Milad Opik ke-10

Teman, sebelumnya saya pernah bercerita panjang lebar tentang Fajar yang terbenam, adik pertama saya yang telah pergi hampir lima tahun silam. Maka mengambil momentum 29 November ini, saya ingin sekali berbagi cerita kembali tentang adik bungsu saya yang paling menggemaskan sedunia. Yah, karena dialah si bungsu di keluarga besar kami yang masih sangat lugu, lucu, dan bocah banget deh pokoknya.

Yups, cerita kali ini tentang Taufik Arohman, adik keenam saya, anak ketujuh dari keluarga Emon Arohman. Putra keenam dari Ibu Iwat Solihat. Yaps! Kita semua memanggilnya akrab dengan nama Opik 

Opik. Kalau tidak salah sekarang kelas 5 SD. 29 November 2000 adalah tanggal lahirnya. Berarti genap 10 tahun usianya. Huah! Bocah banget kan!! Selisih empat belas tahun sama saya. Ckckckc, sangat jauh perbedaan usia kami. Dengan Bangkit, kakaknya yang terdekat saja selisih empat tahun. Maka puaslah kita ngerjain tuh bocah kalau sedang berkumpul bersama. Apalagi si Opik juga agak kesulitan ngomong ’R’, hahaha, habislah dia kita kerjain bersama-sama. Saya, Agung, Gusti, Endah, Bangkit, juga kedua orang tua kami.

*Hiks-hiks, tiba-tiba sedih kalau ingat semuanya tapi tanpa kehadiran Fajar

Opik!! Opik kenal Aa Fajar kan? Waktu Aa Fajar sakit usia Opik baru sekitar lima-enam tahun. Entahlah apa yang Opik ingat tentang Aa Fajar. Tapi Opik harus tahu, harus paham, bahwa Aa Fajar tetap menjadi bagian keluarga besar kita. Yah, we are the seven magnificent ’Jar, seperti dulu di Lega Calcio berkumpul tujuh team terhebat, Milan, Inter, Juventus, Roma, Lazio, Parma dan Fiorentina. Remember that ’Pik.

Yah, usia si Opik memang baru sepuluh tahun. Tapi kehadirannya lebih dari sepuluh tahun buat saya. Apalagi sejak tahun 2004 saya sudah harus merantau ke tanah Jogja. Yups, lima tahun disana, dan hanya berinteraksi singkat dengannya. Kemudian barulah setelah saya berjodoh dengan BNI dan classical di Jakarta, saya bisa membersamainya kembali, mencoba menjadi kakak yang terbaik untuknya. Mengajarinya internetan (walau sebenarnya dia sudah bisa dengan sendirinya), mengajaknya nonton Sang Pemimpi di XXI Tamini (meski akhirnya dia malah tertidur pulas), mengantarkannya setiap hari ke sekolah (karena sekalian saya berangkat sih =), dan mendengarkan tilawah Quran-nya selepas Maghrib (kata bapak kalau si Opik gak ngaji, gak dikasih uang jajan, hahaha).

Aih, Opik-Opik. Kanak-kanak memang selalu menggemaskan. Dia selalu berkata jujur apa adanya. Tidak terbebani dengan segala pikiran orang dewasa yang rumit dan njelimet. Menikmati hidup ini dengan apa adanya. Dan tentu saja, mengajarkan kita banyak hal, utamanya tentang ketulusan.

Maafin Aa ’Pik belum bisa pulang ke Jakarta pas Opik milad besok. Aa juga pengennya sih pulang dulu barang sejenak. Tapi yah gitu deh. Insyaallah aa ngasih surprise aja deh ke Opik. Nanti aa minta tolong ke Teteh untuk mempersiapkan kejutan teramat spesial itu. And the last but not least, ”Semoga Opik menjadi anak yang shaleh, menjadi seperti Khalifah Umar bin Abdul Azis yang bijaksana . Aamiin.”

Banjarmasin, 28 November 2010
Tumben banget nih curhat. . .

2 thoughts on “Milad Opik ke-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s