Allah selalu memberi yang terbaik…

Teman, beberapa hari yang lalu ada yang bertanya kepada saya tentang sebuah pertanyaan yang cukup berat untuk dijawab. Tentang apa? Yang pasti bukan tentang siapa Scudeto liga italia musim ini, karena jawabannya jelas AC Milan, hahaha.

Bukan juga tentang ilmu pasti yang jelas bahwa 1+1=2. Dan bukan juga tentang pertanyaan nasabah, “Apakah pembiayaan saya di-ACC?”. Klo yang itu, jawaban temen gw adalah yang paling bijak. Proses dulu pak, baru setelah itu SKP, lalu akad, kemudian memo, terakhir realisasi deh. Hahaha, just for fun aja koq klo yang ini. So, mari kita kembali kepada pertanyaan yang berat itu…

Adakah itsar dalam beribadah? Lebih spesifik lagi, tentang “melangkahi”, maksudnya mendahului kakak kandung untuk menikah terlebih dahulu. Hmm, bingung juga saya menjawabnya ketika hal tersebut ditanyakan ke saya. Maka saya pun menjawab dengan sepengetahuan saya. Juga dengan bahasa saya. Yang semoga dengan jawaban saya ini, ada hikmah yang bisa diperoleh teman saya itu, juga sidang pembaca yang lain.

Nah, jadi saya mengawalinya dengan istilah itsar itu sendiri. Sederhananya, mendahulukan kepentingan saudara terlebih dahulu dibandingkan dengan kepentingan sendiri, meskipun kita saat itu juga butuh. Dan saya langsung teringat pada saat SMA, saat saya mendengar kisah tentang para sahabat yang kehausan selepas perang, dan saling mendahulukan saudaranya untuk minum terlebih dahulu. Dan akibat saling mendahulukan, tiga sahabat itu syahid tanpa sempat minum. Subhanallah, sedangkan kita, pasti akan berpikir untuk mendahulukan diri sendiri terlebih dahulu bukan?

Atau tentang kisah Anshar dan Muhajirin yang menakjubkan. Inilah itsar, saling mendahulukan. Nah, kembali pada pertanyaan utamanya, klo kasusnya tentang “melangkahi”, apa jawabannya?

Fuih, jujur, saya pribadi juga bingung untuk menjawabnya. Tapi sepengetahuan saya, dalam hal beribadah, tidak ada istilah saling mendahulukan. Contoh sederhana adalah saat berwudhu atau menempati shaft shalat yang lebih depan. Klo ini mah, prinsip yang digunakan adalah fastabiqul khairat. Nah, tapi balik lagi klo tentang urusan menggenapkan dien bagaimana dong?

Oke, saya pernah baca tentang suatu kisah, bahwa untuk urusan yang satu ini (dhi menikah), maka tidak ada istilahnya “melangkahi”. Menikah itu sunnah Rasul, bahkan dikatakan menggenapkan dien. Maka seyogyanya, jika sudah ada jodohnya, yah harus disegerakan. Nah, untuk urusan “langkah-melangkahi”, mari kita selesaikan secara adat (lho?!?!?).

Maksud saya begini, sebagai adik yang baik dan menghormati kakaknya, perihal ini mungkin akan sangat sensitif bagi sebagian orang, tapi mungkin juga akan menjadi hal yang biasa saja. Oke, mari kita bersikap bijak sebagai seorang adik. Jika memang kita ingin melangkahi kakak kita, mari dikomunikasikan dengan baik, tidak dadakan dan to the point. Klo selama ini kita menjadi adik yang baik, insyaallah kakak kita pun akan paham. Yah, klo bahasa gaulnya, curcol-lah antara adik dan kakak. Saya yakin dan amat sangat yakin klo persoalan ini akan menjadi mudah klo kita mampu mengkomunikasikannya dengan baik. Klo niat kita baik, Allah pun akan memudahkannya bukan?

Hmm, klo dari saya pribadi, jodoh itu kan urusan Allah, klo memang adik saya sudah ada jodohnya, dan ingin menikah terlebih dahulu, saya dengan senang hati mempersilahkannya (tapi untungnya adik saya belum berpikir ke arah sana, hehehehe). So, untuk teman saya dan juga sidang pembaca lain yang memiliki persoalan yang sama, langkah yang dilakukan pertama kali adalah luruskan niat. Apa sih niat kita menikah? Klo memang untuk beribadah, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, insyaallah kakak kita, orang tua kita, pasti akan merestui koq, apalagi klo kita juga baik dengan mereka.

Semoga bermanfaat yo =D
Klo ada yang kurang, itu mutlak kesalahan saya; klo ada yg benar, itu mutlak dari Allah datangnya. Yakin deh, Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita ^_^

Banjarmasin, 21 April 2011
Selamat hari Kartini, habis gelap terbitlah terang n_n

25 thoughts on “Allah selalu memberi yang terbaik…

  1. gua komenin deh ji. hehe.

    gua setuju dengan tulisan lu. menurut gua sih menikah itu ibadah (kalo niatnya benar). Dan justru malah ga baik, ketika sudah siap lahir batin, udah ada jodohnya, malah ditunda2 untuk hal yg bukan substansi. Apalagi dalam keadaan tertentu nikah bisa jadi hukumnya menjadi wajib. Menanggapi langkah-melangkahi memang harus diselesaikan secara adat (lho?)..

    • satu guru satu ilmu, jangan saling ganggu =D
      *karena kita sama2 dibesarkan oleh institusi yg sama (dhi r_14), makanya pendapat qt sama, selesaikan secara adat ^_^

  2. Sepakat, nji..

    Tapi permasalahannya adalah urusan yg belakang itulah (baca: adat) di Indonesia justru yg paling menghambat.

    kecuali keluarga kedua belah pihak calon memang sudah benar2 faham mengenai keutamaan2 menikah, itu perkara lain.

    Mungkin utk tulisan selanjutnya saya usul utk berjudul: “Bagaimana membuat orang tua setuju terhadap usulan pernikahan anak”
    hehe..

    • Wah, Bung Rocky bisa saja =D
      Klo membuat ortu setuju terhadap usulan pernikahan anaknya sendiri, gampang aja koq, klo kita berbakti kepada ortu, mereka insy ridho koq ^_^

      *yg lebih tepat kayaknya ini: “Bagaimana membuat (calon) orang tua setuju terhadap usulan pernikahan (calon) anak?”

  3. kalo dari judul, masih ngambang… aku baru ngeh kalo tema tulisan ini adalah menikah setelah melihat tag nya…

    Untuk gaya penulisan, khas panji… masih asli, lanjutkan! tapi kata “gue” nya kok ga ada? ga panji banget tuh.. hehehe

    buat isinya, temanya biasa… kayak buletin jumat… kakakaka… mungkin perlu dibikin lebih satir apalagi tentang pernikahan… diusahakan yang mbaca makin semangat buat nikah… gitu :)

    • Hahaha, emang klo anak FLP yang nanggepin, udah kayak mo ngirim lomba =D

      Tadinya mau pake gw-elu, tp di Banjar udah terbiasa ulun-pian-sidin, jd biar netral, kita pake saya ^^

      *tunggu tulisan berikutnya ok, hohoho…

  4. Wah nih asik nih, untuk ade saya jauh bedanya jadi ya..g usah dipikirin lah .. haha

    kalo saya mah nanti aja deh mikirnya, kuliah dulu yang bener . mapan dulu baru ‘hajar’ .. hhe

    • hohoho…
      yah, baiklah, mari kita kuliah dengan baik dan benar, baru setelah itu kita pikirkan baik2 =D
      *akh sangkot gak maksud nih =(

  5. iya boss… ane jg bingung lyad judul nya trus baca artikel selanjutny,,, tapi terlepas dari hal itu nice topik lhohw,,, meski ane sendiri blm pernah ngrasain melangkahi ato dilangkahi…tapi ane ingin sdkt berpendapat nihh…,
    ane setuju klo sebaikny urusan ini dikembalikan pada aturan adat..
    dan mungkin dbalik itu ad pertimbangan psikologis jg… misal dalam kebiasaan org jawa ada rasa enk gag enk klo melangkahi sang kakak…, ane punya sodara yg baru nikah umur 45 tahun gara2 nunggu kakak ny (yg pasti lebih tua) kagak nikah2,,,

    tp so far, ane setuju dgn jodo memang dtahan Tuhan, tp sbg manusialah yg meminta jodoh itu pada Tuhan… hehhe….

    • “tp so far, ane setuju dgn jodo memang dtahan Tuhan, tp sbg manusialah yg meminta jodoh itu pada Tuhan… hehhe….”
      sepakat dengan statement yg ini, just do the best n let God do the rest =D

  6. he…jadi bersyukur jadi anak ragil dengan jarank cukup jauuuh dengan kakak, jadi ndak perlu melangkahi atau dilangkahi…he..(malah curhat)..
    beberapa teman baek-baek saja tuh asal kakaknya dan keluarganya faham ttg keutamaan menikah dan percaya kalau jodoh mah dah ada yang mengatur jadi sok atuh…menikahlah dengan segera..
    tapi yah nek sebagai adik pahamilah perasaan kakakmu…dekati secara halus…
    kalau jadi kakak yah berlegowolah…kalau adik dah dapet jodoh ya biarin nikah ajah..

  7. Halah, bawa-bawa kata “adik saya” di paragraph terakhir. Padahal gak ada sangkut pautnya dengan yang menjadi kegelisahan sang penulis. Ane mah, cuman pengen komeng: “anda belum beruntung! dia gak mau melangkahi kakaknya.” *apaan coba

    • hahaha…
      Abe emang super duper sotoy >_<
      *you know me so well dah ^_^v
      **satu guru satu ilmu jangan saling ganggu n_n

  8. Misalkan kakak kita tidak mau terus bagaimana? Terus kalo si adik yang mau melangkahi kakaknya itu bertindak nekat misalkan si adik berpikiran MBA? Terus siapa yang mau disalahin?

    • hmm, cooling down dulu bos…

      tugas kita sebagai manusia hanya berusaha, sisanya adalah fase ikhtiar langit….

      *yakin aja bos bahwa Allah pasti ngasih yg terbaik, and tetep berbaik sangka =D

  9. @niefha
    hmm, sebenarnya itu tulisan yg rada sulit sih bos =(
    *makanya dari April ampe skarang November tulisan lanjutannya blum jadi2 =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s