Obituari : Ustadz Choesnoel Djohari

Orang-orang baik selalu dipanggil Allah terlebih dahulu. Kenapa?

Saya selalu bertanya-tanya, kenapa orang-orang yang baik selalu dipanggil Allah terlebih dahulu. Pertanyaan yang sama. Berulang-ulang. Mempertanyakan. Kenapa?

“Allah menyayangi mereka. Allah mencintai mereka. Allah menggugurkan dosa-dosa mereka melalui sakitnya. Allah hendak mensucikan mereka terlebih dahulu sebelum bertemu. Dan ketika Allah memanggil mereka, itulah tanda cinta-Nya”

Ustadz Choesnoel Djohari. Pak Choesnoel. Begitu orang-orang banyak mengenalnya. Pertemuan saya dengan beliau pun berlangsung sederhana dan apa adanya. Hubungan antara bank dan nasabah. Dan beliau adalah salah satu nasabah intim di BNI Syariah Banjarmasin. Maka tanyakan saja kepada sebagian besar pegawai BNI Syariah, hampir sebagian besar pasti mengenal sosok yang terkenal ramah dan bersahabat ini. Pak Choesnoel, yah, hingga akhirnya pun saya mengenalnya. Owner dari Adil Jaya Mandiri, salah satu perusahaan komputer di Banjarmasin. Pengusaha. Pebisnis. Dan ternyata lebih dari itu teman.

Entah kapan tepatnya, sepertinya saat ada acara di DPW, saya kembali bertemu dengan Pak Choesnoel. Subhanallah, ternyata beliau ikhwah. Tapi saya tidak hendak menyapanya saat itu. Jikalau bisa biarkan saya saja yang mengetahui bahwa beliau ternyata ikhwah, tidak perlu mengetahui bahwa saya juga ternyata ikhwah. Subhanallah. Maka diam-diam saya pun semakin salut dan bangga dengannya. Apalagi ketika mengerjakan proyek SDIT Robbani, mau tidak mau saya pun harus menghubungi Pak Choesnoel. Karena apa? Karena beliau ternyata adalah Ketua Yayasan Ukhuwah Banjarmasin. Yayasan yang menaungi SDIT Ukhuwah, salah satu SD favorit dan unggulan di Banjarmasin. Subhanallah. Beginilah seharusnya ikhwah, memberikan banyak manfaat bagi sesama.

Orang-orang baik selalu dipanggil Allah terlebih dahulu.

Beberapa minggu dari hari ini, saya memang mendengar kabar bahwa Pak Choesnoel sakit. Tapi saya menganggapnya sederhana. Mungkin hanya sakit biasa. Beberapa hari nanti juga sembuh. Sederhana pikir saya waktu itu. Namun ternyata, sakitnya beliau tidak semakin berkurang, semakin lama ternyata. Dan saya hanya bisa berbaik sangka, mungkin Allah hendak menggugurkan dosa-dosanya. Bukankah sakit itu juga bagian dari nikmat-Nya? Begitulah nasehat yang saya ingat dari salah seorang teman saya.

Saat itu sebenarnya saya ingin sekali membesuk Pak Choesnoel. Beliau adalah saudara saya, dan sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk membesuk saudaranya yang sedang sakit. Namun saat itu saya masih belum berkesempatan. Dan saya hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya. Baru kemudian di hari Rabu tanggal 17 Agustus 2011, selepas dari acara di Masjid Sabillal Muhtadin, saya berkesempatan untuk datang membesuknya di RS Bhayangkara.

Sepi. Saat itu sepi. Ternyata sakitnya lebih dari yang saya bayangkan. Pak Choesnoel hanya terbaring lemah saat itu. Tidak ada lagi keceriaan yang biasanya selalu beliau hadirkan di setiap perbincangannya dengan saya. Speechless. Saat itu saya pun sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa berdoa. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosa beliau dengan sakitnya ini. Semoga diberi kesembuhan agar dapat beraktivitas seperti dulu kala. Dan pertemuan sore itu, ternyata kelak akan menjadi pertemuan terakhir dengannya…

Orang-orang baik selalu dipanggil Allah terlebih dahulu.

Kamis. 18 Agustus. Malam-malam saya mendapatkan pesan dari guru mengaji saya. Mohon doa untuk kesembuhan Pak Choesnoel yang kondisinya semakin kritis. Saat ini bahkan beliau berada di Ruang ICU RS PLC Surabaya karena sakitnya ternyata semakin parah. Maka malam itu semakin tidak menyenangkan bagi saya. Cemas. Gelisah. Hanya bisa berdoa. Ya Allah, sembuhkanlah beliau…

Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun. Telah berpulang ke rahmatullah, Ustadz Choesnoel Djohari. Mohon doanya, semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan beliau, serta mengampuni segala dosa-dosa beliau. Semoga khusnul khatimah.
Dan Allah tahu yang terbaik bagi hambanya. Malam itu ternyata Allah memanggilnya. Allah lebih mencintainya. 18 Ramadhan 1432 H. Saya telah kehilangan sosok seorang da’i yang luar biasa. Lebih dari sekedar saudara. Ya Allah, kenapa orang-orang baik selalu pergi terlebih dahulu?

Maka akan selalu saya ingat senyum ramahnya. Sikap bersahabatnya. Maka akan selalu saya ingat semua perbincangan dengannya, di kantornya (mungkin ini pertama kali saya bersua dengannya), di ruang operasional lantai 2 (saat akhirnya saya tahu bahwa beliau memang sangat ramah), di DPW (saat saya menyadari kalau ternyata beliau bukan sekedar pengusaha biasa), dan di ruangan prima lantai 1 (yang ternyata menjadi diskusi terakhir dengan beliau).

Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, lapangkanlah kuburnya di kala sempit, terangilah kuburnya di kala gelap, jadikan sakitnya sebagai penggugur dosa-dosanya, jadikanlah amal ibadahnya sebagai saksi perjuangannya, dan pertemukanlah beliau dengan adik hamba di Jannah-Mu kelak. Aamiin.

Banjarmasin, 19 Ramadhan 1432 H
Yang menjadi da’i sebelum yang lainnya…

3 thoughts on “Obituari : Ustadz Choesnoel Djohari

  1. Innalillahi wa innalillaihi ro ji’un . . . selamat jalan teman, sobat, saudara, al ustadz H. Choesnoel Djohari, smg Allah SWT mengampuni sgl dosamu dan menerima sgl amal ibadahmu krn engkau telah mengisi hidupmu dgn byk manfaat bg byk kalangan dan smg keluarga yg engkau tinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan menjalani hidup tanpamu, tp keluargamu adlh keluarga yg benar2 hanya bergantung pd Allah SWT, aq yakin mereka sdh ikhlas menerima dan menjalani kehendakNya. Amin3X YRA . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s