“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”
-Nidji : Laskar Pelangi-
Semuanya berawal dari mimpi. Kenyataan hari ini adalah impian di masa lampau dan impian di hari ini adalah kenyataan di masa depan. Inilah modal awal bagi seorang manusia untuk dapat bertahan hidup. Tidak ada kehidupan tanpa adanya impian, cita-cita, semangat dan ambisi. Manusia hanyalah patung jika tiada gerakan dalam hidupnya. Dan hanya mimpilah yang mampu menggerakan hidup seorang anak manusia.
Sering kita ditanya saat masih kanak-kanak dulu, “Apa cita-citanya kalau sudah besar nanti?”. Jawaban kita pun beragam dan variatif. Dokter, pilot, polisi, presiden, arsitek, guru, atau apalah. Seluruh jawaban tersebut sungguh menarik. Kesemuanya adalah cita-cita yang mulia. Impian di masa lalu itu begitu mudahnya dijawab oleh kanak-kanak yang masih memiliki hati putih suci nan bersih. Tidak ada satu pun yang memiliki impian untuk menjadi penjahat yang berambisi untuk menguasai dunia. Ah, benar yang dikatakan orang dulu, mimpi adalah bunga tidur. Wanginya semerbak, membuat kita semangat untuk terus menjaga dan merawatnya, setidaknya saat kita masih kanak-kanak dulu.
Beranjak dewasa, kakakku Rani tercinta
Sudah saatnya belajar berpijar
Tinggalkan Jakarta demi masa depan cipta
Sudah waktunya kau mulai terjaga
-Sheila On 7 : Perhatikan Rani-
Perlahan tapi pasti, seperti halnya umur yang terus bertambah, kita seperti tersadarkan dari mimpi-mimpi saat kanak-kanak dulu. Sayangnya, kita bukannya terbangun untuk kemudian bergerak mewujudkan mimpi-mimpi itu. Kita hanya bangun, sadar, lalu kemudian lebih memilih untuk tidur kembali dan menikmati mimpi-mimpi tersebut dalam dunia yang semu. Hanya segelintir orang yang istiqomah untuk juga bermimpi dalam kehidupan yang nyata. Pertanyaannya adalah siapakah yang salah? Diri kita pribadikah? Keluargakah? Pihak sekolahkah? Ataukah salah mimpi kita yang terlampau mustahil dan nampak tidak mungkin jika ingin menjadi realita dalam kehidupan yang nyata. Akhirnya kita pun disibukkan untuk mencari kambing hitam dan melupakan impian tersebut.
Miniatur Negara itu Bernama Kampus
Ketika akhirnya kita menginjakkan kaki di dunia kampus dan menjadi seorang mahasiswa, tidak ada pilihan lain bagi kita untuk terus bermimpi. Tahukah kawan, pemuda saat ini adalah calon pemimpin di masa depan. Dan di kampus inilah kita belajar lebih nyata, karena miniatur negara itu bernama kampus, maka bangsa ini jelas membutuhkan mahasiswa yang berkompeten, profesional dan memiliki kontribusi. Sederhananya, kita perlu beraktualisasi diri dan mengembangkan jaringan dengan aktif berorganisasi.
Dan survei membuktikan bahwa alasan utama mahasiswa aktif di organisasi adalah sebagai sarana untuk mengaktualisasi diri serta mengembangkan jaringan. Sayangnya, tidak semua mahasiswa memiliki kecenderungan untuk aktif di organisasi. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, utamanya adalah rasa malas. Kemudian ketika akhirnya kita memilih untuk berkarya lewat organisasi, berbagai masalah pun hadir. Kita sering terjebak dalam rutinitas organisasi semata, kita sibuk hanya pada dunia rapat, koordinasi dan acara organisasi, aktualisasi diri kita sebagai seorang mahasiswa yang tugas utamanya adalah kuliah pun kebablasan. Akademik pun jeblok. IPK juga ala kadarnya. Kita juga terjebak pada membangun jaringan dan relasi. Kita terlalu menikmati kebersamaan bersama teman-teman satu organisasi. Akhirnya kita pun mengesampingkan hubungan dengan teman-teman yang lain serta membatasi pergaulan hanya dalam organisasi yang kita terlibat aktif di dalamnya. Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, permasalahannya adalah skala prioritas kita yang masih berantakan dan belum tertata dengan rapih. Manajemen diri dan waktu kita juga masih bermasalah. Amanah akademik dan organisasi masih belum sinergis. Kemudian masalah lain yang muncul ketika kita memutuskan untuk aktif di organisasi adalah aktualisasi diri dan pengembangan jaringan tersebut telah mencapai puncaknya saat kita masih aktif berorganisasi di kampus. Akibatnya, saat pasca lembaga, kita sering kehilangan orientasi, kita terhenti untuk mengaktualisasikan diri dan kesulitan untuk terus mengembangkan jaringan, dan kita mengenalnya dengan istilah post power syndrome. Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, yang ada hanya tiadanya pemahaman bahwa selesai satu pekerjaan, akan ada pekerjaan lain, seharusnya ketika aktivitas kita berakhir di suatu organisasi, kita telah memiliki bekal yang cukup untuk dapat terus mengaktualisasikan diri dan mengembangkan jaringan. Dan ketika kita telah memutuskan untuk aktif dalam sebuah organisasi, maka kita harus bertanggungjawab atas segala resikonya. Maka sungguh teramat sayang ketika di kampus ini kita tidak belajar untuk beroganisasi, mengaktualisasikan diri dan mengembangan jaringan seluas-luasnya, karena kesempatan itu tidak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya teman.
Belajar dari Pengalaman
Dalam konteks kampus Gadjah Mada, sayangnya masih banyak mahasiswa yang terjebak dalam rutinitas kuliah semata. Berangkat pagi-pagi untuk kuliah, kemudian singgah sejenak ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan kembali ke rumah untuk melepas lelah. Tidak ada aktivitas lain yang dilakukan selama 3,5-5 tahun kuliah. Kita mengenal fenomena ini dengan study oriented. Tidak ada yang salah memang dengan fenomena ini. Kampus ini seperti telah mengkomersialisasikan pendidikan. Biaya kuliah yang semakin tinggi memang menuntut kita untuk kuliah sesingkat-singkatnya dan mendapatkan nilai sebaik-baiknya. Lulus cepat dan cumlaude, bahkan kalau bisa summa cumlaude. Tetapi kemudian yang menjadi pertanyaan mendasar adalah dari mana kita bisa mengaktualisasikan diri dan mengembangkan jaringan jika hanya berkutat pada kos, kampus dan perpustakaan. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Mengapa kita tidak belajar dari guru terbaik tersebut? Tidak hanya mendengar dari dosen, membaca dari buku diktat perkuliahan dan praktek saat praktikum, tetapi kita benar-benar belajar dari kehidupan sosial, belajar dari realita, dan itu semua bisa kita dapatkan dengan berorganisasi, belajar mengaktualisasikan diri dan mengembangkan jaringan.
Dan masih dalam konteks kampus Gadjah Mada, masih banyak pula mahasiswa yang lebih senang untuk mengekspresikan jiwa mudanya. Kegiatannya hanya sebatas berkumpul dengan teman-temannya, jalan-jalan, makan-makan, foto-foto, ngobrol ngalur ngidul tidak jelas, kuliah hanya sebatas formalitas sebagai seorang mahasiswa dan sama sekali tidak pernah ikut berorganisasi bahkan kepantiaan suatu acara pun tidak pernah diikutinya. Tidak ada yang salah memang dengan fenomena ini. Kampus ini seperti telah menyeleksi agar mahasiswa yang belajar disini adalah mahasiswa dari golongan menengah ke atas. Mahasiswa yang mungkin selama hidupnya berada dalam zona aman, sehingga banyak yang terbiasa untuk rajin ngeceng di mal-mal, berkendaraan mobil mewah ke kampus, berpakaian layaknya artis dan bergaya hidup seperti bangsawan karena memang ada dukungan finansial. Walaupun tidak sedikit pula yang memilih untuk belajar lewat organisasi, untuk mengaktualisasikan diri dan mengembangkan jaringan.
Belajar dari pengalaman, kita bisa belajar dari salah seorang senior yang pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa BEM KM-UGM periode 2005-2006. Beliau adalah mahasiswa yang sebelumnya juga pernah menjadi ketua Sie Kerohanian Islam tingkat fakultas, serta kepala departemen pengkajian Gama Cendikia, sebuah kelompok studi tingkat universitas sebelum akhirnya menjadi wisudawan dengan predikat cum laude, lulus kurang dari 5 tahun dengan indeks prestasi komulatif (IPK) 3,8.
Atau kita bisa belajar dari pengalaman seorang teman yang sudah melanglangbuana mulai dari Sulawesi, Kalimantan, Malaysia hingga ke negerinya Napoleon Bonaparte, Perancis. Keseluruhan perjalanan yang mengesankan ini diperolehnya karena aktif di berbagai organisasi, bahkan hingga saat ini, menjelang tahun kelimanya di perkuliahan. Dan satu hal yang mengagumkan, prestasi akademik beliau juga masih tergolong memuaskan.
Aktif, Aktualisasi, Jaringan
Berangkat dari idealisme awal ketika kita menginjakkan kaki di kampus Gadjah Mada ini, tentunya kita berharap mendapatkan kesuksesan akademik dan ekstrakulikuler, bahkan finansial. IPK tinggi, aktif di organisasi dan memiliki jaringan yang luas, mendapatkan beasiswa serta sudah memiliki penghasilan rutin. Inilah mungkin impian yang pernah singgah di benak pikiran kita saat hendak memasuki gerbang dunia kampus. Dan permasalahannya adalah, impian tersebut satu per satu mulai sirna dari pikiran, ketika kita mengetahui realita yang nampak di hadapan, hingga akhirnya tidak ada lagi impian luar biasa yang ingin diraih saat kita berada dalam dunia kampus ini. Lalu adakah solusinya?
Ketika kita dihadapkan pada benturan antara realita dan idealita, mungkin kita mulai berpikir rasional. Sepertinya tidak mungkin bisa aktif di organisasi, kemudian mengaktualisasi diri dan memperluas jaringan, sedangkan perkuliahan, tugas makalah hingga laporan praktikum sudah begitu padatnya, belum lagi jatah waktu kita untuk sedikit refreshing selaku anak muda. Akhirnya kita pun lebih memilih untuk menghindari aktivitas di luar perkuliahan hanya karena kecemasan kita akan kegagalan mengelola waktu.
Sebenarnya, ketika kita memilih untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler, maka kita telah mengoptimalkan potensi kita untuk dapat mengefektifkan dua puluh empat jam yang kita miliki menjadi lebih efisien. Bahkan seorang ulama pernah berkata bahwa kewajiban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang tersedia, tetapi mungkin karena kita lebih banyak merasakan lapang sebelum sempit, kita sering tidak menyadari bahwa waktu itu begitu berharga, bahwa waktu itu lebih dari sekedar uang, waktu itu ibarat pedang yang siap menebas orang-orang yang bermain-main dengannya.
Mungkin sebelum kita menjelajahi dunia kampus lebih jauh, kita perlu mendapatkan bekal agar impian tersebut dapat dipelihara, dipertahankan, hingga akhirnya dapat dicapai, agar hidup kita terencana, agar waktu kita tidak sia-sia, agar kita dapat menyeimbangkan semuanya. Sederhananya, perlu ada orientasi yang sedikit berbeda untuk para mahasiswa baru. Bekal tersebut dapat berupa pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar, pelatihan Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan (MHMMD) ala Marwah Daud Ibrahim, training motivasi The Golden Way ala Mario Teguh atau berbagai pelatihan soft skill lainnya dan tentu saja pengaplikasiannya dalam dunia kampus nanti. Harapannya, impian yang terus bermetamorfosa sejak kanak-kanak hingga berstatus mahasiswa tetap berada tepat 5 cm di depan kening kita, mudah dijangkau dan direalisasikan. Ibarat lomba trekking, kita telah memiliki bekal yang cukup mulai dari pemberangkatan di garis start hingga tujuan akhir kita di garis finish sebagai yang pertama.
Epilog
Pada akhirnya, mari kita terus bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang yang nantinya akan memimpin bangsa ini. Dan tentunya bekal untuk menjadi seorang pemimpin bisa kita dapatkan ketika kita aktif berorganisasi selama menjalani perkuliahan di kampus. Entah organisasi seperti BEM, sie kerohanian, kelompok studi dan penelitian, UKM olahraga dan seni, pers mahasiswa, kelompok usaha dan bisnis dan berbagai organisasi atau komunitas lainnya. Tentunya, ketika kita aktif disana, kita akan dapat mengaktualisasikan diri kita menjadi mahasiswa yang ideal dan membangun jaringan seluas-luasnya, tidak hanya wilayah teritorial, bahkan hingga tingkat nasional.
Dan mari kita bermimpi wahai mahasiswa Gadjah Mada! Bangkitlah! Karena harapan itu masih ada. Ketika di kampus ini kita aktif di organisasi dan senantiasa mengaktualisasikan diri tanpa henti, ketika ketika memiliki jaringan yang luas tanpa batas, maka mari kita membayangkan 10-15 tahun ke depan, ketika kita mampu mewujudkan impian Patih Gadjah Mada, kitalah para pemimpin muda bangsa ini, mungkin saja ada yang menjadi presiden, menteri, pengusaha, peneliti, ulama, wartawan, seniman, guru dan berbagai profesi mulia lainnya yang memiliki cita-cita sama, tidak sekedar mempersatukan bangsa Indonesia, tetapi juga menciptakan Indonesia yang adil dan sejahtera.
Sekuat apapun kesadaran seseorang atau sejernih apapun pikiran seseorang, jika tidak memiliki keinginan yang kuat, pikiran-pikirannya tidak akan menjadi kenyataan
-Anis Matta : Model Manusia Muslim Abad 21-

December 11, 2008 at 3:09 am
Sering kali kita mengejar MIMPI
Seolah – olah impian itu adalah TARGET
Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR
Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI
Hidup adalah untuk IBADAH
Ibadah itu bukanlah BERMIMPI
Karena ibadah adalah hidup HARI INI
Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI
Masa depan adalah MISTERI
Masa lalu adalah HISTORI
Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN
MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK
http://fusion-kandagalante.blogspot.com