Pak Sis sebut saja namanya begitu…

Pak Sis sebut saja namanya begitu. Saya dibuat terkagum dan bangga olehnya ketika sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) nun jauh di Kepulauan Riau sana. Dari kota Tanjungpinang, berjalan jauh ke Kelurahawan Kawal Pantai, di sebuah masjid desa, bertemulah saya dengannya. Ah, saya kira akan sulit bagi saya untuk menemukan seorang kader dakwah yang tinggal di pedalaman seperti ini, tapi ternyata tidak teman. Dan inilah sedikit cerita tentang pertemuan saya dengan beliau yang begitu mengesankan, dan tentunya membuat pertanyaan besar bagi saya, apakah saya sanggup jika harus berdakwah di daerah pedalaman seperti ini. Ah, saya belum bisa menjawabnya teman.

Hari pertama KKN dan tiba di lokasi, sengaja saya sempatkan untuk shalat Dzuhur di Masjid Al Islah, sebuah masjid yang sedang dalam tahap renovasi. Dan berkenalanlah saya dengan imam masjid tersebut, Pak Sis namanya. Beliau sebelumnya tinggal di Semarang, lalu beliau bekerja di Coremap hingga akhirnya tinggal dan menetap di Pulau Bintan ini. Ah, hebat sekali teman, saya merasakan kalau beliau menjadikan profesinya sebagai sarana untuk berdakwah dengan menjadi takmir Masjid Al Islah ini. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan salah seorang tokoh masyarakat disini. Dan beliau memang tidak sekedar tokoh teman.

Dan hari pun berlalu menjadi minggu, dan di suatu waktu, bada Shalat Isya di Masjid Al Islah, saya sengaja langsung pulang ke pondokan karena memang ada hal yang harus dikerjakan. Tapi ada salah seorang teman saya yang sengaja untuk berdiam diri sejenak di masjid dan berbincang dengan warga sekitar, dan rupanya, setiap malam Selasa dan Jumat selalu ada pengajian di masjid ini. Dan tahukah teman siapa yang rutin mengisinya, beliaulah Pak Sis. Ah, sayang sekali saat itu saya tidak hadir teman.

Pada kesempatan berikutnya, saya niatkan diri untuk mengikuti pengajian di masjid ini. Saya penasaran dibuatnya, pengajian seperti apa yang ada di Kawal Pantai. Dan subhanallah teman, saya pun terkejut seketika, saya pun terharu dibuatnya, kerinduan ini pun muncul tiba-tiba, ternyata Pak Sis adalah seorang ikhwah, dan kajian rutin ini pun tidak terlepas dari materi-materi dasar tarbiyah. Ya Allah, saya langsung teringat saat mentoring di SMA dulu, dimana untuk pertama kalinya saya duduk melingkar bersama teman-teman, bersama kakak mentor yang setia memberikan tausiyah-nya, dengan papan tulis, dengan istilah-istilah arab yang saya tidak mengerti, dengan tanda-tanda panahnya yang khas. Ya Allah, saya rindu saat-saat itu, saat pertama kalinya saya merasakan indahnya Islam, saat pertama kalinya saya sadar kalau akan ada kehidupan setelah kematian, ah, saya teringat saat-saat yang menyenangkan kala itu teman, saat hidayah Allah singgah di hati saya.

Ya Allah, salut saya dibuat oleh Pak Sis. Kajian ini pun tidak mengenal batas usia teman. Ada seorang kakek, bapak-bapak, anak muda dan remaja hingga anak SMP. Ada pula ayah dengan anaknya, guru ngaji dengan muridnya, ada pula Pak RT yang turut serta dalam pengajian ini. Subhanallah teman. Dengan bahasa yang teramat sederhana, Pak Sis menceritakan tentang ma’rifatullah, tentang keesaan Allah, tentang manusia, ma’rifatunnas. Ya Allah, saya pun terbayang ketika dakwah ini masih berupa embrio yang sedang berkembang, saya merasa seperti berada di masa-masa awal itu teman. Ah, tidak sia-sia saya pergi jauh ke Pulau Bintan teman. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.

Kekaguman saya terhadap Pak Sis juga tidak terhenti sampai disini teman. Kisah ini masih berlanjut dengan kekaguman saya terhadap seorang murid SD 011 Sei Kawal yang begitu cerdas dan lucu menggemaskan, Aca namanya. Gadis kecil, berjilbab, manis, putih dan senang sekali ngemil. Tapi dibalik keluguan dan kepolosan wajahnya, beliau memiliki kecerdasan yang tidak tertandingi di kelasnya. Jadi, ketika kami, mahasiswa KKN mengadakan lomba mengarang dan menggambar tentang Bakau, Ikan dan Pantai, Aca selalu menjadi yang pertama. Bahasanya bagus, gambarnya pun bagus. Teman-teman sekelasnya pun mengakui dan mengagumi kecerdasan si Aca. Dan ketika ada seorang anak yang begitu cemerlang di kelasnya, tentunya kita akan bertanya dalam hati, siapakah orang tuanya?

Ah, ternyata dugaan saya memang benar teman. Pak Sis-lah ayah dari si Aca. Maka wajar saja kalau buah tak jatuh dari pohonnya, bukankah air cucuran jatuhnya kepelimbahan juga. Subhanallah teman, karena ternyata, isterinya Pak Sis juga menjadikan rumahnya sebagai TPA untuk belajar Al Quran dan agama. Di daerah pedalaman seperti ini, ternyata masih ada sebuah keluarga yang begitu besar manfaatnya bagi sesama. Saya benar-benar salut dibuatnya. Ah, saya pun iri dibuatnya, kalau Pak Sis saja bisa, kenapa saya tidak. Yah, kalau teman singgah ke Pulau Bintan, singgahlah sejenak ke Kelurahan Kawal, susuri daerah Kawal Pantai, dan bertamulah ke rumah yang insyaallah penuh berkah di dalamnya, rumah itulah rumah Pak Sis dan keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s