Sesama Muslim itu Bersaudara

Lain ladang lain ilalang
Lain lubuk lain ikannya

Pepatah lama yang masih terngiang jelas di ingatan. Tiap daerah punya adatnya masing-masing. Dan kita harus mentaati aturan main disana. Mari kita telaah bersama :

Pertama. Jakarta, cuek dan bebas. Selama elu gak ganggu gue, gue gak bakal ganggu elu! Keras dan berkarakter. Maka itu mungkin karakter yang dominan dalam diri saya. Yah, mungkin tidak cocok dengan orang Jogja yang eweuh pakeweuh dan serba riweuh. Tapi sebenarnya ini bukan persoalan prinsipil. Bagi yang moderat, gaya Jakarta dapat dengan mudahnya diterima dan beralkuturasi, dan itulah yang saya rasakan selama lima tahun kehidupan saya di negeri Sultan itu. Nah, tapi bagi yang kolot bin konservatif, tanpa perlu alasan apapun, memang tidak akan pernah cocok bin sreg. Itu telaah yang pertama.

Kedua. Sunda dan Jawa. Tidak jauh berbeda. Hanya tutur katanya saja, akhiran a dan o. Sisanya saya pikir sama. Tapi memang ada sejarah kelam dalam hubungan Jawa dan Sunda. Kisah tragis Gadjah Mada dan Padjajaran. Yups, pertempuran berdarah yang dengan sangat bodohnya masih menjadi tolak pikiran bagi sebagian orang. Ah, saya sangat tidak menyukai cerita masa lalu itu. Seharusnya Sunda dan Jawa itu bisa bersatu, meski memang ada beberapa hal yang berbeda. Tapi sekali lagi, sebenarnya itu tidaklah prinsipil. Sudahlah, Sunda-Jawa, case closed.

Ketiga. Melayu. Baca saja tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kalian akan menemukan jawabnya. Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas milik penulis Melayu ini kemudian akan menyempurnakan pemahaman kalian tentang adat istiadat suku Melayu. Yah, saya pun pernah berinteraksi dengan Melayu saat KKN di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dua bulan, cukup untuk saya jatuh cinta dengan mereka dan mereka jatuh cinta dengan saya. Apa buktinya? Saat perpisahan menjadi parameternya. Haru-biru suasananya. Mereka seperti saudara bagi kita karena kita sudah dianggap bagian dari keluarganya. Someday, saya akan kembali kesana, insyaallah.

Keempat adalah Banjar. Suku asli penduduk Banjarmasin. Dan baru kemarin saya berinteraksi dengan mereka. Menyenangkan. Ramah. Jujur apa adanya. Bersahabat. Ah, tipikal umum bangsa Indonesia yang memang terkenal sopan santunnya. Tapi memang butuh waktu untuk saya dapat benar-benar mencintai mereka seperti saya mencintai diri saya sendiri. Tapi ini hanya masalah waktu. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Itulah telaah terakhir saya yang begitu sederhana.

Nah, kemudian apa benang merah dari keempat bahasan saya itu. Saya berhasil menemukannya dari Sirah Nabi Muhammad SAW. Dari kisah persahabatan kaum Muhajirin dan Anshor. Seperti saya merasakan saat tinggal di Surabaya bersama Mirza Kun familly. Saya kembali menemukannya disini. Pada sosok muslim-muslim disini. Bapak supir taksi di bandara, Pak Jose, Mas Arul, Mas Rahman, Mas Annas, Mas Dani, Mas Rahman, Mas Dwi, Mas Syaiful, Mas Bayu, Mas Yudi, dan beberapa kolega di BNI Syariah Banjarmasin yang saya belum hafal namanya.

Yups, sesama muslim itu bersaudara. Mereka ibarat satu tubuh yang jika satu bagian merasa sakit, maka yang lain akan merasa sakit juga. Yah, saya mencintai kalian karena Allah. Itulah landasan cintanya.

Banjarmasin, 29 Agustus 2010
Like Sindentosca sing, ”persahabatan bagai kepompong”

12 thoughts on “Sesama Muslim itu Bersaudara

  1. Rasul mngajarkan agar kita berbahasa sesuai adat yg diajak bicara, sesuai daya tangkapnya… itu berlaku sbagai kaidah dakwah, pun sebagai bekal kita bergaul di luar sana,sebagai salah satu penentu kecerdsan sosial kita.
    kecerdasan itu yang yang akan membuat kita “pintar merasakan”, bkn “merasa pintar”. membuat kita lebih bijak dalam menentukan sikap, kesimpulan dan jastifikasi terkait dg masalh relasi kita dg org lain.org jg akan punya alasan untuk menghargai kita.
    sesama muslim adl bersaudara, pasti sebagian besar kita pernah mendengarnya, kalo tidak semuanya. krn itulah prinsip kita. tapi seberapa besar y tau maksudnya,aplagi y mnerapkannya?
    bnyak realitas dari banyak org diluarsana y berbeda2, dalam ruang,waktu dan konteks y berbeda2 pula…cinta,jujur,setia,rindu,haru,kasih..sampai benci, bohong,khianat,munafik,oportunis..dan banyak lagi.. yang tidak mengenal batas suku dan kebangsaan…

  2. eh udah di ganti tho,,nah itu br bener :)

    Jakarta jawa sunda melayu n banjar,, masih banyak yg laen tu ji.. truskan perjuangan mu anak muda.. kalo ilmunya dah nambah,, update lagi dsni.. Ditunguuuu

    • apaan yak? sy jg gak tahu bos…

      intinya sih pengendalian diri *halah*

      oiya, sekali2 kluar jogja bos, biar tw seperti apa dunia luar sbenarnya, hohoho…

  3. he…..akhirnya panji menemukan hikmah..meski begitu kita bisa mengubah karakter kita menjadi cocok dengn suku manapun nji………
    jadi tetap nggak boleh menkotak2kan…apalagi men just bahwa jawa gak cocok ma jakarta!!!

    • it just opinion bos…
      justifikasi sepihak dari berbagai sumber *jadi gak mutlak kebenarannya*
      *tp hikmahnya sebenarnya tetep aja belum ketemu bos T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s