#Catatan 1 : Bumi Tuntung Pandang

Hari ini Jumat. Hari kedua belas di bulan Oktober. Lama sudah saya tidak bercerita panjang lebar disini. Kesenangan saya ‘tuk bertutur lewat kata-kata nyaris hilang karena alasan sibuk oleh berbagai aktivitas. Sebenarnya bisa saja bagi saya untuk meluangkan waktu barang sejenak, menjelang tidurkah, atau selepas Subuh, tapi entahlah, rasa kantuk-lelah, selalu berhasil mengkandaskan keinginan saya ‘tuk bercerita lewat tulisan. Hehehe, payah.

Tapi Jumat ini mungkin agak sedikit berbeda teman. Sepertinya sayang sekali kalau saya kembali melewatkan kesempatan ‘tuk bercerita barang sejenak. Apalagi hari ini perjalanan saya banyak dihabiskan di sebuah kota yang terkenal langgeng dan lancar jaya (setidaknya itulah arti dari julukan kota yang saya kunjungi itu). Yups, episode Jumat ini saya dan beberapa teman sekantor meluangkan waktunya ‘tuk silaturahim ke kota Pelaihari, ibukota dari Kabupaten Tanah Laut, sebuah kota sederhana di Kalimantan Selatan.

Perjalanan ini awalnya bermula dari rencana unit COR (Collection & Remedial) ‘tuk mengunjungi salah satu nasabah intinya. Dan kebetulan juga unit Pemasaran (Pembiayaan Produktif) berencana ‘tuk silaturahim ke daerah yang sama. COR menuju kota Pelaihari dan Pemasaran menuju daerah Bati-Bati, salah satu kecamatannya. Maka meluncurlah koalisi tersebut with the fastest driver, Om Dwi. Thank’s God it’s Friday, mungkin seperti itulah kami semua bergumam dalam hati.

Nah, sebelum kami menuju dua TKP tersebut, kami singgah sebentar ke BJB Office, ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan disana. Ah, BJB Office, gedung barunya sungguh megah teman. Tiga lantai yang menggetarkan hati. Desaign-nya sesuai SOP terbaru kantor pusat. Cat barunya terlihat cerah. Ruangannya pun lapang dan menenteramkan jiwa. Para personilnya pun lulusan BJS Office yang sudah familier dengan saya. Menyenangkan sekali suasana disana sebenarnya. Tapi sayangnya saya tidak bisa berlama-lama disana. Masih ada lokasi yang harus dikunjungi. Jadi setelah berpamitan dengan seluruh crew disana, meluncurlah kami segera, ke Bumi Tuntung Pandang.

Bumi Tuntung Pandang. Itulah julukannya. Tuntung Pandang sendiri adalah bahasa Banjar, yang kalau saya artikan secara sederhana, berarti selesai urusan, langgeng dan lancar jaya. Mungkin filosofinya adalah masyarakat disana memang terkenal tuntas dalam bekerja, tenang dalam kehidupan, hingga akhir masa. Saya pribadi berharap menjadi pribadi yang juga tuntung pandang (dengan segala definisi sederhananya yang saya pahami). Tuntung segala urusan di kantor, dalam rumah tangga dan juga amanah lainnya.

Maka doakan saya teman. Semoga bisa terus berbagi hikmah dan makna melalui dunia kata-kata ini. Sebab apa? Sebab terlalu banyak hikmah yang teramat sayang untuk tidak diceritakan.

Pelaihari, 12 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s