Diversifikasi Pangan, Kebijakan Politik dan Mentality Rice

Saat orang-orang bekerja memenuhi kebutuhan dirinya, seorang PEJUANG berpeluh keringat memenuhi kebutuhan orang lain. Saat orang-orang beristirahat, seorang PEJUANG terus beramal untuk istirahatnya di alam kubur. Saat orang-orang menumpuk-numpuk harta untuk kesenangan dunia, seorang PEJUANG sibuk mengumpulkan amal untuk kebahagiaan akhirat. Semoga Allah memuliakanmu, PEJUANG!!!

Wuah!!! Udah agak basi banget nih sebenarnya kalau gw baru bercerita tentang rabu yang telah lalu. Hhh, tapi udah kepalang tanggung nih. So, mari kita sisihkan lima belas menit kedepan untuk mengevaluasi hari yang telah lalu ini. Pertama adalah tentang call 4 paper yang kayaknya cukup terlambat deh. Kenapa gw baru brainstorming hari rabu ini yah? Hhh, kesimpulannya adalah, ntar gw sms si Imam aja deh, masih bisa gak klo ngirimnya hari kamis jam 23.59? trus perlu Dosen Pembimbing gak? Yah, setelah itu kita lihat deh nanti. Hmm, atau mungkin saja diperpanjang tenggat waktunya? Yah, kita lihat nanti jawabannya beberapa menit kedepan.

Lalu evaluasi selanjutnya adalah tentang laporan keuangan. Hmm, bagus banget. Cukup boros. Yah, ternyata hitung2an gw banyak salahnya nih. Hmm, tapi klo masalah berbagi dana sama adek gw kayaknya itu bukanlah hal yang krusial deh! Masak gw perhitungan ama adek gw sih! Yah, gak mungkinlah ‘Jar! Aa mungkin gak bakal bisa bales budi aa ke Fajar, makanya aa harus menjadi kakak yang baik buat Agung, Gusti, Endah, Bangkit dan Taufik. Yah, masalah finansial memang belum begitu mendesak sih. Gw masih punya tabungan pribadi yang nominalnya cukup lumayan, meski banyak piutangnya, tapi anggap saja itu semua sebagai investasi sosial. Biar nanti saja kalau sudah terdesak gw tagih hak gw itu, atau kalaupun tidak sempat, semoga itu bisa menjadi investasi akhirat aa.

Hmm, ketiga atau yang terakhir adalah menjadi moderator di diskusinya GC. Hmm, kali ini di ruang sidang gelanggang, kali ini tentang beras sebagai komoditas politik. Hmm, cukup bagus temanya, dan sebenarnya akan semakin bagus kalau gw bener-bener jadi ngirim call for paper. Argh!!!

Tapi akhirnya gw bisa berkenalan sama Pak Ma’ruf, dosen Pertanian yang kader juga serta Bang Utan, dosen SosPol, anak IP angkatan 2001. Wah, dua orang ini sungguh hebat teman! Pak Ma’ruf begitu paham tentang masalah perberasan dan cukup ngikhwah (hmm, alasan saya untuk tidak menikah dini karena khawatir tidak care lagi sama adik-adiknya nampaknya berhasil dibantahkan oleh beliau). Sedang Bang Utan, teman seangkatan Pak Hanta Yudha ini juga keren banget cui, masih muda udah jadi dosen pula. Luar biasa! Dan kesimpulan dari gw adalah, kita sebagai mahasiswa pun perlu, bahkan wajib bersikap mengenai masalah ini. Satu, dengan ikut call for paper sebagai pertanggungjawaban intelektual dan kedua, ikut PEMILU karena suara kita akan sangat menentukan nasih bangsa ini, tidak terkecuali nasib para petani di masa depan.

Terakhir, gw malah beristirahat dengan santainya. Hhh, malamnya kurang produktif nih. Ah, pokoknya malam yang akan datang gak boleh males lagi kayak begini. Ayo Panji semangat!!! Gak boleh males apalagi gak produktif!!! Semangka! Semangat Kawan!! Ganbatte!!! Caiyo!!! Allahu Akbar!!

My Lovely Room, 5 Maret 2009
Udah Cukup Ah Malesnya!!!!

Advertisements

One thought on “Diversifikasi Pangan, Kebijakan Politik dan Mentality Rice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s