OTS : Banjarmasin-Balikpapan-Penajam

Senin 16 September, pada saat rapat unit, tercetuslah ide untuk OTS ke Balikpapan. Awalnya yang akan berangkat adalah Bu Ina dan Mb Ika, tp karena nama pertama masih jetleg, ybs pun digantikan dengan Pak Bos dan saya. Singkat cerita, fix-lah selasanya kita berangkat ke Balikpapan, balik lagi ke Banjarnya hari Rabu. Sebenernya pusing juga sih, tp ada baiknya kita nikmati saja perjalanan itu, kapan lagi coba bisa ke Balikpapan for FREE, hehehe.

Selasa 17 September, selepas morning briefing kita bertiga langsung meluncur ke Syamsudin Noor, bandara utamanya Provinsi Kalsel. Klo gak salah pesawat Wings-nya terbang jam 10-an, jadi sempetlah tuk sarapan dikit di lounge. Nah, tp berhubung gak bisa cek-in di lounge, kami pun cek-in dulu di luar. Alhasil, saya hanya sempat sarapan beberapa suap nasi saja karena ternyata pesawatnya sangat ontime, luar biasa. Oiya, pesawatnya ternyata kecil mungil dan ada baling-balingnya di deket sayap, AC-nya juga sangat kurang terasa, untuk tidak mengatakan panas banget. Tapi karena pada dasarnya saya ini orangnya mudah tertidur kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun, maka satu jam perjalanan udara tersebut saya habiskan dengan tertidur, alhamdulillah, bangun2 udah sampai di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan dengan selamat, disambut gerimis hujan pula.

Di bandara, ternyata nasabahnya udah standby ngejemput. Subhanallah, mengunjungi kota baru ternyata sangat menyenangkan teman. Sebenarnya akan lebih bagus klo kita foto2 dulu, tp karena misi utamanya adalah melihat usaha nasabah, foto2 terpaksa saya pending dulu, hehehe. Dari bandara, kita langsung meluncur ke Pelabuhan, oow, perasaan mulai gak enak. Dan benar adanya, kita pun naik speed boat menyebrang dari Balikpapan ke Penajam Paser Utara (kurang lebih setengah jam kami terombang-ambing di lautan).

Dari sana, kembali kita berganti kendaraan. Kali ini Hi-Lux double kabin menjadi sarana transportasinya. Info dari nasabahnya, sekitar 2-3 jam kita akan sampai di lokasi usahanya, tambang batu gunung. Hahaha, melesat jauh dari perkiraan awal. Awalnya, saya kira lokasi usahanya hanya berjarak satu jam dari bandara, dan hanya ditempuh melalui perjalanan darat saja. Tapi ternyata, mendaki gunung, lewati lembah teman, ninja Hattori banget deh pokoknya. Namun dalam perjalanan berdurasi 2-3 jam tersebut, kami singgah sejenak untuk lunch di salah satu cabang restoran milik nasabahnya yang ada di Penajam, alhamdulillah, udah lumayan laper euy soalnya.

Kemudian di sepanjang perjalanan tersebut, saya sebenarnya pengen milih tuk tidur. Tapi karena Pak Bos dan nasabahnya seneng cerita, saya pun gak jadi tidur di sepanjang perjalanan tersebut. Menyusuri daerah Penajam Paser Utara dan sekitarnya, saya langsung inget klo disini ada juga pengajar dari Indonesia Mengajar-nya Anis Baswedan. Hmm, daerahnya kayak daerah KKN gitu deh. Jalan utamanya bagus, pemandangan kanan-kirinya juga natural, apalagi ditambah cerita2 pengalaman dari Pak Bos dan nasabahnya, jadi semakin dahsyat aja dah OTS kali ini.

Dan setelah lelah menikmati perjalanan nan panjang tersebut, akhirnya kami pun tiba di lokasi crusher milik nasabah kami tersebut. Tidak seperti yang di Awang Bangkal, ternyata lokasinya berada di pinggir jalan utama. Lalu dimanakah lokasi tambang batunya itu berada? Ternyata masih berjarak 6-7 KM dari lokasi crusher. Juga tidak seperti yang di Awang Bangkal, ternyata tambang batunya adalah hamparan, seperti hutan dimana terkandung di dalamnya batu gunung, tidak seperti di Awang Bangkal yang berwujud bukit batu. Potensi alam yang luar biasa teman. Selama perijinan lengkap, sesuai ketentuan dan hukum perundangan yang berlaku, maka bisni batu ini sungguh sangat menjanjikan teman. Apalagi kalau nanti kontrak dari pelanggannya jadi terealisir, maka tinggal petik hasil saja sudah.

Lalu setelah dirasa cukup, kami pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Balikpapan. Sempat singgah sejenak makan sawo, kami pun tiba Hotel Pacific tepat beberapa saat menjelang Maghrib. Dan disinilah saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa nasabah kami tersebut sangat menjaga shalat fardhu berjamaah di masjid. Subhanallah. Dulu saya hanya mendengar saja ceritanya itu, tp kali ini saya menyaksikannya langsung teman. Sangat menginspirasi. Semoga saja saya juga bisa menjaga shalat fardhu berjamaan di masjid seperti beliau.

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s