Dalam Dekapan Ukhuwah : Banjar Version

Kalau kalian pecinta buku Islam terbitan Pro-U Media, pastilah kenal dengan Ust. Salim A. Fillah yang pandai sangat bersilat kata. Ceritanya penuh hikmah, sarat makna dan nyastra. Hmm, delicious deh buat semua kalangan, orang tua, anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja-remaji, pegawai kantoran (baik negeri maupun swasta), para wiraswasta, mahasiswa, anak sekolahan, dan terutama sih buat para blogger mania (wabil khusus saya =). Seperti buku terbarunya ini, 472 halaman dan cover hitam nan elegan (Pro-U banget deh pokoknya) :

“Dalam Dekapan Ukhuwah”
*Huah!!! Ust. Salim banget kan judulnya? Salim Mode On =)

Yups, tapi kali agak sedikit berbeda teman. Tidak seperti beberapa buku beliau sebelumnya seperti Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (NPSP), Agar Bidadari Cemburu Padamu (ABCP), Gue Never Die (GND), dan Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (SBASM) yang mengambil settingan di Jogja. Buku yang ini Banjar Version teman, karena saya insyaallah akan meng-khatam-kannya selama fase evaluasi lapangan program ODP, di BNI Syariah Banjarmasin!

Buku ini hebat. Tentang ukhuwah. Seperti yang saat ini baru saya rasakan kala sendirian di Negeri Lambung Mangkurat. Baru terasa semuanya saat telah berlalu. Saat satu persatu sahabat terbaik meninggalkan tanah Jogja. Bahkan jauh sebelumnya, saat akan hijrah dari Jakarta. Dan semakin terasa saat satu persaatu dari mereka menggenapkan dien. Sempurna. Itulah hikmah, selalu datang di akhir perkara. Yah, karena menurut saya, ”Gak seru aja kalau datangnya di awal!”

Ukhuwah itu erat. Melebihi ikatan darah. Dia diikat oleh persamaan akidah. Seperti saya yang cinta mati dengan adik saya. Maka cita-cita besar saya bersua dengan beliau di Jannah-Nya akan saya wujudkan dengan tetap istiqomah di jalan-Nya. Hmm, memang tidaklah mudah. Harus jatuh bangun menjaga shalat berjamaah, tilawah, duha dan QL! Meski terkadang, pikiran ini suka nge-heng dengan sendirinya. Mungkin karena sampai saat ini urusan transfer LQ-nya tidak kunjung usai kali yah? Hahaha, nampaknya saya tengah mencari kambing hitam. Ah, sudah jelas musuh yang nyata itu adalah iblis laknatullah, dialah pembimbing utama manusia menuju kesia-siaan. Dan pertempuran saya dengannya sampai saat ini memang masih berlangsung sengit teman! Doakan saya agar mampu hidup mulia, atau kalau pun tidak, pilihannya adalah mati syahid di jalan-Nya.

Dan ini semua ala Banjar lho! Banjarmasin punya cerita!! Seperti saat tadi pagi kalah mutlak oleh musuh yang sama di Bun Yamin Futsal. Sial! Kali ini mereka memainkan team inti. Kiper kita, Mas Hadi kebetulan tidak datang pula. Maka puaslah mereka membalaskan dendam kekalahan minggu lalu itu. Argh!!! Next week, gak boleh lagi ada kata kalah dalam kamus saya. Menang atau jadi pecundang!

Atau tentang beberapa curhat teman saya nun jauh di Jawa sana. Tentang dunia kerja yang berbeda dengan kampus. Dimana dakwah profesi di lingkungan heterogen memanglah tidak semudah di kampus yang homogen. Maka kuncinya adalah satu, tetap berdoa dan saling mengingatkan saja. Tentang kind person yang masih misterius (kalau editingnya selesai, I’ve gift for you bos =). Hmm, dan yang pasti adalah tentang silaturahim dunia maya yang masih memungkinkan untuk dilakukan. Seperti dengan rekan-rekan Fishery Football Club 2004 (Apakah kalian suka sepakbola? Hahaha, gak usah dijawablah!). Lalu dengan para blogger yang nge-link dengan blog saya. Subhanallah. Obsesi saya menjadi blogger akhirnya tercapai juga. November nanti genap tiga tahun sudah (hmm, harus ada syukurannya nih =). Dan dengan sahabat yang suka bertegur sapa di YM, milist dan FB. Keep in touch bos!

Aih, ukhuwah itu memang subhanallah. Seperti Sheila on 7 dengan Sebuah Kisah Klasik dan Kita-nya. Seperti Samson dengan Kenangan Terindah-nya. Seperti Opick feat Amanda dengan Satu Rindu-nya. Seperti Edcoustic dengan Sepotong Episode Masa Lalu-nya. Seperti McFly dengan You’ve Got a Friend-nya. Seperti Extreme dengan More than Word-nya. Dan seperti Wind on soundtrack Naruto!

Atau seperti dua telaga, sebatang pohon kurma, tanah gersang, paku & palu, batu bata menara cahaya, harmoni di ujung kata, gelora, kerinduan, sahabat untuk diberi, cinta penawar luka, tali yang kokoh dan rasa syukur untuk ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’.

Yah, seperti Salim A. Fillah awali dalam prolog-nya :

“Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah.”

Banjarmasin, 2 Oktober 2010
I love u all ‘coz Allah =D

~Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html ~

9 thoughts on “Dalam Dekapan Ukhuwah : Banjar Version

  1. sengan rasanya kaloa ada yang berbicara tentang ukhuwah, kayanya lama sekali dahga merasakanya….ga tau juga apakah dulu pernah merasakan atau tidak.hehe

    • ukhuwah itu memang membingungkan boy…

      makanya saya coba memahaminya lagi dengan baca DDU ^^v

      *menemani waktu luang juga sih lebih tepatnya, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s