Mengenang Kembali Bapak Marjono

Aslm.. Innalillahiwainnailaihirajiun.. Tlah berpulang ayah Yuliasih Dwi Martini, td malam jam23.. Yg ingin takziah, kumpul @ tmn KT pkl8. Pmakaman pkl14@Sambeng, GK.

Tumben banget si TJ pagi-pagi udah sms gw. Tapi mendadak gw cukup terkejut karena kata yg pertama terlihat adalah innalillah. Firasat gw udah mulai gak enak. Dan ternyata berita lelayu itu semakin nyata, bapaknya Yuliasih, salah seorang temen baik gw di KAB kehilangan ayahnya. Yah, maka lengkap sudah status yatim piatu disandangnya. Ya Allah, berilah dirinya kekuatan dan kesabaran.

Gw pikir ini gak bakal mudah buat si Yuli. Karena apa? Karena beliau juga insyaallah akan segera menjadi anggota dewan karena perolehan kursinya telah memenuhi kuota. Dan perjuangan di parlemen tentu akan sangat berat, apalagi ketika sekarang ini, sang ayah yang senantiasa mendukungnya telah Allah cukupkan usianya. Dan genaplah sudah kesendirian dideranya.

Sebenarnya sebelum kejadian ini, gw berkeinginan kuat untuk silaturahim ke rumah si Yuli di GK sana. Selama kampanye dan hari H, gw gak sempat sekalipun hadir disana. Bener-bener belum jodoh deh dengan waktu. Dan gw feeling guilty banget deh. Meski untungnya, tanpa gw mengikuti prosesnya, hasilnya cukup memuaskan. Alhamdulillah banget deh, karena pada akhirnya gw juga hanya bisa nitipin via si Adist, buletin INSPIRATIF yang Dwilogi Kesatu dari Sebuah Dwilogi. Yah, temanya itu pas banget buat dia, “Dicari : Pemimpin Berkualitas!”

Alhamdulillah respon dari si Yuli juga bagus :

“Jazakallah panji atas buletny, af1 jg yuli jrang ksh kbr, gmn kbr ant? Buletiny bs bt inspirasi, lain wky ksh lg bt yuli y, he2, gantiny ant yg g bs bantu disini, tetep aja kapan pun ant bs ke GK karena qt butuh orang2 yg kreatif seperti ant”

“Oh y, doakan y panji, yuli dkk bs raih kemenangan dsini. Af1 untuk amanah d kampus yuli krg optimal bt panji dkk”

Time flies…

Dan kali ini gw berada di rumahnya si Yuli. Subhanallah. Suasananya sungguh berduka. Mungkin ada 1000 orang yang menshalatkan jenazah bapaknya. Klo bukan orang baik, manalah mau orang-orang bertakziyah. Gw dibuat kagum dan salut sama bapaknya Yuli ini. Belasan tahun lebih si bapak melayani warga desa dengan penuh amanah. Tokoh masyarakat yang sungguh sulit dicari penggantinya. Dekat dengan warga, tidak berjarak, ramah dan bersahabat. Ingetan gw pun melayang jauh…

Gw masih inget dengan jelas saat gw ama si Yuli masih sama-sama menjadi PH di KAB, gw jadi Kadept. PSDM dan beliau jadi Bendahara merangkap Danus. PH diangkatannya Mba Aida memang pernah rihlah kesini, sekitar pertengahan tahun 2007, saat tanggal merah, tapi gw lupa tanggal berapa. Hmm, mungkin sekitar maret 2007 kali yah. Dan waktu itu gw juga sempet ketemu ama bapaknya, yups, tipikal jawa sejati. Baik dan ramah. Tapi selepas silaturahim itu, gw belum pernah sempet lagi kesana.

Hingga disuatu waktu, selepas kepengurusan Mba Aida usai, gw melanjutkan perjuangan di KAB as new leader, tapi angkatan 2004-nya malah hanya mensupport dari belakang, si Julia jadi staf di PSDM, Kartika hanya bantu doa aja padahal dia masih eksis di kampus, sedang si Yuli memutuskan untuk mundur dari dakwah kampus, kembali ke dakwah syabi dan melaju dari GK ke Jogja klo kuliah. Yah, ternyata keputusan beliau untuk mengabdi di kampung halamannya ternyata sangatlah tepat, warga pun membalasnya tuntas di PEMILU 2009 ini, dan sekali lagi, ini semua tidak terlepas dari peran Bapak Marjono, bapak yang mendukung habis-habisan dakwahnya si Yuli, subhanallah…

Dan kini, gw dan temen-temen kampus terpaksa pamit lebih dahulu. Si Yuli pun menemui kami. Nampak tegar, meski gw tahu klo dia pasti menyembunyikan kesedihannya dengan menggendong keponakan kecilnya. Apalagi pas dia ngucapin terima kasih ke Abe, ke gw, ke semuanya. Gw gak bisa berkata apa-apa. Jujur, gw nyesel banget waktu itu gak sekalipun hadir. Dan konsekuensinya jelas, gw gak sempat bersua dengan bapaknya Yuli, yang mungkin buat Yuli adalah sang juara nomor satu selalu, seperti si Ikal menganggap ayahnya demikian, seperti gw menganggap adik gw inspirasi selalu. Yah, kehilangan seorang ayah pasti teramat sedih buat si Yuli, apalagi amanah di parlemen juga telah menanti.

Maka sesampainya gw di Jogja, gw hanya bisa sms ke Yuli. Pesan yang juga selalu gw inget setiap kali gw sedih mengingat adek gw yang sudah lama pergi :

“Dan janganlah kau kira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sesungguhnya mereka hidup di sisi Rabbny dengan mendapat nikmat” (QS. Ali Imran 169)

My Lovely Room, 29 April 2009
Semoga ayahanda Yuli bersua dengan adik saya di Jannah-Nya…

4 thoughts on “Mengenang Kembali Bapak Marjono

  1. Maju trus ya mba dwi kami tmen-temen dan seluruh warga masyarktat sambeng akan trus berdoa dan slalu mendukung perjuangan mba dwi.Allah tdak akan membebani seseorang kecuali dia sangup untk memikulnya.Jadkan shalatmu nusuqmu ibdahmu hdup d mtimu hanya untuk Allah taala.

  2. iya…
    yuliasih dwi martani klo gak salah nama lengkapnya..

    pernah tinggal di salsabila karangwuni juga klo gak salah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s