KING

rezki, uda angga, pak al, imam dan andri; we are the caur family ^_^

rezki, uda angga, pak al, imam dan andri; we are the caur family ^_^

“Rancak bana” klo kata orang Padang dalam film KING. Yah, KING ‘Jar, Lim Swie King. Hmm, tentang bulutangkis dan nasionalisme, masih tetap menarik ‘Jar! Klo minggu lalu kita diajarkan nasionalisme melalui sepakbola, maka malam ini aa belajar untuk mencintai Indonesia melalui bulutangkis.

Oke, klo inget bulutangkis, maka kita masih berhutang pada sebuah pertandingan penentuan ‘Jar. Yah, kita masih saling mengalahkan bukan. Klo aa menang di fisik, Fajar mungkin saja unggul di teknik. Yah, kita belum menentukan siapa yang terbaik diantara kita ‘Jar. Klo aa sempet jadi juara tunggal putra di SMA 14, maka Fajar pun pernah meraih medali emas di SMA 91 di kelas ganda putra. Dan klo dulu setiap malam minggu atau minggu pagi kita sering maen badminton di lapangannya Pak Saprin, plus taruhan temulawak, maka sekarang, aa semakin ingin bertanding kembali melawan Fajar, seperti saat si Guntur bertanding melawan Pak Rino di film KING.

Yah, masih tentang film KING ‘Jar. Ini bukan sekedar film ‘Jar. Ini juga bukan sekedar olahraga ‘Jar. Dan ini juga bukan sekedar nasionalisme ‘Jar.

Bulutangkis mengajarkan kita cara menghargai lawan, cara menghargai wasit, cara menghargai penonton dan tentu saja cara menghargai diri kita sendiri.”

“Dan juara itu tidak akan pernah menyusahkan orang lain, tidak akan pernah besar kepala, dan tidak akan pernah menyerah selama impian masih ada.”

Hmm, aa belajar banyak ‘Jar dari si Guntur yang maniak badminton, Raden yang setia dan konyol, Michele yang baik hati, Pak Tejo yang menjadi ayah terbaik bagi anaknya, Pak Rino yang begitu menginspirasi dan tentu saja, Lim Swie King yang telah menjadi pahlawan bagi dunia bulutangkis Indonesia.

Hehehe, mungkin agak parah juga sih ‘Jar karena dalam tiga minggu terakhir ini, 11 Juni, 18 Juni dan 25 Juni, aa selalu meluangkan waktu untuk nonton film Ketika Cinta Bertasbih karya Kang Abik dan Chaerul Umam, film Garuda di Dadaku tentang Bayu dan sepakbolanya, juga film KING tentang Guntur dan Badmintonnya. Hmm, mengutip kata Uda Riko yang entah kebetulan ato disengaja selalu satu studio dalam tiga kali premiere itu, “Yah, kita kan nonton film yang religius dan nasionalis, mirip-miriplah dengan pilihan kita, jadi gak masalah”

Oke deh, kali ini gw sepakat ama Uda Riko. Yah, begitulah ‘Jar klo menjadi sufi alias suka film. Hmm, secara, anak BIMO juga lagi, maka marilah kita coba mengambil hikmah dari berbagaii film karya anak bangsa ini. Dan untuk yang terakhir, tentang film KING, aa seneng banget suasana Bromo (klo gak salah), suasana pertandingan Badminton (gw inget pas jadi juara tunggal putra di 14 Badminton Tournament enam tahun silam, dan tentu saja pertandingan lawan Fajar), dan tentu saja saat Guntur akhirnya menjadi juara tunggal putra di Asia tingkat U-16 karena kekuatan usaha dan doa orang-orang disekitarnya tentu saja.

“Maka melompatlah setinggi mungkin, dan SMASH!!!!”

My Room, 26 Juni 2009
Aa masih penasaran lawan Fajar ^-^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s