Lesehan Cemara

Dugaan saya ternyata benar teman. Kenapa akhirnya warung ini dinamakan Lesehan Cemara adalah karena di depan warung ini terdapat pohon Cemara. Hmm, tapi adakah yang tahu, lebih tua mana warung ini dengan cemaranya? Ah, kalau teman singgah disini, bertanya sajalah kepada ibu tua si pemilik warung yang sumpah! Bijaksana banget orangnya!-

Wuah!!! Keren banget pengalaman yang saya dapet di warung yang dicat kuning hijau ceria. Ah, gak nyangka pren kalau cerita si ibu sungguh menyejarah! Oya, tapi sebelumnya saya ingin memberitahu kepada kalian kalau saya singgah kesini hanya bermodalkan 4 ekor mentah ikan Kakap. Yaps, ada yang tahu strategi apa yang saya gunakan? Apa? Gak kedengeran?

Ah, sudahlah bercandanya, jawabannya adalah strategi MDDB alias Minta Dibakarin (dimasakin gitu deh) Dan, Bungkus!!! Nah, seperti strategi-strategi sebelumnya. Saya selalu bertanya sebelum menyelesaikan transaksi jual beli. Seperti sore ini. Sebelum akhirnya saya membayar ikan yang sudah dibakar tersebut, saya membulatkan tekad untuk menyelesaikan hari ini dengan mewawancarai responden ketiga di hari ini. Yups, saya bertanya, ibu menjawab.

Hmm, awalnya saya sempat underestimate dengan ibu yang nampak tua ini. Tapi perlahan demi perlahan, dugaan saya meleset jauh. Si ibu begitu welcome dengan saya. Beliau menjawab dengan begitu tenang dan bijaksana. Dan saya pun akhirnya bertanya dengan begitu asyiknya. Wah, belum lagi suasana sore yang begitu indah. Subhanallah.

Dan saya pun tidak sekedar bertanya based on kuesioner teman. Teramat sayang kalau saya membuang percuma kesempatan ngobrol banyak dengan si ibu ini. Maka saya pun banyak bertanya tentang sejarah Depok, Parangtritis, Nyi Roro Kidul, Keraton dan Sultan hingga Merapi. Wuah!! Sungguh menarik teman belajar sejarah seperti ini. Si ibu bahkan bercerita tentang berbagai mitos jawa yang ada di kampung Depok ini. Dan semakin menarik ketika adik si ibu datang bergabung dan ikut ngobrol sama saya.

Ah, tetapi waktu jualah yang harus memisahkan kita. Adzan Maghrib berkumandang dengan begitu syahdunya. Langit pun gelap. Kelabu. Ah, keren banget deh siluet senja di Lesehan Cemara ini. Apalagi ketika saya hendak membayar jasa masak ikan ini, si ibu menolaknya mentah-mentah. Adik si bilang, “Hitung-hitung mengalirkan air yang telah banyak tertampung ‘Mas. Daripada meluber kemana-mana, kenapa kagak airnya kita alirkan saja”.

We-e-e-e. Keren banget kan filosofinya. Kalian gak bakal nyangka deh kalau gak mengalaminya langsung. Hmm, responden ke-21 dari Lesehan Cemara, saya hanya bisa membalasnya dengan doa untuk ibu dan bapak. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s