“DICARI : PEMIMPIN MUDA IDAMAN!”

Kalau kita pernah belajar sejarah bangsa Indonesia, maka setiap kali kita mendengar istilah pemuda, cerita yang kemudian muncul biasanya adalah kisah heroik para pemuda di masa lampau. Dan ingatan kita biasanya akan langsung melayang pada peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang begitu melegenda. Bukan sembarang sumpah memang, karena dari sanalah kemudian bermunculan para pemimpin bangsa yang kemudian mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, salah satunya adalah Soekarno.

Soekarno bahkan dulu pernah berkata lantang, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”. Begitu dasyhat memang daya ledak seorang pemuda karena memang pemuda memiliki energi lebih dibanding dengan generasi tua untuk dapat terus berkreasi berjuang dan berkarya. Dan kalau kita ingin melihat masa depan suatu bangsa, benarlah kiranya jika kita melihat seperti apa kondisi pemudanya pada masa itu. Yah, karena memang, pergiliran kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, para pemudalah yang kelak nanti akan menjadi para pemimpin di masa depan.

Maka untuk merencanakan seperti apa pemimpin kita di masa depan, perlu kiranya kita merencanakannya sedari sekarang. Bukankah gagal dalam merencanakan sama artinya dengan merencanakan kegagalan? Dan bukankah impian kita di hari ini adalah kenyataan di masa depan? Maka, marilah sekarang kita sama-sama mengadakan sayembara besar ini. Bukan sayembara sembarang sayembara, bukan pula untuk mencari popularitas dan ketenaran semata, tapi inilah hajatan besar bangsa Indonesia, karena kita akan merencanakan sebuah mimpi, maka sayembara tersebut ini pun bertajuk, “Dicari : Pemimpin Muda Idaman!”

Sumpah Pemuda versus Janji Joni : Bukti Bahwa Harapan Itu Masih Ada
Kemudian seperti apakah pemuda Indonesia detik ini? Masihkah seheroik para pemuda di masa perjuangan dulu? Ataukah memang setiap pemuda memiliki karakter yang berbeda di setiap masanya? Nampaknya kita memang tidak bisa menyamaratakan para pemuda Indonesia di masa lampau dengan pemuda Indonesia detik ini, karena pemuda Indonesia detik ini sungguh berbeda 180 derajat dengan para pendahulunya.

Kalau dulu para pemuda pernah bersumpah atas nama Indonesia, maka di masa sekarang ini mungkin kita pernah mendengar sebuah janji dari seorang anak muda yang bernama Joni. Yah, kita mengenalnya dengan Janji Joni. Sebuah film karya sutradara muda Hanung Bramantyo yang mengisahkan tentang perjuangan nan heroik dari seorang pemuda bernama Joni dalam melaksanakan tugasnya. Sederhana memang janjinya saat menerima tugas sebagai pengantar roll film dari satu bioskop ke bioskop lainnya itu. Dia hanya berjanji untuk dapat mengantarkan roll film tepat pada waktunya agar film di bioskop dapat diputar tepat pada waktunya pula. Dan dari sini kita akan melihat bahwa Joni memang tidak sekedar berjanji, dia membuktikan bahwa janji itu adalah untuk ditepati, walau pada akhirnya dia gagal mengantarkan roll film tepat pada waktunya, setidaknya perjuangan seorang pemuda bernama Joni ini memang dapat dijadikan inspirasi bagi pemuda Indonesia di masa ini.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh seluruh pemuda dari segala penjuru Indonesia dan Janji Joni yang dibintangi oleh artis muda Nicholas Saputra memang dua hal yang berbeda. Kisah nyata versus cerita fiksi. Masa lalu versus masa depan. Sekelompok versus individu. Akan tetapi, kedua hal ini membuktikan bahwa harapan itu masih ada. Yah, harapan bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik dan bermartabat masih menjadi tanggung jawab para pemuda Indonesia detik ini. Meski pada kenyataannya, memang tidaklah mudah untuk mencari sosok pemuda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan, tetapi semuanya itu adalah hal yang mungkin untuk dilakukan. Seperti Paulo Coelho pernah berkisah dalam Sang Alkemis, “Saat engkau menginginkan sesuatu, maka seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantumu meraihnya”.

Dicari : Pemimpin Muda Idaman!
Pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang pencarian figur pemimpin muda idaman, maka semuanya akan bermuara kepada dua hal. Pertama, seperti apakah pemimpin muda idaman itu? Kedua, bagaimana caranya menemukan kriteria pemimpin muda idaman tersebut? Pertanyaan pertama tentu saja akan melahirkan banyak jawaban yang beragam dan bervariasi, karena memang setiap orang tentu memiliki penilaian tersendiri tentang figur pemimpin muda yang diidam-idamkannya.

Beberapa teman pernah berpendapat bahwa pemimpin muda idaman haruslah memiliki semangat juang yang tinggi khas pemuda, ilmu wawasan yang luas, tegas dalam bersikap, akhlak yang baik, bijaksana, peduli terhadap sesama, kritis dan idealis. Tidak ada yang salah memang dengan pendapat mereka, karena pemimpin itu memang akan selalu menjadi panutan bagi yang dipimpinnya, maka segala sifat baik tersebut memang harus dimiliki oleh orang yang kelak akan menjadi pemimpin tersebut. Logikanya pun jelas, ketika pemimpin itu memberikan keteladanan melalui sifat baiknya itu, maka yang dipimpinnya pun akan turut mengikuti, lalu akan bertambah banyak pula orang-orang yang memiliki nilai-nilai kebaikan tersebut. Namun, ketika pemimpin tersebut memberikan contoh yang buruk, tentu saja bawahannya akan pula mengikuti perbuatan buruk tersebut, dan terbuktilah peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Dan ketika kita sedang mencari pemimpin muda idaman, entah kenapa terbesit dalam benak pikiran tentang berbagai acara audisi yang melibatkan banyak pemuda di dalamnya. Namun sayangnya dari berbagai audisi tersebut, nyaris tidak ada yang mencari pemimpin muda yang kelak akan memimpin bangsa. Kebanyakan dari audisi tersebut hanya mencari artis-artis muda yang nanti berkiprah dalam dunia entertainment saja. Dan entah kenapa, lebih banyak pemuda yang berminat dengan kompetisi yang terkesan instan ini. Nampaknya media memang memegang peranan penting untuk mensukseskan audisi-audisi semacam itu.

Pernah pula muncul wacana kepempinan muda di tataran nasional saat Pemilu akan bergulir. Kemudian muncul pro dan kontra tentang wacana pemimpin muda tersebut. Hingga akhirnya Pemilu Legislatif usai, dan akan dilanjutkan dengan pemilihan orang nomor satu di Indonesia, pemimpin muda nampaknya masih hanya sebatas wacana yang entah kapan akan menjadi kenyataan di negeri jamrud khatulistiwa ini.

Atau mungkin kita pernah menyaksikan sebuah kesebelasan yang didominasi oleh anak-anak muda dengan segudang prestasinya. Atau mungkin kita juga sering mendengar kiprah para pengusaha muda yang telah banyak memajukan sektor riil di Indonesia. Namun sayangnya mungkin kita masih jarang menemukan para pemimpin muda yang berkiprah di dunia perpolitikan di Indonesia. Lalu bagaimanakah kita akan menemukan pemimpin muda idaman tersebut?

Talent Scout : Searching The Young Leader
Kemudian menjawab pertanyaan kedua tentang bagaimana kita dapat menemukan pemimpin muda idaman tersebut? Mungkinkah kita akan menemukannya pada kerumunan anak muda yang senantiasa bergaul dengan klub malam? Akankah kita menemukannya pada sekelompok anak muda berkacamata yang rajin membaca di perpustakaan? Ataukah kita akan menemukannya pada sebuah kesebelasan sepakbola yang senantiasa berlatih setiap hari? Jawabannya adalah mungkin saja, tetapi mungkin kita memang dan perlu belajar dari profesi talent scout dalam dunia sepakbola yang bertugas untuk menemukan bakat terpendam pesepakbola dunia yang ada pada diri pemain sepakbola saat mereka masih berusia muda.

Dan kali ini nampaknya bangsa kita memang membutuhkan keahlian para pemandu bakat tersebut. Namun kita membutuhkan pemandu bakat yang memiliki kemampuan untuk dapat menemukan para pemimpin muda yang dinantikan bangsa Indonesia di masa depan nantinya. Dan untuk mencari para calon pemimpin bangsa ini, biasanya para pemandu bakat ini akan dengan mudah mengenali bakat kepemimpinan tersebut dari track reccord anak muda tersebut, atau dengan bahasa sederhananya, kita dapat melihat rekam jejak curriculum vitae mereka. Yah, meski sebenarnya, hal ini baru penilaian awal, tapi awalan inilah yang nantinya akan menentukan apakah anak muda ini layak untuk dibina lebih intens lagi menjadi pemimpin muda di masa depan atau tidak. Kemudian jika persyaratan admistrasi saja sudah tidak terpenuhi, akan sulit tentunya bagi para pemandu bakat tersebut merekomendasikan nama-nama pemuda temuannya itu untuk ditindak lanjuti bukan?

Mari sejenak kita memposisikan diri sebagai layaknya pemandu bakat tersebut, kira-kira seperti apakah pemuda yang berpotensi untuk menjadi pemimpin muda idaman itu? Sederhananya tentu saja mereka haruslah jujur, bertanggung jawab, dan cerdas. Dan ketiga karakter ini tentu saja tidaklah muncul begitu saja dalam diri pribadi seseorang. Ada proses yang harus dilalui untuk memunculkan karakter ini. Ada banyak faktor pula yang mempengaruhi kemunculan karakter-karakter tersebut. Dan yang paling utama tentu saja pengalaman, dan pengalaman yang paling awal didapat seseorang tentu saja pengalaman hidup yang diajarkan langsung oleh keluarganya. Walaupun dikemudian hari lingkungan di luar keluarga juga akan sangat menentukan dalam membentuk karakter kepemimpinan tersebut.

Nah, tugas pemandu bakat inilah yang pada akhirnya menjadi tanggung jawab kita semua. Krisis kepemimpinan yang tengah melanda bangsa ini nampaknya akan dengan mudah diselesaikan jika kita memang telah memiliki banyak para pemandu bakat yang dengan mudahnya dapat menemukan The Young Leader, pemimpin muda yang akan memimpin bangsa ini di masa depan. Dan kita pun masih disuguhi dua pilihan teman, apakah kita yang akan menjadi pemandu bakat tersebut, ataukah kitalah si bakat terpendam tersebut. Maka usailah sudah sayembara tersebut, “Ditemukan : Pemimpin Muda Idaman!”.

“DICARI : PEMIMPIN MUDA IDAMAN!”
Kalau kita pernah belajar sejarah bangsa Indonesia, maka setiap kali kita mendengar istilah pemuda, cerita yang kemudian muncul biasanya adalah kisah heroik para pemuda di masa lampau. Dan ingatan kita biasanya akan langsung melayang pada peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang begitu melegenda. Bukan sembarang sumpah memang, karena dari sanalah kemudian bermunculan para pemimpin bangsa yang kemudian mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, salah satunya adalah Soekarno.
Soekarno bahkan dulu pernah berkata lantang, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”. Begitu dasyhat memang daya ledak seorang pemuda karena memang pemuda memiliki energi lebih dibanding dengan generasi tua untuk dapat terus berkreasi berjuang dan berkarya. Dan kalau kita ingin melihat masa depan suatu bangsa, benarlah kiranya jika kita melihat seperti apa kondisi pemudanya pada masa itu. Yah, karena memang, pergiliran kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, para pemudalah yang kelak nanti akan menjadi para pemimpin di masa depan.
Maka untuk merencanakan seperti apa pemimpin kita di masa depan, perlu kiranya kita merencanakannya sedari sekarang. Bukankah gagal dalam merencanakan sama artinya dengan merencanakan kegagalan? Dan bukankah impian kita di hari ini adalah kenyataan di masa depan? Maka, marilah sekarang kita sama-sama mengadakan sayembara besar ini. Bukan sayembara sembarang sayembara, bukan pula untuk mencari popularitas dan ketenaran semata, tapi inilah hajatan besar bangsa Indonesia, karena kita akan merencanakan sebuah mimpi, maka sayembara tersebut ini pun bertajuk, “Dicari : Pemimpin Muda Idaman!”

Sumpah Pemuda versus Janji Joni : Bukti Bahwa Harapan Itu Masih Ada
Kemudian seperti apakah pemuda Indonesia detik ini? Masihkah seheroik para pemuda di masa perjuangan dulu? Ataukah memang setiap pemuda memiliki karakter yang berbeda di setiap masanya? Nampaknya kita memang tidak bisa menyamaratakan para pemuda Indonesia di masa lampau dengan pemuda Indonesia detik ini, karena pemuda Indonesia detik ini sungguh berbeda 180 derajat dengan para pendahulunya.
Kalau dulu para pemuda pernah bersumpah atas nama Indonesia, maka di masa sekarang ini mungkin kita pernah mendengar sebuah janji dari seorang anak muda yang bernama Joni. Yah, kita mengenalnya dengan Janji Joni. Sebuah film karya sutradara muda Hanung Bramantyo yang mengisahkan tentang perjuangan nan heroik dari seorang pemuda bernama Joni dalam melaksanakan tugasnya. Sederhana memang janjinya saat menerima tugas sebagai pengantar roll film dari satu bioskop ke bioskop lainnya itu. Dia hanya berjanji untuk dapat mengantarkan roll film tepat pada waktunya agar film di bioskop dapat diputar tepat pada waktunya pula. Dan dari sini kita akan melihat bahwa Joni memang tidak sekedar berjanji, dia membuktikan bahwa janji itu adalah untuk ditepati, walau pada akhirnya dia gagal mengantarkan roll film tepat pada waktunya, setidaknya perjuangan seorang pemuda bernama Joni ini memang dapat dijadikan inspirasi bagi pemuda Indonesia di masa ini.
Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh seluruh pemuda dari segala penjuru Indonesia dan Janji Joni yang dibintangi oleh artis muda Nicholas Saputra memang dua hal yang berbeda. Kisah nyata versus cerita fiksi. Masa lalu versus masa depan. Sekelompok versus individu. Akan tetapi, kedua hal ini membuktikan bahwa harapan itu masih ada. Yah, harapan bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik dan bermartabat masih menjadi tanggung jawab para pemuda Indonesia detik ini. Meski pada kenyataannya, memang tidaklah mudah untuk mencari sosok pemuda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan, tetapi semuanya itu adalah hal yang mungkin untuk dilakukan. Seperti Paulo Coelho pernah berkisah dalam Sang Alkemis, “Saat engkau menginginkan sesuatu, maka seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantumu meraihnya”.
Dicari : Pemimpin Muda Idaman!
Pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang pencarian figur pemimpin muda idaman, maka semuanya akan bermuara kepada dua hal. Pertama, seperti apakah pemimpin muda idaman itu? Kedua, bagaimana caranya menemukan kriteria pemimpin muda idaman tersebut? Pertanyaan pertama tentu saja akan melahirkan banyak jawaban yang beragam dan bervariasi, karena memang setiap orang tentu memiliki penilaian tersendiri tentang figur pemimpin muda yang diidam-idamkannya.
Beberapa teman pernah berpendapat bahwa pemimpin muda idaman haruslah memiliki semangat juang yang tinggi khas pemuda, ilmu wawasan yang luas, tegas dalam bersikap, akhlak yang baik, bijaksana, peduli terhadap sesama, kritis dan idealis. Tidak ada yang salah memang dengan pendapat mereka, karena pemimpin itu memang akan selalu menjadi panutan bagi yang dipimpinnya, maka segala sifat baik tersebut memang harus dimiliki oleh orang yang kelak akan menjadi pemimpin tersebut. Logikanya pun jelas, ketika pemimpin itu memberikan keteladanan melalui sifat baiknya itu, maka yang dipimpinnya pun akan turut mengikuti, lalu akan bertambah banyak pula orang-orang yang memiliki nilai-nilai kebaikan tersebut. Namun, ketika pemimpin tersebut memberikan contoh yang buruk, tentu saja bawahannya akan pula mengikuti perbuatan buruk tersebut, dan terbuktilah peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.
Dan ketika kita sedang mencari pemimpin muda idaman, entah kenapa terbesit dalam benak pikiran tentang berbagai acara audisi yang melibatkan banyak pemuda di dalamnya. Namun sayangnya dari berbagai audisi tersebut, nyaris tidak ada yang mencari pemimpin muda yang kelak akan memimpin bangsa. Kebanyakan dari audisi tersebut hanya mencari artis-artis muda yang nanti berkiprah dalam dunia entertainment saja. Dan entah kenapa, lebih banyak pemuda yang berminat dengan kompetisi yang terkesan instan ini. Nampaknya media memang memegang peranan penting untuk mensukseskan audisi-audisi semacam itu.
Pernah pula muncul wacana kepempinan muda di tataran nasional saat Pemilu akan bergulir. Kemudian muncul pro dan kontra tentang wacana pemimpin muda tersebut. Hingga akhirnya Pemilu Legislatif usai, dan akan dilanjutkan dengan pemilihan orang nomor satu di Indonesia, pemimpin muda nampaknya masih hanya sebatas wacana yang entah kapan akan menjadi kenyataan di negeri jamrud khatulistiwa ini.
Atau mungkin kita pernah menyaksikan sebuah kesebelasan yang didominasi oleh anak-anak muda dengan segudang prestasinya. Atau mungkin kita juga sering mendengar kiprah para pengusaha muda yang telah banyak memajukan sektor riil di Indonesia. Namun sayangnya mungkin kita masih jarang menemukan para pemimpin muda yang berkiprah di dunia perpolitikan di Indonesia. Lalu bagaimanakah kita akan menemukan pemimpin muda idaman tersebut?
Talent Scout : Searching The Young Leader
Kemudian menjawab pertanyaan kedua tentang bagaimana kita dapat menemukan pemimpin muda idaman tersebut? Mungkinkah kita akan menemukannya pada kerumunan anak muda yang senantiasa bergaul dengan klub malam? Akankah kita menemukannya pada sekelompok anak muda berkacamata yang rajin membaca di perpustakaan? Ataukah kita akan menemukannya pada sebuah kesebelasan sepakbola yang senantiasa berlatih setiap hari? Jawabannya adalah mungkin saja, tetapi mungkin kita memang dan perlu belajar dari profesi talent scout dalam dunia sepakbola yang bertugas untuk menemukan bakat terpendam pesepakbola dunia yang ada pada diri pemain sepakbola saat mereka masih berusia muda.
Dan kali ini nampaknya bangsa kita memang membutuhkan keahlian para pemandu bakat tersebut. Namun kita membutuhkan pemandu bakat yang memiliki kemampuan untuk dapat menemukan para pemimpin muda yang dinantikan bangsa Indonesia di masa depan nantinya. Dan untuk mencari para calon pemimpin bangsa ini, biasanya para pemandu bakat ini akan dengan mudah mengenali bakat kepemimpinan tersebut dari track reccord anak muda tersebut, atau dengan bahasa sederhananya, kita dapat melihat rekam jejak curriculum vitae mereka. Yah, meski sebenarnya, hal ini baru penilaian awal, tapi awalan inilah yang nantinya akan menentukan apakah anak muda ini layak untuk dibina lebih intens lagi menjadi pemimpin muda di masa depan atau tidak. Kemudian jika persyaratan admistrasi saja sudah tidak terpenuhi, akan sulit tentunya bagi para pemandu bakat tersebut merekomendasikan nama-nama pemuda temuannya itu untuk ditindak lanjuti bukan?
Mari sejenak kita memposisikan diri sebagai layaknya pemandu bakat tersebut, kira-kira seperti apakah pemuda yang berpotensi untuk menjadi pemimpin muda idaman itu? Sederhananya tentu saja mereka haruslah jujur, bertanggung jawab, dan cerdas. Dan ketiga karakter ini tentu saja tidaklah muncul begitu saja dalam diri pribadi seseorang. Ada proses yang harus dilalui untuk memunculkan karakter ini. Ada banyak faktor pula yang mempengaruhi kemunculan karakter-karakter tersebut. Dan yang paling utama tentu saja pengalaman, dan pengalaman yang paling awal didapat seseorang tentu saja pengalaman hidup yang diajarkan langsung oleh keluarganya. Walaupun dikemudian hari lingkungan di luar keluarga juga akan sangat menentukan dalam membentuk karakter kepemimpinan tersebut.
Nah, tugas pemandu bakat inilah yang pada akhirnya menjadi tanggung jawab kita semua. Krisis kepemimpinan yang tengah melanda bangsa ini nampaknya akan dengan mudah diselesaikan jika kita memang telah memiliki banyak para pemandu bakat yang dengan mudahnya dapat menemukan The Young Leader, pemimpin muda yang akan memimpin bangsa ini di masa depan. Dan kita pun masih disuguhi dua pilihan teman, apakah kita yang akan menjadi pemandu bakat tersebut, ataukah kitalah si bakat terpendam tersebut. Maka usailah sudah sayembara tersebut, “Ditemukan : Pemimpin Muda Idaman!”.

“DICARI : PEMIMPIN MUDA IDAMAN!”
Kalau kita pernah belajar sejarah bangsa Indonesia, maka setiap kali kita mendengar istilah pemuda, cerita yang kemudian muncul biasanya adalah kisah heroik para pemuda di masa lampau. Dan ingatan kita biasanya akan langsung melayang pada peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang begitu melegenda. Bukan sembarang sumpah memang, karena dari sanalah kemudian bermunculan para pemimpin bangsa yang kemudian mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, salah satunya adalah Soekarno.
Soekarno bahkan dulu pernah berkata lantang, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”. Begitu dasyhat memang daya ledak seorang pemuda karena memang pemuda memiliki energi lebih dibanding dengan generasi tua untuk dapat terus berkreasi berjuang dan berkarya. Dan kalau kita ingin melihat masa depan suatu bangsa, benarlah kiranya jika kita melihat seperti apa kondisi pemudanya pada masa itu. Yah, karena memang, pergiliran kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, para pemudalah yang kelak nanti akan menjadi para pemimpin di masa depan.
Maka untuk merencanakan seperti apa pemimpin kita di masa depan, perlu kiranya kita merencanakannya sedari sekarang. Bukankah gagal dalam merencanakan sama artinya dengan merencanakan kegagalan? Dan bukankah impian kita di hari ini adalah kenyataan di masa depan? Maka, marilah sekarang kita sama-sama mengadakan sayembara besar ini. Bukan sayembara sembarang sayembara, bukan pula untuk mencari popularitas dan ketenaran semata, tapi inilah hajatan besar bangsa Indonesia, karena kita akan merencanakan sebuah mimpi, maka sayembara tersebut ini pun bertajuk, “Dicari : Pemimpin Muda Idaman!”

Sumpah Pemuda versus Janji Joni : Bukti Bahwa Harapan Itu Masih Ada
Kemudian seperti apakah pemuda Indonesia detik ini? Masihkah seheroik para pemuda di masa perjuangan dulu? Ataukah memang setiap pemuda memiliki karakter yang berbeda di setiap masanya? Nampaknya kita memang tidak bisa menyamaratakan para pemuda Indonesia di masa lampau dengan pemuda Indonesia detik ini, karena pemuda Indonesia detik ini sungguh berbeda 180 derajat dengan para pendahulunya.
Kalau dulu para pemuda pernah bersumpah atas nama Indonesia, maka di masa sekarang ini mungkin kita pernah mendengar sebuah janji dari seorang anak muda yang bernama Joni. Yah, kita mengenalnya dengan Janji Joni. Sebuah film karya sutradara muda Hanung Bramantyo yang mengisahkan tentang perjuangan nan heroik dari seorang pemuda bernama Joni dalam melaksanakan tugasnya. Sederhana memang janjinya saat menerima tugas sebagai pengantar roll film dari satu bioskop ke bioskop lainnya itu. Dia hanya berjanji untuk dapat mengantarkan roll film tepat pada waktunya agar film di bioskop dapat diputar tepat pada waktunya pula. Dan dari sini kita akan melihat bahwa Joni memang tidak sekedar berjanji, dia membuktikan bahwa janji itu adalah untuk ditepati, walau pada akhirnya dia gagal mengantarkan roll film tepat pada waktunya, setidaknya perjuangan seorang pemuda bernama Joni ini memang dapat dijadikan inspirasi bagi pemuda Indonesia di masa ini.
Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh seluruh pemuda dari segala penjuru Indonesia dan Janji Joni yang dibintangi oleh artis muda Nicholas Saputra memang dua hal yang berbeda. Kisah nyata versus cerita fiksi. Masa lalu versus masa depan. Sekelompok versus individu. Akan tetapi, kedua hal ini membuktikan bahwa harapan itu masih ada. Yah, harapan bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik dan bermartabat masih menjadi tanggung jawab para pemuda Indonesia detik ini. Meski pada kenyataannya, memang tidaklah mudah untuk mencari sosok pemuda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan, tetapi semuanya itu adalah hal yang mungkin untuk dilakukan. Seperti Paulo Coelho pernah berkisah dalam Sang Alkemis, “Saat engkau menginginkan sesuatu, maka seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantumu meraihnya”.
Dicari : Pemimpin Muda Idaman!
Pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang pencarian figur pemimpin muda idaman, maka semuanya akan bermuara kepada dua hal. Pertama, seperti apakah pemimpin muda idaman itu? Kedua, bagaimana caranya menemukan kriteria pemimpin muda idaman tersebut? Pertanyaan pertama tentu saja akan melahirkan banyak jawaban yang beragam dan bervariasi, karena memang setiap orang tentu memiliki penilaian tersendiri tentang figur pemimpin muda yang diidam-idamkannya.
Beberapa teman pernah berpendapat bahwa pemimpin muda idaman haruslah memiliki semangat juang yang tinggi khas pemuda, ilmu wawasan yang luas, tegas dalam bersikap, akhlak yang baik, bijaksana, peduli terhadap sesama, kritis dan idealis. Tidak ada yang salah memang dengan pendapat mereka, karena pemimpin itu memang akan selalu menjadi panutan bagi yang dipimpinnya, maka segala sifat baik tersebut memang harus dimiliki oleh orang yang kelak akan menjadi pemimpin tersebut. Logikanya pun jelas, ketika pemimpin itu memberikan keteladanan melalui sifat baiknya itu, maka yang dipimpinnya pun akan turut mengikuti, lalu akan bertambah banyak pula orang-orang yang memiliki nilai-nilai kebaikan tersebut. Namun, ketika pemimpin tersebut memberikan contoh yang buruk, tentu saja bawahannya akan pula mengikuti perbuatan buruk tersebut, dan terbuktilah peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.
Dan ketika kita sedang mencari pemimpin muda idaman, entah kenapa terbesit dalam benak pikiran tentang berbagai acara audisi yang melibatkan banyak pemuda di dalamnya. Namun sayangnya dari berbagai audisi tersebut, nyaris tidak ada yang mencari pemimpin muda yang kelak akan memimpin bangsa. Kebanyakan dari audisi tersebut hanya mencari artis-artis muda yang nanti berkiprah dalam dunia entertainment saja. Dan entah kenapa, lebih banyak pemuda yang berminat dengan kompetisi yang terkesan instan ini. Nampaknya media memang memegang peranan penting untuk mensukseskan audisi-audisi semacam itu.
Pernah pula muncul wacana kepempinan muda di tataran nasional saat Pemilu akan bergulir. Kemudian muncul pro dan kontra tentang wacana pemimpin muda tersebut. Hingga akhirnya Pemilu Legislatif usai, dan akan dilanjutkan dengan pemilihan orang nomor satu di Indonesia, pemimpin muda nampaknya masih hanya sebatas wacana yang entah kapan akan menjadi kenyataan di negeri jamrud khatulistiwa ini.
Atau mungkin kita pernah menyaksikan sebuah kesebelasan yang didominasi oleh anak-anak muda dengan segudang prestasinya. Atau mungkin kita juga sering mendengar kiprah para pengusaha muda yang telah banyak memajukan sektor riil di Indonesia. Namun sayangnya mungkin kita masih jarang menemukan para pemimpin muda yang berkiprah di dunia perpolitikan di Indonesia. Lalu bagaimanakah kita akan menemukan pemimpin muda idaman tersebut?
Talent Scout : Searching The Young Leader
Kemudian menjawab pertanyaan kedua tentang bagaimana kita dapat menemukan pemimpin muda idaman tersebut? Mungkinkah kita akan menemukannya pada kerumunan anak muda yang senantiasa bergaul dengan klub malam? Akankah kita menemukannya pada sekelompok anak muda berkacamata yang rajin membaca di perpustakaan? Ataukah kita akan menemukannya pada sebuah kesebelasan sepakbola yang senantiasa berlatih setiap hari? Jawabannya adalah mungkin saja, tetapi mungkin kita memang dan perlu belajar dari profesi talent scout dalam dunia sepakbola yang bertugas untuk menemukan bakat terpendam pesepakbola dunia yang ada pada diri pemain sepakbola saat mereka masih berusia muda.
Dan kali ini nampaknya bangsa kita memang membutuhkan keahlian para pemandu bakat tersebut. Namun kita membutuhkan pemandu bakat yang memiliki kemampuan untuk dapat menemukan para pemimpin muda yang dinantikan bangsa Indonesia di masa depan nantinya. Dan untuk mencari para calon pemimpin bangsa ini, biasanya para pemandu bakat ini akan dengan mudah mengenali bakat kepemimpinan tersebut dari track reccord anak muda tersebut, atau dengan bahasa sederhananya, kita dapat melihat rekam jejak curriculum vitae mereka. Yah, meski sebenarnya, hal ini baru penilaian awal, tapi awalan inilah yang nantinya akan menentukan apakah anak muda ini layak untuk dibina lebih intens lagi menjadi pemimpin muda di masa depan atau tidak. Kemudian jika persyaratan admistrasi saja sudah tidak terpenuhi, akan sulit tentunya bagi para pemandu bakat tersebut merekomendasikan nama-nama pemuda temuannya itu untuk ditindak lanjuti bukan?
Mari sejenak kita memposisikan diri sebagai layaknya pemandu bakat tersebut, kira-kira seperti apakah pemuda yang berpotensi untuk menjadi pemimpin muda idaman itu? Sederhananya tentu saja mereka haruslah jujur, bertanggung jawab, dan cerdas. Dan ketiga karakter ini tentu saja tidaklah muncul begitu saja dalam diri pribadi seseorang. Ada proses yang harus dilalui untuk memunculkan karakter ini. Ada banyak faktor pula yang mempengaruhi kemunculan karakter-karakter tersebut. Dan yang paling utama tentu saja pengalaman, dan pengalaman yang paling awal didapat seseorang tentu saja pengalaman hidup yang diajarkan langsung oleh keluarganya. Walaupun dikemudian hari lingkungan di luar keluarga juga akan sangat menentukan dalam membentuk karakter kepemimpinan tersebut.
Nah, tugas pemandu bakat inilah yang pada akhirnya menjadi tanggung jawab kita semua. Krisis kepemimpinan yang tengah melanda bangsa ini nampaknya akan dengan mudah diselesaikan jika kita memang telah memiliki banyak para pemandu bakat yang dengan mudahnya dapat menemukan The Young Leader, pemimpin muda yang akan memimpin bangsa ini di masa depan. Dan kita pun masih disuguhi dua pilihan teman, apakah kita yang akan menjadi pemandu bakat tersebut, ataukah kitalah si bakat terpendam tersebut. Maka usailah sudah sayembara tersebut, “Ditemukan : Pemimpin Muda Idaman!”.

2 thoughts on ““DICARI : PEMIMPIN MUDA IDAMAN!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s