Hikayat dari Bintan

Pulau Bintan, tidak pernah terbesit dalam pikiran. Pulau itu terdengar asing dan janggal. Pulau itu terletak di Kepulauan Riau, sungguh sangat jauh dari daratan Jogja. Tapi saat ini pulau itu begitu dekat, karena rencananya, saya dan mayoritas teman-teman dari jurusan perikanan UGM angkatan 2004 akan Kuliah Kerja Nyata (KKN) disana. Sebuah rencana yang fantastis teman, bukan hanya karena letaknya yang begitu jauh, bukan hanya petualangan dan pengalaman hebat yang saya harapkan dari sana, tetapi juga ini adalah pertaruhan untuk membuktikan bahwa kita pun dapat berkontribusi untuk masyarakat.

Pertimbangannya cukup berat teman, saya terpaksa harus mem-PJS-kan amanah saya sebagai seorang ketua Kelompok Studi Fakultas selama dua bulan kedepan, saya pun akan mencoba berkarya dengan komunitas baru yang tentunya teramat beda dengan yang sebelumnya. Itulah tantangannya, itulah menariknya, itulah hikayat dari Bintan.
***

Bintan, Juli 2008
Ternyata benar-benar berbeda teman. Kehidupan di Kampung Kawal sungguh menakjubkan. Disini saya bertetangga dengan seorang guru yang setiap ba’da Maghrib mengajarkan Al Quran kepada belasan anak-anak kecil. Seorang diri teman. Dan selama beberapa hari semenjak kita kita tiba, saya dan teman-teman di sub unit saya tidak tergerak, berdiam diri, bingung ingin membantu apa. Hingga akhirnya salah seorang teman saya, Neni namanya, mengajak saya untuk ikut membantu sang guru ngaji tersebut.

Subhanallah, hebat sekali teman saya itu. Di saat kita semua tidak tahu harus berbuat apa dengan tetangga yang begitu spesial ini, dia memberanikan diri untuk beramal nyata. Ah, saya benar-benar malu saat itu. Maka semenjak itu, saya pun berazzam untuk menjadi guru ngaji anak-anak kecil Kampung Kawal itu. Yah, bersama Neni dan Mastori, kita bertiga akhirnya belajar banyak hal dari anak-anak itu.
**

Bintan, Agustus 2008
Selain mengajar ngaji selepas ba’da Maghrib, Sub Unit Kawal juga memiliki program lain bagi masyarakat Kampung Kawal. Yah, memang masih jauh dari apa yang disebut dengan pemberdayaan masyarakat. Apalagi jika dibandingkan dengan tema besar KKN ini, “Ekowisata Bahari”. Ah, sungguh jauh dari ideal teman. Maka, saya pun bertanya dengan teman-teman lain yang KKN-nya adalah KKD alias Kuliah Kerja Dakwah (saya menyebutnya demikian, karena KKN tersebut dipelopori oleh teman-teman aktivis dakwah kampus) tentang KKN mereka. Dan ada satu jawaban yang sangat menarik dari sana.

“Nji, KKN kita bisa dibilang berhasil klo pas nanti penarikan, warganya pada menangis karena kepergian kita, tangisan kehilangan. Begitu ‘Nji!”

Yah, tidak banyak memang yang kita lakukan untuk masyarakat Kampung Kawal. Kita hanya mencoba untuk berbaur dengan mereka, memberikan sedikit ilmu yang kita miliki, bahkan koordinator Sub Unit kita berpendapat bahwa kita ini lebih banyak “nyampah”-nya daripada kontribusinya. Hehehe, karena memang waktu dua bulan tidak akan cukup teman. Maka sekali lagi, tekad kita di Sub Unit Kawal hanya satu, “Do the best and let God do the rest”.

Epilog…
Maka benarlah kalau hasil itu merupakan buah dari proses. Proses singkat itu berbuah matang. Saat akhirnya kita harus meninggalkan Kampung Kawal benar-benar mengharu biru. Pertama saat kita berpamitan dengan para santri cilik itu. Anak-anak kecil itu menangis haru. Mereka pun memberikan kado yang teramat spesial bagi kami, guru ngaji ala kadarnya ini. Subhanallah, hati siapa yang tidak ikut menangis saat menyaksikan adik-adik itu merasa kehilangan kakak-kakaknya. Ya Allah, semoga kelak kami bisa bersua kembali dengan mereka. Kedua, saat warga desa mengadakan malam perpisahan untuk melepas kepergian kita. Bakar ikan. Senda gurau. Dan saat ternyata masing-masing dari kita kembali mendapatkan bingkisan yang begitu spesial. Subhanallah, untuk kedua kalinya saya menangis melihat betapa hebatnya mereka memuliakan tamu. Padahal seharusnya kitalah yang berbakti dan berkarya bagi mereka, hiks-hiks. Kemudian terakhir, saat kita harus berpisah dengan keluarga dimana kita menumpang hidup selama dua bulan. Ibu Mas, Pak Hasbi, Bang Ical, Kak Mei dan Zahmi (anaknya). Ya Allah, perpisahan ini sungguh menyakitkan. Delapan anak Sub Unit Kawal ini ternyata begitu disayang oleh keluarga angkatnya di Pulau Bintan ini. Sungguh, tidak banyak yang kami lakukan untuk keluarga ini. Hanya berbagi tawa, canda, dan terakhir, tangis air mata.

Dan benarlah pesan teman saya itu. KKN kami tidak kalah hebatnya dengan KKD. Inilah salah satu cara Allah mentarbiyah saya dan teman-teman saya . Kampung Kawal, telah mengajarkan saya banyak hal tentang dakwah sya’bi (dakwah di masyarakat). Dan hikayat dari Bintan, itulah buah tangan paling spektakuler yang saya dapat dari sana 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s