Bali part II

Praktikum di Bali kemaren memang luar biasa kawan. Lebih mendominasi liburannya daripada praktikumnya. Lebih banyak bermainnya daripada seriusnya. Lebih banyak candanya daripada dukanya. Dan di praktikum kali ini saya mencoba mengkondisikan diri untuk berbaur dengan teman-teman, itu mungkin penjelasan yang lebih tepat daripada “baru kelihatan aslinya”. Malam harinya saya ikut bermain seven skop, melebur dengan teman-teman saya yang gaul dan fungky, hingga mereka kaget dan terkejut kalau ternyata seorang Hadhci (bukan nama sebenarnya) seperti ini. Tapi tidak usah heran kawan, sebelum saya mengenal Islam lebih dalam, saya memang sering bermain kartu dengan teman-teman sepermainan. Ketika SD hingga SMP, karena ketika SMA-lah saya baru mulai berubah. Dan tidak usah terlalu kaget dengan perubahan saya kawan, karena memang kehidupan di Jakarta itu keras, jadi hal-hal seperti ini sudah nampak lumrah. Maka tidak usahlah terlau tercengang kawan, “Wah Hadhci maen kartu”, kata seorang akhwat. Atau ketika saya berpose merokok, itu hanya tipuan kamera kawan. Saya sudah tidak tertarik dengan rokok, lebih enak makan nasi kawan. Atau ketika foto itu begitu meyakinkan, janganlah tertipu kawan. No smoking please!!!Atau ada lagi ketika sesi gosip itu berlangsung di malam harinya. Bersamaan dengan sesi seven skop di meja yang lain. Tentang seorang akhwat yang lain digosipkan dengan saya, itu hanya karena persamaan karakter saja, yang satunya muslimah berilbab lebar dan Hadchi layaknya seorang ikhwan, itu saja. Tapi memang tidak ada rasa yang perlu ditampakkan oleh keduanya. Masalah perasaan itu tidaklah perlu diungkapkan. Karena menurut analisa saya, akhwat itu memang akan berencana menikah Februari 2008 nanti, barakallahu ya ukhti…Atau ketika kesempatan untuk foto berdua dengan seorang akhwat itu ada. Beliau yang meminta. Tapi terima kasih kawan. Saya tidak tertarik bukan karena akhwat itu tidak menarik. Tapi lebih karena, “Gak penting bgt sih foto bareng berdua”!!!Dan inilah bali edisi II kawan. Cerita itu berakhir dengan dua karakter penceritaan yang berbeda. Tapi inilah kisah yang telah menjadi memori baru dalam hidup saya. Akankah berputar kembali.. déjà vu atau malah…Yah, sudahlah kawan. Moga saja cerita ini bermanfaat kawan. Sekian. Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s