Mbak Darti dan Pak Wardi

Hmm, ini bukan kisah Romeo dan Juliet, bukan pula Romi dan Yuli (versi Indonesia), atau bahkan Rama dan Shinta. Yups, ini masih kisah seputar petualangan saya melakukan riset dan kuliner di Pantai Depok teman. Dan inilah responden pertama saya di hari Senin (16 Februari 2009) atau responden ke-12 saya secara keseluruhan. Ah, tak usah berpanjang lebar, nikmati sajalah teman.-

Fuih, kali ini saya benar-benar lapar teman. Maka saya berniat untuk makan terlebih dahulu. Dan karena memang sekarang lagi sepi perahu yang mendaratkan hasil tangkapannya, saya pun harus berbelanja di pasar ikan yang terletak di sebelah barat TPI. Pertanyaan saya, kalau begitu dari mana stok ikan yang ada di pasar ini? Wah, kayaknya bukan dari Depok deh? Ntar saya tanyakan deh!

Dan pada kesempatan kali ini saya membeli setengah kilo ikan Nila seharga 7.000 isi lima ekor. Wow, berarti seekornya berharga 1.400 (wah, rekor ikan termurah berhasil saya ciptakan teman). Dan tidak perlu bingung untuk makan dimana, karena ternyata sudah ada mbak-mbak yang menawarkan jasa pengolahan ikan kepada saya, kebetulan juga warungnya belum pernah saya singgahi. Dan jadilah saya sarapan menjelang siang di Warung Makan Mbak Darti. Oya, awalnya saya sempat berpikir kalau Mbah Darti disini memiliki hubungan dengan RM Mbak Darti yang letaknya di paling ujung timur pantai. Ah, untung saja tidak, karena ternyata namanya saja yang kebetulan sama teman.

Hmm, disini pun saya mendapatkan banyak pelajaran teman. Pertama, saya menemukan bahwa perjuangan seorang ibu tidaklah mudah (based on my interview with the responden, Mrs. Sarpini). Kedua, saya menyaksikan hubungan yang menurut saya cukup dingin dari seorang laki-laki dan perempuan (meskipun saya tidak tahu apa hubungan yang terjalin diantara mereka). Ketiga, ternyata bahasa jawa itu sangat penting dalam peneltian saya ini teman! Pak Wardi yang kebetulan berstatus sebagai pemilik warung juga ikut nimbrung saat saya mewawancarai Bu Sarpini, nah, yang jadi persoalan adalah si bapak ini memakai bahasa jawa yang agak sulit untuk saya mengerti, padahal beliau bercerita tentang sejarah berdirinya warung makan di Pantai Depok ini teman. Hmm, berarti inilah warung yang dimaksudkan ibu bendahara pemilik RM Dik Bagong waktu itu. Wah, benar-benar snowball efect nih. Lalu kemudian yang keempat, saya mulai iseng untuk melist kelebihan dan kekurangan warung makan yang ada di Pantai Depok semenjak singgah di warung makan Mbak Darti ini (wah, baru 12 RM nih). Dan untuk segelas es teh, nasi plus lalap dan jasa bakar satu ikan, saya harus membayar 10.000 teman (hmm, mahal juga kalau menurut saya). Ah, tapi tidak mengapa teman, karena disini saya telah bertemu dengan seorang wanita pengolah hasil perikanan yang selalu mensyukuri nikmat iman dan sehat yang telah Allah berikan kepadanya. Dan kelima, sekaligus terakhir, seperti ayat di Surat Ar Rahman (wah, sedang saya coba hafalkan nih) yang diulang sampai lebih dari 30 kali, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s