Sang Pencerah : Tengah Pekan yang Mencerahkan

8 September 2010. Seingat saya lima tahun silam, 8 September adalah hari yang sangat menyebalkan di dunia. Mungkin lain waktu saya akan menceritakan kisah kelam itu. Nah, sedang 8 September kali ini, adalah hari terakhir gawe sebelum akhirnya libur hari raya lima hari. Yah, tapi karena gak mudik, saya pun harus mencari berbagai aktivitas yang produktif dan menyenangkan dunia wal akhirat. Hehehe, salah satunya adalah nonton Premiere Film Sang Pencerah =D

Hmm, memang sudah saya rencanakan sejak beberapa hari silam, semenjak saya tahu kalau tanggal 8 adalah premiere-nya. Maka sebagai penonton yang bertipe perfeksionis (Janji Joni Mode On), menonton di edisi perdana adalah sensasi, sama seperti buku cetakan pertama. Tapi memang sempat ada keraguan, karena Mba Ike, senior saya di kantor menyampaikan bahwa di Banjarmasin biasanya jarang premiere langsung pada hari H. Whats?!?! Sungguh diskriminatif kalau sampai hal ini terjadi. Jawa dan luar jawa bisa menjadi berbeda nih kalau begitu. Tapi saya harus memastikan bahwa Mba Ike hanya berasumsi. Dan setelah memastikan di mbah google, ternyata XXI-Banjarmasin juga menanayangkan premiere Sang Pencerah. Yuhu! Maka gak pake lama, setelah pulang kantor, saya langsung meluncur menuju Duta Mall, the one and only mall di Banjarmasin. And the answer is, gothcha! I get the ticket! 8.30 pm! Alhamdulillah ^_^

Oiya, sedikit cerita tentang film ini. Menurut saya, ini adalah satu film terbaik jika dibandingkan dengan film-film Indonesia yang kali ini banyak didominasi oleh cerita seram dan tidak sopan. Yah, ini film tentang sejarah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia selain NU. Ormas yang konsen di bidang pendidikan dan kesehatan serta telah genap berusia satu abad. Two thumbs deh buat Hanung Bramantyo yang telah meng-create film ini. Bismillah, ekspektasi saya cukup besar terhadap kualitas film ini, maka kita lihat saja nanti teman!

Nah, kemudian setelah dari XXI, kembali saya singgah sejenak di tempat nongkrong paling menyenangkan kalau di mall. Toko buku! Gramedia pula! Huah!! Senangnyo!!! Sekali lagi, membaca itu selalu saja menyenangkan, dengan banyak membaca maka kita akan mampu menulis (tapi klo blogging kayaknya pengecualian deh, hehehe). Hmm, buku itu adalah jendela dunia teman, maka dengan membaca, kalian akan tahu banyak hal. Pokoknya seru banget deh! Berlama-lama disini sebenarnya akan sangat menyenangkan, sekaligus ngabuburit teman!

Hmm, tapi memang tidak bisa berlama-lama kali ini. Setelah first love at the first sight, saya pun tergoda untuk membeli sebuah buku karya Tere~Liye (my favourite author) yang berjudul ”daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Yups! Sudah lama tidak membaca novel setelah terakhir Dwilogi Andrea Hirata –Padang Bulan-. Aih, akan sangat menyenangkan pastinya membaca novel karya penulis spesialis kanak-kanak ini. Insyaallah akan bertemu banyak hikmah nih, doakan saja teman!

Oiya, setelah dari Gramedia, saya pun meninggalkan Duta Mall untuk kemudian meluncur menuju masjid raya! Yuhu, my second time come here! Subhanallah, masih saja menggetarkan hati. Masih saja menyimpan berjuta kerinduan saat singgah di rumah Allah ini. Masih saja merasa terketuk jiwa ini, alhamdulillah, setidaknya Allah masih menjaga hidayah yang diberikan-Nya kepada hamba. Someday, ketika akhirnya saya menemukan hikmah itu di Banjarmasin, saya akan kembali kesini, ke Masjid Raya ini, ke rumah Allah ini, insyaallah.

Nah, sembari menunggu adzan maghrib berkumandang, mari kita menjadi shaleh barang sejenak. Yah, bagi anak rantau yang tidak terlampau shaleh bagi saya, kesempatan seperti sangat jarang terjadi, maka membaca al ma’tsurat akhirnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ya Allah, perkenankan hamba untuk selalu mengingat-Mu dalam setiap hembusan nafasku ini. Perkenan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, triwulan, caturwulan, semester, tahun, dan seluruh satuan waktu ini, untuk selalu mengingat-Mu. Ijinkanlah hamba-Mu ini Ya Allah…

**

Selepas Maghrib. Selepas berbuka dengan bubur khas banjar yang paling lezat se-Banjarmasin. Masih ada satu janji yang belum tertunaikan, tilawah satu juz perhari. Yah, lima belas menit yang lebih dari cukup, hampir satu juz, insyaallah sisanya diselesaikan menjelang tidur nanti. Kali ini saya masih harus menunaikan hak tubuh, makan besar, makan malam. Hmm, makan dimana yah kali ini, membingungkan teman. Muter-muter keluar mencari makan, akhirnya kembali ke masjid ini lagi. Tadinya sempat akan makan seafood, tapi harganya terlampau mahal, hampir 30 ribu rupiah, harus ke ATM dulu kalau begitu. Dan ternyata setelah berputar mencari ATM, ketemunya di kantor wilayah BNI juga, jaraknya pun hanya beberapa meter dari masjid raya. Halah, podo wae! Dan karena saat itu tepat adzan Isya berkumandang, saya pun segera meluncur ke masjid raya dan makan Soto Ayam di depan masjid raya. Hmm, jauh lebih murah, hanya 8 ribu rupiah saja, alhamdulillah. Yah, saya memang tidak terlalu sensitif soal rasa, tapi kalau soal harga, itu bisa jadi masalah, hahaha.

Dan selepas Isya, ada kebimbangan dalam hati kecil saya. Taraweh dulu atau langsung standby di Duta Mall. Waduh! Sungguh dilematis! Apalagi ini malam terakhir taraweh! Tapi kalau sampai XXI tidak tepat pukul 20.30 WITA, saya akan melewatkan sebuah kesempurnaan dalam menonton film. Hahaha, sangat tidak penting memang, urusan duniawi dibenturkan dengan urusan akhirat. Apa kata dunia? Entahlah, tapi kalau kata saya, mari kita dapatkan keduanya, akhirnya saya hanya ikut paket taraweh delapan rakaat saja dan tepat berpamitan dengan masjid raya pada pukul 20.20 WITA. Sepuluh menit insyaallah cukup untuk tiba di kursi Studio II No C-10, insyaallah.

Tapi terlambat beberapa menit teman, yah, tak apalah, yang penting sampai dengan selamat. Dan akhirnya menyaksikan akting Lukman Sardi yang sangat berkelas, menikmati jalannya cerita yang sangat mencerahkan, dan tentu saja, menginspirasi teman! Yah, menurut saya, ini adalah Film Sang Murabbi versi Muhammadiyah. High quality film! Kali ini Hanung dengan sangat cerdas dan cermat menceritakan kisah KH. Ahmad Dahlan dalam mensyiarkan ajaran Islam di tanah Jogja. Yah, tanah Jogja! Sial, kenapa harus kota itu lagi yang kembali hadir menyapa? Benci tapi rindu. Kesal tapi cinta. Ah, semua dialog berbahasa jawa, semua latar Jogja tempo dulu dalam film itu benar-benar memainkan emosi dan perasaan saya. Saya sangat menjiwai kota itu. Saya sangat suka kota itu, budaya-nya, tradisi-nya, orang-orang-nya dan segala seluk beluk-nya. Tapi memang saya adalah saya. Jiwa saya tetap seorang Sunda. Dan gaya saya adalah seorang Jakarta. Sedang Jogja dan Jawa memang belum mendarah daging pada diri saya. Entahlah, kenapa tiba-tiba jadi sentimentil seperti ini teman? Saya sendiri juga bingung menjelaskannya.

Yah sudahlah, Muhammadiyah telah memberikan inspirasi pada tengah pekan kali ini. KH. Ahmad Dahlan telah memberikan pencerahan kepada saya untuk terus berjuang mencari hikmah kehidupan. Yah, hikmah yang nantinya akan senantiasa saya ceritakan kepada khalayak ramai. Insyaallah, semoga inilah dakwah bil qalam…

Banjarmasin, 8 September 2010
Back to Quran and Sunnah…

Advertisements

4 thoughts on “Sang Pencerah : Tengah Pekan yang Mencerahkan

    • sepakat dengan bolehngeblog ^^v

      ada juga koq film sejenis yg sayangnya belum berjodoh dengan layar lebar…

      judulnya:

      Sang Murabbi ^_^

      *recomended juga tuk ditonton…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s