Mbak Asih

Hmm, namanya mirip dengan salah seorang rekan saya di BIMO Forsalamm. Ah, tapi itu tidak penting teman. Hal penting yang saya dapatkan di RM Mbak Asih ini adalah saya berhasil mewancarai si pemilik yang juga merangkap sebagai juru masak. Yah, ternyata benar, nama si pemilik ini adalah Mbak Asih juga. Menarik, karena ternyata Mbak Asih ini begitu profesional untuk tidak mengungkapkan secara blak-blakan rahasia perusahaannya. Yah, wawancara kali ini begitu mencerdaskan teman!

Saya memulai wawancara ini setelah menghitung jumlah perahu nelayan yang ada di Pantai Depok adalah 50 buah (terus, apa hubungannya?). Yah, hanya sekedar intermezzo saja teman, siang hari setelah Dzuhur dan duduk sejenak, bertafakur, merenung dan mengatur strategi, akhirnya saya memutuskan untuk membawa dua ikan tersisa untuk disantap (eh, yang satunya kagak ding, tapi dibawa sekalian aja, karena dua ikan yang lain saya tinggal di motor, biasa, strategi). Dan sebenarnya saya jelas-jelas meminta kepada si ibu untuk membakar ikannya satu saja, yang satunya tidak usah. Tapi apa lacur, ketika disajikan, dua ikan tersebut telah dibakar dan siap untuk disantap lahap-lahap. Hmm, tapi karena jarak waktu makan yang relatif dekat, saya hanya sanggup untuk menghabiskan satu ekor saja, sedang satunya, dibungkus! Hmm, dan saya rasa, saya masih cukup kenyang teman, tapi mau tidak mau, saya harus menghabiskan. Dan setelah habis, saya rehat sejenak, tarik nafas secara perlahan, siapkan kuesioner, baru kemudian dengan sok asiknya menghampiri si ibu dan berkata, “Ibu, bisa ngobrol sebentar ‘gak ‘Bu, bla-bla-bla-bla”.

Dan alhamdulillah, ini telah menjadi standar baku untuk memulai wawancara teman! Cukup efektif dan efisien. Seperti pada Mbak Asih ini, akhirnya saya mengetahui kalau di TPI Depok ini setiap hari Senin selalu diadakan arisan antar pedagang. Dengan iuran 50.000 per minggu, sekali keluar nama, uang yang diperoleh bisa mencapai 6.000.000 teman. Begitu pemaparan dari Mbak Asih. Wah, insyaallah Senin besok saya akan meliput kegiatan sosial ini teman! Dan dari Mbak Asih saya juga mendapatkan fakta bahwa kehidupan berumah tangga yang harmonis sangat tergantung pada kerjasama antara suami dan istri yang juga harmonis. Ah, memang hipotesa awal untuk penelitian ini adalah, tidak ada bias gender disini. Bahkan, aktivitas para wanita pengolah hasil perikanan di Pantai Depok amat sangat membantu kelangsungan hidup rumah tangga. Tidak ada paksaan dari suami untuk bekerja, dan tidak ada penolakan juga dari istri untuk tidak bekerja sebagai wanita pengolah hasil perikanan.

Mantap deh pokoknya Mbak Asih ini. Yah, sama mantapnya dengan harga yang harus saya bayarkan untuk nasi+sambal+lalap+jasa bakar ikan yang hanya senilai 5.000 saja. Alhamdulillah teman, terima kasih yah Mbak atas kerjasamanya. Sampai jumpa lagi di episode berikutnya (lho!?!).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s