Floating Market & Flower Island

Sangat tidak tepat saya pikir untuk mem-bahasa inggris-kan kedua lokasi wisata andalan kota Banjarmasin ini, Floating Market and Flower Island. Yah, Pasar Apung dan Pulau Kembang. Dua pusat perhatian turis lokal dan mancanegara ketika berkunjung ke Banjarmasin. Subhanallah, karena saya berkesempatan untuk menikmati keduanya pada minggu pagi ini, bersama Neeta, Mas Nano dan Ibu Mes-nya si Neeta. Yuhu, enjoy your trip guyz!

Sebelumnya Sabtu malam. Si Neeta memastikan bahwa besok farewell party-nya jadi, sebelum dia kembali ke tanah Jawa untuk kembali berkarir disana. Yups, dan saya memang juga sudah menjadwalkannya jauh-jauh hari. Semenjak saya mendengar Banjarmasin sebagai lokasi evaluasi lapangan, saya sudah bertekad untuk berkunjung ke pasar apung nantinya. Seperti waktu saya bertekad untuk melintasi Jembatan Suramadu ketika mendengar Surabaya sebagai lokasi OJT dan IST saya. Yeah, enjoy your life! Pasti ada banyak hikmah ketika berada jauh di tanah terasing, salah satunya adalah jalan-jalan dan backpacker ala kadarnya, hohoho.

Tetapi memang Sabtu malam itu ada sedikit kebimbangan berlebihan untuk tidak mengatakan lebay. Mau pinjam motor ke Pak Jose takut tidak diizinkan. Maka jadilah saya mencoba mengajak si Rida untuk ikut, agar nanti saya bisa menumpang motornya. Belum lagi jika besok ternyata hujan. Wah, pokoknya paranoid sekali teman. Sedangkan kenyataannya. Alhamdulillah, pagi-pagi sekali sebelum Subuh saya berhasil mendapatkan izin untuk pinjam motor, apalagi cuaca juga hanya gerimis sedikit-sedikit. Fuih, alhamdulillah banget deh pokoknya, gak habis pikir juga sih kalau-kalau skenario awal berantakan. Hahaha, memang Allah itu sesuai dengan prasangka hambanya, so possitive thingking saja teman!

Nah, ahad pagi. Masih sebelum Subuh tepatnya. Saya sudah bersiap diri untuk meluncur ke lokasi tempat janjian. SPBU dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tepat di sudut jalan. Jam lima janjiannya. Yah, dan saat adzan Subuh berkumandang, saya pun berangkat. Insyaallah Subuhan di Sabilal saja. Insyaallah masih sempatlah karena jarak antara Adzan dan Iqomah kurang lebih lima belas menit. Cukup untuk perjalanan Bun Yamin Permai II hingga Masjid Raya. Apalagi ini Subuh buta. Jalan lenggang. Sepi. Serta tenang dan menenangkan. Hmm, senangnya menikmati Sunday Morning seperti ini. Fresh banget deh pokoknya!

Dan memang tepat Iqomah berkumandang saat saya tiba di Sabilal. Subuh berjamaah, berdoa sejenak, lalu ke SPBU lokasi tempat janjian. Dan tidak pakai lama, tibalah Neeta and friend. Ada Ibu Mes-nya yang senantiasa menemani dan kali ini bersama Mas Nano yang kehadirannya tepat menggenapkan. Yaps, saya boncengan dengan Mas Nano sedang Neeta dengan Ibu. Lets go to Pasar Apung!
**

Kuin Utara. Dermaga kita tepat berada di depan Masjid Sultan Suriansyah. Masih cukup gelap suasananya. Di masjid pun masih ada beberapa orang yang berdzikir dan berdoa bada Subuh. Yah, memang kalau mau ke Pasar Apung, haruslah pagi benar. Benar-benar selepas Subuh agar dapat menikmati suasana pasarnya. Dan kehadiran kita cukup tepat. Pemilik kapal langsung menawarkan harga 150 ribu per orang untuk transportasi menuju Pasar Apung dan Pulau Kembang. Untungnya si Neeta berhasil meyakinkan paman pemilik kapal (haduh, saya lupa apa istilahnya kapal disini) untuk menurunkan tarifnya menjadi 80 ribu saja. Alhamdulillah. Maka meluncurlah segera kita menuju Pasar Apung.
**

Subhanallah. Speechless saya dibuatnya. Pasar ini benar-benar terapung teman. Mengapung di besarnya Sungai Barito yang sudah seperti laut bagi saya. Tetapi memang yang dimaksud mengapung disini adalah para penjual dan pembelinya melakukan transaksi di atas kapal masing-masing. Yah, seperti iklan RCTI OKE di masa lampau. Hmm, menggagumkan deh pokoknya. Lalu ditambah lagi saat akhirnya kita sarapan di Warung Soto Banjar ”Faisal”. Yeah! Seperti yang dialami Ust. Salim, akhirnya saya pun merasakan sensasi yang sama, sarapan Soto Banjar di Pasar Apung plus Sate Ayam dan teh hangat pula. Alhamdulillah.

Lalu speechless saya yang kedua adalah saat dimana akhirnya kita berlabuh di Pulau Kembang. Pulau yang ternyata banyak dihuni oleh kera atau monyetlah (sebenarnya ini beda atau sama sih istilahnya). Huah!!! Benar-benar mengerikan teman. Monyetnya banyak betul. Sangat banyak bahkan. Jujur, saya cukup jiper kalau-kalau terjadi Monkey Attack. Fuih, benar-benar mendebarkan. Apalagi saat akhirnya Mas Nano memimpin rombongan kita untuk menyusuri rute Pulau Kembang. Menyusuri bakau yang dihuni oleh ratusan kera-kera penghuni Pulau Kembang. Aih, cukuplah ini menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Dan alhamdulillah, kita semua selamat sentosa. Aamiin.

And the last, ziarah ke Makam Raja Banjar yang pertama menjadi agenda penutup rihlah ahad pagi ini. Yah, makam Sultan Suriansyah memang seperti makam raja-raja pada umumnya. Hmm, tetapi sejarah kerajaan Banjar masih menjadi misteri bagi saya. Lain waktu kita bahaslah. Semoga bermanfaat. Tetap semangat dan pantang menyerah! Allahuakbar!!

Banjarmasin, 10 Oktober 2010
Jalan-jalan euy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s