Ramadhan Rantau Jilid II

Sabtu-Minggu. Akhir pekan pertama di bulan September. Di Banjarmasin pula. Hmm, mencoba menikmati sisi lain Banjarmasin sajalah. Dan amat sangat lengkap dengan rutinitas anak kos, anak rantau, ckckck.

Maka Sabtu-Minggu memang belum ada kegiatan rutin yang terjadwal. Kalau dulu di Jakarta, akhir pekan adalah waktunya men-charge ruhiyah, dengan mengisi mentoring di SMA 14 tercinta pada Sabtu, kemudian Minggu-nya ada tatsqif di Iqra bersama teman-teman mentor dan alumni Rohis SMA 14, maka semenjak di Surabaya dan Banjarmasin saat ini, saya kehilangan aktivitas rutin itu. Fuih, PR besar untuk dapat kembali membina dan dibina tentu saja. Insyaallah!

Yah, akhir pekan. Ramadhan rantau jilid II akan dimulai teman. Maka mari kita memulainya saja sekarang. Mencoba menikmati dua hari libur ini. Yups, dibuat menyenangkan sajalah dengan menyusuri sepanjang jalan raya utama di Kota Banjarmasin, Ahmad Yani. Widih, mantap gan! Seperti berjalan di pusat peradaban Banjar. Propinsi ini ternyata memang hanya memiliki satu jalan utama, Ahmad Yani namanya. Dan mengendarai sepeda motor di sepanjang jalan ini, seorang diri, ternyata seru juga yah. Hmm, jadi pengen ngebut lagi sama My Lovely Satria nih ^_^

Oiya, kalau Sabtu sudah ada agenda buka bersama di kantor. Maka hari ahad ini akhirnya saya memutuskan untuk berbuka di Masjid Raya Syabila Muhtadin. Hehehe, memang sudah direncanakan jauh-jauh hari teman. Yah, bahkan rencana itu hampir saja batal jika hujan sore itu tidak kunjung reda. Tapi Alhamdulillah Allah berkehendak lain, menjelang Maghrib, langit kembali cerah. Maka bergegaslah saya menuju kesana, dengan Revo milik kantor tentu saja. Yuhu!

Nah, ternyata memang seru jalan-jalan itu. Menyaksikan aktivitas ngabuburit ala Banjar. Melintasi jembatan yang melintasi sungai-sungai besar, hingga akhirnya tibalah di masjid raya. Huah!!! Megahnya! Subhanallah, benar-benar masjid kebanggan masyarakat Banjar teman!

Kemudian setelah berbuka dengan bubur khas Banjar yang nikmat sekali rasanya, kemudian Maghriban disana, saya pun meluncur kembali pulang ke peraduan. Satu rencana besar masih harus diselesaikan, belanja bahan makanan. Hohoho.

Maka jadilah saya beli telur, mie, bumbu nasi goreng, sarden, es krim, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Hmm, entah nanti diramu seperti apa, kita lihat nanti. Yah, soal rasa, lidah masih bisa dibohongi, tapi kalau soal harga, itu sudah menjadi harga mati. Hahaha, sangat prinsipil bukan? Yah, hanya bergurau. Sedikit lelucon pelepas penat.

Aih, romansa anak rantau. Lebih dari sekedar anak kos teman, karena tinggal di rum-din yang terlampau besar dengan segala fasilitasnya cukup melenakan. Hmm, maka doakan saya teman! Keep Istiqomah, everytime and everywhere =D

Banjarmasin, 8 September 2010
Jangan suka menunda pekerjaan…

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s