Pelangi di Hari Rabu Begitu Indah…

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang hari rabu yang begitu ceria ini teman. Sungguh, saya bukannya lebay, tapi memang petualangan saya di hari Rabu ini teramat seru untuk tidak diceritakan teman. Dan saya tidak peduli apakah akan ada orang yang membacanya atau tidak. Hanya satu hal yang saya yakini teman, saya ingin berbagi hikmah, saya hanya ingin bercerita tentang kebaikan orang-orang yang berinteraksi dengan saya di hari ini. Ah, nikmati sajalah pelangi di hari Rabu yang begitu indah ini.-

Rabu, hari ketiga penelitian saya di minggu ini. Rencananya saya akan kedatangan tiga orang teman saya di BIMO-FORSALAMM. Mereka adalah Hafidh, Adist dan Ashih. Yups, kunjungan dari beberapa teman ini nampaknya memberikan warna tersendiri dalam penelitian saya hari ini. Dan sembari menunggu kedatangan mereka yang super duper telat karena satu dan lain hal, saya ingin mendeskripsikan warna indah lain yang saya temukan di rumah Mas Bin terlebih dahulu. Yaps, warna yang begitu ceria teman.

Hmm, kalau kemarin saya sampai terkantuk-kantuk saat bermain catur lawan Wahyu, kali ini saya dibuat terkantuk-kantuk saat harus mengeprint berkali-kali berkas-berkas milik Mas Bin yang diperlukan untuk melamar menjadi guru di Jakarta. Hmm, ternyata menjadi PNS tidak mudah teman. Apalagi ketika keesokan harinya, datang saudaranya Mas Bin yang bercerita panjang lebar tentang seluk beluk kehidupan. Yups, pagi ini sebelum penelitian, saya kembali mendapatkan wejangan yang tidak pernah akan saya dapatkan di perkuliahan. Ah, sungguh luar biasa memang nasehat dari si bapak ini, tentang pentingnya menuntut ilmu, tentang kejujuran, tentang agama sebagai tuntunan dan pentingnya sebuah tatanan. Yah, semoga saya bisa belajar dari asam garam kehidupan si bapak. Ah, indah benar bukan warna yang saya temukan di rumah Mas Bin pagi ini.

Tapi tunggu dulu teman, sesampainya saya di Pantai Depok, saya kembali menemukan banyak warna yang tidak kalah indahnya. Yee!!! Akhirnya saya menemukan kantor TPI itu buka. Dan meski tidak bersua dengan Pak Sarjuno, saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk meminjam data-data yang ada di TPI ini sekarang atau tidak sama sekali. Hmm, sebenarnya tidak terlalu memuaskan sih, tapi untuk sementara cukuplah. Warna lain yang sedari awal saya penelitian tetap ceria adalah cerita tentang pos retribusi yang begitu welcome pada mahasiswa yang ingin penelitian seperti saya ini. Fuih, lumayan kalau setiap harinya saya harus membayar 3.500 untuk retribusi. Dan berkat kebaikan bapak-bapak yang menjaga pos itu, saya selalu diijinkan keluar masuk kawasan wisata Pantai Depok ini tanpa perlu membayar sepeser pun. Hmm, hanya membayar parkir saja 2.000 jadinya deh. Yah, hitung-hitung infaq deh. Nah, tepat selepas Dzuhur, kedatangan teman-teman BIMO di Pantai Depok semakin memberikan keragaman warna di Rabu ini. Hehe, semakin menarik teman.

Oke, selepas Dzuhur di Masjid Nurul Bahr, saya mencoba untuk membeli ikan langsung di nelayan yang baru saja mendaratkan kapalnya. Oya, ada satu fakta yang baru saya tahu dari si Wahyu teman. Kata si Wahyu, “Ada lho mas nelayan yang hanya berpura-pura melaut jauh, tapi ternyata telah membawa ikan di kapalnya. Jadi ketika kapal itu menepi, seolah-olah si nelayan baru saja mendapatkan banyak ikan. Padahal sih…” What’s!?! Gile bener, saya tidak berpikir sampai kesana teman. Ah, jahat benar saya pikir nelayan yang berkelakuan seperti itu. Maka, ketika saya membeli ikan langsung di nelayan, saya jadi agak sedikit waspada meski tidak sampai mengecek kejernihan mata ikan, warna insang, dan kekenyalan daging ikan untuk memastikan tingkat kesegaran ikan tersebut. Dan jadilah saya membeli setengah kilo ikan kakap yang isinya mencapai 15 ekor dengan harga 10.000. Yah, cukuplah untuk makan siang empat orang kayaknya. 4 ekor dibiarkan mentah, sedang sisanya dibagi dua, dibakar dan digoreng. Hmm, dan kali ini saya berjodoh dengan RM Sedyo Rukun teman. Tapi warna-warni di Sedyo Rukun, Memory dan Lesehan Cemara akan saya ceritakan di tempat terpisah tentunya. Hmm, terlalu indah gradasi warna yang nantinya terbentuk jika ketiga cerita itu saya gabungkan disini teman.

Nah, jadi terakhir, setelah berpetualang ke tiga warung tersebut, saya mengakhiri petualangan ini dengan warna yang sungguh teramat indah dari Pak Nono, ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mino Kuliner 45. Ah, saya bingung menjelaskannya teman. Bapak ini terlampau cerdas, jawabannya lugas, pengalamannya luas, dan benar-benar key person untuk penelitian saya deh. Yaps, mungkin ini yang disebut dengan informan kunci kali yah! Dan mendapatkannya pun benar-benar dengan metode snaw ball efect. Wuih, keren, ternyata penelitian saya ini sesuai dengan teorinya. Yups, bahkan saya seperti telah mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini setelah ngobrol banyak dengan bapaknya. Tujuannya pun terjawab sudah, apa saja peran dan aktivitas wanita pengolah hasil perikanan, bagaimana perannya dalam kehidupan rumah tangga, dan bagaimana kehidupan sosialnya? Matur nuwun nje ‘Pak!

2 thoughts on “Pelangi di Hari Rabu Begitu Indah…

  1. hm.. saya emang ga diajak (klo kata adist ‘karena saya bukan tim ini, saya pamit ya’) atau saya yang masih berada di luar yogya?

    hiks. Padahal pengen banget ke Pante Depok -secara, blm pernah ke sana..-

    • waduh, jadi feeling guilty nih…
      mungkin belum beruntung aja kali bos!

      lain kali BIMO kesana lagi deh…
      insyaallah (skalian syukuran wisuda ant n_n)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s