Sepenggal Kisah di Tanah Jogja…

Kamis selepas shalat Maghrib, saya berangkat meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta untuk mengurus registrasi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM). Perjalanan kali ini berawal dari Stasiun Jatinegara bersama teman-teman satu SMA, SMA 14 Cililitan Jakarta, bersama ketiga teman saya, Barnard, Reza dan Tio. Sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Perjalanan pertama saya menuju Yogyakarta dengan kereta api kelas bisnis, Senja Utama Jogja. Dan dari sinilah sepenggal kisah di tanah Jogja itu bermulai kawan.
Akhirnya kami tiba di tanah Jogja pada pukul 06.00 WIB. Stasiun Tugu masih sepi dan lenggang kala itu. Langsung saja kami menuju rumah salah seorang temannya Reza. Dan tibalah kami di sebuah wisma yang berlokasi di daerah Karanggayam. Ar Ruhul Jadid, nama wisma itu. Mungkin ini adalah sebuah kebetulan yang telah direkayasa Tuhan, Ar Ruhul Jadid yang dalam bahasa Indonesia berarti semangat baru sangat mengena di hati kami semua, mahasiswa baru dengan semangat baru pula.
Sebuah wisma nan sederhana yang menjadi base camp alumni SMA 2 Payakumbuh akhirnya menjadi tempat pertama yang kami singgahi di negeri antah berantah ini, Yogyakarta. Kami mendapatkan link dengan rumah ini karena salah seorang kakaknya Reza ada yang kuliah di Universitas Negeri Padang (UNP) dan kebetulan sekali beliau juga alumni SMA 2 Payakumbuh. Jadilah persahabatan antara Padang dan Jakarta terjalin di Yogyakarta. Budaya Minang yang identik dengan nilai-nilai Islam berjumpa dengan budaya bebas dan modern khas Jakarta. Tidaklah masalah saya rasa, akulturasi keduanya tentu akan menyesuaikan dengan budaya Jawa yang teramat kental di tanah Jogja.
Hanya sesaat kami di Ar Ruhul Jadid. Setelah selesai mandi dan sarapan, kami langsung menuju Grha Sabha Pramana UGM untuk mengurus registrasi. Dan kami berjalan kaki kawan, suatu hal yang teramat jarang kami lakukan di Jakarta. Hebat benar jika akhirnya nanti kami kuliah disini dan berjalan kaki menuju kampus. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya. Tanah Jogja memang berbeda kultur kawan.
Grha Sabha Pramana UGM ramai sekali saat itu. Antrian teramat panjang seperti antrian audisi Indonesian Idol harus dilakoni oleh semua calon mahasiswa yang telah diterima di kampus Gadjah Mada ini. Dan inilah yang menarik kawan. Saya menemukan banyak orang yang berasal dari berbagai daerah. Ada juga berbagai paguyuban mahasiswa dari berbagai daerah yang membuka posko pelayanan untuk para mahasiswa baru. Mungkin dari Sabang sampai Merauke ada di antrian registrasi ini. Tidak salah memang kalau ini benar-benar menjadi seleksi awal untuk menjadi Indonesian Idol karena memang ada banyak suku bangsa berkumpul menjadi satu di kampus Gadjah Mada ini.
Dan tepat ketika antrian saya sudah berada di baris depan, waktu shalat Jumat pun tiba. Registrasi pun rehat sejenak. Kami pun menunaikan ibadah shalat Jumat pertama kalinya di tanah Jogja. Masjid Kampus UGM nan megah dengan arsitekturnya yang menawan mengingatkan saya dengan Masjid Agung At Tin di Taman Mini Indonesia Indah. Subhanallah, di rumah Tuhan inilah semuanya berkedudukan sama. Tidak ada yang kaya dan miskin. Tidak ada pula sekat pemisah antar suku bangsa yang tadi berkompetisi untuk menjadi Indonesian Idol. Hanyalah iman dan taqwa yang kali ini menjadi pembeda di hadapan Tuhan. Seandainya saja, momentum ini seperti ini teraplikasikan tidak hanya di masjid saja, tentu bangsa ini sudah maju dan mapan pasti.
Selepas shalat Jumat, saya pun kembali ke Grha Sabhamana Pramana UGM untuk menyelesaikan registrasi yang tertunda. Dan tepat ketika adzan Ashar berkumandang, selesai sudah urusan registrasi. Dan sore itu juga saya kembali ke Jakarta lebih dulu daripada ketiga teman saya. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan di Jakarta. Sepenggal kisah di tanah Jogja itu pun membekas hingga kini.
Empat Tahun Kemudian…
Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau kisah di tanah Jogja itu akan terus berlanjut hingga tahun keempat. Saya juga tidak pernah mengira sebelumnya kalau saya akan mendapatkan banyak pelajaran dari kehidupan saya di tanah Jogja ini. Saya pun tidak pernah memprediksi sebelumnya kalau semuanya akan saya alami dengan mengesankan. Persahabatan. Persaudaraan.
Tahun keempat ini mungkin akan menjadi tahun terakhir saya di tanah Jogja. Tahun yang akan menutup petualangan dan perjalanan yang mendebarkan. Memang benar pesan yang pernah teman saya tuliskan untuk saya, “Untuk menaklukan Indonesia maka dapatkanlah dirimu untuk menaklukan Jawa, dan untuk menaklukan Jawa maka taklukanlah Yogyakarta, dan untuk menaklukan Yogyakarta maka taklukanlah UGM”. Pesan yang membakar semangat saya untuk berkarya demi nusa, bangsa dan agama. Dari Jogja untuk Indonesia.
Saya pun menemukan banyak hikmah di tanah Jogja ini. Mulai dari bahasa Jawa yang hingga detik ini saya menulis belum saya pahami benar. Saya masih belum pandai benar berbahasa Jawa kawan, mengecewakan. Saya pun berkawan dengan teman-teman dari seluruh penjuru Indonesia. Dari pulau Sumatera di sebelah barat sana, saya mengenal teman-teman minang dari Universitas Andalas (UnAnd) ketika Kerja Lapangan di Kepulauan Seribu bulan Juli silam. Saya pun mengenal teman-teman dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjajaran (UnPad) ketika Kerja Lapangan itu. Gadjah Mada Yogyakarta kala itu bersua dengan kawan-kawan lama di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Menakjuban dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dan dari tanah Jogja inilah persahabatan via mailing list alumni SMA saya masih terjalin erat dan hangat. Ada kabar dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), hingga Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMS). Dan tahukah kawan, persahabatan itu dirajut dari Jogja pada mulanya.
Jogja pula yang mengawali persahabatan tanpa batas kepada saya. Dari ujung Barat Indonesia saya mengenal beberapa teman dari Nanggroe Aceh Darussalam, banyak teman dari Minangkabau, Batak dan Melayu, entah Bangka, Belitung, Pangkal Pinang, Riau hingga Palembang. Saya pun baru saja mengetahui kalau orang Lampung itu kebanyakan berasal dari Jawa, para transmigran yang akhirnya beranak pinak.
Beralih ke pulau Jawa, banyak benar kawan saya yang berasal dari Jawa, entah Jawa Timur dengan logatnya yang keras hingga Yogyakarta dengan kehalusannya. Saya pun masih menemukan Betawi asli yang malahan berada di Jogja. Dan tentu saja saya menemukan saudara sebangsa saya, urang sunda yang berasal dari daerah Jawa bagian Barat. Saya juga bersahabat dengan salah seorang Madura yang saleh kawan.
Di tanah Jogja ini pula saya bersua dengan orang-orang Bali seperti IBP Angga, Antagia atau Ni Wayan Primanovenda yang ternyata beragama Islam, aktivis dakwah juga, subhanallah. Saya pun mengenal beberapa kawan dari Nusa Tenggara Barat seperti Haryandi, Aynuddin dan Yanti. Sungguh teramat menarik kawan persahabatan ini semua. Persaudaraan yang disatukan oleh perairan antar berbagai pulau, bukan lagi memisahkan seperti yang sering kita dengar sejak kecil kawan..
Jauh ke Utara Indonesia, saya bersahabat pula dengan teman-teman dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan juga dari pulau Sulawesi, Jong Celebes. Ada pula teman saya yang berasal dari pulau penghasil aspal, Buton. Hingga ke bagian Timur Indonesia, ada teman saya yang berasal dari Maluku hingga Papua sana. Dan dari tanah Jogja inilah saya mengikat semua ikatan ini.
Dan sungguh menakjubkan kawan karena di Jogja ini saya pernah kedatangan tamu dari mancanegara. Hanya dalam kurun waktu seminggu, rumah saya dikunjungi orang Singapura, Jepang dan Malaysia. Orang Singapura itu bernama Rahman, blasteran Indonesia dan Jepang. Dan ternyata orangnya ramah dan lucu kawan, saya tidak pernah menyangka sebelumnya. Rahman juga ternyata seorang yang alim, karena ketika di Jogja itu, dia nampak begitu antusias dengan kajian keislaman, subhanallah. Lain halnya dengan orang Jepang yang ternyata bernama Taka. Dia adalah seorang backpacker yang berprofesi sebagai seorang akuntan di salah satu perusahaan swasta asing di Australia. Menarik sekali ketika kami berbincang-bincang dengan bahasa Inggris. Ternyata persahabatan itu memang tanpa batas, friendship without frontiers. Dan sahabat mancanegara saya yang berasal dari Malaysia, Ahmad Munzir namanya telah merubah sudut pandang saya tentang negara berumpun Melayu ini. Munzir, anak muda yang kalem dan tenang itu telah meredakan ketegangan antara Indonesia dan Malaysia, setidaknya dalam batin dan jiwa saya. Yogjakarta, empat tahun setelah sepenggal kisah itu dimulai ternyata begitu bermakna dan berarti untuk saya. Sungguh indah, terlalu manis untuk dilupakan. Sungguh mesra, meski beriring ketegangan.
Yogyakarta detik ini…
Dan malam ini, saya baru saja mendapatkan pelajaran ketika makan malam di warung nasi khas Jogja, angkringan. Yogyakarta memang benar kota budaya kawan. Saya berbincang-bincang akrab dengan Pak Panut, si pemilik angkringan, juga isteri dan anaknya, Mas Sugeng. Mereka ternyata asli dari Klaten, Jawa Tengah. Ada juga salah seorang pembeli yang lain ikut nimbrung obrolan kami, Mas Eko namanya. Beliau orang Jogja asli, pribumi lokal, sedang isterinya ternyata blasteran Jawa dan Sumatera. Dan tahukah kawan, kalau saya juga bukanlah orang Jakarta asli. Bapak dan ibu saya adalah orang sunda tulen dari Kuningan, Jawa Barat. Dan di tanah Jogja ini, Kuningan asal kota saya identik dengan Warung Bubur Kacang Ijo yang memang sudah terkenal dan menjamur di tanah Jogja ini. Ahh, saya tidak bermimpi kalau dunia ini begitu sempit kawan. Malam ini, saya seperti berada di angkringan kebangsaan, angkringan nusantara dimana semua suku bangsa bertemu, makan dan bercengkerama.
Dan saya sedang tidak memaksa tema memperkokoh persatuan bangsa dalam sepenggal kisah di tanah Jogja ini. Hanya saja ini kenyataan yang tidak dapat lagi dipungkiri. Memang benar kalau ternyata segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik pada akhirnya, begitu pula sebaliknya. Dan Tuhan lebih mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita, manusia. Dahulu saya memang sering menyalahkan Tuhan atas pilihan hidup dan kuliah di tanah Jogja ini. Bertanya kenapa dan mengapa. Tapi akhirnya saya tahu misteri apa yang ada di balik ini semua. Butuh waktu lama memang untuk mengungkap dan menyadari ini semua. Empat tahun setelah sepenggal kisah di tanah Jogja itu dimulai, saya baru mengerti bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal.

Yogyakarta, 14 Maret 2008
dari Jogja untuk Indonesia…

6 thoughts on “Sepenggal Kisah di Tanah Jogja…

  1. Yo!!! Hidup Jogja!!!
    Tapi klo tentang status istimewa-nya Jogja dan siapa gubernurnya kelak..
    Hmm.. saya masih belum bisa berkomentar.. bingung.. politis..

  2. Assalamualaikum,boleh gabung ya
    Thanks banget kawan ceritanya…, Yach Yogyakarta, memang kota penuh cerita. saya sendiri anak Yogyakarta yang lahir dan di besarkan di kota yogyakarta, jadi orang pribumi gitu juga kebetulan kuliah di UNY sebelah UGM, Cerita tentang Yogyakarta mungkin tidak pernah ada habisnya. Selamat ya, ya paling tidak sudah mengenal kota yang penuh kearifan ini,…
    Hidup Jogya?

  3. waalaikumsalam

    hmm, gak nyesel sy kuliah di jogja, bener2 never ending asia deh. kota ini juga telah jadi tanah air ketiga untuk saya. bahkan saya berencana tuk tinggal disini nantinya. ah, bener juga lagunya Katon ttg Jogja..

    oya, ente jogjanya neng di?

  4. Jogja…..Kota damai sih menurutku, aku udah 5 tahun dijogja dan lumayan betah disini… temenku juga asyik2 disini, tapi menurutku jogja sedikit berubah…. karena perkembangan juga sih tapi coba difikirkan lagi faktornya (gak enak ngmongnya).. tugas kita bersama sih…

    • hmm, jogja, jogja…
      sy juga kepikiran untuk membangun peradaban di jogja nih…
      yah, jogja udah jadi bagian hidup gw yang tak mungkin terlupakan (5 tahun cui…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s