Mbak Tur

Wah, tumben banget nih teman. Biasanya itu, setiap kali saya membeli ikan untuk wawancara pertama kali, pasti selalu ada ibu-ibu atau mas-mas yang datang menghampiri saya dan menawarkan jasanya untuk mengolah ikan kepunyaan saya. Nah, tapi kali ini tidak. Yah, jadinya saya memutuskan untuk singgah dan makan di warung makan Mbak Tur. Yaps, berjalan sedikit ke arah timur, dan nanti anda akan menemukan warung makan bercat biru plus spanduk besar di dindingnya yang bertuliskan Mbak Tur. Yuhu, ternyata cerita di warung ini pun tidak kalah seru ternyata.-

Hmm, dengan bermodalkan 8 ekor campuran, saya pun meminta kepada mas-masnya untuk membakar tiga ekor yang paling besar saja, lima sisanya dibiarkan mentah saja (hehe, untuk wawancara berikut tentunya). Nah, akhirnya setelah menunggu cukup lama, hidangan nan lezat tersebut pun disajikan. Dan ternyata tiga ekor bawal bakar yang disajikan dengan sambal kecap plus nasi ini manyos banget rasanya. Sumpah deh, enak banget ikannya. Gurih. Tanpa tulang. Lezat dan nikmat sangat. Hmm, sayangnya gak ada kol dan sambal merahnya. Tapi secara garis besar, nih tempat, pelayanan dan masakannya sudah cukup memuaskan koq (untuk tiga ekor bawal bakar, sambal kecap dan nasi hanya 8000 saja).-

Oke, selanjutnya terkait dengan hasil wawancara saya dengan Mbak Tur, ternyata saya banyak menemukan banyak hal menarik teman. Pertama tentang kisah perjalanan si ibu pemilik warung mulai dari belum punya hingga akhirnya bisa sesukses ini. Wah, ternyata nih ibu memang berusaha keras hingga akhirnya memiliki warung makan seperti ini. Kedua tentang penyesalan si ibu yang sudah lama tidak ikut pengajian karena disibukkan dengan warung makannya. Hmm, katanya si ibu sih, beliau agak tidak PD untuk ikut pengajian karena bau amis dirinya (hmm, alasan yang cukup membuat saya bingung sih sebenarnya). Hmm, tapi keinginan si ibu untuk bisa ikut pengajian cukup membuat saya terharu. Ah, ketika hati nurani yang berbicara (mirip blog-nya siapa gituh?), semuanya terdengar begitu jujur.

Dan terakhir, sebelum akhirnya saya benar-benar mengclosing wawancara saya dengan si ibu, eh datang serombongan pengunjung yang memesan banyak sekali makanan, mulai dari ikan berukuran sangat besar (katanya sih untuk 14 orang), cum-cumi, udang, berbagai cemilan hingga es kelapa muda. Hehe, sepertinya kedatangan saya seperti penglaris bagi ibunya. Bener gak sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s