Fajar Terbenam…

9 April 1988. Saat itu saya masih berusia dua tahun, kurang dua bulan tiga hari bahkan. Masih terlampau kecil teman, dan saya pun tidak mampu mengingat apa yang tengah terjadi saat itu. Tapi saat itu nampaknya menjadi hari yang penuh kebahagiaan bagi ayah dan ibu saya. Yups, kelahiran putra keduanya, sekaligus adik pertama saya. Namanya Fajar, Fajar Arohman.

Yah, saat itulah fajar lahir di desa Maleber, Kuningan, Jawa Barat. Tanah kelahiran yang sama dengan saya. Walaupun di akta kelahiran tertulis Jakarta, namun Kuningan bagi saya dan adik saya adalah tanah air pertama. Cinta pertama. Dan tentu saja, menjadi awal mula perjalanan hidup di dunia. Saat itulah fajar pun terbit…

Seperti matahari yang senantiasa terbit dari timur dan tenggelam di barat. Maka kehidupan ini pun akan ada akhirnya. Yah, memang kita tidak akan pernah tahu kapan usainya. Tapi tugas kita adalah mempersiapkan ending terbaiknya. Harus happy ending teman! Tidak boleh berakhir dengan kekecewaan. Kesedihan. Dan penyesalan.

Ah, penyesalan. Sayangnya saat fajar harus terbenam, saya tengah berada dalam posisi penuh dengan penyesalan. Rasa sesal yang teramat dalam, yang hingga saat ini terus membayangi. Fuih, seperti saya dulu pernah berjanji untuk bercerita, maka saya pun akan menyelesaikan cerita itu. Kisah tentang fajar yang akhirnya memang harus terbenam.
**

Hari itu adalah hari ahad kesekian dalam penantian saya. Yah, saya masih menantikan berita kesembuhan adik saya yang telah lebih dari tiga bulan lamanya terbaring di ICU RS Islam Jakarta. Gulliant Bare Syndrome (GBS) nama penyakitnya. Menyerang saraf. Menyebabkan kelumpuhan. Dan tiga bulan itu terlampau lama bagi saya teman. Saat itu saya tengah berada di ujung putus asa. Sedang berada di jurang kekecewaan. Tengah terpuruk dalam ketidakpastian. Kesal! Menyesal! Seharusnya doa itu tidak boleh terputus. Seharusnya saya terus berdoa dan berharap. Tetapi entah kenapa saat itu saya seperti sudah tidak percaya lagi dengan semuanya.

Hhh, 8 Dzulhijjah 1426 H. Dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha. Saat saya sudah kembali ke tanah Jogja dan meninggalkan adik saya dalam sakitnya itu. Saat itulah Allah memberikan jawaban atas segala pertanyaan saya. Yah, ketika Ahad petang keluarga saya di Jakarta meminta saya untuk lekas pulang ke Jakarta, maka bersegeralah saya Stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta.

Bertepatan dengan 8 Januari 2006 dalam tanggalan masehi. Maka senja di Tugu kala itu sangat suram. Awannya kelabu. Seperti akan terjadi hal yang sangat tidak saya inginkan. Fajar pun terbenam tepat saat matahari tenggelam di ufuk barat. Maka meledaklah tangis saya ketika itu. Kecewa dan menyesal. Sungguh, saya sama sekali tidak menyesalkan takdir Allah itu, tetapi saya benci dengan diri saya yang saat itu tengah berputus asa dari rahmat-Nya. Saat itu dan hingga saat ini saya masih merasa bahwa sayalah yang menginginkan kepergian adik saya itu. Yah, kenapa saat itu saya malah berhenti berdoa. Kenapa saat itu saya malah seperti tidak percaya lagi kepada-Nya. Kenapa harus saat itu fajar terbenam….
**

’Jar, maafin aa yang saat itu tidak berada disisi Fajar. Maafin aa yang saat itu tidak berdoa untuk Fajar. Maafin aa karena belum menjadi kakak yang terbaik untuk Fajar. Maafin aa yang baru sadar saat semuanya sudah terlambat. Aa benar-benar minta maaf ’Jar..

Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Jadikanlah sakitnya beliau sebagai penggugur dosa-dosanya. Jadikanlah amal baiknya sebagai cahaya dalam gelap kuburnya, yang melapangkan sempit kuburnya. Ya Allah, saya mencintainya karena-Mu, tetapi Engkau lebih berhak atasnya, dan Engkau lebih mencintainya, karena itulah Engkau memanggilnya. Ya Allah, maka ijinkanlah agar kelak saya bisa bersua kembali dengannya. Berkumpul kembali dengannya di Jannah-Mu. Ya Allah, kabulkan doa-ku ini. Aamiin.

Banjarmasin, 17 November 2010
Dan cerita itu usai sudah…

One thought on “Fajar Terbenam…

  1. Pingback: Fajar Award 2011 « Panji Arohman’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s