwt program apa?? Cukup pangan, papan to disana!

Ah, saya langsung tertawa terpingkal dan ingin sekali memberinya sedikit pelajaran. Ah, bukannya saya ingin menyakiti hati teman saya ini, saya hanya ingin sedikit berhibur. Dan berbalas pesan dengan anak Malang Rapat ini adalah sebuah hiburan. Bukankah membuat orang tersenyum bahagia, akan dibalas pahala oleh Allah. Dan karena saya juga ingin membahagiakan orang lain, saya pun minta Icak untuk membalas semua pesan dari makhluk yang satu ini. Kita pun langsung membalas pesan pertama tadi. Tidak berapa lama, anak Malang Rapat itu membalas kembali. Kita pun kembali tertawa terpingkal.

Knp pusing?? Knp jg gak bs tdur? Dsana nyamankan..

Kita balas kembali dengan pesan yang lebih hangat. Kemudian dibalasnya lagi.

Ehm.. lg gundah inget cowoknya ya.. Erni ma Issac cinlok nih.. Bsk unitmu ada acara kmana?

Ah, maafkan kita teman. Maafkan kita wahai si Malang Rapat. Maafkan kita juga Neni. Kita pun masih mengirim pesan balasan. Seperti Sadis-nya Afghan.

Maaf, td mlm Q dah sms tp gak trkirim. Q dah nyoba berkali2, mungkn dia suka ma km, ngash prhatian trus. Jalani aja dl gak usah dokrkn. Hr ini mau kmana?

Ah, Icak memang sadis teman. Bukannya saya cuci tangan dan berlepas diri dari semua tindak kejahatan yang begitu menyakiti hati seorang pria. Tapi memang benar, Icak lah yang menulis semua pesan dari HP saya. Dan saya pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika pesan itu terkirim dari HP saya. Ah, sungguh tega.

Ah, hati-hati dengan hati teman. Hanya itulah yang bisa saya sampaikan. Dan ketika Neni meminjam HP saya, kemudian bermain dengan game inbox (permainan paling berbahaya yang dimiliki oleh semua HP), dia pun melihat pesan yang pertama kali dikirim si anak Malang Rapat, kemudian mengklik reply, lalu bertanya, “Ini siapa yah?”. Dan tidak berapa lama kemudian pesan balasan pun diterima. Jawabannya singkat, padat dan jelas, “Ini taufik.”

Ah, hati-hati dengan hati teman. Semoga saya tidak terjebak dengan cinta lokasi (cinlok) di KKN Bintan ini. Prinsip saya untuk menikmati pacaran hanya setelah pernikahan harus saya jaga. Bukannya sok suci atau sok alim teman. Ini hanya masalah idealisme teman. Doakan saya agar mampu mempertahankan idealisme itu. Pesan saya untuk semua personil KKN Bintan di sub unit Kawal, Teluk Bakau dan Malang Rapat, “Hati-hati dengan hati teman!!”.

SUKU LAUT

Hari ini petualangan di lautan dimulai teman. Gara-gara kemarin terlalu sore, maka hanya satu shift yang beruntung untuk merasakan berlayar dengan sampan. Ah, beruntung sekali Fery, Mastori, Neni dan Erni. Tapi sekarang giliran saya, Icak, Sari dan Bayu untuk berkelana dengan sampan bermotor milik Bang Man ini. Ah, saya belum memperkenalkan Bang Man yah. Bang Man adalah isteri dari Kak Siti, dan Kak Siti sendiri adalah orang yang membantu Bu Mas masak di rumah (masakannya lezat ‘Kak). Ah, atau sederhananya, Bang Man ternyata adalah sepupu dari Bu Mas. Keluarga besar bukan? Atau dunia kita yang terlalu sempit. Ah, saya pun bingung menjelaskan hubungan darah seperti ini.

Kembali ke petualangan dengan suku laut. Sore ini, saya, Icak, Bayu, dan Sari ditemani dengan Bang Man, Kak Siti dan Duta (anaknya), berkelana dengan perahu sampan bermotor menuju kawasan hutan mangrove (bakau) yang ada di perairan Kawal. Ah, luar biasa teman. Sebelumnya kita melewati perkampungan nelayan yang begitu eksotis. Ah, seperti di Venesia. Ah, begitu mengagumkan dan mengesankan. Saya melihat lebih dekat suasana di perkampungan nelayan yang didominasi oleh suku Buton dan Bugis ini. Ah, menakjubkan teman. Apalagi ketika kita memasuki kawasan hutan mangrove yang berada di kanan dan kiri sungai. Saya langsung membayangkan hutan Amazone yang ada di Brazil lengkap dengan buaya, ikan piranha dan ular anaconda-nya (tidaklah teman, saya hanya bercanda). Ah, sejauh mata memandang, hanya pohon bakau yang nampak. Saya lupa nama jenisnya, tapi umurnya jelas sudah berpuluh-puluh tahun. Ah, hijau sekali teman. Begitu alami dan natural.

Tapi bosan juga teman. Kalau kita terus menyusuri sungai di kawasan hutan mangrove ini hingga ujungnya, bisa sampai tiga jam teman. Jadi kita memutuskan untuk berbalik arah dan menuju lautan saja. Ah, tapi saya tidak akan melupakan perjalanan di kawasan hutan Mangrove ini. Inilah yang dinamakan petualangan seru. Apalagi ketika akhirnya kita singgah di perkampungan suku laut. Ah, semakin menegangkan dan mendebarkan teman.

Ternyata memang benar apa yang dikatakan Kak Siti di awal. Suku laut memang tak suka dikunjungi orang. Sedikit bersosialisasi dan cenderung menutup diri. Ah, sebenarnya bagus sih untuk diteliti dan dikaji. Menantang dan menyenangkan. Istilahnya, challenging and fun. Beruntung kita karena ada Bang Man yang menjadi guide-nya. Teman beliau banyak yang dari suku laut. Jadi kita pun bisa menginjakkan kaki di perkampungan suku laut yang memang berada di laut. Tidak menyatu dengan daratan dan menyendiri. Tapi tidak juga mengapung dan terbawa arus. Pondasi rumahnya menancap, menghujam dasar.

Ah, kita kurang beruntung teman, sambutannya kurang hangat. Kaum perempuannya banyak yang tidak senang dengan kedatangan kita. Saya mengerti dari ucapan yang mereka ucapkan. Intinya, mereka malu dan sungkan dengan keadaan rumah mereka yang buruk, apalagi kalau sampai diambil gambarnya. Ah, menarik sekali teman. Tingkah dan perilaku yang menarik untuk dikaji, terutama tentang strategi adaptasi. Ah, suku laut yang mengesankan teman.

Dari cerita Ibu RT 04 (saya lupa namanya), saya pun tahu kalau suku laut adalah orang pribumi asli kepulauan Riau yang memang hidup di laut dan bermata pencaharian sebagai nelayan dengan penghasilan yang lumayan besar. Bahkan saya sempat melihat kalau di rumah mereka ada TV dan VCD-nya. Bahkan ada yang memiliki kulkas dan parabola. Anak-anak mereka juga jarang yang bersekolah hingga tinggi. Karena setelahnya, perjuangan sebagai nelayan akan dilanjutkan oleh anak-anak mereka, jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Ah, pendidikan memang belum menjadi prioritas utama mereka. Keahlian mereka menangkap ikan sudah cukup untuk menghidupi keluarga dengan layak, dan itu sudah cukuplah bagi mereka. Mereka juga memiliki pemakaman sendiri di sebuah pulau. Ada sebagian dari mereka yang beragama Islam, ada juga yang nasrani. Benar-benar kehidupan yang mengagumkan. Meski sebagian mereka buta huruf, tapi kalau masalah menghitung uang, pandai sekali mereka teman. Ah, suku laut, lahir, tinggal, hidup, besar dan mati pun di laut. Kekayaan budaya yang mengagumkan dari Kepulauan Riau. Ah, kalaulah jodoh, saya ingin mengkajinya.

Sepulangnya dari perkampungan suku laut yang hanya dihuni puluhan kepala keluarga, kita melanjutkan perjalanan menuju lautan untuk menangkap ketam. Ombak yang cukup besar mengguyur basah saya yang berada di ujung depan sampan. Ah, basah kuyup oleh air teman. Menyegarkan dan menyenangkan. Bang Man kemudian mengecek bubu ketam yang telah dipasang di laut. Ditandai dengan pelampung dan dibiarkan seharian di laut. Setiap pagi diperiksanya bubu ketam ini. Ah, kehidupan nelayan yang mengesankan. Dan setelahnya pun kita kembali ke daratan.

Ah, pelayaran yang mendebarkan. Seperti Lufy dalam serial One Piece, seperti petualangan Laksamana Cheng Ho, atau seperti kisahnya Sinbad The Sailor. Ah, saya menikmatinya teman. kalau saya tidak kuliah di Perikanan, kalau saya tidak KKN di Pulau Bintan, manalah mungkin saya akan bersahabat dengan laut yang begitu biru dan menyimpan banyak misteri dan keajaiban, seperti suku laut, terasing dan menyendiri.

Minggu Pertama pun Usai

Hei!!! Sudah genap seminggu kita berada di Pulau Bintan ini. Ah, cepat sekali waktu berlalu teman. Target kita (sub unit Kawal) untuk observasi dan sosialisasi pun sudah terlaksana, hanya tinggal sosialisasi dengan warga sabtu esok. Kemudian laksanakan program deh. Membuat laporan evaluasi lalu kembali ke Pulau Jawa. Ah, kita masih memiliki tujuh minggu lagi teman. Dan insyaallah, kita akan menyempatkan diri untuk menikmati ramadhan di Pulau Bintan, meski hanya sehari. Bagaimana rasanya yah teman?

Dan saya pun sempat bertanya kabar kepada beberapa teman yang juga sedang KKN, “Kaifa haluk? Bagaimana KKNnya? Kasih tips and tricknya donk!”.

Dan tidak pakai lama, beberapa pesan kemudian masuk ke HP saya. Memberi kabar, menanyakan kabar dan memberikan tips dan triknya tentang KKN. Ah, bukankah kita memang diperintahkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Terima kasih untuk Chandra, Julia, Adistya dan Devi.

Wa’slm. Alhamdulillah lancar wa makan dan tidur aja. tips : ant akrabi warga sana, gak perlu bnyk program. Yg penting buat mereka menangis saat ant pulang besok. Triknya, kuasai bahasa sana. Gt.

Chandra Agribisnis’05

W3. Alhamdulillah baek. Gmana ‘Ji KKN disana? Pasti enak ya. Tips ttg apa? Keep istiqomah ya.

Julia KAB’04

W3. Ya kuatkn hati ttp bdoa, m’aji, n smg dmudahkan.

Julia KAB’04

Al mana’ah (daya tahan yg tinggi) tdk akan terwujud jk ; 1. Tdk memiliki tsiqotubillah/ keyakinan thd 4WI. Maka akan gagal dlm mnjalankn amanah. 2. Tdk memiliki syaja’ah maka tdk akn mampu menghadapi masalah. 3. Tdk jiddiyah maka apa yg ia harapkn tdk akn terwujud. Materi akhlak dr Ust. Sholihun

Adistya KMMP’04

Af1 br bls. Smalem failed mlulu.. syaja’ah tu keberanian. Eh, ‘Ji.. crita dunx kisah KKN d’Riau.. Program2ny pa ja? Dah smpe mana p’siapanny?

Adistya KMMP’04

Wa’alaikumussalam wr. Wb.. Alhmdllh khoir ‘Ji. Antm gmn? Tep jd org baik kn? Tips n trik apa? klo tips biar ttp istiqmh d jln kbnaran, mngkn bnyk2 tilawah aja kl y. Sm shaum sunnahny dgiatin. Oia, shalat tpt waktu jg, biar sllu t’jaga. Klo utk sy itu yg plg ngaruh slma KKN ini. Dsana ttp ada prgram dakwahny jg kan? Afwn br bls.

Devi Agronomi’04

Berita yang cukup menggembirakan teman. Ah, seperti keceriaan yang selalu saya dapatkan di pondokan ini. Tawa khas Ibu Mas (hai-hai, kacian deh lu), Pak Has yang biasa duduk di serambi sambil merokok, Bang Faisal yang ternyata senang bergurau (semoga dikaruniai anak yang shaleh ‘Bang!), Kak Mei yang pintar masak (masakannya lezat ‘Kak) dan Zahmi yang sudah diajari Mastori tos my brother (ah, rusaklah anak orang). Ah, saya sudah merasakan seperti di rumah sendiri, feels like home. Begitu menyenangkan dan mengesankan.

Ah, saya jadi merindukan Jakarta saya. Kabar ayah dan ibu. Kabar tentang Bangkit (jadi masuk mana ‘Kit), tentang Endah (udah mulai belum les-nya) dan kabar tentang semua. Saya kirim saja pesan dan Endah pun langsung membalas.

As. Blun lez, gyaw nh kpn?! Bangkit msug al falah. Neii pulz t’akhr.

Ah, saya pun merindukan Yogyakarta kembali. Dan kabar terbaru dari Barnard (teman serumah saya) adalah tentang formasi sementara rumah kontrakan saya, Muslim Top namanya alias Mtop. Jadi, Bowo dan Bagus rencananya akan hengkang, begitu pula Juki dan Jajang. Dan yang bertahan ada saya, Barnard dan Agung (si ketua kontrakan), ditambah lagi Agung Arohman (adik saya), Rezki, Roy, Zuhdi dan Boy, dan mungkin tambahannya ada Hafidz JS dan satu orang anak Pertanian angkatan 2008.

Selain itu, kabar-kabar dari Yogyakarta juga begitu berwarna teman. Ada ekspresi kebingungan dan kegelisahan si Tika sebagai PJS KAB.

Wlkmslm. Kmren ktemu Uut : skrg tggl problrm dana krn proposal blm jadi. Stempel dah beres. KSF go2 schl blm rapat lg, dah ku-PJ-in k Ulia. Bjk tani blm progress. Btw : aq bgg hrs mulai drmana u/ tugas2mu ttg KAB msh rada kagok. Pffh.. gmana untk mulainy ji?

Tika KAB’04

Ada sebuah pesan dari ketua Himpunan Studi Ternak Produkdi (HSTP), menanyakan kabar tentang saya dan PJS KAB-nya siapa.

Aslm. Kaifahaluka anta akh? Gmana kbr tmn2 dsana? Baik n lncr2 ja to? Oiy ane mnt cp yg PJS KAB bs? Syukron.

Aji Kedokteran Hewan’05

Ada juga informasi dari seorang teman tentang keadaan di kampus yang selalu saja dinamis.

Wasw. Afwn br blz.. sy dr slasa-sbtu insy4wl pameran poster dpimnas d Semarang.. jd utk smntra KAB dan PMB da Tika, KMMP da Wahyu. Td da pmbekalan internal bwt cln pan bjk tani, tp smlam da maslh, kpanitiaan bjk tani dianggap ilegal. So, susunan panitia drombak smua trmasuk ihsan. Td pagi lgsung dsyuroin, tp ampe skrg blm dpt kbr lg.. y laen blm tw gmana2ny..

Anis KMMP’04

Hingga kabar dari dan seputar Hanami yang dalam entah kenapa tidak bisa saya hubungi, baik via sms ataupun telepon. Jadi, saya pun menelepon Prima dan meminta tolong beliau untuk menghubungi Hanami segera. Tidak berapa lama, Prima pun mengirim pesan kepada saya.

Nji, brsan Q telp Hanami ke asramany. HP bliau emang lg mati, kmaren MuTu terus lsg outbond Etos, jd Hpny g aktf 5 hari. Dah Q mnt m’hub mb Nola, ktanya ntr mw k kos mb Nola aja..

Ah, ternyata sibuk juga si Hanami. Pantas saja tidak bisa dihubungi. Dan saya pun baru bisa menghubunginya untuk kemudian berbalas pesan.

As. Gmana MuTu + outbond Etosny? KAB? PMB? Ospk Bjak Tani? Smgat! Ws.

MuTu lumayan + outbond etos 2 hr lagi. KAB vakum dulu. iA tinggal teknis ja n dana bwt PMB. Tes panitia ospek tgl 18. Klo bikin srt pmjn t4 di ikn gmn? Cap dsiapa?

As. Bikn aja surat biasa, mnt ttd Pak Tar, kash ke TU, trus bag. Perkap, baru deh pas hari H ambil kunci di p’ikanan langsung. Klo stempel, coba tany Tika. Ws.

Masalhny mo dipake sabtu ini, sy br bsa k kmpus jumat. Mb Tika di Malang, nyari Pak Tar hrus pagi n saya ada asasi. Klo selasar audit ijin ga?

As. Mang buat acara apa sih? Klo mo pk LCD y d p’ikanan, tapi klo gak, yah di slsar audt aja, tanpa izn dan gak perlu buat surat. Klo stempl cb tany Uut deh. Ws.

Rapt GC-KSF goes 2 school. Tar sy mnt Uut. Tlg mint no P’Rozi klo ada.

As. Oke! Mas Rozi 08174121831. Keep Fight!! Ws.

Ah, kembali ke Pulau Bintan, kembali ke sub unit Kawal. Tepat seminggu setelah kedatangan, kita akhirnya mengadakan sosialisasi rencana program di kantor kelurahan. Ah, setidaknya sambutan dan respon yang diberikan oleh para hadirin tamu undangan (Pak Lurah, Bu Lurah, UPT Perikanan, LPM dan Pak RW dan RT yang ada di Kelurahan Kawal) cukup baik. Setidaknya sub unit Kawal memiliki 8 rencana program, ada pembuatan plang jalan dan objek wisata, program kebersihan (meliputi pembuatan tong sampah, sosialisasi tentang kebersihan dan bahayanya membuang sampah ke laut, door to door tentang kebersihan dan pemasangan stiker serta program Jumat atau Ahad bersih), pelatihan kerajinan tangan untuk ibu-ibu dengan menggunakan plastik-plastik bekas makanan dan minuman, pelatihan pembuatan stik nugget dari Ikan Tongkol, pendampingan pelajaran anak SD, pengenalan Bakau sejak dini, pembersihan jentik nyamuk (fogging) dan penyuluhan tentang bahaya narkoba. Ah, ini baru rencana program teman. Setidaknya, inilah yang nanti akan menjadi panduan selama kita KKN selama dua bulan ke depan. Kita pun masih harus koordinasi dengan kelurahan, dengan dinas-dinas terkait, dengan SD-nya, dengan PAUD-nya, dengan UPT Perikanan, dengan warganya dan dengan semuanya, tidak terkecuali dengan sub unit lain, Teluk Bakau dan Malang Rapat.

Seperti koordinasi unit untuk yang kedua kalinya. Hanya kali ini berlokasi di Teluk Bakau. Pembahasan tentang dana (alhamdulillah, kita dapat 15 juta dari PEMDA Bintan) dan rencana kepulangan (mau naik pesawat, kapal atau bis) masih mendominasi. Pembahasan tentang lomba trekking dan turnamen sepakbola juga cukup menghangatkan suasana. Pembahasan tentang program akhirnya pun hanya diikuti oleh perwakilan sub unit karena waktu sudah Maghrib. Ah, kembali ke Kawal dan mengenal tujuh karakter unik teman saya kembali. Pak RT yang suka menyanyi dengan nada tunggal do, Fery yang suka memberikan laporan kepada komandannya di Yogyakarta (alias pacarnya), Mastori yang suka sok kenal sok dekat (SKSD) pada orang-orang yang baru dikenalnya (seperti Kang Asep, Pak Saha, dll), Icak yang selalu berkata fuck tapi selalu berdoa sebelum makan, Erni yang ternyata senang makan pete dan jengkol, Sari yang selalu merindukan pangerannya di Malang Rapat (Wahyu, taukah dikau kalau putrimu itu selalu menanti) dan Neni si psikolog tanpa kompromi yang juga suka mengaji. Ah, satu minggu pun telah saya lewati bersama dengan kisah cinta Tomoko dan Ji Fun dalam serial Friends, kisah Genji dalam Novel Samurai karya Takashi Matsuoka dan kisah saya sendiri yang sedang saya tuliskan sekarang ini.

Ah, tak terasa sudah tujuh hari kita di Kawal. Masih ada tujuh minggu waktu tersisa untuk merealisasikan semua rencana ini. Mari kita optimalkan semua potensi yang ada teman. Mari kita kuliah dan kerja secara nyata karena satu minggu telah usai teman!!

Mengaji di Surau

Suasana di kota santri…”

Ah, kali ini saya baru benar-benar merasakan tanah melayu yang kental dengan nilai-nilai Islamnya seperti yang sering saya dengar. Seperti kisahnya si Ikal dalam Laskar Pelangi yang sarat dengan ke-muhamadiyah-an. Ah, kali ini saya mendapatkan pengalaman ruhani yang begitu menyentuh teman. Saya ikut mengaji di surau (Al Ishlah) bersama si Mastori.

Hei!! Jauh sebelum kita ikut mengaji di Surau, ketika siang hari, saya dan Neni memberanikan diri setelah sebelumnya membulatkan tekad untuk silaturahim ke tetangga sebelah. Ah, kita berdua sudah sepakat untuk ikut bantu-bantu mengajar di Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Ah, saya jadi ingat ketika masih kecil dulu ikut belajar mengaji di TPA. Ah, mengaji di Surau memang menenangkan teman.

Ada dua pilihan sebenarnya yang sebenarnya ditawarkan Bu Dini, tetangga sebelah rumah yang begitu mulianya, yang seorang diri mengajarkan budak-budak mengaji tanpa pamrih. Membantu membaca Al Quran atau IQRA. Ah, tidak masalah, apa pun itu. Dan insyaallah, kita akan memulainya senin depan. Doakan kita semoga istiqomah teman. Ah, menjadi guru ngaji TPA, saya tidak pernah membayangkan sebelumnya.

Dan beberapa jam setelah kesepakatan dengan Bu Dini, adzan Isya pun berkumandang lantang dan menggema di langit Kawal. Ah, subhanallah, bintang-bintang yang bersinar seperti menjawab seruan dari pencipta-Nya. Dan entah kenapa, kaki saya tergerak untuk shalat Isya berjamaah di Masjid Al Ishlah. Ah, mungkin inilah yang dinamakan hidayah teman. Siapa sangka Allah memberikan hidayah ini kepada saya. Siapa yang tahu teman? Paman Rasulullah SAW, anaknya Nabi Nuh AS, ayahnya Nabi Ibrahim AS dan isterinya nabi Luth AS saja tidak mendapatkan hidayah Allah itu. Dan ketika Allah memberikan hidayah ini kepada saya, saya akan mempertahankannya hingga saya menghembuskan nafas terakhir saya di dunia ini. Doakan saya teman!!!

Selepas shalat Isya, saya sebenarnya sudah ingin pulang, tapi kata Mastori nanti saja, ada pengajian ba’da Isya, mengapa kita tidak mengikutinya dulu. Ah, terkadang Mastori ada juga benarnya, terkadang kita memang membutuhkan teman yang senantiasa menasehati dalam kebaikan. Dan kali ini, Mastori memainkan perannya dengan baik teman.

Ah, saya jadi ingat pengajian rutin saya setiap minggunya di Yogyakarta sana. Pengajian kecil bersama beberapa teman di kampus yang dapat menyejukan hati, yang menjadi penawar lelah, yang memberikan energi dan pemahaman baru tentang Islam dan segalanya. Ah, saya merindukan itu semua teman. Dan untungnya, saya menemukan nuansa itu disini, ketika saya mengaji di surau.

Hei!!! Luar biasa teman. Pengajian ini tidak mengenal batasan umur dan golongan. Ada ayah dan anaknya yang masih kelas satu MTS, ada guru ngaji beserta muridnya, ada tukang kelapa, nelayan dan Pak Tamin (Ketua RT 03). Ah, saya pun mengenal siapa yang memberikan materinya, dialah Imam Masjid Al Ishlah, Pak Sis. Dan materi yang diberikan kali ini, tentang ilmu Allah terasa begitu mengena teman. Ah, saya jadi sadar kalau ilmu yang saya dapat selama sekolah ini tidaklah seberapa, bahkan dapat dikatakan belum ada manfaatnya secara nyata bagi masyarakat banyak. Ya Allah, betapa agungnya Ilmu-Mu, semoga saya bisa belajar dari surau ini selama KKN nanti. Ah, saat ini, saya sedang ingin mengaji di surau teman.

Jumat nan Seru

Ah, terlalu sayang kalau saya melewatkan kisah nan seru di hari Jumat kedua selama KKN. Ah, terlampau menyenangkan Jumat saya teman. Bulak-balik kelurahan, melihat Stadion Kawal tempat berlangsungnya Turnamen Sepakbola Kawal Madani Cup I, menikmati bubur ketan hitam di acara syukuran rumahnya Kak Siti dan bermain sepakbola pantai bersama budak-budak Teluk Bakau. Seru!!

Saya mengawali Jumat ini dengan merubah sedikit tradisi dan kebiasaan. Ah, saya tidak melanjutkan perjuangan (alias tidur) setelah menunaikan Shalat Subuh. Saya nyalakan laptop dan mulai menyelesaikan hikayat dari Bintan ini. Dan saya mampu bertahan hingga berjam-berjam menyelesaikan beberapa kisah yang belum terselesaikan. Ah, akhirnya selesai juga teman, hanya tinggal satu kisah yang belum sempurna. Ayo Panji semangat!!!

Dan pagi ini, saya sudah dikejutkan oleh kenyataan kalau dunia ini ternyata begitu sempit teman. Semuanya berawal dari si Neni yang ternyata mengenal Barnard ketika Si Barnard mengabarkan tentang formasi sementara Mtop ke saya. Dan karena pagi ini Barnard mengirim pesan ke saya, saya dan Barnard pun akhirnya berbalas pesan, sembari memberi tahukan kepadanya kalau dunia ini ternyata memang sempit teman. Dan tentu saja, tidak bisa terlepas dari masa yang lalu.

Nji, lo pnya back up file rawapening yg di flashdisk gw gak?

As. Ada ‘Bay, mang knpa? Eh, tnyata gw satu sub unit brg tmennya Sandra! Ws

Hah? Siapa?

As. Neni Psi’05, asli ’04, ank Cinere, ktany lu dlu prnah k rmhnya brg Sndra. Ws.

Klo dah ada uang kontrakan 500rb/ 1jt, langsg dtransfer ke rekening Agung aj ya dl, 2 ato 3 hr ini. Muamalat : 601923.901.1128899. mandiri : 137.00.0582000.2

As. Insy ‘Bay! Sumur gw kring nih. Eh, lu ada pesen gak bt tmn.ny tmn lu Ws.

Tetep smangat & hati2 thd Panji!”

Ah, Jumat pagi ini saja sudah diawali dengan berbalas pesan nan aneh dengan orang yang juga menurut Neni telah berubah 1800, ah, tapi tetap saja aneh.

Lalu, sekitar pukul 08.00 WIB kita pun sarapan mie goreng bersama. Hei!! Tidak ada Sari kali ini teman. Dia menginap di Malang Rapat. Ah, berbahaya teman. Tidak ada yang mencuci piring, tidak ada yang memasak mie lagi, tidak ada yang siap membantu kalau ada apa-apa. Ah, ibu asuh-nya sub unit Kawal sedang berlibur di Malang Rapat dan melupakan anak-anaknya. Sari!! Lekaslah pulang!! Kita semua membutuhkan bantuanmu. Pondokan berantakan seperti kapal pecah nih.

Setelah sarapan, shalat Duha (ah, akhirnya, saya mulai terbiasa), saya bersama Bayu pergi ke kelurahan untuk meminta tanda tangan Pak Lurah. Ah, bapaknya ternyata tidak ada di tempat teman. disana kita malah bertemu dua orang panitia turnamen sepakbola, Bang Iwan nama keduanya (ah, aneh dan langka teman). Kita pun sempat berkonsultasi tentang kemungkinan kita WO pada pertandingan kedua pada tanggal 27 Juli 2008 karena harus mengikuti Lomba Trekking Gunung Bintan dan Pesta Durian 2008. Ah, saya mengalami situasi yang begitu memberatkan dan membingungkan teman. Saya berada di antara dua pilihan. Saya harus memilih salah satu diantara keduanya. Ah, saya bingung teman!!!

Dan sesampainya di rumah, kita mendapat kabar bahwa Pak Lurah sedang berada di Lapangan Sepakbola Kawal. Tidak pakai lama, kita pun langsung menuju lokasi. Ah, lapangannya besar juga teman. Lumayan bagus untuk level kelurahan. Terbuka dan hijau teman. Hei!! Saya ingat Lapangan Kosek dan Squadron yang dipakai ketika Liga SMA 14, saya juga ingat Lapangan Sepakbola Halim, tempat saya pertama kali bermain sepakbola lapangan besar, saya juga ingat Lapangan Sepakbola Desa Maleber, tempat saya bermain bola ketika pulang kampung kala lebaran, saya juga ingat semua lapangan besar tempat saya pernah bermain sepakbola. Ah, lapangan sepakbola, selalu saja mengingatkan saya pada semua pertandingan yang pernah saya ikuti, begitu mengesankan teman.

Dan beruntung teman, bapaknya memang sedang berada di lokasi, memantau persiapan yang sedang dilakukan. Lurah kita namanya, Pak Hazanatul Isral. Hei!! Saya baru ingat kalau beliau mirip benar dengan salah seorang dosen di pertanian, Pak Irham namanya. Ah, pantas saja, wajahnya begitu familier teman. Belum lagi sifatnya yang senang gurau dan begitu bersahabat, ah mirip sekali teman dengan Pak Irham. Ah, Pak Isral, baru kali ini saya berinteraksi langsung dengan seorang lurah, dan ternyata, bapaknya asik teman. Beliau pun meminta kita untuk membuatkan plang nama lapangan sepakbola, Lapangan Sepakbola Kawal.

Baik komandan!! Siap laksanakan!!”, jawab saya dan Bayu serentak.

Dari lapangan, kita langsung pulang dan menunggu waktu shalat Jumat tiba. Bercakap dan bergurau, masih tanpa Sari. Dan ketika Jumatan, hujan pun turun. Saya pun mulai mengantuk (ah, kebiasaan buruk teman). Khutbah jumat dari La Ode Abdul Madjid, ketua RW 01 akhirnya hanya terdengar sayup-sayup. Ah, shalat Jumat akhirnya selesai juga. Bada Jumat, saya dan Mastori bercakap sejenak dengan Kang Asep yang telah ngasih Nanas, Bang Zukri (fasilitator CoreMap di Berakit dan muadzin jumatan) dan Bang Kingking. Ah, saya jadi ingin membuat program kenal 100 orang nih selama KKN. Pertanyaannya adalah, bisakah? Tapi sepertinya butuh pertimbangan yang matang. Kita pikirkan nanti saja, karena nampaknya masih ada yang lebih penting teman.

Salah satu hal terpenting di hari Jumat ini adalah menghadiri undangan dari Kak Siti. Beliau mengundang kita semua untuk syukuran rumah barunya yang berlokasi di tepi laut. Ah, rumah kayu yang romantis teman. Sangat cocok untuk bulan madu, sangat tenang dan nyaman untuk membaca dan menulis teman. Ah, rumah yang yang mengesankan teman. Bolehlah nanti kita maen kesana ‘Kak!

Hei!! Tapi tidak semuanya bisa menghadiri syukuran ini. Pesanan dari Pak Lurah harus diselesaikan segera karena besok sudah opening ceremony. Jadilah, saya dan Mastori menyusul Neni dan Erni ke rumah barunya Kak Siti untuk menghadiri syukuran. Ah, saya penasaran, seperti apa tradisi orang Bintan kalau syukuran rumah. Sedang Bayu, Icak dan Fery pergi ke Lapangan Sepakbola Kawal untuk memenuhi kuliah dan kerja secara nyata, membuat plang stadion.

Jumat nan seru teman. Syukuran di rumah Kak Siti sungguh menyenangkan. Setelah membaca doa syukuran yang dipimpin Bu RT 04 (istrinya Pak Yani), kita disuguhkan bubur ketan hitam. Ah, delicious. Kalau kata Pak Bondan di Wisata Kulinernya, “Manyos”. Bahkan kata mak cik (ibu mertua Kak Siti), biasanya ada Duriannya dalam buburnya. Ah, tapi ini saja sudah lebih dari cukup. Dan kita pun hanya bisa membalas dengan doa. Semoga rumahnya penuh berkah yah ‘Kak!!

Dan Jumat semakin seru ketika sore harinya saya ikut bermain sepakbola pantai bersama Tama, Akbar HI dan Akbar di Teluk Bakau. Ah, sudah lama saya tidak bermain sepakbola pantai. Hampir setahun saya tidak bermain sepakbola pantai. dan permainan bersama budak-budak Teluk Bakau sangat seru teman!! Rasa capek yang luar biasa, geregetan karena banyak peluang yang disia-siakan, dan rasa kecewa campur senang menjadikan Jumat sore di lapangan pasir ini seru sangat. What an amazing experience!!!

Malamnya, Jumat nan seru ini saya akhiri dengan kisah mengangkat meubel dan mengantarkannya ke daerah Kangka bersama Pak Cik, Bang Faisal, Fery dan Icak. Ah, kalaupun orang lain tidak menganggapnya sebagai suatu yang seru, tak apalah. Tapi untuk Jumat kali ini, saya sangat bersyukur karena semua yang saya nikmati hari ini lebih dari menarik, tetapi, seru!!!

Rumah Bahagia Bintan

Kalau teman sedang berkelana ke Bintan, singgahlah sejenak di Rumah Bahagia yang ada di Kecamatan Gunung Kijang, dekat dengan Lapangan Sepakbola Kawal. Ah teman, janganlah berpikir macam-macam dengan Rumah Bahagia itu. Rumah Bahagia memang dibangun untuk kebahagian para penghuninya, para pengunjung yang hadir dan para pekerja di dalamnya. Ah, Rumah Bahagia hanya sebuah nama teman, nama lain dari Panti Jompo yang ada di Kelurahan Kawal, kita mengenalnya dengan Rumah Bahagia Bintan.

Semuanya pun memang serba kebetulan teman. Kalau saja kemarin kita tidak menghadiri Opening Ceremony Turnamen Sepakbola Kawal Madani I, kalau saja kita tidak bersua dengan Bu Camat, kalau saja kita tidak membahas tentang rencana program dengan beliau. Ah, semuanya memang serba kebetulan yang sudah tercatat di kitab takdirnya Tuhan. Ah, seperti saat ini, untuk pertama kalinya, saya datang ke Panti Jompo (ah, saya lebih senang menyebutnya Rumah Bahagia karena konotasinya lebih positif). Minggu kedua saya di Bintan, saya dan sub unit Kawal akhirnya pergi memenuhi undangan Bu Camat untuk ngobrol di Rumah Bahagia Bintan. Saya, Bayu, Icak, Fery, Mastori, Neni, Sari dan Erni pada akhirnya akan membawa kenangan yang tak terduga dari Rumah Bahagia Bintan. Oleh-oleh yang tak ternilai harganya. Tak terjual!!!

Trans Kepri itu hanya mengantarkan kita hingga ujung jalan aspal. Hei!! Supirnya ternyata sempat kuliah di Universitas Riau sebelum akhirnya Drop Out (DO) karena narkoba. Dan ternyata, beliau mengambil jurusan yang sama dengan saya teman, Pengololaan Sumberdaya Perairan (PSP), mungkin kalau di UGM, lebih dikenal dengan Manajemen Sumberdaya Perikanan (MSP). Ah, sungguh mengharu birukan hati saya ketika mengetahui latar belakang hidup supirnya. Ah, saya pun bertekad untuk mewujudkan mimpi saya untuk lulus dari MSP dan melanjutkan perjuangan saya, to make my dream come true.

Tetapi sebelum jauh kesana, perjalanan dari ujung jalan aspal menuju Rumah Bahagia ternyata memang cukup jauh teman. jalan setapak, tanah merah becek, kanan kiri masih hutan dan kebun. Ah, pantas saja Panti Jompo ini dinamakan Rumah Bahagia, karena memang kita sangat bahagia sesampainya kita disana. Ah, perjalanan yang melelahkan menuju Rumah Bahagia Bintan. Hei!! Ternyata nama Rumah Bahagia ini direkomendasikan oleh Bu Bupati Bintan. Ah, memang tepat saya pikir nama yang digunakan, dapat dijadikan percontohan bahkan nantinya.

Sesampainya disana, sambutan yang kita terima sangat hangat teman. saya melihat kurang lebih dua puluh nenek yang duduk tenang di ruang utama sembari menunggu acara dimulai. Ah, saya jadi ingat nenek saya teman. Nenek dari Ibu saya alhamdulillah masih sehat wal afiat dan masih rajin ngaji dan shalat. Sedang nenek dari ayah sudah sakit-sakitan, sebagai cucu kesayangannya, semoga Allah menyayangi nenek saya sebagaimana nenek saya menyayangi saya. Disana juga telah hadir rombongan Bu Camat. Dan sembari menunggu acara dimulai, kita pun berbincang bersama Bu Camat dan rombongan mengenai banyak hal. Tentang program pelatihan pengolahan hasil perikanan (nugget, ajifurai, abon, kato-kato, bakso, dll) yang dihandle oleh Mastori utamanya dan cerita lain yang menghangatkan suasana di Rumah Bahagia ini.

Dan ternyata memang luar biasa teman. Programnya terjadwal rapih dan dikemas secara menarik setiap harinya selama seminggu. Makan mereka terjamin, ada yang mencucikan baju juga, sebulan sekali ada program jalan-jalan plus sarana dan prasarana yang juga lengkap teman (satu kamar ukuran besar untuk tiga orang, semuanya ada delapan kamar lengkap dengan kasur dan lemari, enam kamar mandi, kebun dan taman yang luas, ruang kesehatan, ruang makan, dapur, ruang utama di tengah gedung dan mushola yang representatif). Dan kesemuanya itu gratis teman, tidak ada bayaran sepeser pun. Ah, benar-benar membahagiakan.

Ah, tapi satu hal yang paling membahagiakan ketika kita berkunjung adalah ketika kita akhirnya harus ikut menari bersama para lansia, diiringi lagu melayu yang khas dengan pantunnya. Ah, terlihat bodoh memang. Dan mungkin ini akan menjadi hal terbodoh yang terjadi selama KKN di Bintan, dengan skill menari yang nol besar plus improvisasi yang dasyhat, kita pun, mau tidak mau, suka tidak suka, bisa tidak bisa, semuanya harus mengikuti sesi ini, dancing with grandmother!!

Ah, saya tidak pernah menyangka teman, sekalinya saya menari, saya malah harus menari bersama para lansia. Ah, inilah tarian pertama yang mengguncang dunia tari menari se-Indonesia, bahkan sedunia. Kalau sampai video ini jatuh ke tangan orang-orang yang tida bertanggung jawab, maka harga diri, saya, Bayu, Mastori, Fery, Icak, Sari, Neni dan Erni mungkin akan jatuh terinjak-injak, atau malah sebaliknya, melambung tinggi hingga tidak terbeli. Ah, saya pun bingung harus berkata apa, bahagiakah saya?

Tetapi seperti senandung nasyid dari Raihan, “Berhibur, tiada salahnya, karena hiburan itu indah, hanya apabila, salah memilihnya, membuat kita jadi bersalah”. Mari kita berpikir positif teman, tarian ini hanya sebagai gurauan penghilang penat dan gerak badan sebagai penyehat fisik, tidak lebih. Lagunya pun lagu melayu yang sarat akan nilai dan makna, bukan lagu sembarang lagu teman. Ah, melayu sangat. Sastra sangat. Indah sangat. Bahagia sangat.

Dan ketika acara akhirnya dimulai setelah rombongan dari Bintan Timur datang, kita pun ikut menikmati acara ini, bersama beberapa mahasiswa STIKES Riau yang sedang praktek. Ah, ternyata ini adalah acara silaturahim dari rombongan majelis ta’lim dengan Rumah Bahagia Bintan. Dan memang silaturahim ini membawa rezeki teman, selain kenal banyak orang, dan ilmu (terutama tentang Rosella, tanaman khas Bintan dan packaging ala Mastori), kita juga ikut menikmati makan siang yang disuguhkan teman. Alhamdulillah.

Dan saya pun mendapat cobaan yang kedua kalinya di KKN Bintan kali ini. Dan kali ini, tanpa persiapan sama sekali, ketika acara hendak ditutup dengan doa, pengelola Rumah Bahagia Bintan, meminta mahasiswa yang sedang KKN dari UGM untuk memimpin membacakan doa. Ah, akhirnya saya pun dikorbankan kembali oleh yang lain. Ah, nampaknya saya harus mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan ilmu agama teman, ini memang benar-benar kuliah dan kerja secara nyata teman. Dan doa pun akhirnya selesai teman. Amin!!!

Terakhir, saya baru paham dan mengerti ketika Pak Camat dan Pak Sudirman (pengelola Rumah Bahagia Bintan) menjelaskan banyak hal tentang Rumah Bahagia Bintan. Ternyata filosofi dari Rumah Bahagia Bintan ini sungguh luar biasa teman. Tujuan utama yang hendak dicapai adalah kebahagiaan akhirat. Meski tidak dapat dipastikan, apakah semakin tua usianya, maka semakin besar peluangnya untuk segera berpulang ke rahmatullah atau malah sebaliknya. Dan hebatnya, rumah ini tidak hanya memikirkan kehidupan akhirat semata, tapi seimbang. Ah, seperti nasehat dari orang bijak, “Kejarlah duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok”. Ah, Rumah Bahagia Bintan, singgahlah barang sejenak teman.

Komandan Rudi

Hei!!! Senin ini begitu menggembirakan teman. Kita mengawalinya dengan sosialisasi program kepada warga RW 01 di Posyandu Kencana II. Ah, untuk sambutan, kita meminta Komandan Pos Pengamatan Angkatan Laut Daerah Kawal, Komandan Rudi, untuk menyampaikan dua patah kata. Beliau memang menjadi back up kita selama KKN di Bintan ini, terutama bagi kita, sub unit Kawal. Dan setelah acara sosialisasi ini pun kita masih memiliki serangkaian acara bersama Komandan Rudi, atau kita lebih familier memanggil beliau dengan Bang Rudi. Serangkaian acara yang luar biasa menyenangkan teman, Bang Rudi memang benar-benar melayani tamunya. Ah, saya doakan semoga beliau mendapatkan istri yang shaleh (lho!?!).

Sebenarnya acara bersama Bang Rudi tidak ada dalam agenda kita hari ini. Selain sosialisasi program, agenda kita hari ini hanya menghadiri undangan dari Bu Camat, entahlah apa acaranya. Dan kita mendelegasikan Sari dan Fery untuk menghadiri undangan dari Bu Camat ini. Sedang acara bersama Bang Rudi ini pun hanya diikuti oleh saya, Neni, Erni dan Mastori. Icak dan Bayu masih harus mengurus surat kesehatan di Puskesmas dan membereskan Posyandu pasca sosialisasi. Acara bersama Bang Rudi ini sebenarnya hanya mencari bahan-bahan untuk pelatihan nugget ikan. Akhirnya, bersama Pak Amirudin juga, kita berenam pun berangkat dengan mobil Bang Rudi menuju Tanjungpinang. Dan kita tidak akan pernah mengira kalau acara bersama Bang Rudi ini akan begitu menyenangkan teman.

Ah, awalnya memang terasa membosankan teman. Kita hanya berputar-putar di Pasar Tanjungpinang untuk mencari toko yang menyediakan bahan-bahan untuk pelatihan. Ah, untung saja ada komandan Rudi yang menemani dengan mobilnya. Saya pun akhirnya dapat menikmati suasana Kota Tanjungpinang yang cukup ramai. Ramai dengan jual beli, ramai dengan orang dan ramai dengan berbagai kegiatan.Ah, memang benar-benar kota pariwisata teman. Apalagi suasananya yang masih hijau dan asri, dengan pemandangan pantainya yang indah, dengan Pulau Penyengat yang begitu menawan dan dengan ragam budaya Melayu, Cina, Buton dan etnis lainnya yang memberikan warna begitu ceria di Tanjungpinang. Ah, mengesankan sekali teman. Saya tidak akan menyangka kalau KKN saya ini begitu menyenangkan teman. Sesuai dengan tema ekowisata bahari yang kita angkat dalam tema KKN kita ini, memang kita harus merasakan terlebih dahulu seperti apa ekowisata bahari itu. Dan kali ini, Bang Rudi benar-benar menjadi guide kita dalam tour de Tanjungpinang plus racing (mengerikan, obsesi beliau sepertinya menjadi pembalap teman).

Setelah misi pencarian bahan untuk pelatihan yang dihandle langsung oleh Mastori ini selesai. Kita langsung diajak Bang Rudi untuk makan siang. Ah, sebenarnya kita beruntung karena ada Mastori di sub unit Kawal ini. Sebenarnya hanya Mastori yang akan mencari bahan-bahan untuk pelatihan ini bersama Pak Amirudin, tapi beruntung, Bang Rudi menawarkan untuk menemani Mastori belanja di Tanjungpinang. Ah, Mastori dan Bang Rudi memang cocok teman, seperti kursi dan meja. Saya, Neni dan Erni yang belum ke Tanjungpinang akhirnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan ternyata tidak rugi teman. Makan siang kita ditraktir oleh Bang Rudi. Ayam Bakar dan Teh Bintan. Ah, manyos tenan!!!

Dan ketika kita makan siang, tiba-tiba ada pesan dari Fery. Pesan yang sombong saya pikir teman. Ah, nampaknya dia salah kirim pesan.

Ji Fun, dah selse blum sosialisiny? Maaf ni, q b2 ma shari d ajak muter2 kecamatan ma rombongan bu bupati. Ni aj lg mkn siang d rumah mkn. Maaf y.. Wk wk wk..”

Fery

Mungkin Fery pikir, setelah sosialisasi, kita hanya sedang bermalas-malasan di kamar. Tidak jelas arah dan tujuan. Ah, sayang sekali teman. Nasib saya, Mastori, Neni dan Erni cukup beruntung karena acara bersama Komandan Rudi ini. Ah, tiba-tiba saja saya jadi teringat Icak dan Bayu. Tega juga kita teman, meninggalkan mereka untuk beres-beres posyandu selepas sosialisasi. Saya, Neni dan Erni tertawa puas dan sadis membayangkan Icak dan Bayu hanya bermalas-malasan tidak jelas di kamar, menertawakan Fery yang telah salah mengirim pesan kepada saya (ah, saya sedang beruntung ‘Fer!). Tapi saya pun sempat dibuat bingung dengan pesan dari Bang Evi. Setelah sebelumnya beliau menelopon saya, namun saya tidak menyadarinya. Saya langsung mengirim pesan dan bertanya kepada beliau, apa ada yang bisa saya bantu. Dan Bang Evi pun langsung membalasnya, tidak mengapa, sudah diwakili Bayu. Ah, Bayu lagi, saya, Neni dan Erni pun tertawa kembali membayangkan kalau Bayu dan Icak sedang benar-benar kuliah kerja secara nyata, sedang saya, Neni, Erni, dan Mastori sedang menjalani peran sebagai turisnya Bang Rudi, sementara Fery dan Sari sedang berperan seperti para pejabat yang sedang kunjungan kerja. Ah, Bayu dan Icak yang malang, pikir saya dalam hati.

Hei!!! Tapi tunggu sebentar teman. Setelah makan siang, Bang Rudi mentraktir kita Durian sampai puas. Ah, kita sampai mabok Durian teman. Ah, mimpi apa saya semalam. Ah, saya tidak habis pikir, apa yang sebenarnya saya lakukan hingga akhirnya saya mendapatkan nikmat yang begitu banyak pada hari Senin ini melalui perantara Bang Rudi. Dan saya pun menemukan jawabannya teman. Jadi, pagi hari sebelum sosisalisasi dimulai, saya dan Mastori mengantarkan Fery dan Sari ke kantor kecamatan untuk memenuhi undangan Bu Camat. Dan sepulangnya dari sana, saya melihat ada orang seumuran saya sedang mendorong motornya karena kehabisan bensin. Ah, tanpa pikir panjang, saya tolong saja orang itu. Saya jadi ingat ketika saya berada dalam posisi orang tersebut dan ada orang yang dengan senang hatinya menolong saya. Ah, seperti cerita dalam film Pay It Forward teman. Dan saya tidak menyangka, kalau Allah membalas kebaikan pagi ini begitu cepat dengan serangkaian acara bersama Bang Rudi teman. Ah, subhanallah!!!

Setelah mabok Durian, kita pun langsung diantar pulang Bang Rudi sampai depan rumah. Dengan bonus ekstra pula, full speed!! Bang Rudi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi teman. Mengerikan. Saya hanya berpikir satu hal, kalau kecelakaan terjadi, saya belum shalat Dzuhur teman. Tapi untungnya, kita semua selamat sampai tujuan. Ah, hanya satu kata untuk semua nikmat ini, alhamdulillah. Meski ternyata, sesampainya kita di rumah, kita tidak melihat ada Bayu dan Icak di kamar sedang tidur bermalas-malasan tidak jelas. Mereka berdua tidak ada di kamar, mungkin sedang menghadiri rapat bersama Bang Evi. Ah, tetapi kita salah sangka teman, seperti yang dikatakan Bang Evi, Bayu dan Icak ternyata benar-benar mewakili saya untuk menikmati nikmat yang lain, mereka diundang untuk singgah ke lokasi wisata paling elite di kawasan Bintan, mereka berdua pergi ke Lagoi teman.

Talent Scout, Ngajar ngaji dan Rapat 17-an

Awal pekan ini, saya mengalami tiga hal yang semuanya baru bagi saya. Ah, selalu ada yang pertama teman. Dan ketiga pengalaman saya ini adalah pengalaman pertama yang akan tercatat kembali dalam sejarah hidup saya. Ah, saya menjadi talent scout (pemandu bakat) layaknya Arsene Wenger (pelatih Arsenal) pada sore hari, mengajar ngaji budak-budak selepas Maghrib dan mengikuti rapat 17-an RW 01 di pos komandan pada malam hari. Ah, memang selalu ada yang pertama teman.

Berawal dari keadaan tim sepakbola UGM yang kondisinya serba tidak memungkinkan. Terbatasnya jumlah pemain, terbatasnya skill pemain dan terbatasnya sepatu bola yang ada, ah sepakbola kali ini ada batasnya teman. Akhirnya saya, Fery dan Bayu pun pergi ke lapangan belakang rumah untuk mencari pemain berbakat yang dapat direkrut untuk bergabung dengan tim sepakbola UGM, atau kita menamakan tim ini Persatuan Sepakbola (PS) Bilis. Sederhana pemikiran kita, mengambil filosofi ikan bilis (nama lokal dari ikan teri) yang tidak ada artinya kalau sendiri, maka tim kita ini pun akan mencoba memainkan sepakbola kolektif yang mengagumkan (ah, mantap sekali kedengarannya teman, tapi entahlah realita nanti di lapangan).

Pertama kali, kita hendak merekrut Bang Adi, tetangga kita. Ah, tapi sial, kita terlambat teman. Beliau sudah menekan kontrak dengan PS Gombong. Kedua, kita hendak merekrut pemain berbaju biru yang bermain begitu bagus sore itu, tapi ketika mendengar percakapannya dengan Bang Adi, kita pun langsung mengurungkan niat kita untuk merekrutnya.

Piko, jangan lupa besok jam 3 sore kita main!”, seru Bang Adi ke Piko, pemain yang berbaju baru itu.

Sip ‘Bang!!”, jawab Piko dengan penuh semangat.

Ah, saya, Bayu dan Fery langsung tak bersemangat seketika teman. Tapi kita pun langsung melihat potensi lain, pemain berbaju abu-abu. Ketika dia berada di tepi lapangan, saya langsung memanggilnya dan bertanya langsung to the point, “Bang, mau ikut turnamen tidak?”

Ah, ternyata dia menolak karena kakinya cedera, takut tidak optimal permainannya. Tapi dia langsung menawari temannya yang lain, Gawar namanya. Alhamdulillah, responnya positif, dia bersedia. Ah, posisinya pun tepat teman, dia biasa menjadi pemain belakang. Lalu pemain kedua yang berhasil kita rekrut adalah Chandra, anaknya Pak Amirudin. Ah, sulit mencari jauh-jauh, ternyata anaknya manajer kita ini saja mau bergabung dengan PS Bilis. Lalu pemain ketiga dan keempat yang akan kita rekrut, keduanya masih dalam tahap pendekatan, kita menunggu laporan dari Gawar yang akan bertanggung jawab untuk mendekati kedua pemain tersebut. Ah, semoga empat pemain asing ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita, lengkap dengan skill yang memadai dan tentunya memiliki sepatu bola. Ah, kita lihat Rabu siang saja teman kabar selanjutnya seperti apa. Apakah saya benar-benar berbakat menjadi pencari bakat? Entahlah?

Selepas Maghrib, setelah selesai berperan menjadi talent scout, saya berganti peran menjadi guru ngaji. Ah, ternyata tidak mudah teman mengajari budak-budak ini mengaji. Saya dan Neni kebagian jatah untuk mengajar budak-budak yang masih IQRA. Ah, ini baru KKN teman. Membagi ilmu kepada masyarakat secara langsung, meski masih pada tahap mengajar TPA, tapi setidaknya saya menikmatinya. Budak-budak Bintan yang lucu, yang semangat mengaji, senang bergurau juga, pendiam, suaranya pelan, suaranya lantang, ah mereka semuanya membuat saya merasa sedikit bermanfaat. Ah, semoga saya istiqomah mengajari mereka mengaji. Semoga ilmunya bermanfaat teman.

Dan malamnya, saya bersama sub unit Kawal mengikuti rapat 17-an di Pos Komandan. Ah, rapat yang menggelitik perut saya teman. Banyak gurau namun tetap serius, mulai dari Pak RW, Pak RT, Komandan Rudi, para tekong (pemilik kapal), bapak dan ibu warga RW 01, pemuda Kawal dan kita, para mahasiswa KKN. Ah, rapat yang luar biasa juga sebenarnya teman. Setelah empat tahun lamanya tidak ada kegiatan 17-an, maka tahun ini, warga Kawal sepakat untuk mengadakan kegiatan 17-an yang paling meriah sepanjang sejarah Kawal. Ah, tepat sekali kedatangan kita teman, kita datang di tahun keempat, tepat ketika da Komandan Rudi yang bertugas di Kawal dan tepat pula ketika warga Kawal ingin beramai-ramai menghargai jasa para pahlawan bangsa yang telah berjuang memerdekakan bangsa, ah, kita semua menginginkan sesuatu yang special pada 17 Agustus 2008 nanti, sesuatu yang akan selalu dikenang dalam sejarah 17-an di RW 01 Kelurahan Kawal.

Tapi memang nampaknya berat teman menjadi pemuda disini, karang tarunanya benar-benar mati teman. Kalau tak ada Bang Rudi yang memfasilitasi, tak akan ada pula pertemuan ini. Kalau Bang Rudi tidak punya pengaruh besar disini, mana ada pula tekong yang hadir. Ah, mungkin seperti yang dikatakan Bang Rudi, sebelum akhirnya dia dipindah tugaskan dari Pos-nya di Kawal, dia ingin mempersembahkan sesuatu yang special bagi warga Kawal. Dan rapat 17-an ini pun menjadi momentum untuk saya, untuk Bayu, Icak, Mastori, Fery, Neni, Erni dan Sari untuk berkontribusi besar. Kita akan memberikan yang terbaik yang dapat kita lakukan, kita pun ingin meninggalkan Kawal dengan kenangan dan memori indah. Ah, 17-an, semoga benar-benar bisa menyejarah nantinya teman.

Ah, selalu ada yang pertama memang. Dan ketiga hal ini adalah yang pertama bagi saya di Bintan. Bersama Fery dan Bayu menjadi talent scout, bersama Neni mengajar ngaji dan bersama teman-teman di sub unit Kawal ikut rapat 17-an. Ah, mengesankan, mengagumkan dan begitu menantang. Selamat berjuang teman!!!

Ah, Kenapa Kekalahan Sebegitu Menyakitkan?

Hei!!! Hari ini adalah hari yang special teman. Saya mengawalinya sejak Subuh. Kemudian setelah tilawah, bersama Mastori dan Bayu, saya ikut mencari ikan Tongkol di Pelabuhan. Ah, ternyata belum ada jual beli sepagi ini. Ah, kampung nelayan ini memang mengesankan teman. Suasanany seperti di Pelabuhan Prigi, Trenggalek ketika saya praktikum Teknik Penangkapan Ikan (TPI). Ah, KKN yang menyenangkan teman. Dan pagi ini begitu menyenangkan teman. saya berjalan-jalan di tengah laut yang sedang surut. Hei!!! Luar biasa teman. Mengagumkan. Mengesankan. Hampir satu kilometer kita berjalan ke tengah laut yang menampakkan dasarnya ini. Ah, inilah yang menenangkan jiwa. Terapi hati teman. Subhanallah, indah benar bumi Bintan ini.

Dan pagi ini pun teman saya mengirim sebuah pesan kepada saya.

Bisa telp pk? Gratiskn?

Hanami KAB’06

Ah, saya sedang tidak ada pulsa teman. Sepertinya ada yang terjadi di KAB sehingga si Hanami meminta saya untuk meneloponnya. Ah, untung saja ada Mastori yang berbaik hati meminjamkan HP-nya. Ah, tapi ternyata tidak diangkat-angkat oleh si Hanami. Ah, bagaimana sih orang ini? Akhirnya setelah pencarian ikan Tongkol itu selesai, saya baru dapat menghubunginya. Ah, mau tak mau, saya pun harus memberi pulsa yang lebih mahal tiga ribu rupiah jika dibandingkan dengan di Yogyakarta. Ah, tak apalah. Saya pun membelinya di counter HP milik Bang Faisal yang ada di depan rumah. Ah, hitung-hitung berbagi rezeki teman.

Hallo, assalamualaikum! What’s wrong!?!”, seru saya mengawali pembicaraan.

Af1 pak, hanya ingin melaporkan tentang KAB dan beberapa hal”, jawab Hanami singkat.

Akhirnya percakapan itu pun berlangsung seputar dana yang dibutuhkan untuk serangkaian acara Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) KAB, tentang amanah untuk memberikan buku yang belum beliau tuntaskan, tentang laporannya untuk ngobrol dengan Mbak Nola, tentang berita terbaru di kampus, tentang pertanyaan terkait Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM) KAB dan KMMP (juga nomor telepon Irfan) dan tentang tanggapannya terkait wacana dirinya yang akan menggantikan saya di posisi Ketua Umum KAB nanti.

Ah, begitu membingungkan teman. Saya memang mewacanakan dia untuk menggantikan saya di KAB nanti, dan dua bulan ini adalah masa dia untuk dapat mengkondisikan diri. Ah, semoga sepulangnya saya nanti dari Bintan, beliau memang sudah siap untuk segera dilantik melanjutkan tongkat estafet perjuangan di kelompok studi milik Fakultas Pertanian ini teman.

Lalu ada lagi pesan dari Rani. Tentang sebuah proposal. Mungkinkah proposal acara talkshow yang diadakan oleh KAB dan KMMP atau proposal PMB KAB? Entahlah. Dan saya pun langsung membalasnya.

Asw. P’ panji ttd antm bwt surt p’antar proposal dwakili mb anie blh? Jzk

Rani KAB’07

As. Ya Gak apa-apa, silahkan! Tetap semangat yo! Ws.

Panji

Kemudian dari pagi hingga siang ini pun saya dan sub unit Kawal ikut terlibat dalam simulasi pembuatan Ajiifurai dan stick nugget dari ikan Tongkol yang dipimpin langsung oleh Chief utama-nya, Mastori. Ah, hitung-hitung pemanasan untuk pertandingan nanti sore teman. Inilah yang paling saya nantikan di hari rabu ini. Pertandingan pertama melawan PS Pemuda Kawal Selatan (PKS) di Turnamen Kawal Madani Cup I. Pertandingan perdana yang ternyata menyisakan mimpi buruk bagi saya secara pribadi teman. Ah, kenapa kekalahan sebegitu menyakitkan teman?

Persiapan kami memang kurang matang teman. PS Bilis akhirnya terdiri dari beberapa pemain lokal dari Kawal dan UGM. Dan saya baru mengenal pemain-pemain lokal ini hari ini teman, beberapa jam menjelang pertandingan. Ah, saya pun belum mengetahui seperti apa permainan mereka. Ada kakak beradik, Wawan dan Buwana, ada Gafar, ada Gawar satu lagi yang tinggi besar dan ada Bang Dani. Ah, saya belum mendapatkan bayangan seperti apa formasi yang harus ditampilkan nantinya teman. Ah, ternyata memang teramat sulit untuk menjadi pemain yang merangkap sekaligus manajer, apalagi untuk sebuah tim yang baru saja terbentuk beberapa jam menjelang pertandingan. Ah, saya pikir perencanaan yang tidak optimal inilah yang menyebabkan kekalahan. Bukankah kegagalan dalam merencanakan sama saja seperti merencanakan kegagalan. Ah, nampaknya memang benar teman petuah orang bijak itu.

Dengan menggunakan mobil pick up Bu Mas, kita pun akhirnya berangkat. Hei!! Ternyata banyak juga supporter yang ikut. Menambah dukungan sekaligus beban mental juga teman. Dan tak lama kemudian, kita tiba di Lapangan Sepakbola Kawal. Ah, saya pun masih harus berpikir keras menentukan line up pemain, formasi yang digunakan, sekaligus mempersiapkan sepatu dan kaus kaki untuk teman-teman dari UGM yang tak punya. Ah, pusing sekali ternyata teman.

Dan akhirnya kita menggunakan formasi 3-5-2, dengan penjaga gawang Akbar, tiga pemain belakang adalah Gawar kecil, Gawar besar dan Gafar, lima pemain tengah adalah Icak, Dito, Tama, Buwana dan Chandra dan dua penyerang, saya dan Wawan. Hei!! Saya pun menjadi kapten teman. Semakin berat saja beban yang ada di pundak saya. Ah, hanya ada satu pilihan, kita harus menang. Ah, meski ternyata takdir berbicara lain. Kekalahan begitu menyakitkan teman.

Kita pun akhirnya kalah 1-0 karena gol yang tidak berkelas sangat. Berawal dari back pass Gafar ke Akbar yang gagal diterima Akbar dengan baik, bola pun malah meluncur ke dalam gawang, dan kita pun tertinggal 0-1. Ah, jujur, saya kecewa berat, apalagi selanjutnya pergantian pemain yang dilakukan, Akbar HI, Fery, Bayu dan Bang Dani yang masuk menggantikan Icak, Dito, Chandra dan Wawan tetap tidak mampu merubah keadaan. Ah, kenapa kekalahan selalu saja menyakitkan. Adakah yang dapat menjawabnya teman?

Saya pun menyesali lini tengah kita yang terlalu menyerang. Dua bersaudara, Wawan dan Buwana plus Chandra yang tidak pernah mundur membantu pertahanan, tetapi juga tidak optimal dalam menyerang. Tiga pemain belakang yang sebenarnya bermain cukup bagus, namun kesalahan kecil dari Gafar merubah segalanya, juga kontribusi kesalahan dari Akbar si penjaga gawang. Peluang emas dari Gawar kecil memanfaatkan killer pass dari saya juga berhasil dipatahkan penjaga gawang PS PKS. Dan kesalahan terbesar, tentu saja dari saya sebagai kapten yang gagal memimpin kesebelasan ini bermain cantik, elegan hingga akhirnya berbuah pada kemenangan. Satu hal yang paling saya sesali adalah ketika saya gagal menyelesaikan killer pass dari Tama. Umpan terobosannya berhasil saya manfaatkan hingga saya hanya tinggal berhadapan dengan penjaga gawang, face to face. Tapi sayang seribu sayang, entah apa yang terjadi antara otak dan kaki saya, tidak ada kesinkronan antara keduanya. Niat saya untuk men-cook bola melampaui penjaga gawang ternyata terlalu lambung. Terlalu tinggi dan melayang di atas mistar gawang. Ah, sial benar teman. Mungkin ketika itu, saya malah sibuk memikirkan selebrasi (gaya) apa yah setelah mencetak gol nanti. Ah, kenapa juga saya tidak menendang saja bolanya kencang-kencang, atau kenapa saja tidak saya giring terus bolanya kemudian saya kecoh penjaga gawangnya sekalian. Ah, berhentilah berandai-andai teman. nampaknya saya tidak belajar dari petuah orang bijak yang lain, “Kesempatan itu hanya datang sekali, jangan disia-siakan”. Ah, menyebalkan!!!

Sudahlah teman, masih ada dua pertandingan selanjutnya. Tapi sayang teman, pada pertandingan kedua nanti, sebagian besar pemain PS Bilis akan mengikuti kegiatan Tracking dan Pesta Durian. Ah, tapi semuanya sudah saya serahkan kepada Akbar HI untuk mengaturnya. Beliau akan menjadi kaptennya besok. Semoga saja sepulangnya dari sana, kita mendengar kabar gembira dari Akbar HI. Ah, entahlah, siapa lawannya, Fifty-Fifty dulukah yang baru saja menang 4-0, atau Kalang Batang yang baru saja dibantai 0-4 oleh Fifty-Fifty. Ah, tidak begitu penting, meski sebenarnya hati kecil saya menginginkan kita bertemu Kalang Batang terlebih dahulu. Ah, biarlah menjadi kejutan saja nanti teman.

Dan terakhir, menjelang saya istirahat menikmati kekalahan yang selalu saja menyakitkan. Saya sempatkan untuk berbalas pesan dengan Hanami. Saya lupa kalau beliau meminta nomor HP-nya Irfan (PSDM KMMP). Ah, aneh benar memang si Hanami, padahal dia dan Irfan satu angkatan, bahkan satu jurusan, tapi kenapa dia tidak tahu nomor HP-nya. Ah, biarlah, bukan urusan saya untuk mencari tahu mengapa sampai si Hanami tidak mengetahui nomor HP-nya si Irfan

As. Af1 br sms ‘coz tim KKN Bintan UGM baru kalah turnamen bola 1-0. Irfan 081314007114, trus dah sms Chndra belum? Trus ant tau gak, proposal yg d Rani tuh, proposal apa yah? Ws.

Walkmslm. Bgus donk klian kalah. Laen x klah lg yo. Blm jd sms Chndra. Irfn gi sibuk di Talk Show! Proposal? Q ga tau. Mnta no Chan coz ilang.

As. Wah! Ant UGM bukan sih! Kita ‘kan pake nama UGM, almamater ‘Mb! Hhh, ant gak nasionalis.

Ga tau ya, ga iktn! Gt aj marah! Tersenyumlah pada dunia so dunia pun kan tersenyum pada atm

Ha2x, ngece tenan ant iki. Senyum kekalahan gitu maksudnya?!?

Gt aja dipikirin, urusan umat msh banyak bung! Klo bls sms kirim aj k no XL

As. Baiklah, masih ada lomba lintas alam dan pesta durian pada Sabtu dan Minggu nanti! Doakan UGM menang kawan! Ws.

Dan sebelum akhirnya saya tertidur. Saya ingin kembali bertanya hati kecil saya, juga kepada sidang pembaca sekalian, siapakah yang mengetahui jawabannya, “Ah, Kenapa Kekalahan Sebegitu Menyakitkan?”

Kabar dari Seberang Pulau

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau kita dapat berkirim pesan jarak jauh dengan sebuah alat telekomunikasi yang disebut handphone. Bahkan di Pulau Bintan ini, HP sudah bukan lagi menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh golongan tertentu saja. Ah, mungkin Alexander Graham Bell, sang penemu telepon juga tidak pernah menyangka kalau temuannya itu dapat bermetamorfosa dan dimodifikasi sedemikian hingga menjadi sebuah alat telekomunikasi tingkat tinggi. Ah, seperti klan Okumichi dalam Novel Samurai yang memiliki kemampuan meramal, saya mencoba membuat ramalan atau tepatnya perkiraan kalau nanti kita pun dapat dengan mudahnya berpindah dalam sekejap waktu dengan teleport atau bahkan nanti akan muncul time machine (mesin waktu). Ah, siapa yang tahu masa depan, kita lihat saja nanti teman.

Dan saya menerima begitu banyak pesan dari seberang pulau teman. Ada dari Hariadi, teman saya di mentoring SMA 2 Yogyakarta.

Mas Panji ni Hariadi smada 07. Msh inget kan? Mas Panji aq nyr lcd viewer. Bwt pngjian. Kr2 gmn y?

As. Insyaallah msh ingt. Cb ant hub Barnard 081802727064. Af1, sy lg KKN di Bintan. Ws

Wah, Bintan? Keren bgt?

As. Yah begitulah, doakan saja kwan biar istiqomah. Ws

Ada juga pesan dari Pak Ganjar, senior saya di FLP Jogja. Bahkan beliau menelopon saya terlebih dahulu sekedar bertanya kabar dan memberikan pesan. Ah, kebetulan teman. Saya pun meminta beliau untuk menjadi editor tulisan saya nanti. Tak lupa saya meminta alamat email beliau dan nomor teman-teman FLP Batam, karena ketika saya menghubungi Mbak Nurul F. Huda (mantan FLP Jogja yang hijrah ke Batam), tidak ada respon darinya.

Asw. Akh tny g ada no tmn2 Batam. Klo email sy, ganjar_mail@yahoo.com

Dan ada juga sebuah nasehat bagus dari entahlah siapa dia. Ah, nampaknya saya mengenalnya, tapi karena tak ada di phone book. Saya pun bingung.

Hati yang siap memikul amanah adalah hati yg yg kuat, tguh & tulu; ia tdk bhrp apapun, tp sanggup mberi dg sgnap apapun; sbb hany dariNYA ia b’harap blsn. Smg KKN yg djalani ini dberkahi & mberikn manfaat u/ umat. Amin..

Saya pun membalasnya dengan ucapan terima kasih atas doanya. Tak lupa saya menanyakan nomor siapakah ini. Dan langsung saja dibalasnya.

Panji! Ni no mb Ira.. ko no mb ga dsimpn?

Ya Allah, ternyata nomor senior saya di kampus. Ah, saya berhutang banyak sama mbak-nya teman. Ketika saya masih menjadi mahasiswa baru, beliaulah senior yang selalu membimbing adik-adiknya, termasuk saya. Ah, bagaimana kabarnya mbak? Katanya mau melanjutkan S2. Saya pun memohon doa agar KKN saya di Bintan aman damai terkendali. Beliau pun kembali membalasnya teman.

Blm rizki mb u/s2 ji.. skrg mb kerja dBumiputera Syariah Ygy.. subh4WI jauh amat? Tp baguslh.. panji akn dpt bnyk pbljrn.. ati2 jga dri&ruhi.. sdh ktm sdr2 tarbiyah dsn?

Ah, ternyata pergiliran generasi itu memang akan selalu terjadi teman. Dan saat ini adalah masanya saya menjadi senior. Dan ada juga pesan yang begitu menyebalkan dari salah seorang junior saya di KAB, Kepala Departemen (Ka.Dept) PSDM-nya, Chandra dari Agribisnis angkatan 2005. Ah, mengesalkan sekali orang yang satu ini teman.

Asslam.. nji, KAB suksesiny akhr Oktobr aj ya! Ato Januari aj, nunggu ant mw wisuda Siplah

As. Enak aja!! qt insy suksesi September. Titik. Trma kasih. Ws.

Ya g bs klo cm ant yg m’hendaki tp yg lain ga lagian septmberny kpn? Akhr septmbr dah liburn. Trus klo ptengahan, qt bnyk agenda. Klo awal, blum p’siapan. Gmn ?

As. Insya smuanya bisa terkondisikan. Pokoknya ant tng aja yo! Ws.

Yawda, brarti tugs sy m’bwt agar tidak terkondiskan jgn maksa Nji. Cb ant cermati lg deh.

As. Chandra!! Jgn maen2 deh. Ato ant butuh waktu dulu tuk persiapn jd ktua. Ws.

Astgrlh. Bkn gt Nji, tapi cm berpikir realistis. Tp klo bg ant itu realists, ya monggo. Yg jls Ramdhn tu bnyk agnda. Oy, gmn klo sy propagnda u/ dkung ant jd ktw abadi seru2x!

As. Ha2, kayaknya lu bakal msk calon Ktua KAB deh. Biar gw ksh tau si Hanami biar rasa! Ha2x, tmbah seru nih kayaknya bursa cln ktua KAB @ Sept. Ws.

Ah, menyebalkan sekali berbalas pesan dengannya. Kabar dari seberang pulau yang membuat saya kesal teman. Ada lagi pesan dari Rezki.

Asw. Ji, sehat kan? Gmn rasany kaga liqo 3 minggu? Kring krontang? Dah luwes blum nariny? Gw jd tau target 2 bulan lo pasca KKN.. Pgn dakwah lwt nari y? hahaha

As. Alhmdlh shat. Wah, LQ gw dsini 2 minggu sekali men! Lintas umur lagi. Bener2 kayak LQ jaman dulu deh. Keren abis! Oya, UGM juga ikut turnamn bola men di sini. Dan trgt gw 2 bln kedepan adalah penelitian di Depok. Begitu. Ws

Wah enak bgt lo bs maen bola. Tempat gw tiap sore TPA n hampr tiap malam pengajian.. tp sygny pake bhs Jawa! Jd banyak kaga ngertiny. Depok Jabar or Jogja?

As. Klo TPA gw juga tiap sore ada kali. Insyaallah di Pantai Depok Jogja koq. Ws

Forum Silaturahim Mahasiswa Muslim UGM pun kembali mengingatkan kepada saya untuk segera mengirim sebuah tulisan. Insyaallah saya akan menulis teman.

Assalam. Akhiwaakhwati fillah, dmohon u/ sgr m’umpulkn naskah lomba tls FORSALAMM’Rekomndasi u/ dakwh kmpus k inspiratif_ugm@yahoo.com. 3-6 hal. TNR. 12. Maks 15 Agstus. SEKUM

Dan berita terbaru dari Fakultas Pertanian terangkum dengan jelas dari serangkaian pesan dari Wahyu, si Ketua Umum KMMP.

Asw. Hari Ini Akn dimulai Babak Baru Dlm Fakl Pertnian Kdpan. Bsa Baik Bs Bruk, trgantung Hasil Stlh j13.30 (P’coblosn). Anda m’dukung siapa d PiLdEK? Yg jelas tetap dukung No. 8.. Jzk

Alhmdlillah, pak Triwibowo jd dekan (67 suara), mengalahkn pak Irfan (47). Allahuakbar!! Smg dakwah kt kdpan dimudahkn. Amin

Ni CP-ny pak Triwibowo 0811257379. Monggo bg yg mau ksh ucapan slamat. Ni CP-ny Pak Zul Ardia (manager film) 0818741180. Bagi yg mau pesan film “Sang Murabbi”. 1 kaset, 30rb. Gmn kbr iman ant skrg? Jzk

Wahyu KMMP’05

Ah, saya pun langsung mengirim pesan kepada Pak Tri sebagai Dekan baru di Fakultas Pertanian UGM.

As. Selamat atas terpilihnya bapak menjadi Dekan Fakultas Pertanian. Semoga amanah dan diridhai Allah SWT . Ws

Dan Pak Tri pun langsung membalasnya ramah. Ah, dekan yang baik hati.

Matur nuwun doanipun

Pak Tri, Dekan Pertanian

Ah, kabar dari seberang pulau yang begitu berwarna teman. Seperti pelangi setelah hujan yang menenangkan hati. Semoga kita bisa terus berbalas pesan dan saling menasehati. Ah, biarlah saya menutupnya dengan pesan dari teman lama saya dari Fikri, teman saya kala SMA. Ah, semoga ilmu kita bermanfaat.

Ilmu lbh baik dr pd harta. Ilmu akn mnjagamu, sdg harta, engkau yg menjagany. Ilmu adlh hakim, sdg harta yg dhakimi. Harta bkurang krn dbelnjakn sdg ilmu bertmbah dgn p’ajarn .

Fikri 42

Pengajian di Surau Al Muttaqin

Hei!! Saya kembali mendapatkan pengalaman berharga dalam KKN kali ini. Ah, saya tidak akan pernah mengalaminya kalau saya tidak tergabung di KKN Bintan ini. Ah, apalagi kalau saya hanya ikut KKN bersama teman-teman yang itu-itu lagi, teman satu organisasi, teman satu pengajian dan teman senasib seperjuangan. Ah, jadi kali ini saya didaulat Bayu (kita lebih senang memanggilnya Pak RT) untuk mengisi pengajian ibu-ibu RW 01. Tanpa kompromi, beliau mengiyakan saja permintaan Bu Amirudin teman.

Bayu, besok di RW 01 mau ada pengajian. Ada yang bisa ngisi ceramah tidak”

Oh, insyaallah Panji bisa ‘Bu!”

Ah, Pak RT! Lihat saja nanti pembalasan dari saya! Tunggu saja saatnya kelak!

Jadi, pada Jumat siang menjelang sore itulah, akhirnya saya harus memberikan siraman rohani (mengutip kata Erni yang kali ini menjadi MC-nya) kepada ibu-ibu Majelis Ta’lim Al Muttaqin. Hei! Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau akhirnya saya benar-benar mengisi pengajian ibu-ibu. Ah, saya jadi ingat gurauan di kampus kalau hanya ada satu orang laki-laki sedang rapat dengan tiga orang perempuan atau lebih itu seperti sedang mengisi pengajian ibu-ibu. Dan kali ini, saya sedang tidak bergurau teman. Saya berada pada situasi seperti itu saat ini. Ah, untung saja ada Mastori yang menemani saya (beliau yang membacakan tilawah-nya). Ah, gurauan itu akhirnya menjadi kenyataan teman.

Dan akhirnya, saya memang tidak berceramah panjang lebar teman. Hanya sedikit bercerita tentang si Syukur, si Sabar dan si Ikhlas. Jadi beginilah ceritanya ibu-ibu (Hei! Mengapa saya terbawa suasana di surau sana).

Alkisah, hiduplah sepasang suami isteri yang bahagia. Hidup mereka makmur, damai, adil dan sejahtera hanya karena berbekal rasa syukur dan kesabaran. Tapi perihal tentang si Syukur dan si Sabar ini begitu menarik teman. Jadi, pada suatu malam yang cerah penuh bintang bersinar terang, sepasang suami ini duduk berbincang di teras rumahnya yang nyaman. Mereka nampak begitu menikmati malam yang indah ini. Sang suami yang berpenampilan sama sekali tidak menarik, wajahnya buruk, tubuhnya pendek, kulitnya hitam dan rambutnya keriting ini berkata kepada isterinya yang berparas cantik, tinggi semampai, kulitya putih dan rambutnya hitam tergurai, “Istriku yang cantik, alangkah bahagianya hidup kita ini. Saya bersyukur sangat kepada Allah karena dikarunia permata dunia berupa isteri yang cantik dan shalehah sepertimu. Dan tahukah kamu wahai isteriku, apa balasan dari Allah bagi orang-orang yang pandai bersyukur. Insya Allah, Allah menjanjikan surga-Nya wahai isteriku”. Sang isteri pun membalas pujian sang suami dengan perkataan yang lembut, “Begitu juga aku wahai suamiku yang baik hati. Aku pun senantiasa bersabar dalam menjalani hidup ini. Aku bersabar atas segala cobaan dan kesulitan yang Allah berikan. Aku pun tidak pernah berkeluh kesah karena dikarunia suami yang buruk rupa, pendek dan hitam ini. Aku pun sama sepertimu wahai suamiku. Kalau engkau berharap surga-Nya karena rasa syukurmu, maka aku pun berharap surga-Nya karena kesabaranku ini.”

Ah, tetapi ibu-ibu semua, kesabaran dan rasa syukur itu tidaklah berarti kalau kita tidak ikhlas. Dan keikhlasan itu sering diumpamakan seperti bersedekah diam-diam. Seolah-olah tangan kanannya memberi tanpa tangan kirinya tahu. Seperti dalam kisah penciptaan Bumi ini. Jadi ketika dulu Bumi diciptakan, dia berguncang hebat teman. Dan Allah pun menciptakan gunung lalu kemudian melemparkannya ke muka bumi hingga bumi ini pun berhenti berguncang. Malaikat pun terkagum atas penciptaan gunung ini dan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, adakah makhluk-Mu yang lebih hebat dari gunung? Allah pun berkata, “Masih ada besi yang lebih kuat daripada gunung”. Malaikat kembali bertanya, “Adakah yang lebih hebat dari besi?”, Allah menjawab api. Malaikat bertanya lagi, “Adakah yang lebih hebat dari api?”, Allah menjawab air. Malaikat bertanya lagi, “Adakah yang lebih hebat dari air?”, Allah menjawab angin. Dan malaikat pun kembali bertanya, “Adakah yang lebih hebat dari angin wahai Allah?”. Dan Allah pun menjawab, “Ada, yaitu seorang anak adam yang bersedekah dengan tangan kanannya, tapi tangan kirinya tidak mengetahui”.

Dan dari dua kisah ini, saya menyimpulkan kalau kita perlu memilik S2I kepada ibu-ibu yang hadir. S2I adalah Syukur, Sabar dan Ikhlas. Ah, saya bingung teman harus bercerita apa lagi pada ibu-ibu ini. Ah, nampaknya memang sebentar sekali teman saya memberikan siraman rohaninya. Tapi bukankah yang sedikit tapi sering lebih baik daripada banyak tapi jarang. Ah, tapi bukankah lebih baik lagi kalau banyak tetapi sering. Ah, inilah pertama kalinya saya mengisi pengajian ibu-ibu. Maka wajar saja kalau banyak kekuarangan disana-sini. Ah, bukankah memang segala kesalahan itu datangnya dari diri kita pribadi, sedang kebenaran itu datangnya hanyalah dari Allah semata.

Ah, pengajian di Surau Al Muttaqin tidak akan pernah saya lupakan. Selalu ada yang pertama teman. Menarik. Menantang. Berkesan. Ah, semuanya tidak akan terjadi kalau Pak RT tidak mengiyakan permintaan ibunya. Semoga bermanfaat teman. Bagaimana ibu-ibu? Ada yang ingin ditanyakan?

TREKKING GUNUNG BINTAN & PESTA DURIAN 2008

Belum dikatakan ke Bintan kalau teman belum singgah di Pulau Penyengat dan Gunung Bintan. Dan terkait dengan Gunung Bintan, kali ini saya dan teman-teman KKN Bintan 2008 berkesempatan untuk mengikuti ajang tahunan di Kabupaten Bintan ini, 21 orang dari UGM Yogyakarta akhirnya menikmati perjalanan yang menakjubkan teman, Lomba Trekking (Lintas Alam) Gunung Bintan dan Pesta Durian 2008. Sebuah ajang promosi pariwisata tahunan dari Dinas Pariwisata Daerah Bintan sungguh berjodoh dengan KKN Bintan kita. Ah, benar-benar KKN yang menyenangkan teman.

Hanya ada lima orang yang tidak ikut, mereka adalah Fery, Erni, Yoga, Ida dan Akbar HI, sisanya terbagi menjadi tujuh kelompok teman. inilah kita, KKN UGM I hingga KKN UGM VII.

  1. Saya, Icak dan Neni (Unggulan I dari Kawal, juga mewakili UGM karena terdiri dari mahasiswa jurusan Perikanan, Arsitek dan Psikologi)

  2. Firman, Andri, Desi (Unggulan II dari Malang Rapat, masih mewakili UGM juga karena terdiri dari jurusan Perikanan, Hubungan Internasional dan Psikologi, mereka juga mewakili Indonesia teman, karena ada orang Melayu, Batak dan Jawa)

  3. Tama, Akbar dan Yanti (Unggulan III dari Teluk Bakau, mewakili jurusan Perikanan karena mereka terdiri dari tiga program studi yang berbeda pula, Manajemen Sumberdaya Perikanan, Teknologi Hasil Perikanan dan Budidaya Perikanan)

  4. Mastori, Taufik dan Afi (Unggulan IV dan mewakili KKN Bintan karena mereka berasal dari Kawal, Malang Rapat dan Teluk Bakau serta berasal dari Perikanan, Sastra Korea dan Ilmu Ekonomi)

  5. Fairus, Anjar dan Bagus (Unggulan V, putri dari Farmasi dikawal oleh dua pangeran dari Arsitektur)

  6. Dito, Wahyu dan Sari (Unggulan VI yang juga mewakili Perikanan karena mereka juga berasal dari tiga program studi yang berbeda)

  7. Bayu, Adiba dan Erhan (Unggulan VII dan mewakili KKN Bintan juga karena berasal dari Kawal, Teluk Bakau dan Malang Rapat serta berasal dari Arkeologi, Hubungan Internasional dan Geofisika)

Ah, terlepas dari latar belakang dan unggulan keberapa, kita hanya ingin berpartisipasi dalam event berskala internasional ini. Syukur-syukur kalau dapat juara dan hadiah. Ah, sebelumnya saya ingin berterima kasih kembali pada Firman si kormanit yang sudah bersusah payah mengurus semua keperluan kita dalam acara trekking ini. Biarlah saya lepas pertandingan kedua PS Bilis UGM kali ini. Ah, saya sudah menyerahkan ini semua kepada Fery, saya percaya penuh.

Sabtu sore akhirnya kita berkumpul di Kawal dan berangkat menuju kantor kecamatan karena di sana sudah menunggu bis yang akan mengantarkan kita hingga Desa Bukit Batu tempat start lomba. Ah, perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan teman. Jarang-jarang satu unit ada acara bersama seperti ini. Bahkan lebih dasyhat, sudah gratis, berhadiah pula. Ah, inilah acara yang paling spesial selama kita KKN di Bintan teman, trekking dan pesta durian.

Sesampainya kita di lokasi perkemahan (kita akan bermalam di sini teman), ternyata sudah ada puluhan tenda terpasang, telah ada ratusan peserta yang siap sedia dengan segala perlengkapan dan persiapannya. Ah, penampilan mereka ada yang begitu meyakinkan akan juara dan ada juga yang hanya seperti turis santai (kita mungkin termasuk yang ini). Masa bodoh dengan siapa lawan dan kawan, kita pun mendirikan dua tenda kapasitas sepuluh orang untuk bermalam. Setelah TM dan menyaksikan komedi Melayu yang tidak menarik buat saya, saya lebih memilih untuk Shalat Maghrib dan Isya dijamak, makan malam lalu istirahat.

Ah, menyenangkan sekali teman. Saya seperti bernostalgia kembali dengan acara Pelantikan Gabungan waktu SMA di Cibubur. Semuanya begitu indah teman. What a beautiful memories? Ah, saya tidak bisa mengungkapkan perasaan hati saya yang begitu bahagia ini teman. Perjuangan akan dimulai besok, lebih bijak kalau berpikir jauh ke depan daripada bernostalgia dengan masa lampau (tapi untuk saat ini, saya lebih memilih untuk istirahat).

Pagi yang cerah di Lapangan Desa Bukit Batu. Ah, udara yang berhembus segar begitu menentramkan hati teman. Ditambah lagi dengan kegiatan persiapan yang begitu mendebarkan. Cek kesehatan. Cek perlengkapan. Senam aerobik yang amat sangat aneh bagi saya. Hampir tidak jauh berbeda dengan kasus dancing with grandmother tepat seminggu silam. Dan sarapan yang teramat mewah bagi kita golongan mahasiswa rantau. Ah, tapi ada yang lebih indah dan nikmat dari ini semua. Akhirnya saya menemukan “permata bintan” teman. Ah, dari jauh saja sudah nampak mempesona, apalagi ketika berada di dekatnya. Anggun dan elegan. Saya pun menghormati dan menghargainya dengan tidak bertegur sapa dengannya. Bahkan sekedar bertanya siapa namanya. Ah, saudariku, siapakah namamu?

Hei!!! Berhenti berangan-angan Panji!!!” Hati kecilku berseru mengingatkan. Maafkan saya teman. Hanya sekedar lintasan pikiran. Kalau memang berjodoh, pastilah saya akan menemukan kembali “permata bintan” itu kembali teman. Dan akhirnya setelah dibuka secara resmi oleh Pak Anshar selaku Bupati Bintan, acara ini pun dimulai. Seperti acara Benteng Takeshi teman. Seru. Menantang.

Firman, Andri dan Desi adalah satu-satunya team dari UGM yang melesat jauh di depan, sementara saya, Neni (tas yang dipakainya mirip pemulung) dan Icak masih bersama-sama rombongan UGM yang lain (Tama, Yanti, Akbar; Fairus, Anjar, Bagus; Bayu, Adiba, Erhan; Mastori, Afi, Taufik), kecuali rombongan turis dari UGM (Dito, Wahyu dan Sari). Ah, subhanallah teman. benar-benar perjalanan yang melintasi alam. Ah, saya sedang tidak seperti KKN teman jika situasi dan kondisinya seperti ini. Ah, begitu seru dan menantang teman.

Pos demi pos akhirnya kita lalui. Isi kuisioner, Climb and Tarzan Swing, find ball and flag, dart (lempar panah pada sasaran) dan fear factor (makan petai). Ah, seru sekali teman. Dan saya yakin kalau semua peserta memiliki ceritanya masing- masing. Ah, ingin sekali sebenarnya saya bercerita dari berbagai sudut pandang, seperti dalam film Ventage Point atau seperti Love Accutually. Ah, ingin sekali saya merangkumnya begitu lengkap dan rigit. Mendetail dan benar-benar sempurna. Ah, tapi apalah daya teman. Terlalu indahkah perjalanan trekking kali ini hingga saya pun tidak bisa berkisah tentangnya dengan begitu sempurna. Ah, nampaknya keterbatasan waktu dan sejuta alasan lainnya lah yang menyebabkan petualangan di Gunung Bintan tidak terdokumentasikan dengan baik. Ah, sial, kita tidak memiliki catatan perjalanan seperti Marco Polo atau Ibnu Battuta. Tapi bukankah dengan begitu, akan ada banyak orang yang penasaran. Seperti apakah sebenarnya trekking di Gunung Bintan itu. Ah, itu bukan apologi dari saya teman.

Dan ketika akhirnya kita finish di depan pintu gerbang air terjun Bintan, ternyata kita terlalu cepat melangkahkan kaki. Kita hanya menghabiskan waktu 1 jam 50 menit. Ah sial, ketepatan waktu kita jauh dari sempurna. kata salah seorang panitia, kurang lebih 2,5 jam waktu yang dialokasikan untuk perjalanan dari start hingga finish. Dan kita masih terpaut 40 menit, padahal 40% penilaian adalah dari ketepatan waktu. Ah, nampaknya kita masih belum beruntung teman. Tetapi, mencapai puncak Gunung Bintan dan kemudian selesai hingga finish saja sudah merupakan prestasi tersendiri bagi kita, para murid dari padepokan Gadjah Mada Yogyakarta. Dan satu orang satu Durian dari panitia kepada peserta sepertinya cukup untuk sedikit menjadi obat penawar lelah selepas trekking. Hei!!! Tapi kisah ini belum berakhir teman, masih ada beberapa hal yang akan meninggalkan kesan terdalam bagi kita. Oleh-oleh dari Desa Bukit Bekapur, tempat penutupan acara ini. Kita masih memiliki cerita teramat bodoh tentang Mastori yang nekat naik ke atas panggung ketika sesi doorprize. Ah, 17 mahasiswa UGM (minus Dito, Sari dan Wahyu yang tak kunjung datang) pun shock dibuatnya. Hei!!! Siapa punya teman bermental baja seperti Mastori? Antara malu dan bangga kita semua dibuatnya. Tapi akhirnya ikatan almamater itu lebih mendominasi pikiran kita teman. Dari sebelah kiri panggung kita semua mendukung Mastori untuk memenangkan doorprize itu, apalah nanti hadiahnya, itu urusan belakangan.

Ayo Mastori, kamu pasti bisa!!!” teriak Icak, Bagus dan Tama yang ternyata sudah berada di depan panggung untuk mengabadikan momen yang paling bersejarah dalam kehidupan seorang Mastori dari Padepokan Gadjah Mada.

Hei!! Tapi ternyata apa yang dilakukan Mastori terlalu bodoh teman. Sungguh memalukan. Apa kata dunia persilatan nantinya. Ah, Mastori!!!

Jadi, MC-nya yang disponsori oleh Telkomsel bertanya kepada Mastori.

Namanya siapa Mas?”

Mastori.

Apa? Mastoni!”

Bukan! Nama saya Mastori.

Ah, bagus. Mastori memang bukan nama sembarangan. Mungkin hanya ada satu di dunia. Dan nama seseorang memang mencerminkan kepribadiannya. Seperti anehnya nama Mastori, ternyata itu juga berbanding lurus dengan tingkah lakunya yang tidak bisa diprediksi. Ah, prediksi saya memang benar. Mastori akan menjadi fenomena dalam KKN Bintan kali ini.

Jadi, untuk mendapatkan doorprize berupa nomor perdana dari Telkomsel. Mastori harus membuat slogan atau jargon atau apalah bagi Telkomsel, bukan lagi “begitu dekat, begitu nyata”. Tapi Mastori memang luar biasa teman. Benar-benar luar biasa teman. Dia langsung mengambil mic dari MC-nya dan membuat slogan untuk Telkomsel yang begitu dasyhat. Ah, tapi kali ini kita tidak mendukung Mastori. Kasusnya berbeda. Kita semua sedang tidak ingin berteman dengan Mastori. Ah, Mastori telah mencoreng nama baik UGM teman.

4 kali 4 sama dengan delapan, Telkomsel begitu dekat, begitu nyata”, Mastori berslogan lantang dan penuh keyakinan.

Kontan saja, MC-nya protes. Sama sekali tidak nyambung kata MC-nya. Belum lagi perhitungan yang salah dari si Mastori. MC-nya protes kembali.

Aduh, mas-nya koq bisa masuk UGM sih. 4×4 masak delapan. Wah, UGM tidak adil. Koq bisa sih?”

Ah, kacau balau teman. Mastori telah mengecewakan segenap civitas akademika Universitas Gadjah Mada. Ah, orang Cirebon yang satu ini telah menggemparkan Desa Bukit Bekapur. Apalagi ketika MC-nya meminta Mastori untuk mengajak temannya ke atas panggung untuk meramaikan suasana atau lebih tepatnya membuat rusuh acara penutupan ini. Kontan saja, kita semua langsung bubar mencar. Tidak ada satupun yang mendukung Mastori kala itu, hingga akhirnya hanya Taufik dan Afi yang naik ke atas panggung, berbagi rasa malu lebih tepatnya. Ah, Mastori bin Rodin memang fenomena teman.

Lain Mastori, lain lagi Yanti dan Adiba. Yanti yang pandai berbahasa Bima, akhirnya meraih peringkat ke 10 bersama Tama dan Akbar. Teluk Bakau berpesta. Unggulan ketiga ini berhasil meyelamatkan nama baik UGM. Ah, lumayan teman satu juta rupiah. Dan langsung saja, dia menelepon keluarga besarnya di Bima. Dan ini berarti hiburan tersendiri bagi kita semua. Menikmati bahasa Bima yang tidak kita mengerti sama sekali. Hei!!! Hampir satu jam dia bercerita bangga atas prestasinya itu. Saya membayangkan, kalau keluarga besarnya sedang duduk bersama di ruang keluarga dan menangis haru karena mendengar berita membahagiakan ini. Ah, anak Bima yang berbakti pada orang tua. Hei!!! Tapi itu pun hanya lintasan pikiran sesaat teman. Kita semua ternyata malah tertawa ngakak dan terpingkal-pingkal selama Yanti bertutur dengan bahasa Bima-nya.

Dan peringkat ketiga the most phenomenal person in KKN Bintan pekan ini adalah Adiba atau kita lebih mengenalnya dengan panggilan Bu Dibyo. Tawa khasnya yang seperti orang asma serta tidurnya yang rusuh membuatnya tetap bertahan di peringkat tiga. Belum lagi ketika kita sudah lelah, jenuh dan resah menunggu bis datang menjemput, Bu Dibyo malah tertidur pulas. Ah, langsung saja kita bersembunyi dan tertawa kembali ketika melihat dia bangun, tersadar dan bingung. Ah, trekking dan pesta durian ini begitu berkesan teman. Bintan sangat!!! Bagaimana kalau kita reuni beberapa tahun lagi disini, pada saat Trekking Gunung Bintan dan Pesta Durian diadakan kembali?

Cerita dari Kawal

Teman!!! Saya ingin bercerita banyak pada kalian tentang hari Senin ini. Ah, semuanya menyenangkan teman. Berjalan lancar normal dan tanpa hambatan. Dan saya mengawalinya dengan ketidaksempuraan teman. Saya bangun Subuh-nya kesiangan teman, tidak dapat jamaah di masjid deh. Dan setelahnya pun saya tertidur pulas kembali. Ah, malas benar. Badan ini masih remuk redam akibat tracking yang melelahkan. Ajakan Mastori untuk nimba air pun dengan amat sangat terpaksa saya tolak mentah-mentah, saya butuh istirahat barang sejenak teman. Dan hari Senin ini pun akhirnya baru benar-benar saya mulai pada pukul 07.00 WIB. Tersadar dari tidur panjang, kemudian saya bergerak, lalu belajar dan akhirnya berkarya.

Pekerjaan pertama adalah mencuci. Hei!! Untuk kali pertamanya saya mandi di Prigi (sumur) teman. Prigi ini hanya terletak kurang lebih 500 meter dari pondokan saya. Letaknya di pinggir jalan agak sedikit masuk ke dalam beberapa meter, bersebelahan dengan lapangan voli yang sudah tidak digunakan. Hanya ada satu sumur dengan tembok setinggi setengah badan yang mengelilinginya. Tanpa atap dan hanya beralaskan semen. Ah, sungguh tradisional dan alami teman. Melelahkan juga pagi ini karena saya terpaksa bulak-balik dua kali karena lupa membawa ember untuk menimba air dan sepatu. Belum lagi, disana saya bersua dengan Bang Fian yang mencetak salah satu gol ke gawang PS Bilis. Sejuta rasa berkecamuk jadi satu.mungkin Bang Fian merasakan apa yang dirasakan Gabriel Batistuta ketika mencetak gol ke gawang Fiorentina. Ah, terlepas dari itu semua, sungguh menyegarkan teman mandi di Prigi. Tapi saya juga masih merasa malu teman kalau-kalau ada orang yang lewat. Makanya saya mandi dengan menggunakan basahan dan ketika benar-benar sepi tak ada orang. Maklum, saya juga masih orang Sunda yang masih suka malu. Ah, akhirnya cucian selesai, badan segar dan hari ini saya siap beraktivitas setelah menunaikan Shalat Duha dua rakaat saja, asalkan rutin teman.

Hei!!! Tapi pondokan pagi ini sedang sepi teman. Mastori sudah pergi melaut bersama Bang Man, Fery dan Erni sedang ke SD 011 Kawal dan nampaknya juga mereka sudah mulai mengajar teman, Sari masih di Desa Teluk Bakau sejak semalam, sedang Icak, Bayu dan Neni tidak tahu kemana rimbanya. Ah, nampak tenang juga kalau sepi seperti ini. Tapi tidak lama teman karena setelah saya selesai Duha, rombongan Bayu, Icak dan Neni datang membawa sarapan. Akhirnya hanya kita berempat yang sarapan lontong sayur bilis yang sebungkusnya seharga tiga ribu rupiah. Ah, sedap. Ternyata rombongan ini baru saja singgah dari rumah Kak Siti teman. Berharap dapat sarapan, tapi ternyata rezekinya hanya segelas teh manis hangat teman. Kata Kak Siti, nanti siang saja, makan ikan bakar di rumahnya. Ah, tiga orang yang malang. Dan Icak pun mulai mewacakan info terbaru, tentang Ibu Suri dan Kasimnya. Ah, saya dan Bayu langsung tertawa ngakak teman. Yah, itu adalah gambaran tentang si Erni yang selalu dikawal Fery pergi kemana-mana. Ah, sungguh pedas dan tajam kata-kata si Icak. Tapi jangan ada yang marah teman, ini hanya gurau khas melayu, gurauan dari Kawal. Hanya berpesan saja agar menjaga diri, tingkah dan perilaku karena KKN juga merupakan ajang untuk bergurau tanpa kompromi, tapi tetap terkendali, hanya sekedar guyon tidak lebih, harap jangan ditanggapi serius sangat. Seperti perkataan kata peribahasa, Kalau ada jarum yang patah, jangan masukkan dalam jerami, kalau ada kata yang salah, jangan masukkan dalam hati.

Ah, seusai sarapan saya hanya menulis barang sejenak karena terhenti listrik mati dan membaca “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramudya Ananta Toer. Ah, hari ini memang tidak ada program teman. Hanya mungkin nanti Maghrib kembali mengajar TPA dan malamnya ikut pengajian bapak-bapak di Masjid. Ah, hari yang tenang dan sunyi teman. Hingga siang, Ibu Suri dan Kasimnya belum kembali (hei!! motornya hendak dipakai teman), Icak dan Neni sibuk memasak di dapur, Sari dan Mastori juga belum kembali, sedang Bayu tidak jelas sedang apa. Dan benar teman, kita diundang makan siang di tepi laut yang tenang bersama Bang Man dan Kak Siti. Ah, ternyata Mastori sudah ada di sana sejak lama, menyusul kemudian saya dan Bayu, lalu Icak dan Neni yang selesai masak kentang, kemudian Fery dan Erni yang ternyata langsung mulai mengajar di SD.

Hei!!! Suasananya tenang sangat teman. Sungguh menenangkan. Sejuk. Semilir angin laut menghembus menyegarkan. Ah, enaknya memang tidur-tiduran dan bermalas-malasan. Ah, menyenangkan sekali teman. Rumah Kak Siti dan Bang Man memang berada di bagian paling ujung perkampungan nelayan teman. Langsung berhadapan dengan laut disekelilingnya. Ah, pondokan kayu nan mungil ini sungguh merupakan tempat yang romantis teman. Tempat yang nyaman bagi saya untuk membaca dan menulis serta ditemani istri tercinta. Ah, sudahlah. Berhenti berandai-andai dan nikmati saja suguhan ikan Tongkol bakar dan ikan Karang bakar yang rasanya sungguh dasyhat teman, ditambah sambal dan lalapan kacang panjang. Ah, teman pasti doyan. Enak sangat teman. Sambil melihat laut dan perkampungan nelayan tradisional, sambil bersenda gurau, ah, maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Subhanallah, wallhamdulillah, allahu akbar.

Tetapi sayang teman, Ibu suri dan kasimnya harus pulang duluan, katanya sih mau ke Tanjungpinang (Bayu dan Icak pun langsung tersenyum jahat, nampak sedang menyiapkan bahan gosip yang harus segera di blow up ke sub unit lain), Sari pun tidak kunjung datang, dan pada akhirnya, saya, Neni, Mastori serta Icak harus izin pamit karena hari sudah sore. Ah, kita tinggal Bayu yang sedang tidur sendirian di sana. Cah Lumajang ndeso, bar ma’em turu (orang Lumajang kampungan, sehabis makan tidur). Tidak lupa si Icak membawa rokoknya si Bayu. Ah, sadis sekali Neni, Mastori dan Icak sore ini. Dan saya pun mau tidak mau harus mengikuti mereka teman. Dan benar saja, sesampainya kita di pondokan, baru saja kita hendak tertawa membayangkan apa yang akan dialami Bayu, tiba-tiba saja dia muncul. Ah, Neni, Icak dan Mastori memang jahat, saya pun berlepas diri dari semua tindak kejahatan ini teman, saya cuci tangan dari kasus ini dan saya benar-benar tidak terlibat teman.

Ah, sungguh sore yang menyenangkan teman. Firman si kormanit juga mengajak teman-teman satu unit untuk syukuran miladnya yang ke-22. Sejak rabu siang hingga kamis sore harap kosongkan agenda unit, pesan beliau kepada kita semua. Ah, sub unit Kawal pun kebingungan, diantara dua pilihan antara Tanjungpinang dan Pulau Penyengat. Lihat besok sajalah teman.

Ba’da Maghrib, ada sesuatu yang spesial dalam pengajian kali ini. Ada salah satu santrinya yang naik tingkat dari IQRA, namanya Deni, masih kelas 3. Beliau mulai membaca Al Quran dari halaman pertama hingga beberapa ayat Surat Al Baqarah, sedang santri yang lain duduk diam dan menyimak. Tidak ada pengajian seperti biasa malam ini. Setelahnya pun ada nasi kuning dan telur rebus dalam gelas plastik (ciri khasnya nih). Ah, senangnya. Saya, Mastori dan Neni yang menyaksikannya pun merasa senang sangat. Saya pun teringat ketika saya masih belum bisa membaca Al Quran, kemudian belajar mengaji di rumah Bu Farid, lalu ikut TPA An Najjah. Ah, saya berhutang banyak pada semua guru yang telah mengajarkan saya membaca Al Quran. Semoga saya benar-benar bisa memahami bahasa Al Quran, tidak sekedar mampu membacanya.

Dan malamnya, lampu pun mati. Listrik mati. Pondokan gelap. Kawal gelap. Ah, ini kali keempatnya dalam sehari listrik mati. Sungguh menyebalkan. Tidak menyenangkan. Apalagi ketika si Neni ketakutan setengah mati karena mati lampu. Dia takut gelap. Dia juga takut sama makhluk halus. Ah, anak Palapsi (pecinta alam psikologi) yang aneh. Cinta alam, tapi takut dengan hal seperti ini. Huu!!! Ah, akhirnya ini hanyalah sedikit cerita dari Kawal teman, tidak lebih.

Tanjungpinang di Akhir Juli 2008

Nampak tidak seperti sedang KKN teman. Akhir Juli ini (tepatnya 29 Juli 2008) Firman si kormanit merayakan milad-nya yang ke-22 teman. Doa saya sederhana, semoga Firman segera lulus, menikah dan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Ah, memang nampak tidak seperti sedang KKN teman. Hari ini kita semua diajak Firman lunch di Rumah Makan Seafood Shangrilla yang harganya terkenal diatas rata-rata. Ah, Tanjungpinang kali ini begitu ceria teman. Seceria kabar dan doa dari teman saya di Yogyakarta, Swasti namanya, SekJen KMMP. Dan saya pun sempat berbalas pesan dengannya.

Allahumma baariklanaa fii Rajab wa syaban wa balighnaa Ramadhan Ya 4WI, berkahilah kami dbulan Rjb& Syaban, sampaikn kami dbulan Ramadhn. Maaf atas sgala ksalahan. Swasti

As. Sama-sama mb! Doakan sukses KKNny! Skarng lg d Pulau Penyengat nih. Keren sangat deh pokonya. Tunggu novelny aja ya. Doakn saya teman. Ws

Waalaikumslm. Amin moga sukses KKNny dan ant cpt blk k Jogja. Amanahny uda kangen tu ma ant. dtunggu novelny. Moga2 cita ant trcapai. Amin

As. Oya, masih ada KAB and forum yah. salam aja deh buat mereka berdua oke! Semangat mbak!!! Ws

Waalaikumslm. Koq ant nitip slm k sy sih? Sy kn jg lg merantau. Waduh, saking betahny d luar Jawa smpe lupa ma titipanNya

As. Insyaallh gak lupa koq. Insyaallh September qt selesaikan semuanya Ws

Siang menjelang sore, sepulang dari trekking part two (hei!! Sub unit Kawal baru saja dari Pulau Penyengat teman), kita pun langsung menuju ke Shangrilla, menggugurkan kewajiban berupa undangan dari Firman dan tentu saja menikmati kembali kebersamaan dan nikmat yang Allah berikan. Maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Hei!! Semuanya begitu menyenangkan teman. Ayah (Pak Robert yang menjadi orang nomor satu di Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau) dan ibunya yang ramah serta Fitri, saudarinya (Firman menyebut pacar dengan sebutan saudari) yang setia menemani dan teman-teman KKN Bintan minus Akbar HI yang izin pulang, semuanya begitu bahagia hari ini.

Ah, semoga Allah mengeratkan ukhuwah ini, seperti pesan dari Hanami di saat siang menjelang sore ini. Ah, pesan yang aneh dari orang aneh.

Smoga Allah mengeratkn tali ukhuwah qt. sebarkn k tman2 organisasi kalian, bila dpt sms ni, stidakny tmn2 dianggap disitu. Coba dech! Ni Hanami lg iseng aj koq.

As. Ah, pesan yang aneh. Gmana KAB-nya? Ada yg bisa dibantu gak? Ws

Aslm, sy mint fto2 kgiatan KAB ya! Diusahakn dkirim k email sy hr ni sblum j5 k muzta_hanami@yahoo.com

As. Kalau saya sempat yah. Waktu dan lokasi tidak memungkinkn teman. Ws

Ah, mungkin inilah hiburan yang Allah pada tanggal 27 Rajab 1429 H teman. Seperti halnya Allah menghibur Rasulullah SAW kala ditinggal pergi paman dan isterinya tercinta dengan peristiwa Isra Miraj, mungkin inilah hadiah untuk Firman atas miladnya yang ke-22. Dan sepulangnya dari Shangrilla, kita semua pun pergi ke rumahnya Firman di Jalan Soekarno Hatta, masih di kota Tanjungpinang (kita memang berencana untuk bermalam teman). Dan hari ini saya pun melihat sisi lain seorang Dito (anak sub unit Malang Rapat yang terkenal metal tapi sebenarnya baik hati) ketika shalat Ashar berjamaah di Masjid dekat rumah Firman. Saya juga takjub dan kagum ketika melihat Pak Robert yang begitu shalehnya teman. Meskipun sudah memiliki jabatan, beliau tetap shalat Maghrib di Masjid tepat waktu, bahkan menjadi imam-nya pula. Ah, saya seperti melihat Firman yang dulu di awal semester selalu izin untuk shalat Dzuhur terlebih dahulu ketika sedang kuliah karena didengarnya Adzan telah berkumandang. Inilah gambaran orang melayu yang terframe dalam pikiran saya teman. Orang-orang yang memegang teguh nilai-nilai Islam. Pak Robert dan Firman, ayah dan anak yang luar biasa teman. Semoga Allah mempertemukan mereka berdua di Jannah-Nya kelak. Amin.

Dan sore hari ini ternyata saya juga dibuat mangkel (teramat kesal) oleh Andri (kita lebih senang memanggilnya Chris John). Jadi, ketika saya, Icak, Bagus dan beberapa orang akan pergi ke Ramayana untuk nge-net, saya dilanda kebingungan (jadi nge-net atau tidak) karena hari sudah hampir Maghrib. Dan pernyataan dari Andri semakin meluruhkan niat saya untuk tidak jadi nge-net (hei!!! saya sebenarnya ingin segera mengecek email dan blog saya segera teman).

Tanggung ‘Ji, udah mau Maghrib. Ntar aja udah”, sarannya begitu meyakinkan.

Dan akhirnya saya pun tidak jadi nge-net di Ramayana. Tapi ternyata ketika saya ke dalam rumah Firman sebentar, Icak, Bagus dan teman-teman sudah pergi semua ke Ramayana, termasuk Andri. Andri!!! Saya marah sangat nih. Akhirnya hanya tinggal saya, Mastori (sedang bantu-bantu di dapur), Wahyu (sedang cedera akibat kecelakaan sepeda motor) dan Taufik (tidak senang keramaian dan pendiam) yang tersisa di rumah Firman. Ah, bosan dan menyebalkan.

Bosan, di rumah sendirian, papah pergi, mamah arisan, tak ada lagi yang dapat kulakukan. Mau makan, tak ada yang dapat lagi dimakan, mau nonton, acara TV yang ada pun gak karuan.”

Hingga akhirnya, selepas Maghrib, kita berempat pun diajak Firman untuk mengantarkan Fitri ke kota Kijang. Ah, baiklah. Daripada mati kebosanan. Dan ketika singgah sejenak di Ramayana (Taufik ingin mengambil uang di ATM), saya melihat warnet penuh dengan anak-anak UGM yang sedang nge-net. Ah, kalian semua menyebalkan (Icak, Bagus, Akbar, Dito, Fery, Anjar, Tama, Yoga dan terutama Andri). Saya benci kalian semua!! (tolong jangan bayangkan saya mengatakan itu sambil berlari kecil berurai air mata, ini bukan drama romantis)

Ah, untung saja Firman mengajak kita ke Kijang. Fitri bercerita kalau di Kijang ada kolam (begitu mereka menyebutnya), yaitu bekas daerah bekas galian dari Aneka Tambang yang akhirnya menjadi danau buatan. Ada juga Pohon Sakura di dekat kolam yang tumbuh tinggi menjulang besar dan berbunga ketika di Jepang sedang musim dingin. Ah, katanya ini adalah pohon yang ditanam oleh orang Jepang ketika masa penjajahan dulu dan hebatnya, pohon ini dapat tumbuh berkembang dan berbunga teman. Dan kota Kijang ternyata adalah pusat dari Aneka Tambang (BUMN yang fokus pada penambangan bauksit) teman. Aneka Tambang juga memberikan bantuan dana 1,2 juta di KKN kita teman. Ah, perjalanan yang menyenangkan, tidak seperti sedang KKN.

Dan ada satu hal menarik yang hanya saya temukan di Tanjungpinang teman. Malam hari, sepulangnya dari Kijang, saya melihat beberapa rombongan gerak jalan. Hei!!! Di kota ini ternyata akan diadakan lomba gerak jalan sejauh 8, 17 dan 45 KM teman. Saya sempat bingung, atas dasar apa lomba gerak jalan ini dibagi menjadi 3 kategori. Ah, nampaknya saya tidak perlu menjawabnya teman (hanya orang cerdas yang tahu). Dan malam ini, sepanjang perjalanan saya pulang, saya menyaksikan ada banyak tim yang sedang latihan gerak jalan. Anak muda, remaja, putra, putri semuanya berlatih hingga malam. Berjalan, seragam, semangat dan begitu memukau. Ah, mengesankan. Keren sekali teman. Dan baru kali ini saya melihat lomba gerak jalan begitu populer. Selama saya di Jakarta dan Yogyakarta, saya tidak pernah melihat lomba ini sebegitu meriahnya. Ah, saya pun jadi tertarik untuk berpartisipasi di dalamnya. Hei!! Tapi bukankah nanti 17-an di Kawal juga ada lomba gerak jalan 8 KM. Bagaimana kalau kita ikut lomba itu saja teman?

Dan sepanjang perjalanan pulang ke rumah Firman, saya berbalas pesan dengan mahasiswa baru Fakultas Pertanian UGM. Ah, saya tidak tahu darimana dia mendapatkan nomor HP saya.

As. Maaf sebelumnya. Satu, pesan anda belum terkirim sepenuhnya, jadi gak kebaca? Dua, ini siapa ya? Tiga, tolong dibalas yo! Ws

Assalamualaikum Mb/ Mas, maaf td sms ny belum t’kirim scr utuh.

Assalamualaikum, sy Yohanna Anisa, mahassw baru pertanian. Sy mau tanya, krn PPSMB d’adakan 20-23 Agsts.. apakh ada TM sebelumny? Kpn n dmnana sy bs mendapatkn infony? Terima kasih.

As. Oh, maba’08 toh insyaallah ntar ada TM-nya, info lebih lanjt, nanti saya hub. lagi. Maaf, saya sedang di Pulau Bintan, Kep. Riau. Semangt mba!! Ws

Ya.. terima kasih sebelumnya. Semangt y Kak! Salam buat penduduk Bintan. Psti menyenangkn d sana.. salam kenal dr saya, penghuni baru fak. Pertanian

As. Sama-sama. Bintan sangat menyenangkan Oya, jurusnmu apa? Adek saya pertanian 2008 juga soalnya. Doakan saya biar sukses di Bintan. Ws

Saya d Mkrobio, btw.. Mb/ Mas asli Riau? Wah, jd kenal sm senior seb kuliah dmulai ni. Mhn bantuanny y Kak. Kt b’doa utk k’baikan! Maaf klo sy ganggu

As. Wah, dekan baru qt juga dari Mikrobio. Insy qt bantu koq, santai aja. Klo saya asli Sunda, tapi tinggal dan besar di Jakarta, terus kuliah di Jogja dan skarang lagi di Bintan deh. Ws

Thanks ya! Btw, nama Mb/ Mas siapa y? d Jursn ap?

As. Saya jursn perikanan, sama kayak adek saya. Wah, parah juga mbak-nya, dari td SMS tp gak tau namany. Mbaknya mang tahu darimana nmr sy? Klo gt buat PR aja oke! Besok dikumpulin Ws

Ah, akhir Juli yang mengesankan teman. malamnya, kita nonton bareng film yang diangkat dari novel PS : I Love You. Ah, Holly yang cinta mati Garry. Mirip sekali dengan saya yang ditinggal pergi adik saya, Fajar. Ah, saya pun mengakhiri malam ini dengan begitu nyaman teman. Istirahat di kamarnya Firman yang ber-AC. Tetapi saya tidak menyadari kalau ada pesan yang masuk di akhir Juli ini teman, kala saya bermalam di Tanjungpinang.

Salam. Saudaraku yg dirahmati Allah. Ijinkan aku meminta 3 hal yg harus aku perbaiki, agar di sisa waktu ini, aku bisa bermanfaat. Syukron katsir

Yuli Atri

My Last Thursday

Bismillah. Aa pengen bercerita tentang rabu eh kamis yang telah lalu ‘Jar. Hmm, tidak sedashyat dan seheboh rabu kemaren memang ‘Jar. tapi kamis ini lebih mengharu biru ‘Jar. hati aa gerimis. Yah, menjelang keberangkataini aa jadi semakin melankolis kolerik. Wah, apalagi tuh. Yah, kamis aa lebih mengharukan. Sepi. Dan pastinya aa bakal sedih ‘Jar ketika akan meninggalkan Jogja tercinta ini.

Ah, kamis ini aa udah mengawalinya dari sejak dini hari, tapi aa tertidur lagi hingga subuh pun terlewatkan di rumah saja.  Ah, kamis ini aa pun mengawalinya dengan forum tabayun, klarifikasi dan apalah itu namanya kepada dua orang yang karakternya hampir sama. Yah, memang harus berpikir tenang dan bijak ketika menyikapi ini semua. Hhh, Hanami dan Wayan memang membuat kepala gw pusing tujuh keliling. Lier euy, klo orang Sunda bilang. Yah, udah lah gak usah pake marah, gak usah emosi, gak usah terburu-buru dan tergesa-gesa. Tenang Panji, gw tsiqohlah sama dua bersaudara itu, Wayan dan Hanami. Hhh, koq gw bisa kenal sama dua orang itu yah?

Yah, lepas dari pertanyaan terakhir, akhirnya aa sama Bowo pergi ngenet di MasKam. Ngeganggu si Aldo yang lagi santai berdua dengan istrinya, afwan ‘Do, soalnya colokan listriknya cuma ada di situ ‘je. Lalu balik lagi dan oya ‘Jar, hampir lupa satu hal, si Agung kepalak di kereta, ngasih 50 eh kembali 25 masak. Ah, aa gak bisa ngebayangin gimana ceritanya itu semua bisa terjadi. Yah, nasi udah jadi bubur kata Agung, tinggal gimana caranya biar enak yah pake kacang, kerupuk, ayam dan kuahnya. Wah, bijak juga loe ‘Gung sekarang.

Hmm, apalagi yah yang aa lakukan di hari terakhir aa di Jogja ini, oya sempet nganterin Juki ke stasiun ‘coz dia mo mudik hari ini karena sakit. Sempat nonton film Ventage Point juga. Wah, keren ‘Jar, ada banyak sudut pandang, walau sialnya masih sudut pandang Amerikalah yang menang pada akhirnya.

Dan aa pun bermain bola untuk yang terakhir kalinya di Lapangan Klebengan bareng Mujib cs, Abud, Faruq, Bowo, Agung, Bagus dan Cosa. Ah, payah ‘Jar, kalah telak dan jauh, menyebalkan deh pokoknya. Tapi gak masalah sih ‘Jar, aa hanya ingin maen untuk yang terakhir kalinya ‘Jar, gak lebih. Terus nyuci baju untuk yang terakhir kalinya dan tentunya LQ untuk yang terakhir kalinya. Fuih. Selesai juga akhirnya kamis aa yang aa habiskan dengan shaum. Alhamdulillah.

Yah, semuanya akan berakhir ‘Jar. dua bulan ke depan aa bakal berada jauh di seberang pulau. Lebih jauh dari Pulau Pramukan pada setahun silam. Ah, aa bakal merindukan Jogja, aa bakal merindukan suasana di sini dan aa pun bakal merindukan orang-orang yang telah mewarnai dengan indah kota Jogja ini. Ah, aa jadi pengen ketemu Fajar dan pergi pamit ke semuanya untuk selamanya. Yah, aa pengen banget bersua dengan Fajar di Jannah-Nya, tapi apakah Allah mengizinkan hamba-Nya yang hina ini. Ya Allah, semoga cinta ini bertemu di Surga-Mu. Ya Allah, kabulkanlah doa hamba-Mu ini.

‘Jar, aa pamit dulu untuk  dua bulan ke depan. Ah, seperti apa 60 hari aa nantinya. Yah, semoga doa temen aa ini dikabulkan Allah.

Dalam sukar, hitung kesyukuranmu

Dalam senang, awasi kealpaanmu

Dalam diam, taburkanlah baktimu

 Semoga hidupmu dalam lindunganNya selalu

Met KKN y temen2

Keep istiqomah. SEMANGAT!!

Sina_Fitri

 

Mtop, 4 Juli 2008

Berangkat!!!

 

 

 

What a Wonderfull Wednesday!!!

Fajar!!!! Aa mau cerita banyak nih di hari kedua aa di bulan Juli. Banyak banget cerita serunya nih. Dan aa gak mau melewatkan kesempatan ini. Yah, aa kemaren terlalu membuang-buang kesempatan yang ada. Aa gak bisa memaksimalkan waktu luang dan senggang yang ada untuk kemudian aa gunakan dengan efektif adan efisien. Ah, aa masih punya banyak hutang dan amanah yang harus diselesaikan sebelum akhirnya aa enyah ke Bintan sana ‘Jar. Wuah!!!! Pokoknya mengharu biru dan begitu berwarna deh hari rabu aa ini. Aa gak nyangka bakal sebegitu cerianya hari selasa aa, eh rabu ini ‘Jar. Dan aa sengaja menggunakan bahasa seorang kakak kepada adiknya agar ceritanya lebih mengalir aja sih ‘Jar. Yah, aa hanya mau bercerita ke Fajar, sahabat dan saudara terbaik yang tidak pernah membuat aa kesal.

Dan aa mengawalinya dari sejak subuh. Hmm, alhamdulillah aa masih dikasih kesempatan untuk mendengarkan lantunan adzan subuh. Ya Allah, aa masih diberi hidayah itu oleh Allah, aa masih bisa bangun dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di Masjid Al Iman. Dan aa bersyukur ‘Jar Agung ada di Jogja. He3x, dia akhirnya mau gak mau, suka gak suka, harus mengikuti kebiasaan shalat berjamaah di masjid. Iya ‘Jar, abisnya dia kalau di rumah kayaknya shalatnya di rumah terus deh, gak pernah ke masjid. Dan mungkin awalannya shalat, ntar dia bakal mulai ikut ngaji dan baca Quran, terus aktif di organisasi hingga akhirnya mentoring atau AAI and finally  liqo dan mulai menjadi aktivis dakwah Islam yang siap berbagi ilmu dan amal. Yah, dan semuanya ini jelas membutuhkan tarbiyah sebagai sarananya. Ya Allah, semoga Fajar yang telah terbenam itu kan menjadi Agung. Aa pun hanya bisa berdoa ‘Jar.

Bada subuh, aa pun hanya sempat menyelesaikan setengah evaluasi aa di hari pertama di Bulan Juli. Yah, terpotong dengan kajian tafsir bersama Ust. Syatori di MPR. Wah, udah lama banget ‘Jar aa gak ikut kajian tafsir beliau. Dan bersama Agung yang satunya, bukan Agung kita, akhirnya aa berangkat juga kesana ‘Jar. Hmm, masih surat Nuh ternyata, ayat 23-24, tentang kaumnya yang membangkang dan menyembah berhala. Yah, cukup menyejukan hati ‘Jar, karena memang ternyata di masa sekarang ini berhala-berhala sesembahan manusia sudah tidak lagi sebatas berhala fisik berupa patung dan sejenisnya, tapi berhala itu sudah bermetamorfosa menjadi sesuatu yang lebih menarik daripada Islam, bahkan sepakbola pun bisa menjadi berhala ketika ia dinomorsatukan daripada shalat. Ah, semoga aa bisa lebih berhati-hati lagi dalam menyukai sesuatu, seadanya dan sewajarnya saja.

Dan sepulangnya dari sana, aa mau bercerita tentang kebaikan seseorang yang bernama Rio. Yah, aa udah bertekad dan berazzam untuk menuliskan kebaikannya di blog ini, biar kita sama-sama mendoakan beliau. Jadi ceritanya, ketika aa pulang dari MPR setelah kajian, motor satria aa kehabisan bensin ‘Jar di deket NB dan ini udah yang ketiga kalinya aa kehabisan bensin. Argh!!! Dodol!! Menyebalkan banget deh pokoknya ‘Jar. Koq jadi boros begini yah motor satria aa. Wuah!!! Bisa bangkrut nih klo begini terus caranya. Dan jadilah aa dorong tuh motor mau gak mau. Nah, baru sampai sekitar Gading Mas, tiba-tiba ada orang yang menawarkan bantuan untuk ikut ngedorong nih Satria. Yah, secara aa di Jogja (jawa), aa menolak dengan halus bantuan tersebut, “Ah, gak usah mas, takut ngerepotin. Biar saya dorong aja, sekalian olahraga, lagipula masih pagi koq”. Tapi mas-nya pengen banget ngebantu, “Gak apa-apa koq mas. Biar tak dorong. Ntar mas yang satunya saya boncengin”.

Yah, alhamdulillah banget deh akhirnya dia ngedorong motor aa dari belakang. Kaki kirinya ngedorong boncengan motor aa. Yah, pokoknya temen-temen bisa ngebayanginlah yah gmana teknisnya di lapangan. Wah, alhamdulillah banget deh ‘Jar pokoknya. Lumayan banget ternyata. Aa jadi gak perlu ngedorong motor dari Gading Mas sampai Pom Bensin Kentungan. Lebih cepat waktu dan efisien tenaga 10 kali lipat lebih ‘Jar. Wah, bener-bener baek nih orang. Dan ini yang ngebuat orang itu semakin keren ‘Jar. Misterius. Dengan motor honda standar yang nampak bersih dan terawat, helm half yang standar plus bagus juga, celana pendek seperempat yang gaul abis dan masker yang digunain, aa jadi gak tau seperti apa paras wajahnya, alias aa gak tau orangnya yang mana dan siapa. Sesampainya di SPBU, aa hanya menanyakan namanya siapa dan dia bilang Rio. Oya, plat motornya AB ‘Jar. Wah, aa bener-bener hutang jasa ke beliau, sama seperti hutang jasa aa ke orang-orang di Apotek Kima Farma yang deket AMPLAS yang udah nganterin aa ke Bethesda pas aa kecelakaan motor. Yah, Rio yang misterius. Masak Rio kembarannya Ayu Satya sih? Like Pay It Forward. Ah, biarlah Allah yang membalas kebaikan orang itu. “Ya Allah, semoga Engkau membalas kebaikan si Rio kepada saya dengan balasan kebaikan yang lebih baik. Amin”.

Terus dari SPBU, aa mampir sebentar ke Izzam. Ngambil yang tertinggal dan kembali ke Mtop. Eh, tadinya mo ke Perikanan dulu ‘Jar, mo ngebantuin si Anis Gun minjem ruangan di Perikanan untuk acara pemandu internal AAI. Eh, kebetulan ketemu Wahyu di jalan, jadi aa transfer aja tugasnya ke Wahyu. Yah, inilah saatnya untuk yang muda tampil. Dan selain itu juga, waktu aa saat itu benar-benar terbatas. Dan selanjutnya memang seru ‘Jar karena memang aa bener-bener mencoba mengefektifkan semua waktu yang ada. Yaps, nyampe Izzam (eh, Mtop) aa lansung mandi dan sarapan lagi sama mie goreng lagi. Terus Duha, dan berangkat ke kampus untuk ngurus surat pernyataan KKN. Sebelumnya mampir dulu ke Wartel dan nelpon Pak Jamhur dari Aneka Tambang, dan alhamdulillah!!! Yes!!! Qt disuruh ke kantornya langsung dan ngadep Pak Tasno di bagian Kasir Kebendaharaan. Yah, ada dua kemungkinan ‘Jar. Pertama, Aneka Tambang mo ngasih sumbangan ala kadarnya, tapi kayaknya sih lumayan gede deh ‘Jar. Ato yang kedua, aneka tambang mau jadi sponsor tunggal. Ah, biarlah ntar Firman yang urus. Wah, baru kali ini aa ngerasa bener-bener jadi seperti humas. Wah, ini rejeki kedua aa setelah ditolong Rio tadi pagi ‘Jar. Abis itu ke kampus yang ramai dengan SMNPTN (kayak SPMB gitu loh ‘Jar) dan rencananya sih mo minta ttd Pak Probo, DPL KKN aa, tapi berhubung bapaknya belum ada, aa nitip Odel dulu aja ‘Jar. Terus aa ke Tugu deh untuk mesen tiket buat si Agung ‘Jar. And badnews, udah penuh sampai tanggal 7 pesanannya. Gile bener, koq tiket pesanannya bisa kebooking banyak gitu yah ‘Jar. Ah, menyebalkan banget ‘Jar. Ya udah balik lagi ke kampus dan alhamdulillah, Odel dan Yoga udah dapet ttd.nya Pak Probo, terus aa dan Anjar deh yang ke LPPM untuk nyerahin sura tersebut ke Pak Eko. Lalu dilanjutkan lagi dengan rapat KKN sampai jam setengah dua siang. Fuih. Beberapa hari menjelang keberangkatan, semuanya terasa semakin mendebarkan ‘Jar. Gile bener ‘Jar, aa gak nyangka akhirnya aab bisa juga berpetualang dan berkelana sampai ke Bintan sana. Ah, aa senang banget ‘Jar dengan team KKN yang beraneka warna dan rasa ini ‘Jar. Luar biasa banget deh ‘Jar.

Yah, aa emang sengaja milih jauh sekalian biar aa bener-bener ngerasain seperti apa sih KKN yang sebenarnya. Aa juga sengaja memilih gak bareng sama-sama temen-temen ikhwah karena aa pengen ngerasain seperti apa sih dunia selain ikhwah dan kader. Aa juga sengaja milih ke Bintan karena ada back up yang cukup kuat dari Firman si Kormanit. Yah, tapi sebelum akhirnya aa bener-bener pergi ke sana, aa harus udah menyelesaikan semua amanah aa yang ada di Jogja dengan segera dan dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Yah, selesai pekerjaan satu kita memang harus segera beralih ke pekerjaan yang lainnya ‘Jar. Semangat Panji!!! Dan rapat KKN yang beraneka rasa dan warna itu pun akhirnya selesai juga ‘Jar. Fuih. Capek juga yah ternyata.

Dan dilanjutkan dengan makan di Mie Ayam-nya si Heri JS. Wah, lumayan enak juga ternyata ‘Jar tempat dan rasanya. Untuk harga yah masih standarlah. Tapi luar biasalah. Dan aa hanya mo bilang, alhamdulillah.

Dan nikmat itu masih aa rasakan ‘Jar. Aa berhasil menemui dua dosen pembimbing skripsi aa ‘Jar. Pak Heri dan Bu Retno. Ya Allah, aa beruntung banget dapet dua dosen yang baik hati kayak mereka. Pak Heri aja ampe minta maaf karena gak bales SMS aa ‘Jar.  Wah, aa sampe terharu dibuatnya. Beliau juga menanyakan tentang seleksi MAPRES kemaren. Ah, aa bener-bener ngerasa dimanusiakan dan diperhatikan banget ‘Jar. Wah, aa jadi pengen jadi dosen nih dan memanusiakan mahasiswanya ntar. Ya Allah, nih dosen emang luar biasa berbeda ‘Jar. Insyaallah saya gak akan mengeecewakan bapak dalam penelitian dan skripsi saya nanti pak!!! Dan Bu Retno yang masih baik hati, aa juga bilang jujur ke ibunya klo kemaren sempet menghilang karena memang baru berjodoh dengan Pak Heri hari ini. Aa juga laporan tentang seleksi MAPRES kemaren sebagai kabar gembira. Dan baru kepada kedua dosen inilah saya berpamitan untuk pulang eh KKN ke Bintan. Dan baru kepada kedua dosen inilah saya juga memperkenalkan kalau saya punya adek di Perikanan, di MSP juga, Agung Arohman namanya. Ha3x, siap-siap aja loe ‘Gung jadi orang paling terkenal di MSP 2008. Ayo ‘Gung jangan ngebuat aa kecewa. Semangat !!! Dan buat Pak Heri dan Ibu Retno, kalian memang dosen terbaik hari ini buat saya!!! Keren!!! Dan aa pun tenang karena udah ngadep dua dosen yang paling penting buat aa di semester ini sebelum aa KKN.

Berlanjut dengan kejadian yang super duper menegangkan dan seru bukan maen di penguhujung rabu aa yang begitu wah. Pertama, nganterin si Agung dan temennya ke Lempuyangan dengan deadline dan deadlock. Wah, bener-bener dipacu dengan waktu ‘Jar. Yah, mirip sama ketika aa pulang bareng Sholah. Beli tiket di calo dan nyampe kereta langsung berangkat deh. Yah, kali ini gak nyampe beli tiket di calo sih karena udah sempet beli duluan. Ah, seru banget deh ‘Jar pokoknya. Apalagi dilanjutkan dengan rapat perdana PH FLTD PN 2008/2009. Yah, sebelum akhirnya aa enyah dari kampus Pertanian ini, aa keluarin aja semua uneg-uneg yang ada tentang FLTD. Yah, alhamdulillah cukup berkontribusi kayaknya sih ‘Jar, dan aa pun mau gak mau harus berkorban untuk gak hadir di Klub FLP rabu perdana aa ‘Jar. Hiks2x. Sedih juga sih sebenarnya, tapi yah skala prioritas juga sih ‘Jar. Semangat!!!

Dan inilah episode terakhir, bagian yang paling ngebuat aa kepikiran setengah mati sampai sekarang aa nulis. Hhh, pusing aa dibuatnya ‘Jar. Emosi aa sampai gak terkendali karena masalah ini, dan siapa lagi yang mulai klo bukan si Hanami (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya harap jangan marah klo ada yang tersinggung ‘coz this is my blog dan saya bebas berekspresi disini. Insyaallah saya juga akan mencoba untuk tetap terkendali.

Fajar!!! Aa mau teriak kesal dan minta tolong nih. Aa kesel banget dengan semuanya. Menyebalkan semuanya ‘Jar!!! Gak asik!! Resek!!! AGRH!!! Dan semuanya diawali dari SMS si Hanami. Dan kayaknya aa baru bisa ngerasain ketika si Hanami ngerasa sebel sama aa. Gak tau ah, pokoknya aa bener-bener lagi dongkol nih ‘Jar. Pertama tentang berbagai plan. Hhh, gak ada masalah. Bisa dibicarakan nanti, apalagi ketika ada option lain. Tapi sms kedua yang isinya kayak begini :

“Em, gmn klo atm mnerima pln a yg sy tawarkn. Kukira ckp bgs. Coz sy ga bsa kerja perfect. Afwn, lg drop so ga bs kmana2. Plajaran bwt ikhwah pn 1knapa Tuti(bukan nama sebenarnya) bgt kcewa dgn KAB, Tuti orang yg sgt disiplin. Dia bela2 dr B****l naik sepeda demi syuro, tp stelah sampe tepat waktu ternyata dibatalkan, kadang jg molor ampe 1 jam, bgtu jg akhwat ***, mengecewakan. Gmn dakwah di pertanian bs maju dan saya ga bs kerja dgn orang2 sprti itu, capek sendiri, senewen sendiri, sakit sendiri, it alasan kesekian sy ga mo jd mas’ul”

Yah, selera makan aa langsung hilang. Ngebaca sekilas sms itu aa langsung pusing. Kesal. Benci. Sedih. Kecewa. Malas. Stress. Gak tenang. Emosi. Ah, pokoknya aa langsung lemes ‘Jar. Ya Allah berat banget sih masalahnya. Yah, yang sengaja aa cetak tebel itu lah yang ngebuat aa pusing tujuh keliling. Yah, aa udah gak bisa mencernanya lagi dengan baik ketika ngelihat kata-kata itu. Dan langsung aja bales tuh sms dengan :

“Hhh. SmS ant barusan merusak selera makan saya. Hmm, ntar aja deh kita bahas lagi”.

Yah, kurang lebih seperti itulah ‘Jar. Tapi ternyata balasan berikutnya lebih menyakitkan lagi. Pelan sih, tapi dalem. Parah juga nih si Hanami klo sMs. Disend dulu baru dipikirin.

Serah. SmS atm jg merusak selera tilawah sy.

Desh. Sadis. Parah banget ‘Jar. Gw udah capek banget nih karena dari adzan subuh langsung berkelana tanpa henti, dan di saat-saat akhir baterai diri mo drop and abis ini, ada yang ngebuat “keributan” via sms. AGRH!!! Semuanya menyebalkan ‘Jar!!! Dan Irfan yang lagi makan bareng aa di mbok Rus hanya bisa bingung ngelihat seniornya tiba-tiba berubah. Yah, setelah sMs itu aa kayaknya baru sadar klo aa khilaf, yah langsung aja aa minta maaf sama si Hanami. Just send “afwan…” via sMs.

Ya Allah. Kayaknya dulu pas aa mo jadi mas’ul gak serumit ini deh prosesnya. Gak seberat ini ‘Jar. Mbak Aida gak sampe pusing untuk nyiapin penggantinya. Aa taat aja tanpa ada perintah langsung malah dari Mbak Aida. Kesadaran diri sendiri masing-masing sih ‘Jar sebagai jundi. Tapi koq sekarang bisa serumit dan sengejelimet kayak begini yah. Terus salah siapa dong? Oke, ini mutlak kesalahan gw sebagai ketua KAB dan internalnya  yang bertanggung jawab penuh atas segala permasalahan yang ada di KAB dan tetek bengeknya. Tapi aa gak sanggup ‘Jar klo sendiri!!! Berat!!!

Yah, biar aa stel lagunya The Cat dulu ‘Jar. “Aku tak sanggup, bila sendiri, tanpa diri-Mu disisiku”.

Dan selesai makan malam bareng si Irfan, HP aa bergetar, ada yang nelpon. Gak tau siapa. Eh, si Hanami lagi. Hhh, ngapain lagi nih orang yang udah ngebuat hidup gw belakangan jadi pusing. Gak penting lagi udah.

“Afwan. Antum marah yah Pak”

“Gak, afwan, tadi saya lagi emosi aja”

“Kayaknya kita perlu sama-sama Istigfar deh”

Langsung aja aa tanya persoalan ttg si Tuti yang dilaporkan si Hanami itu. Aa nangkepnya klo ini masalah baru lagi. Kayaknya dulu udah beres deh, masak muncul lagi masalah baru. Dan masalahnya itu dipendam sendiri lagi, malah si Hanami yang menyampaikan. Gmana aa gak kecewa pada diri aa sendiri sebagai mas’ul yang sebegitu tidak pekanya pada jundi. Ah, Panji, useless banget sih lu! Dan ternyata kata si Hanami itu adalah alasan lain ketika dulu masalah yang sama pernah muncul pada orang yang sama pula. Hati kecil gw berkesimpulan, “Dasar orang Jawa!!!” (afwan, gak bermaksud chauvinisme lho). Ah, daripada nantinya malah emosi yang mendominasi, aa putuskan untuk dilanjutkan nanti aja pembahasan masalah ini, dan berbarengan dengan itu adzan Isya pun berkumandang. Hanami juga izin mo Isya. Telepon pun diputus. Dan aa pun kembali harus berpikir dengan jernih, “Selesaikan amanah ini sebelum berangkat KKN. Siapa tau gak kembali. Siapa nantinya yang akan menuntaskan amanah ini? Bagaimana dengan pertanggungjawaban di akhirat nanti? Siapkah aa ‘Jar?”

Ya Allah. Berat banget sih ‘Jar. aa jadi inget pas aa SMA dan mengalami saat-saat seperti ini. Yah, aa mulai bisa berpikir jernih sekarang. Aa udah menumpahkan semua emosi ini hampir 6 halaman. Afwan banget buat Hanami, harusnya gw juga ikut ngerasain apa yang loe rasa-in, bukankan itu namanya tafahum. Yah, kayaknya wajar deh klo kita belum sampai pada tahap itsar, karena memang ta’aruf, tafahum dan takaful kita belum sempurna. Yah, sekali lagi gw mo minta maaf. Afwan katsir.

Dan evaluasi dari teman-teman KAB yang lain melihat kepemimpinan gw adalah seperti ini :

W3, kmrn ane dah krm k milis, af1 klo ane malah lbh blak2an, af1 bgt ane juga mnt maaf tlh merepotkan antm, slmt brjuan saudaraku smg te2p istiqomah @ 085643072288

Wlqslm..menurt sy dah baik apalagi dbanding dgn kinerja sy.. wah jauh bgt deh alias Q ga ad ap2Y dbnding mz panji.. TTya.. intiY Q salut deh ma mz panji.. stdkY bs jd teladan bwt qt smw.. smga sukses & istiqomah slalu.. ttp smangat utk mencapai ssuatu yg lbh baik.. (n_n)v.. –peace- SHIFA

Af1 ji, I think u ckp baek u-mjd leadr. Coz bnyak gjlk n tantangan yg ada n bs dkoordinasikan. Afwn. Smg kkn ant bjln lncr. Hal tpntg ktk mjd ktua adlah phatian, p’ertian n ksbaran yg kudu dpahami. Jzk ats kerjasmany. Afwn g bs jd partnet yg baek @ JULIA

Wa’slm.. Dg sgala kelebihan dan kekurangan ant, scr keseluruhan udah baik. @ Chandra

Wlqslmya.. klo d’mataQ ga ad negatifY gmn? Ga bs dpaksain dunk mz! Oh..ya paling Q cm pgn sdkt mngkritik aj.. smsl dlm forum, mz panji sk ngash imbalan smsl permen utk mmbuka mulut psrta bwt bicara kn? Klo mnrtQ mndingan ga perlu coz niat qt bs mlnceng krn motivasiY udh beda.. udh gtu mz panji seolah2 mnjdkan qt berbwt krn ada suatu imblan.. Ya.. mgkn mksd mz panji baik hal itu bs mnjd motivator.. tp scara pribadi Q kurang suka.. mgkn sgtu aj uneg2 dr sy.. –lanjut- SHIFA

Wllhualam..apabila ad kta2 yg mnyinggung Q mt maaf bgt.. coz Q jg tdk luput dr yg namaY ksalahan.. sblmY mksh jg udh dksh ksmpatan.. Q jd kpng jg dksh uneg2.. (n_n) SHIFA

Ya Allah, semoga ini meringankan hisabku nanti. Buat yang laen, ayo dong direspon. Gw belum tenang nih klo belum smuanya mengeksplor. Aji, Khoisol, Ulia, Fitri, Asma, Suci, Budi, Mustaqim, Maryani, Mitha, Tika, semuanyalah.

Yah, begitulah. Mengerikan memang ‘Jar. Aa bener-bener bingung nih. Rabu aa emang kayak pelangi. Kadang senang setengah mati. Terharu bahagia atas kebahagiaan orang. Kesel banget tapi pengen ketawa ngakak juga. Lega plong rasanya. Kecewa dan hampir mo nangis karena gak amanah. Panik dikejar waktu. Hingga biasa aja. Ya Allah, nikmat sekali semua rasa ini. Engkau menjadikan hidup saya lebih berarti. Terakir, aa hanya mo ngutip pesan terakhir Fajar,

Jadilah Orang yang Berguna Bagi Orang Lain”

 

Mtop, 3 Juli 2008

Subhanallah ‘Jar…

 

Selasa Satu Juli Dua Ribu Delapan

Tahukah kawan kalau bulan Juli 2008 bagi saya adalah sebuah bulan yang mendebarkan dan penuh penantian. Harap-harap cemas saya dibuatnya. Dan saya telah mengawali hari pertama di bulan Juli  dengan cukup mengesankan, walau di akhir pergantian hari, saya tidak mampu memberikan yang optimal. Yah, daya tahan tubuh tidak bersahabat dengan idealita kawan.

Saya pun mengawali hari tepat pukul 04.00 WIB. Hanya mengerjakan dua rakaat shalat tahajud dan satu witir nampaknya belum cukup optimal kawan. Hmm, saya belum menikmatinya dengan senikmat-nikmatnya. Ah, sayang sekali kawan. Hmm, tapi bukankah ibadah yang sedikit tapi berkelanjutan lebih Allah sukai daripada banyak tapi hanya sesekali. Namun teman saya berkata lain, “Bagaimana kalau banyak dan berkelanjutan? Bukankah itu yang paling baik”. Ah, jawaban yang cerdas dan brilian. Dan itulah yang dinamakan dengan idealita kawan.

Selasa tertanggal 1 Juli ini pin menjadi hari yang bersejarah dalam sebuah forum yang saya pimpin. Terlalu pagikah ketika saya mengadakan pertemuan dalam forum tersebut pada pukul 05.00 WIB. Yah, berangkatlah kamu dalam keadaan ringan maupun berat. Saya hanya ingin melihat komitmen teman-teman dalam forum tersebut. Meski ternyata, dan pada akhirnya, kita baru memulai forum tersebut hampir mendekati jam 6 pagi. Yah, mungkin agak sulit bagi teman-teman akhwat (red. muslimah yang telah tertarbiyah) untuk dapat hadir sepagi itu. Saya paham. Dan biarlah forum itu mengalir tanpa perlu diceritakan lebih dalam dan mendetail. Yah, bukankah tidak semua hal harus diceritakan. Saya mengenalnya dengan istilah amniyah alias rahasia. Biarlah pertemuan dalam forum itu hanya diketahui oleh 10 orang yang menghadirinya.

Sepulangnya dari pertemuan teramat pagi di masjid kampus UGM itu, saya langsung kembali ke Mtop (red. nama kontrakan yang saya huni). Sarapan dengan mie goreng dan nonton film Ipin dan Upin. Ah, saya ingin bercerita sedikit tentang film ini. Sebuah film kartun buatan Malaysia yang melayu sekali. Lucu. Seru. Menarik. Kreatif. Terbesitlah ide untuk memutarnya ketika saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bintan, Kepulauan Riau nanti. Yah, film yang bagus saya pikir untuk anak-anak melayu di sana. Apalagi ceritanya tentang puasa dan idul fitri. Ah, tepat sekali kawan. Awal September 2008 nanti sudah puasa, dan awal September 2008 nanti juga KKN direncanakan berakhir. Yah, mungkin bisa dianggap sebagai bekal sebelum anak-anak melayu disana berpuasa. Rencana yang bagus saya pikir. Semoga terealisir.

Hmm, saya pun tidak hanya menonton Ipin dan Upin. Saya juga sempat menonton Definitly, Maybe. Tidak sampai selesai memang, tapi cukup memberikan gambaran tentang kehidupan menjelang pernikahan. Dan berbicara tentang pernikahan, sebuah berita gembira kembali tersiar di milis alumni muslim SMA 14 Jakarta angkatan 2004. Yah, saudari saya ada yang akan segera menggenapkan dien, Zahra namanya. Seorang akhwat yang juga mantan ketua ekskul Tae Kwon Dwo. Dan saya hanya ingin mengucapkan, “Barakallahu. Semoga dapat membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dan afwan (red. maaf) tidak bisa hadir karena sedang KKN di Bintan”. Dan buat teman sekontrakan saya di Jogja, teman satu angkatan juga di SMA, yang juga berangkat KKN hari ini, Barnard namanya, saya hanya katakan, “Bersabarlah wahai saudaraku. Hisbir ya akhi. Semoga berita walimahan itu tidak mengganggu konsentrasi antum (red. kamu) di KKN nanti J”.

Waktu terus berlalu, membawa diriku, dalam suka, dalam duka, menangis dan tertawa. Yah, senandung ketika saya masih SMP kembali mengalun dengan tenang. Ah, awal Juli ini harus saya jadikan momentum untuk bangkit dan berjuang. Bukankah hidup adalah perbuatan, mengutip dari iklan di televisi. Yah, mengikuti dua pembekalan KKN di dua lokasi yang berbeda. Pertama di Ilmu Budaya, kedua di Psikologi. Pengalaman baru dan ilmu baru kawan, tentang benda cagar budaya dan fasilitator. Yah, semoga bermanfaat sajalah kawan semua yang telah saya dapatkan hari ini.

Masih adakah yang perlu saya ceritakan hari ini. Ah, saya hampir lupa apalagi yang saya dapatkan hari ini. Mungkin seperti ketika menuliskan banyaknya nikmat yang kita peroleh hari ini. Tidaklah mungkin saya kira dapat menuliskan semuanya. Walaupun laut dijadikan tintanya dan semua pepohonan dijadikan kertasnya, nampaknya tidak akan sanggup untuk menampung seluruhnya. Yah, maka nikmat Tuhan manalagikah yang hendak kamu dustakan.

 

MuslimTop Appartment, 2 Juli 2008

Allahu Akbar!!!

Last June 2008

This is my last June. Ayo kita selesaikan dengan singkat, padat dan jelas. Ini adalah evaluasi aa di hari terakhir di Bulan Juni. Dan ketika mengawalinya pada hari senin tertanggal 30 Juni 2008. Hmm, jelas, aa udah lupa ‘Jar, ngapain aja aa di hari Senin itu. Hmm, tapi aa bakal menocba mengingat seadanya ‘Jar.

Yah, hari ini adalah Final Euro 2008. Pengumuman aja sih ‘Jar, Spanyol juara setelah mengalahkan Jerman satu nol melalui gol Fernando Torres. Lalu aa juga gak puasa ‘Jar karena aa harus minum obat sehubungan dengan flu yang lagi aa derita. Yah, begitulah, mengerikan memang.

Senin ini juga ada dua syuro  yang berbarengan. Pertama ada koordinasi bareng temen-temen KSF Agro. Yah, insyaallah sudah ada Mustaqim yang siap ngandle plus Tika juga. Yah, akhirnya KSF Agro bisa kumpul juga. Semangat deh buat semuanya!!! Dan syuro kedua adalah, sebuah syuro yang sst.. amniyah ‘Jar, jadi kayaknya gak ada yang perlu aa ceritain lagi deh ‘Jar. Gak enak ah klo diketahui dunia luar. Yah, bukankah gak semua hal harus di-blog-kan?

Dan hari ini juga sebenarya ada pembekalan KKN klo gak salah j9 pagi. Tapi aa malah ada evaluasi PMB KAB kemaren brg Uut, Dodik, Aji, Chan, Musta, Diana, Rani, Alba, sisanya klo ada aa lupa. Alhamdulillah, kayaknya udah ada yang bakal meneruskan perjuangan aa deh ‘Jar. Semangat anak-anak muda!!! Yah, perguliran amanah itu memang harus segera ‘Jar.

Dan sampai Dzuhur aa  masih di kampus. Hmm, terus selang waktu dari Dzuhur sampai Ashar aa ngapain yah ‘Jar. aa dah lupa nih. Yah, semoga aja aa melakukan sesuatu hal yang bermanfaat di akhir Juni ini ‘Jar. Semoga.

Fuih. Akhirnya Juni itu berlalu dan berakhir juga ‘Jar. aa bingung m ngomentarin apa lagi. Yang pasti sih Juni aa bagitu ceria dengan cacar, kecelakaan, dua kali pengalaman menjadi pemateri, SMP PL I Klaten dan SMA 14 Jakarta tercinta. Tentang MAPRES, tentang kepulangan aa ke Jakarta, tentang Agung yang akhirnya dapet UGM juga ‘Jar, tentang syuro dan berbagai hal yang terkadang dan selalu ngebuat kepala aa pusing dengan tiba-tiba. Dan yang pasti adalah tentang MILAD aa yang begitu mengesankan ‘Jar. 22 tahun sudah Allah memberikan kesempatan buat aa.  Semoga bisa memberikan manfaat yang lebih di sisa usia ini ‘Jar. Yah, aa pun harus memberikan yang special kepada orang-orang yang telah mengingat hari jadi saya ini. Gak nyampe 20 orang koq ‘Jar. Masak gak bisa sih. Insyaallah deh ‘Jar.

Terakhir, mengutip dari tausiyah teman saya, “Ketika kita lahir, kita lah yang menangis penuh derita karena akan berhadapan dengan ujian dunia, sedang orang-orang di sekeliling kita malah menyambut kita dengan tawa dan suka-cita. Maka, ketika kita meninggal, semoga orang-orang di sekeliling kit akan sedih dan berduka karena kehilangan kita, sedang kita dapat tersenyum bahagia karena telah lulus ujian dunia dan akan ditempatkan di Surga-Nya. Amin

 

Mtop, Awal Juli 2008

Usai sudah kawan

Senin ato Minggu (MINGGU DING!!!)

Bismillah. Hmm, detik-detik menjelang keberangkatan KKN. Detik-detik menjelang berakhirnya amanah, eh, kagak ding ‘Jar. Belum berakhir kali amanahnya, hanya pending sejenak, dua bulan. Wuah, semangat kawan. Selesaikan saja, kita akhiri semuanya!!!

Hmm, jadi di hari sabtu ini, aa mengawalinya dari sejak dini hari, alias begadang ‘Jar. Dan taukah kawan, aa begadang di SEKBERnya SankSe. Hmm, cukup seru juga dan menderita juga sih. Aa menderita flu di awal-awal, eh, ada nonton Jacky Chan dulu sih sebentar. Hmm, eh ada yang salah kawan harinya, yang betul hari ahad deng. Hmm, jadi di hari ahad yang begitu baru ini aa mengawalinya dengan sebuah perjuangan tiada henti dan tiada akhir.

Yaps, bangun sekitar jam 3-an lalu berangkat untuk berjualan baju di Pasar Prambanan bareng temen-temen KKN Bintan. Wuah!!! Seru banget ‘Jar ngelihat qt berjualan udah kayak dirampok warga. Wuah!!! Sadistik. Shock. Aye gak nyangka dan ngira. Wah, parah banget dah ‘Jar pokoknya kejadian di Pasar Prambanan di sekitar j5 pagi itu. Masak baju dan sejenisnya yang masih pada lumayan bagus hanya dihargai seribu rupiah. Wuah!!! Parah banget deh ‘Jar. Dan setidaknya aa mencatat ada dua pembeli yang agak kejam karena penawarannya tidak rasional teramat sangat. Pertama, si Merpati Putih. Pria bertampang sangar kayak preman berjaket tulisan merpati putih ini sadis amat nawarnya. Kita jadi ngerih juga karena face-nya preman banget ‘Jar. Udah gitu gak tanggung-tanggung dia ngambilnya, ada kali 50-an buah. Cuma ada satu kata buat bapaknya, SADIS!! Kedua, ada ibu-ibu yang nawarnya juga gak tanggung-tanggung. Sampai mo nangis dan ketika  penawarannya ditolak si Neni, tuh ibu langsung ngelempar barangnya sambil ngatain klo si Neni medit banget. Hmm, kayaknya yang ini lebih sadis lagi kawan. Yah, baru kali ini aa ngerasain jadi pedagang yang ditawar abis ampe hampir mati oleh pembelinya. Luar biasa mengerikan kejadian teramat pagi di Pasar Prambanan ini. Dan salut buat Neni, Adiba, Peyek, Firman, Tama, Dito, Fairus, Ida dan Desi yang udah bantuan team danus untuk menjadi pedagang baju bekas. Oya, masih ada sesarung lagi tuh baju bekasnya. Yah, ambil positifnya aja deh ‘Jar. hitung-hitung berbagi rejeki dengan masyarakat oke!!!

Dan sepulangnya dari sana, Neni Psi’05 melaporkan :

Pengumuman,,

Hsl jualan bj qt td sbsr..

225.500..

Yuhuuuuw

Hmm, subhanallah walhamdulillah deh ‘Jar pokoknya. Dan satu hal lagi, ntar gak jadi ngamen kawan. Dan siangnya baru deh kita latihan buat abon ikan di rumahnya Yoga. Nah, tapi sebelum itu, kita ada pertandingan sepakbola alias futsal di MIPA lagi. Kali ini lawan (gak tau anak mana). Wah, pertandingan yang teramat seru dan menegangkan ‘Jar. Hampir dua jam kali kita maen di tuh lapangan. Dan akhirnya kita pun menang suddent death ‘Jar. Wuah!! Aa bener-bener menikmati sensasi yang luar biasa ketika berada di lapangan. 3,2,1. Menyenangkan!!!

Lawannya lumayan bagus juga sih ‘Jar. Jago ding. Dan kita agak kesulitan mengalahkannya karena ada Budi, Jalu, Bowo, Fathi dan Wahyu (yang hanya maen bentaran) serta Alvons dan Anjas. Hmm, yah, olahraga di pagi hari setelah malamnya begadang dan bakal dilanjutkan dengan segudang kegiatan kayaknya bakal ngebuat badan aa remuk redam deh ‘Jar. Dan ternyata itu semua jadi kenyataan kawan. Sepulangnya dari futsal, kepala aa tiba-tiba pening tujuh keliling. Muter-muter ampe singit. Huah, aa harusnya istirahat ‘Jar. Tapi aa harus bersiap-siap untuk acara siang hingga sore ‘Jar, acara apakah itu. Tarat!! Ah, gak jelas nih si Panji. Gimana klo qt lanjutin dengan yang laen aja.

Oya, ngecek email dan ada 108 messages di inbox. Ah, aneh-aneh aja ‘Jar memang. Dan setelahnya lagi, nganterin adek balik, lalu berada di tengah kebingungan antara undangan dari Akh Angga dan pembekalan KKN. Hmm, menarik memang karena memang keduanya berjodoh. Lokasinya berdekatan, jadi aa pun bisa ikut keduanya ‘Jar. Wah, menyenangkan sekali kawan. Sambil menyelam minum air dan dua tiga pulau pun terlampaui.

Dan satu hal yang menyenangkan dari undangan akh Angga ini, semuanya gratis kawan. Ledag apa gitu nama restaurantnya. Ah, subhanallah banget deh semuanya. Dan final Euro 2008, hmm selamat menyaksikan. Hmm, udah dulu yah ‘Jar. dah agak telat nih. Fastabiqul khairat.

 

Maskam, awal Juli 2008

Allahu Akbar!!!