My Work and My Family

Hari ini Jumat. Sehari menjelang keberangkatan ke ibukota. Yah, hari kamis yang terlewati kemaren menyisakan banyak makna. Banyak kisah yang teramat sayang untuk tidak diceritakan tentang tantangan pekerjaan dan tentu saja tentang keluarga. Yups, kali ini tentang my work and my family!

Pertama tentang pekerjaan. Dahulu sekali waktu saya masih teramat kecil. Saat SD, saat ditanya apa cita-cita saya, saya akan menjawab mau menjadi professor. Yah, persepsi saya adalah professor adalah penemu, dan saya sangat terobsesi untuk bisa menciptakan mesin waktu. Hahaha, bener-bener terdoktrin oleh mesin waktunya milik Doraemon. Dan benar-benar sebuah cita-cita masa kecil yang absurd.

Oiya, setelah saya mulai memahami bahwa menemukan mesin waktu itu adalah hal yang mustahil (karena waktu kan tidak bisa kembali), saya tidak memiliki cita-cita yang menjadi jalan hidup saya. Kemudian seiring berjalannya waktu, sekitar SMA, saya mulai menemukan ketertarikan kembali akan sebuah cita-cita. Yah, saya ingin sekali menjadi ahli IT, jadi hacker-lah, jadi programmer lah, pokoknya jadi ahli computer gitu deh. Dan karena itulah saat UM UGM dan SPMB, saya memilih ilmu komputer, meski sialnya, saya tidak berjodoh dengan jalan menuju impian saya itu. Hahaha, benar-benar obsesi yang sebenarnya masih ingin saya wujudkan teman!

Lalu saat akhirnya kuliah. Dan karena saya kuliah di Perikanan dan Kelautan UGM, cita-cita saya pun berubah. Saya ingin menjadi dosen, menjadi guru yang mengajarkan ilmunya. Mulia bukan? Dosen yang nantinya juga punya bisnis. Begitu cita-cita ideal saya. Namun ketika memasuki tahun-tahun terakkhir perkuliahan, jalan menuju cita-cita itu belum terintis secara sempurna (untuk tidak mengatakan tidak ada jalan sama sekali). Bahkan hingga akhirnya menunggu waktu wisuda (setelah ujian skripsi tepatnya), cita-cita saya hanya satu, saya harus bekerja, entah berwiraswasta atau berkarya di Departemen Perikanan dan Kelautan, alias menjadi PNS!

Selain itu, setiap ada lowongan pekerjaan yang memungkinkan untuk saya coba, saya juga mencobanya. Mulai dari BRI, Sanbe Farma hingga Nestle saya coba. Dan ketiganya sama sekali belum berjodoh dengan saya. Yah, hitung-hitung nunggu waktu wisuda dengan pengalaman yang cukup berharga sebagai joob seeker. Nah, baru pada percobaan yang keempat, ODP BNI 2009! Nampaknya disanalah jodoh saya. Menjadi seorang banker, dan alhamdulillah sekarang di BJS. Yupi! Itulah sejarah panjang pekerjaan saya. Tidak pernah ada rencananya bukan? Oiya, mungkin doa ayah saya kali yah? Beliau kan bagian akuntan di kantornya, dan ingin sekali anaknya ada yang melanjutkan ilmu ekonominya itu. Dan sim salabim adakadabra, saya akhirnya menjadi praktisi di dunia perbankan syariah. Hmm, sedikit nyerempet impian ayah saya, hehehe.

Oiya, singkat saja, tentang tantangan seorang analis hari ini. Usaha penambangan batubaru menjadi PR besar untuk saya pahami dan pelajari dengan segera. Cepat dan tidak pakai lama. Sebab jika tongkang dan dump truk ini terealisasi. Hmm, 2,25 plus 4,5 atau sekitar 6,75 (kurang 450 dari target dua bulan) akan tercapai. Yah, jadi insyaallah bisa membantu untuk pekerjaan puluhan hingga ratusan orang. Dan insyaallah bisa mengambil cuti di akhir Februari nanti. Insyaallah! Ayo teman kita pelajari kembali semua itu! Oiya, satu lagi, tentang plafon atau waad, nampaknya harus ditelaah kembali deh. Yah, meski saat ini belum saya temukan kasus terdahulunya, tapi suatu waktu saya harus mencobanya, learning by doing adalah metode terbaik untuk belajar!

Hmm, mungkin itu tentang pekerjaan saya. Dan tentang BJS, malam itu saat ada Dialog Perbankan Syariah di Duta TV dengan narasumber dari BI Kalsel, BJS (dhi. BM) dan B*I Syariah, saya dan security di BJS, Om Hadi memang sengaja menonton. Dan sengaja pula saya bilang ke Om Hadi untuk menelepon dan bertanya serta tidak lupa promosi tentang BJS. Dan hasilnya adalah, Om Hadi berhasil bertanya di siaran langsung tersebut.

”Maaf Pak, saya sudah lama menjadi nasabah BJS, dan kemaren melihat ada promo Griya. Nah, terus ada tentang take over itu bagaimana yah? Berapa tahun bisanya? Terakhir, salam sukses buat BJS 

Hahahaha. Asli! Saya tertawa ngakak dibuatnya. Wkkwkwk. Dan BM saya itu ternyata mampu bersikap cool di layar televisi (meski pastinya beliau sudah menduga, karena memang semuanya sudah diintruksikan dan direkayasa, hohoho). Yah, pembawa acara dan Bos BI hanya tersenyum, sedang B*I Syariah pasti cukup merasa bagaimana gituh. Nice job lah untuk Om Hadi! Ah, malam itu sungguh terhibur saya dengan teori konspirasi dari BJS. Luar biasa. Spektakuler (sayang hari Jumat tidak ada morning briefing, hahaha).

To be continued…

2 thoughts on “My Work and My Family

    • insyallah…
      alhamdulillah sudah lulus dari BNI Banking School, lanjut ke iBNI Banking School and skarang resmi jd analis di BJS, doakan saya teman =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s