Penjahat dari Jogja Beraksi!!!

Berhati-hatilah klo melintas di depan terminal Depok, itulah hikmah yg dapat saya ambil dari kisah ini, saya memberinya judul “Penjahat dari Jogja Beraksi!!!”

Cerita ini berawal dari perjalanan panjang dua orang mahasiswa Gadjah Mada yg ingin bersilaturahmi ke rumah temannya di Depok. Yah, sebut saja dua orang itu Aji dan Wira (bukan nama sebenarnya)

Depok, entahlah sebelah mana, pokoknya gak jelaslah alamatnya. Wah, ini sih bakal keliling Depok, dengan niat silaturahim (insyaallah) mereka berdua memutuskan berangkat. Yah, akhirnya mereka berdua pun memantapkan semangat dan membulatkan tekad untuk mencari tuh rumah yg gak jelas alamatnya (sebenarnya sih jelas, tapi membingungkan aja)

Nah, disinilah kejahatan bermula dan berawal. Kedua mahasiswa asal Jogja itu terlalu berani berkelana tanpa persiapan, motor gak ada spion dan tanpa STNK. Hhh, ini mah nunggu ditilang aja nampaknya.

Perjalanan pun dimulai, dari Pondok Gede, trus Garuda, belok kiri ke arah At Tin, trs lewat terminal Rampung rambutan, Pasar Rebo lurus terus, Lenteng Agung, asrama PPSDMS ambil kiri, dan tibalah kami di kota satelit Depok, kotanya Pak Nurmahmudi dari partai tertentu.

“Ra, firasat gw gak enak nih, koq banyak polisi yah…”, sepanjang perjalanan Aji berkata cemas pada Wira.

Tetapi Wira pun tetap diam dan bingung, ato mungkin dia berdoa dalam hati, semoga selamat sampai tujuan, entahlah.

Yah, patokan rumah teman itu adalah simpangan Depok trus belok kiri, ikutin 06, ke arah Cibinong. Yah, kami pun terus menyusuri kota Depok yg semakin ramai dengan mall itu, ada DETOS, Giant, ITC, dll, wah pokoknya ramai deh. Dan tiba-tiba…

Tepat di depan terminal Depok, di tengah keramaian dan kemacetan, ada 2 orang mbak-mbak yang menyebrang jalan dengan semena-mena, hampir saja ditabrak oleh Aji dan Wira, untung aja motor Satria tanpa spion dan STNK itu dilengkapi dengan double disc brake, rem cakram atau apalah sehingga tabrakan itu pun dapat dihindari, cit (suara gesekan ban dengan jalan).

“Maaf-maaf”, kedua mbak-mbak itu pun meminta maaf, tapi permintaan maaf itu nampaknya menjadi semacam kode untuk memanggil polisi. Yah, tiba-tiba saja salah seorang polisi yg sedang sibuk mengatur lalu lintas itu menyempatkan diri untuk memberhentikan motor kami.

Yah, mungkin kalian sudah pada tahu apa yg selanjutnya terjadi.

Pak Polisi : “Selamat siang”

Aji & Wira : “Siang pak”

Pak Polisi : “Bisa perlihatkan surat-suratnya”

Aji : “Iya pak, tunggu sebentar”

Aji pun langsung membuka dompetnya, mengambil SIM lalu memberikannya pada pak polisi, kemudian pura-pura kaget.

Aji : “Astagfirullahalladzim, STNK saya ketinggalan pak!”

Dan selanjutnya adegan kedua pun berganti setting, kami berdua digiring ke dalam pos polisi, tempat interogasi dan negosiasi, tempat dimana proses perdamaian berlangsung, tempat dimana pak polisi suka ‘membantu’ mempercepat proses persidangan.

Wah, karena terlalu menarik, maka ijinkan saya bercerita dengan gaya dan bahasa saya.

“Gimana2, mas-nya mau sidang ato mau saya bantu?”, tanya Pak Polisi yg satunya lagi.

“Wah, gimana nih pak, saya juga bingung”. Aji dan Wira serba salah, udah pasrah, bingung dan resah, pokoknya udah gitulah.

“Gak ada STNK, 80 ribu, spion 40 ribu, jadi total semua 120 ribu, piye?”, Pak Polisi itu memberikan alternatif solusi. Sebuah penawaran yang kayaknya bakal banyak diambil oleh korban yg kena tilang, tentunya setelah negosiasi terlebih dahulu.

“Coba lihat ‘tarif’nya pak, masak segitu?”, Aji penasaran dengan daftar harga yg nampak tidak begitu bersahabat dengan dompet khas mahasiswa.

“Wah, itu ada di kantor.. di pos sini kagak ada”, jawab pak polisi, yg dari logatnya ketahuan bgt klo dia orang betawi, tapi entahlah.

“Ya udah pak, kita berdua mau mendiskusikan masalah ini dulu sebentar”, jawab Aji sambil keluar bareng Wira.

Mereka berdiskusi panjang lebar, mencari alternatif terbaik, memilih yg paling sedikit mudharatnya, karena semua alternatif yg ditawarkan pak polisi itu gak ada yang ada manfaatnya sama sekali.

Hhh, apes bgt dah pokoknya, masih penasaran dengan endingnya, apakah happy ending kayak difilm2 india, ato malah jagoannya mati. Yah, kita lanjutin lagi aja ceritanya biar gak penasaran, biar hikmah yg bisa dipetik juga gak setengah-setengah.

Back to the story…

“Ya udah pak, kita damai aja deh. Kita kan anak slank, cinta damai, piss and love”, si Aji pun nampak udah stezz menghadapi permasalahan yg rumit ini.

“Oke”, pak polisi nampak sumringah.

“Tapi kita cuma ada 50 ribu pak”, kata Aji dengan jantung berdebar, karena khawatir proses perundingan ini akan berakhir seperti di zaman Diponegoro.

Dan ternyata benar, pak polisi itu nampak shock dengan jawaban itu, kecewa berat dengan permintaan Aji itu, kayak cowok yg nembak cewek tapi ditolak gitu deh.

Hhh, pak polisi itu lalu memberikan saran ke Aji untuk meminjam duit temannya dulu, dalam hal ini si Wira, tapi sayang sekali saudara2, pak polisi itu bagai punguk merindukan bulan, kasih tak sampai, cinta bertepuk sebelah tangan, atau apalah namanya. Mau tau kenapa? Kita tanya Galileo (lho?!?)

Oke, temen2 masih punya tiga pilihan bantuan, yg pertama phone a pren, kedua ask the audience, dan ketiga fifty2 (sorry becanda).

Jadi begini saudara2, kenapa pak polisi itu harus kecewa, karena ternyata duit 50 ribu itu aja punya si Wira, jadi mo minjem ke siapa lagi, klo ke kalian aja gimana? Khalayak pembaca sekalian.

“Lah, kamu punya berapa?”, pak polisi itu nampak belum menyerah, sebuah usaha yang gigih dan pantang menyerah, luar biasa!!!

“Saya mah cuma punya sepuluh ribu pak, terus gimana dong?”, jawab Aji dengan penuh perasaan (lho?!?)

“Yaa.. gimana yah.. Hmm..”, pak polisi nampak bimbang dan ragu, coba klo dia pernah denger nasyidnya Izzis (yang vokalis utamanya juga dulu se-SMA sama Aji dan Wira, lho?!)

“Jangan bimbang ragu, tetaplah melaju, hapus bayang semu, di lubuk hatimu”

Aduh, sorry yah kalo jadi semakin aneh dan gak jelas begini ceritanya. Ato kita pake pilihan bantuan fifty2 aja yah.

a. Pak polisi itu menerima kesepakatan damai kayak di Helsinki

b. “Tidak ada kata damai, motor kalian terpaksa ditilang!!!”, kata pak polisi sambil murka

Dah yah, gak pake lama, dan emang kali ini cerita itu berakhir dengan sedih, gak kayak di lagunya April Lavigne yg happy ending, motor satria tanpa spion dan stnk itu pun terpaksa ditilang. Hikss3x.

He 3x, gak deng, becanda, gak mungkinlah polisi itu menolak rezekinya yg emang segitu tertulisnya di kitab takdir, polisi itu pun menerima tawaran Aji dan Wira.

“Bungkus!!”, katanya dengan lantang.

Tapi, karena si Aji dan Wira masih harus melanjutkan perjalanan ke rumah temannya maka masih ada satu hal lagi yang harus diurus dan dipastikan demi keamanan dan kenyamanan dalam berkendaraan nantinya.

“Pak, saya minta ‘kuitansi’nya dong”, pinta Aji (kali ini dia yang diatas angin).

“Wah, klo itu sih gak bisa ‘dek, buat barang bukti”, tolak pak polisi dengan bijaknya.

“Barang bukti… (prêt!!)”, kata Wira dalam hati.

“Lah, ntar klo ketilang lagi gimana pak? Masak kita bayar lagi? Soalnya kita masih mau jalan lagi nih pak”, Aji masih ngotot dengan kuitansi itu.

“Santai aja ‘Dek, polisi Depok konsekuen koq, beda sama yg di Jakarta, ntar klo adek ketilang lagi, bilang aja dah ketilang di depan terminal Depok, bilang dah ketilang sama Pak Heru”, jawab pak polisi itu dengan semakin bijaksana.

Dan jujur aja, inilah pernyataan yg luar biasa dari seorang polisi lalu lintas, komitmen dan konsekuen, gak sembarang polisi bisa kayak gini.

Aji dan Wira mungkin tertawa ngakak dalam hati, tapi karena menghargai Pak Heru, mereka berdua hanya tersenyum saja. Bukankah Rasulullah juga bila tertawa tidak pernah menampakkan gigi putihnya.

Yah, dan alhamdulillah memang Aji dan Wira tidak ketilang lagi, mungkin Pak Heru telah berkomunikasi dengan seluruh polisi Depok agar jangan menilang orang yang sama kedua kalinya, bisa kualat kali.

Yah, sekali lagi cerita ini tidak mengada-ada, mungkin hanya sedkit didramatisir biar seru dan lucu. Semoga aja ada hikmah yg bisa dijadikan pelajaran, siapa tau keluar pas ujian (lho?!?).

Intinya, klo mau naek kendaraan bermotor, tolong disiapkan segala surat-suratnya, STNK, SIM dan juga jangan lupa, dua kaca spion standar.

Wassalam

Jakarta, media Oktober 2007
pas ketilang juga
(reposting ^_^)

Advertisements

2 thoughts on “Penjahat dari Jogja Beraksi!!!

  1. tapi sebenarnya yg paling susah itu melawan kejahatan yg datang dari diri sendiri..
    asli! itu paling susah sedunia!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s