Sebuah Rutinitas

Satu hari itu 24 jam, satu minggu itu 7 hari, satu bulan itu 4 minggu. Atau lebih spesifik, satu hari kerja ada 8 jam, satu minggu kerja ada lima hari, satu bulan kerja tetap ada 4 minggu. Yah, sebut saja itu sebuah rutinitas. Kegiatan rutin, terencana, sistematis dan terus saja berulang-ulang. Terkadang menyenangkan, menjemukan, menantang dan menyebalkan!

Teman, genap tiga minggu sudah saya di Banjarmasin. Menjalani hidup sebagai seorang pemuda rantau. Mencari sebongkah permata di tanah borneo sebab kalau mencari sesuap nasi sudahlah biasa teman. Yah, tidak pernah terbesit sebelumnya kalau akan berada di selatan Pulau Kalimantan ini. Dari ujung timur Pulau Jawa, kota Surabaya, menyebranglah saya ke pusat kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Atas dasar apa, SK Evaluasi Lapangan yang tepat saya terima satu bulan silam. Fuih, berjuta rasa berkecamuk dalam jiwa kala itu. Tapi satu yang pasti, akan ada hikmahnya. Yah, Allah pasti punya skenario terbaik buat saya, skenario hidup yang saat ini masih menjadi misteri terbesar dalam hidup saya!

Nah, maka akhir pekan ketiga saya di Banjarmasin masih akan membingungkan akan diisi dengan kegiatan apa. Sial, hingga detik ini saya memang belum menemukan aktivitas rutin mingguan. Aih, entah alasan apalagi yang hendak saya kemukakan perihal ini. Kalau genap sebulan belum ada jawaban, biarlah saya yang akan inisiatif bergerak (yah, memang harusnya sih saya yang memulai inisiatif serangan itu). Well, doakan saja teman agar semuanya lancar.

Kemudian evaluasi sejenak pekan ini. Bangun pagi-pagi, perjalanan rum-din menuju kantor yang berdurasi tidak sampai 10 menit dengan motor Revo (motor dinas lagi). And then work from 8 am ‘till 5 pm. Go home, and sleep (lebih tepatnya tertidur-tidak tahu bahasa inggrisnya apa) before 9 pm. Kemudian bangun pagi-pagi lagi. Dan begitulah semenjak Senin hingga Jumat. Ya Allah, terkadang saya memang menikmatinya, tetapi terkadang saya pun mempertanyakannya. Hhh, adakah khalayak pembaca yang tahu jawabannya apa? Bagaimana menyikapinya dengan arif dan bijak? Beritahulah temanmu ini segera. Agar dia tidak terjebak pada sebuah rutinitas hampa dalam hidupnya.

Like my friend says, “Yah, begitulah, mengerikan memang”, semuanya memang telah terprogram. Ada target yang harus dicapai. Dan semuanya itu telah terpatri dalam alam bawah sadar pikiran saya. Terus terngiang. Tidak terlupakan. Fuih, apakah saya bisa bertahan dalam rutinitas ini hingga pertengahan November nanti? Saat titik terang cahaya itu mulai memancarkan sinarnya. Ataukah hikmah itu akan terungkap lebih cepat mendahului kecepatan cahaya? Hmm, seperti ungkapan bijak, “Tuhan tahu, tapi menunggu”. Dan nampaknya memang saya sendiri yang akan membuktikan kebenaran pernyataan seorang teman bahwa saya berhak mendapatkan yang lebih baik! Just do the best and let God do the rest!!

Banjarmasin, 18 September 2010
Tepat di hari jadinya Ina-Chan, barakallah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s