Kebaikan yang Berbalas

Teman, kali ini saya ingin bercerita tentang cerita seorang teman sewaktu kuliah di Jogja dulu. Kisah beliau sungguh menarik. Mencintai dalam diam. Mengagumi dalam hening. Menjaga cintanya dalam sepi. Seperti Pemuja Rahasia-nya Sheila on Seven :

“Ku awali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia disana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh, sebelum kau meninggalkanku lebih jauh..

you'll never walk alone

you'll never walk alone

Akulah orang yang selalu menaruh bunga dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
Akulah orang yang akan selalu mengawasimu, menikmati indahmu, dari sisi gelapku
Dan biarkan aku jadi pemujamu, jangan pernah hiraukan, perasaan hatiku..’

Jogja. Teman saya itu dari dari kota. Dan sahabatnya berasal dari daerah. Bisa seberang pulau, bisa juga masih di Pulau Jawa. Tidak terlampau penting masalah itu. Keduanya sama-sama kuliah di Universitas yang sama. Bisa satu fakultas, bisa juga satu rumpun keilmuan. Masalah itu pun masih tidak terlampau penting. Satu semester pertama, jelas tidak kenal. Baru di semester kedua, karena mungkin kesamaan visi dan misi, keduanya tergabung dalam sebuah komunitas yang mayoritas telah ditransfer dari daerah asalnya. Ah, kalau kalian bingung, saya sendiri pun sebenarnya bingung akan penuturan teman saya itu.

Di tahun kedua-keempat (semester tiga hingga delapan). Keduanya tetap istiqomah dalam menebarkan kebaikan. Meskipun berbeda ranah, visi yang diemban keduanya tetaplah sama, hanya mengharap ridho-Nya, insyaallah. Interaksi diantara mereka berdua, saya pikir biasa saja. Tidak ada masalah. Bahkan dalam kacamata orang awam, tergolong aneh mungkin. Aih, saya sendiri sulit menjelaskannya. Tapi itulah realitanya, mereka berdua tergabung dalam komunitas yang istiqomah dalam menjaga nilai-nilai kebaikan.

Lalu di tahun kelima (dua semester tambahan), teman saya itu lulus kuliah terlebih dahulu. Selepas wisuda, tidak beberapa lama, dia harus kembali ke kotanya. Berkarya di dunia kerja yang telah menantinya. Sedang sahabatnya, sepengetahuan saya sih masih di Jogja. Wisuda tidak lama setelah teman saya itu. Tidak langsung kembali ke daerahnya, karena masih ada amanah yang harus diselesaikannya.

Lalu berakhirkah kisah mereka. Ternyata tidak. Weting trisno jalanan suko kulino. Kalau tidak salah sih peribahasanya seperti itu. Mungkin lima tahun interaksi saya dengan mereka berdua yah biasa-biasa saja. Semuanya berjalan normal dan apa adanya. Jauh dari kontroversi dan isu negatif. Terkadang sulit untuk saya pahami jalannya cerita itu. Jauh berada di luar logika saya. Misterius dan penuh dengan tanda tanya.

Tapi memang ada satu hal yang saya pahami dari ceritanya itu. Beliau mencari momentum untuk mengatakan cintanya dengan teramat sempurna. Dan sembari itu, beliau memang terus memperbaiki dirinya, selalu saja terlihat lebih baik dari yang kemaren. Subhanallah. Dan ketika saatnya telah tiba, beliau sampaikan semua perasaannya itu tidak langsung kepada sahabat cintanya. Bukan tidak berani, bukan. Bukan juga tidak gentle, bukan. Namun dia ingin menjaga hatinya. Dan bukanlah suatu masalah saya pikir ketika teman saya itu menyebutkan nama sahabat cintanya kepada salah seorang kepercayaannya. Saya sendiri menyaksikan bahwa hubungan keduanya memang terjaga. Tidak ada fitnah disana. Teman saya itu ikhwan yang baik, sedang si akhwat memanglah akhwat yang shalehah.

Allahu Akbar! Allah memang selalu menepati janji-Nya. Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Bak gayung bersambut. Keduanya memang berjodoh. Subhanallah. Terharu saya ketika mendengar ceritanya itu. Sangat menginspirasi.

Aih-aih. How could be? Terkadang saya bertanya dalam hati. Orang-orang shaleh itu memang sangat hebat. Mereka itu benar-bener beriman, berislam dan ihsan dalam kehidupannya. Seluruh teman-teman di kampus, di tempat mereka kos dan di daearah asal mereka tinggal, mengenal mereka karena kebaikan amalnya. Memang benar, segala kebaikan hanya akan berbalas dengan kebaikan juga. Maka berbuat baiklah, niscaya engkau menuai apa yang telah engkau tanam…

Banjarmasin, 20 Februari 2011
Teruntuk mereka yang telah berani mengambil keputusan besar itu ^-^

Advertisements

33 thoughts on “Kebaikan yang Berbalas

  1. seolah cerita ini ane yang menceritakannya untuk menggambarkan diri elu, Ji. :) tapi kadang ane jd berpikir betapa hebatnya elo memasukkan karakter orang ketiga dalam hal ini padahal orang ketiga itu gak ada dan pemeran utamanya adalah elo.. :) Ah, namanya juga pirasat pake pe.

    • look at the picture ‘Be, disana ada Budiyanto, Grandis, Cah Syamsi, Roni, Rezalino dan Edi…
      *bisa jadi gw terinspirasi dari salah satu diantara mereka, ato malah dari elo, hehehe =D Ah, namanya juga cerita, bisa fakta atau fiksi.

    • hahaha, it’s my story style =D
      dan akan terus berlanjut ’till…
      *ah, gak tahulah, ‘coz my blog is endless story ^-^

    • Oiya, that I mean, hehehe, makasih udah ngeralat =D
      *hahaha, kayak cerita serem aja pake merinding. Salam kenal juga bos =D

    • wah, buat novel masih jadi obsesi sy bos! doakan aja dari blog ini akan jadi buku yg menginspirasi banyak orang ‘tuk berbuat baik =D
      *apalagi klo sampe di-film-in, sy sepakat banget tuh bos n_n

  2. ah..sayang pak, udah lulus sensor deh kayaknya..
    jadi gak bisa disebutin yang *tiiiittt*..
    Insya Allah, pak panji udah paham lah tentang *tiiittt* itu

    tuh kan, disensor…
    yahh…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s