Balada Mbah Budi

Oke, kali ini saya akan saya dendangkan balada yang teramat indah dari Mbah Budi. Yah, bukan Budi sembarang Budi, tapi kali ini Mbah Budi yang saya maksudkan adalah RM Mbah Budi. Dan Balada Mbah Budi yang saya maksudkan adalah cerita menarik yang saya dapatkan ketika singgah dan ngobrol banyak dengan responden keempat saya. Hmm, strateginya masih sama dengan yang sebelumnya. Beli ikan di penjual ikan, kemudian biarkan sang juru masak datang menawarkan jasanya, baru deh setelah itu kita wawancara. Klasik, tapi menarik teman, kuliner sambil riset! Kalau kata Pak Bondan, “Manyos!”

Nah, kali ini saya beli ikan Nila seekor dengan harga yang cukup mahal saya pikir (5.000 teman!). Hmm, tapi untung saja harga nasi lalap hanya 3.000 plus jasa bakar ikannya 2.000, jadi total biaya yang saya habiskan untuk makan saya kali ini hanya 10.000 teman, lebih murah 1.000 dibanding yang sebelumnya. Dan tentu saja Balada Mbah Budi memberikan hikmah yang lain dari tiga responden saya sebelumnya. Subhanallah, penelitian sosial ini benar-benar mengajarkan saya untuk dapat bersosialisasi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi.

Hmm, dan Nila Bakar disini cukup nikmat teman. Bahkan Bu Rusilah (juru masak yang saya wawancarai) bercerita bahwa RM Mbah Budi meraih Juara I saat Sasa (produk penyedap rasa itu lho!) mengadakan lomba masak antar RM yang ada di Pantai Depok ini. Dan meski Bu Rusilah baru setahun lebih kerja disini, beliau sudah begitu profesional melaksanakan pekerjaannya. Wah, subhanallah banget deh! Dan saya pun belajar banyak hal dari obrolan yang saya pikir relatif singkat ini teman. Pelajaran yang sungguh begitu berharga dari seorang ibu kepada anaknya. Ah, suasanya sungguh sangat akrab teman!! Belum lagi kehadiran seorang bapak (ternyata pemilik RM Mbah Budi!) dan salah seorang juru masak lainnya saat saya mewawancarai Bu Rusilah, hmm, saya jadi seperti mewanwacarai satu unit warung teman!!!

Sungguh, kali ini saya benar-benar belajar dari seorang ibu yang mampu menyeimbangkan peran domestik dan publiknya. Sungguh, kali ini saya benar-benar belajar dari seorang ibu yang mampu memainkan peran reproduktif, peran produktif dan peran sosial dengan begitu ideal. Ah, kehidupan berumah tangga di kampung ternyata begitu indah terdengar diceritakan oleh Bu Rusilah, si bapak dan juru masak lainnya itu. Ya Allah, ternyata harta itu memang bukan segalanya. Kebahagiaan memang tidak bisa dikapitalkan teman. Kesederhanaan dalam hidup adalah kuncinya. Ah, Bu Rusilah dan dua pendampingnya ternyata telah melantunkan Balada Mbah Budi dengan begitu indah di kala sore menjelang Maghrib. Subhanallah. Allhamdulillah. Allahuakbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s