Berita dari Jogja

Tepat setahun silam. Akhir Oktober adalah detik-detik terakhir saya di tanah Jogja. Detik-detik yang sangat berkesan. Detik-detik yang baru saya rasakan sangat berarti, penuh makna dan penting sekali. Saat itu saya baru sadar, ”The show must go on”. Ah, meninggalkan Jogja, belum pernah terbayang akan seperti apa rasanya (lebay.com).

Yups, memang benar kebanyakan orang sering katakan. Jogja itu ngangenin. Kalau kata Ust. Salim di DDU-nya, Jogja itu hospitallity. Mengutip pernyataan Barnard di JMME-nya, ”Feels like home”. Aih, entah kenapa saat itu berat sekali meninggalkan sejuta kenangan yang terukir disana. Lima tahun teman. Cukuplah saya pikir untuk memberikan kesan yang teramat dalam. Tentang suasananya, tentang orang-orangnya, dan tentang banyak hal disana, insyaallah bermanfaat sekali teman.

Dan akhir Oktober 2010 ini Jogja kembali menyapa saya. Memanggil saya yang tengah jauh berada di Negeri Banua, Banjarmasin. Yah, Gunung Merapi meletus. Menumpahkan sebagian larva panasnya. Mengeluarkan sebagian awan panasnya. Mengingatkan seluruh warga Jogja dan sekitarnya, juga semua orang yang memiliki kenangan dengannya. Allahu Akbar! Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Merapi meletus beberapa kali. Merenggut banyak korban jiwa, termasuk Mbah Maridjan (meninggal dalam posisi sujud-semoga beliau khusnul khotimah). Itu semua berita dari Jogja, berita duka.

Teman, ingin sekali saya kembali singgah kesana, membantu semampunya. Seperti saat dulu gempa meluluhlantakan kota ini di 2006 silam. Ingin sekali berkontribusi bersama kalian saat kota ini membutuhkan bantuan. Sangat ingin sekali teman. Tapi, tapi, tapi…

Saya terkendala ruang dan waktu. Saya hanya bisa membantu ala kadarnya dari kota seberang lautan ini. Hanya bisa menyaksikan keadaan Jogja yang kelabu. Melihat sepanjang Jalan Kaliurang yang penuh kenangan itu dengan suasana suram. Mengetahui bahwa kediaman Mbah Maridjan -yang dulu pernah menjadi saksi saat dulu training, daurah atau apalah namanya itu- kini telah rata dengan abu dari Merapi. Ya Allah, hamba rindu dengan kota itu, hamba rindu dengan segala memori yang pernah tertorehkan di kota itu.

Berita dari Jogja. Entah sampai kapan Merapi akan awas dan siaga. Hanya Allah-lah yang tahu. Kita pun hanya bisa berdoa. Dalam takut dan harap. Yah, inilah takdir-Mu. Takdir terbaik-Mu. Untuk Jogja saya, Jogja kalian, Jogja kita.

Banjarmasin, 31 Oktober 2010
Saat Mentawai juga dilanda Tsunami…

6 thoughts on “Berita dari Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s