Sumiler

Nah, dihari ketiga yang bener-bener BT ini, saya pun memutuskan untuk makan di RM Sumiler. Yups, inilah sebenarnya warung makan langganan saya. Seingat saya, sudah beberapa kali saya kesini. Saat buka bersama bareng teman-teman Izzam Appartment di tahun 2007. Saat makan bareng Jaya dan Bowo sekalian observasi. Dan yang sekarang ini. Berarti tiga kali teman saya singgah kesini. Hmm, pernah juga saya makan-makan bareng ikhwah Pertanian 2004 di Pantai Depok, dua kali bahkan. Ah, tapi saya lupa nama warung makannya, seingat saya warung makannya di sebelah timur juga sih. Sudah dulu ah, kita lanjutkan saja ceritanya!-

Jadi sebenarnya saya masih punya stok empat ekor ikan Cakalang mentah. Dan sengaja saya singgah di RM Sumiler ini karena saya ingin sedikit bernostalgia teman. Yah, daripada saya semakin BT dalam kesendirian, lebih baik saya berhenti dan merenung sejenak. Yups, cukup tenang suasananya teman. Kalau kata Robi dan Mujib, “Luar biasa. Sungguh beda.” Wakakakak. Lucu juga kalau ingat dua sahabat saya di MuslimTop Appartment. Hmm, pokoknya hari ini saya harus kembali ke Jogja, break sejenak teman. Tiga hari di Pantai Depok dalam kesendirian ternyata cukup melelahkan juga yah. Hhh, cape deh.

Dan setelah menyantap dengan lahap Cakalang Bakar dengan nasi plus sambal seharga 8.000, saya pun memutuskan untuk segera ngobrol dengan ibu tukang masaknya. Oya, sempat ada insiden pulpen hilang dulu lagi. Wuah!!! Sampai panik saya dibuatnya, masak mau wawancara gak punya pulpen. Masak pinjem sama narasumber sih. Wuah!!! Selip dimana sih nih pulpen. Makin ngebuat hari saya jadi semakin BT aja nih pulpen. Dan setelah saya hampir berputus asa, di ujung-ujung usaha, barulah saya menemukan pulpen saya dibawah tas. Argh!!!!

Oke, wawancara kali ini pun berjalan lancar teman. Ibunya asyik banget ternyata, bener-bener ramah dan familier memang. Akrab banget dah! Pantas saja anak-anak Jamaah Muslim Fisipol (JMF) yang juga jamaah makan-makan fisipol yang hobinya JMF (Jalan-Jalan, Makan-Makan, Foto-Foto) menjadi langganan disini. Ternyata ukhuwah disini begitu hangat terasa teman. Dan dari ibu yang bernama Bindarsih (kayak nama India) inilah saya mengatahui bahwa menjadi single parents itu tidak mudah. Saya bingung ketika si ibu bercerita bahwa suaminya sudah tidak tinggal serumah lagi dengannya. Apakah karena sudah bercerai ataukah karena si suami memang memilih tinggal dekat dengan tempat dia bekerja. Ah, saya tidak ingin mengambil kesimpulan teman. Bingung.

Yah, hari sudah semakin sore. Oya, sore ini juga saya bertemu dengan Irfan dan keluarga yang ingin bertafakur sejenak sebelum kembali ke Jakarta. Oya, saya juga belum Ashar nih, maka saya pun berpamitan dengan membawa dua ikan Cakalang yang sudah sekalian digoreng sama ibunya plus nasi dan sambalnya. Hmm, seharusnya ada satu lagi Cakalang Bakar, tapi sudah dimakan kucing (Hiks-hiks! Argh!!!). Ah, sudahlah, daripada semakin BT, lebih baik kita akhiri cerita di RM Sumiler milik Bu Sarlijah ini. Selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s