IRMAS : Datang, Bertanding dan Menang

Berbicara tentang turnamen ini akan menjadi sangat menarik teman. Turnamen antar kampung yang spektakuler di jamannya. Klo gak salah under 15. Dan yg uniknya, turnamen ini juga dibatasi oleh tinggi badan. Hohoho, baru kali ini saya menemukan persyaratan semacam ini. Tapi menariklah, the one and only mungkin =D

Oiya, gw lupa berapa jumlah team yg berpartisipasi. Tapi yang jelas, ada fase penyisihan grup, dimana kita memainkan tiga pertandingan, untuk selanjutnya lolos ke perempatfinal or semifinal (gw masih lupa).Penyisihan grup yang menegangkan. Seinget gw, kita dua kali menang 2-1 dan sekali imbang 2-2. Very simple match. Klo gak salah sih tujuh lawan tujuh. Lapangan besar. Tanah plus rumput sebagian. Lokasinya tepat berada dibawah jembatan cawang, sebelah gedung nadya klo gak salah. Buat team kita yg berdomisili di Kalimalang, maka lokasi pertandingan ini jelas cukup jauh. Apalagi untuk team kampung sekelas IRMAS. Maka untuk sekedar datang saja sudah perjuangan banget, apalagi ampe bertanding untuk memenangkan pertandingan. Inilah yang gw bilang perjuangan ala IRMAS.

Yups. Kalimalang-Cawang. Untuk bocah2 seusia kita, rombongan, paling enak emang klo naik mobil bak terbuka. Tapi gak selamanya kendaraan semacam itu disediakan oleh manajemen. Secara, kita kan team amatir, baru terbentuk beberapa hari menjelang turnamen. Maka mau gak mau klo gak ada fasilitas, kita pun akhirnya BM! Nyetop and nebeng mobil bak terbuka yang lewat. Parah. Klo gw mikir2 lagi, seru banget emang pas jaman bocah. Menerjang ombak. Mendaki gunung. Melewati lembah. Dan kita bisa melewati itu semua. Yah, kayaknya bener kata si Mahmud DLK, modal ngelawan badai emang cuma dua, keyakinan dan cinta. Hmm, klo anak2 IRMAS, cintanya yah jelas ama bola, hahaha.

Maka gw masih samar2 ingat pas pulang bertanding, kita jalan, nyetop mobil, nebeng lagi, jalan, BM. Sampe akhirnya sampai juga di Pangkalan. Hahaha. Mantap jaya! Heroik banget teman!! Klo dibuat film, Tendangan Dari Langit mah kalah bos, hahaha. Hasil akhir emang sebanding dengan proses. Proses panjang yang kita lalui akhirnya mengantarkan kita ke final. Di perempat final and semifinal kita pun menang dengan skor tipis 2-1. Jadilah julukan kita adalah team 21, karena selalu unggul hebat 2-1. Keren abis dab!

And finally. Pertandingan final pun berlangsung sore hari. Gw lupa sabtu apa minggu. Final tarkam pertama gw! Gak bakal gw lupakan and bakalan terus gw inget. Menjadi pemain inti di sepanjang turnamen. Meski hanya sebatas pemain belakang. Hahaha. Asumsi yang aneh memang. Jaman dulu itu, klo gak jago2 banget, pasti dia jadi bek. Dan waktu gw kecil, gw adalah korban dari asumsi tersebut. Jahat memang. Tapi kejahatan itulah yang akhirnya memotivasi gw, klo pemain yang hebat itu harus bisa bermain di segala posisi. Kiper, bek, sayap, playmaker hingga striker. Oke, balik lagi ke pertandingan final tersebut. Satu hal gw sesali, gw lupa nomor punggung gw berapa. Hahaha. Tapi gak penting, karena pertandingan final itu…

Kembali gw lupa pastinya berapa. 0-0. 1-1. 2-2. Hadeh. Lupa blash. Tapi seinget gw sih imbang. Eh apa menang 2-1 lagi yah? Hadeh. Lupa banget gw. Yang jelas pertandingan finalnya rame banget dah! Paling rame dari semua pertandingan yang ada. Inilah sensasi yang hanya bisa dirasakan oleh para pemain. Bukan menjadi tontonan teman. Bukan. Bagi anak2 muda seusia gw saat itu, ini adalah perjuangan, ini adalah ikhtiar, dan hasil akhir, jelas akan tergantung pada proses. Proses yang baik, endingnya pun akan baik. Dan memang tidak ada yg sempurna dalam sebuah proses, tugas kita hanya melakukan yang terbaik, just do the best and let God do the rest. Dan alhamdulillah, ending-nya sangat indah. Kita kembali menang, We Are The Champion. Jadi juara I teman!! Asli, senang banget gw waktu itu, inilah kemenangan jamaah, jamaah anak2 muda yang berjuang untuk menang, datang, bertanding dan menang!

Yah, gw juga gak tahu kenapa akhirnya gw posting nih tulisan, tapi gw dari dulu emang udah mau posting nih tulisan. Dan mungkin karena saat ini momennya cukup tepat. Salah satunya karena gw habis baca Sebelas Patriotnya Andrea Hirata. Yups! Sepakbola benar menjadi perjuangan membela tanah air. Tapi klo gw harus bisa lebih dari itu, sepakbola gw harus bernilai ibadah, entah bagaimana caranya. Hmm, begitulah cerita gw bersama IRMAS, Ikatan Remaja Masjid Jami As Sa’adah. Interaksi pertama gw dengan sebuah institusi yang keagamaan dalam bingkai olahraga, sepakbola. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahuakbar!

Jakarta, 17 September 2011
Semoga bisa kembali menjadi pemenang ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s