Cerita Jogja Kita

Tiga hari dua malam. Itu waktu yang gw alokasikan tuk silaturahim kembali ke tanah Jogja. Yah, memang cukup menyenangkan silaturahim ke Jogja sini. Hmm, hanya punya beberapa agenda memang, tapi cukup berkesanlah. Ah, meski Jogja telah berubah, suasananya tetaplah sama teman. Terlalu banyak nostalgia disana.

Hari Pertama

Jumat pagi. Kayaknya gak ada agenda apa-apa deh. Hanya mencuci baju dan ngobrol-ngobrol bareng anak2 MTop. Eh, tapi gak ding. Ternyata ada riyadho bersama teman. Riyadho yang kali ini beda. Renang. Berenang di Hotel Santika HOS Cokro. Ah, menyenangkan teman. Bareng sama Mujib, Agung Rahmanto dan Zaki. Sarapan soto ayam dulu disana, dan menikmati olahraga air ini. Ih, sayangnya memang saya belum pandai berenang (untuk tidak mengatakan gak bisa!). Bahkan disana gw nyaris tenggelam. Hohoho, gw hampir meregang nyawa di kolam sana. Fuih, menyeramkan memang olahraga yang satu ini. Hhh, untung ada si Mujib yg melihat gw kelabakan minta tolong. Ah, sudahlah, pelajaran pertama dari Jogja kita kali ini, “Belajar Berenang!”

Lalu agenda selanjutnya adalah Jumatan di maskam. Huah!!! Maskam! Siapa yang gak kenal masjid legendaris ini. Beneran deh. Ini emang tempat yang penuh nuansa spiritual plus modernitas. Subhanallah. Jumat siang di maskam. Kayaknya memang selalu menyenangkan berada di rumah Allah seperti ini. Beneran deh, pengen rasanya ada disini terus.

Tapi memang di maskam kita tidak bisa berlama-lama, kembali ke MTop dan menemukan permainan baru bernama Rubik! Ih, tinggal beberapa step lagi tuk menyempurnakan 3×3 itu. Aih, pelajaran kedua yang cukup tidak penting, Rubik!!!

Dan penutup hari pertama kayaknya memang sangat sempurna deh. Ini memang berada diluar rencana saya. Gak terjadwal teman. Yups! Malamnya diajakin Abe mabit. Hmm, lumayan sebagai pengganti LQ di Surabaya yg terpaksa gw tinggalkan lagi tuk kedua kalinya. Hiks2, parah! Fuih, untung aja ada mabit. Tausiyah dari Ust. Syatori yang subhanallah, bersua dengan orang2 shaleh yang istiqomah. Alhamdulillah. Ngobrol banyak sama Barnard, Abe n Reza Perdana, juga Pak Muchlis!! Huah!! Semuanya nostalgic bgt nih…

Hari Kedua
Sabtu pagi. Tapi jauh sebelum pagi, qt QL berjamaah dini hari ini. Subhanallah bgt deh. Dilanjutkan muhasabah. Almatsurat. Dan penutupan oleh Pak Murwantoko (dosen hebat di Perikanan nih). Yah, maka berakhirlah episode mabit ini dan beralih dengan sarapan di Gading Mas. Enak. Sejuk masih suasananya. Nasi kuning dan minum teh hangat. Alhamdulillah bgt deh ‘Jar.

Lalu masih ditempat yang sama. Bersua dengan Andri, Fuad dan dua anak dari Surabaya. Hah! Surabaya!!! Aih, menyenangkan sekali memang kota itu. Insyaallah gw balik kesana Minggu sore deh. Doakan saya teman!

Lalu agenda selanjutnya yang memang sudah direncanakan. Menghadiri Temu kader di Kridosono. Masih bareng Abe dan Dimas juga. Ada Ust. Abu Ridho, Ust. Salim A. Fillah dan Pak Murwantoko kembali. Yah, semoga bisa jadi isi ulang ruhani gw deh, karena Surabaya terlampau keras teman!!

Sabtu siang. Ada satu agenda lagi diluar rencana. Syukuran Mastori, Yosafat dan Pak Heru (THP’04) di Jambon Resto. Hahaha, kali ini gw sendiri yang dari MSP. Sisanya ada TJ, Abe, Satub, Arfian, Wawe, Rusli, Ria, Arum, Adist, ceweknya Yosafat dan temennya Pak Heru (hehehe, ada dua orang non THP juga ding). Wah, bener2 seru deh klo ngumpul bareng dan nostalgia kayak begini. Menyenangkan dan mengharukan. Ah, semoga gw bisa belajar dari masa lalu yang terlampau indah ini deh.

Dan sepulangnya dari sana, hujan deras teman! Sangat deras! Dan basah kuyuplah gw. Satria menerobos hujan. Udah lama gak hujan2an kayak gini. Dingin menggigil dan cukup menyenangkan sih memang, hehehe. Ah, maka berakhirlah episode tasyakuran ini teman. Alhamdulillah.

And my last schedulle is silaturahim ke Mabes. Bada Isya, ada Dimas, Eko and Wisnu. Sayang kurang rame dan terlampau singkat memang. Dan mendekati perpisahan tentu saja. Hhh, sebel nih! Lagi gak seneng kata-kata perpisahan nih ‘Jar. Yah, mengakhir cerita di Jogja memang selalu saja tidak menyenangkan teman! I hate it…

Hari Ketiga

Lewat sudah, tiga hari tuk selamanya. Ah, lagu ini kayaknya emang selalu pas tuk mengakhiri setiap pengalaman gw yang durasinya hanya tiga hari. Maka di hari ketiga ini, berhasil mendonorkan darah di Karanggayam sana, tapi sayangnya gw gagal mendapatkan kereta Sancaka senja teman! Gw juga masih belum mendapatkan buah tangan dan kenangan tuk Surabaya sana. Menyebalkan nih!!!!

Hhh, sudah mendekati siang teman. Semoga bisa kembali lagi ke Jogja nanti. Tentunya dengan agenda yang seharusnya lebih penting. Beyond silaturahim. Lebih dari sekedar silaturahim seharusnya ‘Jar. Ah, maka bagi yang telah membaca dan memahaminya, “Doakan saya teman!”

Jogja, 30 Mei 2010
belajar memaknai kehilangan…

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Jogja Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s