Ujian Ukhuwah

Sabtu itu menjadi sangat menarik untuk dikenang. Sabtu yang mungkin nampak biasa saja bagi sebagian orang. Akhir pekan, kebanyakan orang menyebutnya demikian. Tapi Sabtu kali ini begitu menarik teman. Sungguh, Sabtu ini tidak seperti biasanya, penuh kejutan dan tentu saja ujian ukhuwah.

Yah, semuanya berawal dari sejak pagi, saat saya dan Mujib memutuskan untuk menghadiri Islamic Book Fair di Wanitatama. Ramai betul teman. Penuh sesak dengan orang lalu lalang. Ah, jadi kurang begitu nyaman untuk berwisata literature. Dan dalam keramaian itulah saya bersua dengan Rezki dan Dimas, dua sahabat saya di FORSALAMM (Forum Silaturahim Mahasiswa Muslim UGM). Dan kami pun tidak hanya bertegur sapa dan mengucapkan salam, tetapi ada informasi penting yang mereka sampaikan ke saya. Undangan pernikahan teman. Salah seorang senior FORSALAMM, akhwat Psikologi angkatan 2003 akan menggenapkan dien, Sabtu siang ini di Magelang. Dan inilah ujian ukhuwah yang pertama, saya, Rezki dan Dimas tidak mengenal si senior, hehehe. Tapi tak mengapa, mungkin karena beda kepengurusan di FORSALAMM. Yah, bukankah menghadiri undangan itu wajib hukumnya?

Hmm, cukup dadakan juga sih sebenarnya. Tetapi untung saja jadwal saya sedang senggang. Maka bersedia, siap, yak! Insyaallah saya ikut deh. Dzuhur di Maskam (Masjid Kampus UGM). Berangkat bareng dari sana, tapi entahlah, siapa saja rombongan dari FORSALAMM nantinya.
***

Maka Dzuhur itu pun terlewati, baru ada Rezki dan Dimas yang hadir, menyusul kemudian Eko (mahasiswa Kehutanan 2004). Nah, karena di ikhwannya sudah tidak ada lagi tambahan personil, maka saatnya memastikan siapa saja akhwatnya yang akan turut serta. Dan inilah ujian ukhuwah yang kedua, dari keempat orang akhwat yang akan turut serta, tidak ada satu pun yang saya tahu seperti apa sosok dan parasnya. Tapi untungnya saya minimal tahu nama, fakultas dan angkatannya, karena nanti si Eko ternyata lebih parah ujian ukhuwahnya. Maka kita lihat saja nanti kisahnya.
***

Singkat cerita, setelah menggugurkan kewajiban (alias menghadiri walimahannya Mba Icha-sekali lagi minimal kita tahu namanya ), rombongan yang terdiri dari saya, Eko, Rezki, Dimas, Sittati, Uzi, Dewi dan Ewin memutuskan untuk silaturahim ke rumah Sittati yang kebetulan berada di Magelang dan berada tidak jauh dari lokasi hajatan. Nah, inilah ujian ukhuwah yang ketiga, ketika dalam perjalanan menuju rumah Sittati, si Eko dengan lugunya bertanya kepada saya.

“Nji, Sittati itu fakultas apa sih?”

“Wah, parah lu ‘Ko, kita mau maen ke rumahnya, tapi lu ‘gak tahu Sittati fakultas apa! Jangan-jangan lu juga ‘gak tahu lagi orangnya yang mana?”

Dan si Eko pun menjawab dengan lugunya.

“Yah, makanya minimal saya tahu fakultasnya apa, hehehe.”

Ah, ternyata ada yang lebih parah dari saya teman. Fakultasnya saja dia tidak tahu. Hehe, saya cukup senang juga sih karena ada teman senasib sepenanggungan. Yups, sama-sama sedang menjalani ujian ukhuwah. Satu kepengurusan di FORSALAMM, tapi tidak saling mengenal. Dan puncaknya adalah saat kita semua sedang duduk santai di ruang tamu, si Rezki dengan wajah tanpa dosanya bertanya kepada saya di depan khalayak ramai.

“Nji, lu ‘gak tahu kan yang mana Uzi, Sittati, Ewin dan Dewi?”

“What’s?!? Rezki!!! Maksud lu apa?”, gerutu saya dalam hati. Sungguh tidak sopan pertanyaan yang dia ajukan. Benar-benar merusak reputasi saya sebagai anggota Biro Media dan Opini (BIMO) FORSALAMM. Masak seorang personil BIMO tidak lulus dalam ujian ukhuwah.

Yah, tapi memang begitulah adanya ikhwah. Ujian ukhuwah seperti ini memang sering terjadi kapan pun dan dimana pun. Maka tahukah apa apologi dari ujian semacam ini?

“Namanya juga Ghadul Bashar (red.menjaga pandangan )”

Jakarta, 9 Februari 2010
For all my brother and sister in FORSALAMM

7 thoughts on “Ujian Ukhuwah

  1. yah, begitulah, mengerikan memang…

    *sebenarnya masih ada banyak ujian ukhuwah yg laen (tapi kayaknya terlalu dodol klo gw ceritain)

  2. hmm, yah karena gak kenal itu lah, makanya disebut dengan ujian ukhuwah…

    dan setahu saya banyak koq ikhwah yg kayak gini ^_^

    hmm, klo motor ceritanya panjang,
    sy pake motor gusti
    gusti pake motor agung
    agung pake motor sy

    *minus fajar, hiks..

  3. Ukhuwah itu gak perlu dilihat, dengan dirasakan itu sudah lebih dari cukup. Karena ukhuwah letaknya dihati, bukan dimata. Klo yg dimata ada saatnya nanti…

    • subhanallah..

      nasehat ente bijak sekali akhi ^_^

      tapi mana nih tulisan biodata lu >_<

      tak tunggu yo!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s