Fajar di Palestina

Teman, saat ini saya tidak ingin bercerita tentang keindahan fajar kala terbit atau terbenam di negeri Palestina sana, karena memang saya belum berkesempatan untuk menginjakkan kaki di bumi jihad itu. Yah, untuk saat ini, kehadiran saya disana tentu hanya akan menyulitkan gerak langkah para pejuang Palestina melawan penjajah Israel. Wajar saya pikir, secara jasmani dan rohani, jelas persiapan saya masih teramat jauh dari kata cukup.

Lalu kenapa akhirnya saya memberi judul Fajar di Palestina pada cerita saya ini. Ah, izinkan saya bercerita teman. Mungkin ada sedikit hikmah dari cerita saya ini, mungkin pula ada sedikit makna yang teman-teman bisa temukan dari kisah sederhana ini. Tapi saya juga tidak bisa memaksa teman untuk membacanya, dan sekarang, kita memang belum dihadapkan pada pilihan mati syahid atau hidup mulia seperti para pejuang di Palestina sana, tapi seperti halnya hidup, perihal ini juga merupakan pilihan yang sederhana bagi sidang pembaca semua, membacanya sampai tuntas atau menghentikannya sekarang juga, karena apapun keputusannya, Fajar itu akan tetap berada di Palestina sana.
***

Ahad beberapa tahun yang silam, kalau tidak salah di pertengahan tahun 2004. Ahad kali ini tidak sama dengan ahad-ahad yang telah saya lalui teman. Ahad yang akan selalu saya kenang hingga sekarang. Ahad yang menyenangkan, sekaligus merupakan Ahad yang menyedihkan. Ahad ceria sekaligus duka. Ahad yang penuh kenangan bersama orang-orang tercinta. Tapi sebelum akhirnya saya bercerita tentang ahad tersebut, saya ingin mengajak teman-teman untuk mundur beberapa hari kebelakang sebelum ahad itu tiba. Yah, mengapa tidak kita kembali mundur, hanya beberapa hari saja teman.
***

Beberapa hari menjelang ahad tiba. Saya sedang mengikuti bimbingan belajar di Nurul Fikri. Dan disana, saya dan beberapa teman memang sudah menyusun rencana untuk hari ahad tersebut. Sebuah rencana yang teramat matang teman. Bukan acara sembarang acara yang sedang kita rencanakan, tapi tepatnya kita akan mengikuti sebuah acara yang sungguh luar biasa. Hmm, meski kita semua sudah kelas tiga dan semakin dekat dengan ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri, tidak ada kata tidak hadir di acara yang satu ini. Yah, salah satu acara yang akan selalu saya kenang sebagai salah satu acara terbaik yang pernah saya ikuti saat kelas tiga. Suatu acara yang memberikan kenangan mendalam bagi diri saya sebagai seorang kakak. Ah, sebuah acara yang sungguh amat sangat menarik.

Hei! Sebenarnya acara apa sih? Cepatlah kau ceritakan, sudah tidak sabar kami ingin mendengarnya, jangan kau tunda lagi teman!

Oke! Baiklah! Ahad besok, saya dan teman-teman saya di Nurul Fikri, teman-teman saya di Rohis SMA juga, kita semua berencana untuk menghadiri konser nasyid di Universitas Indonesia (UI). Bukan sembarangan konser nasyid teman, ini adalah bagian dari acara penggalangan dana bagi saudara-saudara kita di Palestina. Sebuah konser amal. Inilah konser amal yang pertama kalinya saya ikuti teman sepanjang sejarah hidup saya teman. “Pekikan Takbir Bebaskan Palestina!”, sungguh sebuah tema yang penuh dengan semangat juang. Ah, acara yang sangat tepat bagi kami, anak-anak muda yang masih berstatus ABG, alias Aktivis Baru Ghirah. Hhmm, ahad yang penuh kejutan, segeralah tiba!!!
***

Kita kembali ke hari ahad yang mengejutkan itu. Tiba-tiba saja saya bingung pada saat hari H. Saya juga berencana mengajak adik kandung saya untuk hadir di acara tersebut. Secara, adik saya juga baru semangat-semangatnya ikut Rohis di SMA-nya. Sungguh teramat disayangkan jika semangat yang sedang menggelora itu tidak saya fasilitasi. Hehehe, sebagai seorang kakak yang baik, jelas saya berkewajiban untuk menjaga adik saya ini agar tetap istiqomah di jalan kebenaran yang diridhoi-Nya (ceile).

Aduh, tapi ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan teman. Saya tidak bisa mengajaknya begitu saja. Ada banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan ketika akhirnya saya memutuskan untuk mengajak adik saya ini. Hmm, saya hanya membeli satu tiket konser amal ini. Saya lupa untuk membelikan adik saya ini tiket. Sederhana cara berpikir saya waktu itu, saya saja masih bingung, bimbang dan ragu apakah akan ikut acara ini atau tidak, apalagi adik saya yang masih kelas satu dan masih baru berinteraksi dengan Rohis, mana mungkin dia mau ikut begitu saja.

Tapi hidayah itu memang siapa yang tahu teman. Ketika akhirnya saya membulatkan tekad untuk ikut, ketika tiket sudah di tangan, ketika saya akan berpamitan dengan ibu saya untuk menghadiri konser amal di UI, ibu saya malah meminta saya untuk mengajak adik saya serta kesana. Yah, baiklah. Dan ternyata adik saya pun berminat, meski agak sedikit malas. Ah, urusan tiket yang masih kurang satu biarlah saya urus nanti setibanya di lokasi, yang terpenting bagi saya sekarang adalah berangkat segera, karena teman-teman sudah menunggu saya di sekolah untuk berangkat bersama. Yo, kita berangkat!!!
***

Wah, wah, wah, ternyata sudah ramai di sekolah saya. Ternyata tidak hanya teman-teman seperjuangan saya kelas di kelas tiga yang akan berangkat ke UI sana, ternyata ada juga adik-adik Rohis saya kelas dua dan kelas satu yang antusias untuk ikut serta. Ckckck, luar biasa memang semangat anak-anak muda ini! Malu saya dibuatnya, padahal saya sudah kelas tiga, tapi koq kalah semangatnya sama mereka yang masih muda. Ayo, jangan mau kalah teman dengan para junior ini! Masak senior kalah sih!

Dan akhirnya setelah menunggu beberapa menit, rombongan kita pun lengkap sudah. Ada sekitar delapan motor yang akan berkonvoi bersama menuju UI di Depok sana. Yah, kita pun bersama-sama mengumandangkan takbir untuk perjuangan tiada henti di Palestina sana, takbir :

“Allahu Akbar!!!”
***

Perjalanan dari Cililitan menuju Depok ternyata begitu mudahnya dilalui. Tidak ada hambatan yang berarti. Alhamdulillah. Tapi ternyata, sesampainya kita disana. Wuah!!! Ramai sekali teman. Benar-benar ramai bukan kepalang. Luar biasa aksi solidaritas ini. Inilah konser amal yang begitu spektakuler. Dan sungguh mengesankan, bahkan adik saya pun terkagum dibuatnya. Untung saja saya mengajaknya. Tidak menyesal saya mengajaknya. Pengalaman seperti ini tentu akan sangat berharga bagi kami semua, anak-anak muda yang sedang on fire!

Hhmm, tapi meskipun keren dan luar biasa hebohnya, saya masih memiliki satu permasalahan yang paling mendasar dan harus segera diselesaikan. Hmm, bingung saya memikirkan bagaimana cara menyelesaikan kasus yang teramat mendesak ini. Hhh, bagaimana caranya agar saya mendapatkan satu tiket masuk lagi. Teramat tidak mungkin saya meninggalkan adik saya di luar, sedang saya ikut acaranya di dalam Balairung UI. Tidak mungkin juga saya menunggu di luar sementara adik saya ikut acaranya di dalam. Dan tidak mungkin juga saya dan adik saya mengikuti acaranya dari luar sana, seperti tidak mungkinnya bagi saya dan adik saya untuk pulang saja karena kekurangan satu tiket masuk. Ah, tidak mungkin pula saya menemukan calo berkeliaran di konser amal seperti ini. Dan kemungkinan besar juga tiket masuk sudah habis terjual, alias Sold Out.

Wuah!!! Bagaimana ini teman!!!
***

Yah, pada akhirnya keputusan harus diambil segera. Acaranya saja sudah dimulai. Dan saya yang tergolong penonton tipe perfeksionis jelas tambah panik menghadapi ini semua. Saya sudah kehilangan sebagian acara. Belum lagi kekurangan satu tiket. Dan ternyata pula, penonton membludak tidak tertampung. Penjagaan di pintu masuk sudah tidak terkendali lagi. Penonton masuk begitu saja tanpa bisa diatur dengan tertib dan rapih. Suasananya begitu rusuh teman. Dan akhirnya keputusan besar pun saya ambil, setelah juga mempertimbangkan pendapat teman saya dan melihat situasi kondisi serta peluang dan kesempatan yang ada.

Bismillah. Biarlah saya masuk tanpa tiket. Biar nanti saya infaq saja di dalam senilai harga tiket masuk, atau mungkin lebih. Itulah akad saya saat nanti akan berinfaq. Dan untungnya, detik ini, iklimnya sangat kondusif teman. Pemeriksaan tiket sepertinya dilandasi prinsip tsiqoh (kepercayaan) yang sungguh luar biasa sehingga penjagaan tidak begitu ketat (ditambah lagi suasana yang begitu rusuh). Hmm, seperti saat saya nonton Persija di Lebak Bulus, pintu masuk jebol, kita pun masuk tanpa tiket. Ah, entahlah. Benar atau salahnya perbuatan saya ini, saya tidak tahu. Apakah akad infaq tiket saya juga sama artinya dengan saya membeli satu tiket masuk, saya juga bingung menjawabnya. Intinya, saya, adik saya dan rombongan Rohis SMA saya berhasil merangsek masuk ke dalam dan mendapatkan posisi yang cukup nyaman menikmati konser amal ini, barisan terdepan teman, paling dekat dengan panggung dan sorotan kamera yang merekam acara ini.
***

Begitu meriah suasana di dalam Balairung UI ini. Suasananya sungguh heroik. Nasyid haroki yang dilantunkan oleh Shoutul Harokah dan Izzatul Islam benar-benar membangkitkan semangat kami, anak muda yang sedang semangat-semangatnya, benar-benar ABG teman. Dan ternyata memang tidak salah ketika saya mengajak adik saya teman. Dia sangat senang, dia begitu ceria, dia begitu menikmati suasana penuh semangat juang ini. Ikut bertakbir dan menunjuk riang sambil memberitahukan kepada saya kalau dirinya ada di layar depan terekam kamera. Entah kenapa saya begitu bangga pada adik saya saat itu. Hati keci saya bergumam, “I’m proud to be your brother”.

Pekikan takbir kemenangan untuk Palestina berkumandang puluhan kali. Gemuruh takbir berkumandang menggema mengguncang Balairung UI. Infaq yang terkumpul juga tidaklah sedikit teman. Konser amal ini ternyata cukup efektif untuk menggalang dana bagi saudara kita di Palestina sana, dan bagi kami, para ABG, acara ini jelas membangkitkan semangat juang kami, mempererat ukhuwah kami dan memberikan kesan tersendiri bagi pribadi kami.

Sungguh, saya tidak akan pernah menyesal menghadiri konser amal seperti ini. Yah, karena ternyata, ini adalah kali pertama dan terakhir bagi saya mengikuti acara-acara seperti ini.
***

Beberapa bulan setelah acara ini, saya akhirnya harus hijrah ke tanah Jogja karena harus melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selang dua tahun kemudian, adik saya harus dirawat di rumah sakit karena suatu penyakit. Dan Allah berkehendak lain teman, tiga bulan dirawat di ICU ternyata harus diakhiri dengan kepergiannya. Allah telah memanggilnya untuk kembali. Fajar kala itu terbenam. Adik saya ternyata lebih dicintai oleh Allah. Sungguh, saya teramat sedih saat itu.
***

Tiga tahun kemudian setelah kepergian adik saya, Palestina kembali digempur oleh Zionis Israel. Maka kali ini tidak hanya muslim di Indonesia yang merespon, seluruh dunia bahkan mengutuk serangan tersebut. Dan entah kenapa saya kembali teringat adik saya. Memori saat di Balairung UI lima tahun silam tiba-tiba saja melintas. Semangat beliau saat bertakbir untuk kemerdekaan Palestina, semangat beliau yang berkobar-kobar, semangat beliau mengingatkan saya kembali akan ukhuwuh islamiyah yang sebenarnya. Ketika saudara seiman kita terluka, maka ibarat tubuh, kita pun merasakan sakitnya. Sungguh saya sangat emosional teman. Ketika saya hanya bisa menyaksikan kebiadaban dan kekejaman Israel di Palestina sana, saya merasakan kembali rasa hilang itu, seperti kehilangan adik saya berkali-kali. Kehilangan karena kematian. Tapi siapa bilang orang yang syahid itu mati? Bukankah mereka hidup di sisi Allah? Seperti halnya adik saya dan para mujahid di Palestina sana. Seperti Fajar di Palestina.

Yogyakarta, 31 Januari 2009
Untuk Adikku Fajar dan saudaraku di Palestina…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s