My Work and My Family Part II

Lalu yang kedua, tentang keluarga. Malam Jumat itu, selepas Maghrib, sebelum menonton Duta TV bersama Om Hadi, saya sempatkan untuk berbicara dengan keluarga saya nun jauh disana. Pulau Jawa. Ibukota Negara. Tepat di wilayah timurnya, sekitar Kali Malang-Pondok Gede, alias Jatiwaringin, tepatnya Pangkalan Jati V, Rt1/5, No.38. Yah, insyaallah malam minggu saya pun akan kembali kesana.

Hmm, awalnya hanya mengirim pesan ke adik perempuan saya, Endah namanya. Hanya bertanya apakah ada mamah di dekatnya. Tapi ternyata berbalas pesan saja tidak cukup. Akhirnya saya pun meneloponnya. Berbincang dengan orang yang telah membesarkan saya dengan tetesan keringat, air mata hingga darahnya. Entah kenapa saya tiba-tiba menangis. Sial! Kerinduan yang membuncah. Tapi tidak ingin saya mendengar ibu saya cemas dan gelisah karena kesedihan saya. Maka saya coba untuk membalas dengan tawa kecil atas semua ceritanya. Tentang adik-adik saya, Agung, Gusti, Endah, Bangkit dan Opik. Huah!!! Sedih teman!! Saya ingin sekali segera tiba kesana. Kembali pulang ke peraduan. Tempat dimana saya dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta. Rumah dimana saya mengadu di kala susah. Dimana saya diajarkan untuk memahami Islam dan kehidupan. Hingga akhirnya saya paham bahwa menjadi kakak itu amanah yang tidak mudah. Meski sayang, saya baru menyadarinya saat Fajar itu telah terbenam.

Berbicara dengan Opik, Bangkit, Endah, Gusti dan Bapak. Semuanya teramat menyenangkan. Saya teramat kangen dan rindu dengan mereka semua. Ingin sekali bertemu. Sayang si Agung masih di Jogja. Dan lebih sayang lagi, karena Fajar telah terbenam. Huah!!! Saya ingin sekali kita bisa full team lagi, the seven magnificent! Ya Allah, semoga kelak Engkau mempertemukan kami semua di Jannah-Mu. Aamiin.

Yeah, my family. You’re my best I ever had. Maka ketika akhirnya nanti saya mengikuti Sunnah Sang Pembawa Risalah, Nabi Muhammad SAW. Salah satu syaratnya adalah bersedia untuk menjadi kakak bagi adik-adik saya. Menerima kami apa adanya. Keluarga besar Emon Arohman dengan enam putra dan satu putrinya. Dan saya adalah anak pertamanya. Ah, tapi kayaknya benar-benar seperti Kak Laisa dalam B2S. Janji saya untuk tidak akan menenggelamkan fajar kedua kalinya. Insyaallah.

Banjarmasin, 21 Januari 2011
Beberapa jam menjelang ke Jakarta…

2 thoughts on “My Work and My Family Part II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s