dari Jogja menuju Bali hingga akhirnya kembali…

Selasa, 11 Desember 2007

Hujan setelah adzan maghrib berkumandang ternyata deras juga kawan. Berkah yang turun dari langit memang tidak pernah terkira. Dan tibalah saatnya untuk saya mempersiapkan sebuah perjalanan yang teramat panjang. Dari Yogyakarta menuju Bali. Misi konservasi yang wajib untuk dilaksanakan karena ini adalah praktikum lapangan. Konservasi di Taman Nasional Bali Barat akan menjadi sebuah topik pembahasan selama beberapa hari kedepan. Dan dari Karanggayam 133 A, mobil biru itu pun meluncur ke utara gedung jurusan perikanan, setelah sebelumnya singgah di Tri Edhi Fotocopy dan Ganti Namo. Dan inilah kawan, sebuah perjalanan yang tak terlupakan akan dimulai. Segera. Dan tentunya gak pake lama. Maka selamat tinggal sejenak segala amanah. Ucapkanlah selamat tinggal pada kampus UGM dan kota Jogja tercinta. Nikmatilah perjalanan penuh hikmah ini kawan…

Bus pariwisata itu mengangkut kurang lebih 40 orang. Membelah kota Jogja. Menyusuri malam. Mendekati pagi. Dan kali ini saya mendapatkan teman sebangku dalam perjalanan bernama Feri, orang Jogja asli, ulang tahunnya besok. Perjalanan panjang yang selalu saja mengesankan kawan. Dapat rehat sejenak dari segala kepenatan.

“Dalam sebuah perjalanan, menyusuri pantai utara.. berkereta di tengah malam, Surabaya-Jakarta…”

Yah, seperti senandung nasyid ini. Atau seperti kisah Travellers Tale yang mengesankan tentang sebuah perjalanan. Semoga saja saat pergantian hari itu terjadi, atau ketika matahari telah merekah dari timur, atau ketika saya tersadarkan dari mimpi, saya dapat menikmati perjalanan panjang yang melelahkan ini. Semoga saja kawan!!!

Rabu, 12 Desember 2007

Rabu pun tiba. “Ji, bangun dah subuh”, salah seorang sobat membangunkan saya. Dan gak pake lama, tayammum dan shalatlah saya di bus yang masih berjalan itu. Bukankah Allah Maha Mengetahui. Malam yang telah lalu itu memang melelahkan kawan, bus itu ramai bahkan, bahkan Pak Eko, dosen muda yang bertugas untuk mendampingi kami praktikum ikut bermain kartu bersama para praktikan. Luar biasa kawan, titel MSc. nya juga dapat berarti Master of Seven Cekop, begitulah beliau menafsirkannya sendiri. Dan saya pun masih punya satu urusan yang belum terselesaikan dengan beliau, laporan resmi KL masih menggantung penuh ketidakjelasan.

“Bersabarlah, wahai saudaraku… Kemenangankan menjelang”

Yah, saya dan tiga orang teman saya hanya bisa bersabar diiiringi dengan shalat tentunya kawan. Masih bercerita tentang Rabu kawan, ketika saya terbangun, ternyata setengah perjalanan tenyata telah saya lalui. Tidak terasa dan tidak terkira. Sayang saya lupa daerah Taman Nasional yang saya lalui dalam perjalanan itu, mungkinkah Baluran, saya lupa kawan. Melewati hutan, jalan aspal hitam, masuk ke perkampungan, kota, propinsi, desa. Hingga akhirnya berhentilah kita di Rumah Makan Roso yang berada dalam kompleks SPBU. Sarapan yang luar biasa untuk kalangan mahasiswa memang, tapi saya pikir ini wajar dan setimpal dengan apa yang kita bayar, 367 ribu kawan, hanya untuk sebuah praktikum dan plesiran tentunya. Dari Jogja menuju Bali, perjalanan itu ternyata masih panjang kawan…

Pelabuhan Ketapang mendekati siang hari. Setelah melewati Banyuwangi dan Situbondo. Kedua kota di Jawa Timur ini mengingatkan saya dengan peristiwa dukun santet belasan tahun silam. Kota santri ini ternyata pernah berubah darah menjadi merah kawan. Semoga tidak terulang kisah pembantaian nan tragis lagi di negeri ini. Selain itu, perjalanan ini pun memutar kembali memori perjalanan saya ke Bali 3-4 tahun silam. Masa SMA yang terlalu indah dan tak akan mungkin bisa terlupakan kawan. Sama seperti sekarang, nampaknya mozaik kehidupan saya akan kembali bertambah kawan.

Satu jam penyebrangan pulau pun usai. Ketapang-Gilimanuk memberikan saya hikmah dari seorang pegawai di kapal penumpang yang saya tumpangi. Saya lupa namanya. Beliau bercerita penuh bangga tentang keluarganya, tentang anak kecilnya yang cerdas, tentang perjalanannya dari mulai Aceh hingga Kupang, dari mulai kisah hidupnya hingga akhirnya menjadi kru kapal ferry ini.

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah”

“Dan ketika engkau bersyukur atas nikmat-Ku, maka akan bertambahlah nikmat-Ku, tapi jika engkau mengikarinya, maka adzab-Ku sangatlah pedih”

Ternyata bapak yang saya lupa namanya lulusan pesantren kawan. Shaleh benar ternyata beliau. Dan inilah hikmah pertama dari perjalanan panjang nan melelahkan itu. Gilimanuk, here we are… welcome to Bali kawan, welcome to Pulau Dewata kawan, selamat datang kawan, dan nikmatilah liburan sambil praktikummu itu, atau sebaliknya.

Acara I. Sambutan dari kepala balai. Yah, saya jadi teringat dengan Kepulauan Seribu tempat saya KL dulu. Dan pesan dari bapak kepala balai, “Wah, terumbu karang di Bali Barat tentu saja lebih bagus dari yang Kepulauan Seribu, silahkan nak Panji bandingkan”. Yah, tentu saja saya akan membuktikan pernyataan itu. Mencoba mentafakuri alam bawah laut sana. Selesai acara penyambutan itu, kami pun pindah ke Labuhan Lalang.

to be continued….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s