1.345

Medio November 2007, di tanah Jogja. Saat itu gw mulai menemui sebuah ketertarikan akan digital diary atau banyak orang menyebutnya blog. Yah, saat itu gw seneng banget nge-blog. Posting kegiatan sehari-hari, posting curcolan apa aja, dan yang pasti, posting cerita-cerita gw untuk almarhum adek gw, Fajar Arohman.

Dulu gw gak terlalu peduli tentang isi postingan gw. Mungkin menurut orang gak penting, tapi enggak buat gw. Mungkin menurut orang juga gak seru, tapi buat gw enggak. Yah, waktu itu gw enjoy banget untuk selalu posting tulisan setiap hari, tentang apapun juga.

Kemudian seiring berjalannya waktu, gw mulai mengenal istilah blog walking. Silaturahim ke blog orang lain, leave comment dan saling tukeran link. Gw masih inget komentar si reja ikhwan, temen gw di 14 dan UGM, “Ji, kayaknya gw orang yang pertama kali komen di blog elu nih. Walaupun gak ada lagi yang komen, tapi tetap semangat nge-blog karena setidaknya klo orang ngetik nama elu di google, dia pasti muncul, wkwkwk”.

Hahaha, komen yang nyelekit tapi asik. Dan semenjak itu gw mulai untuk memposting lebih dari sekedar digital diary yang mungkin hanya gw dan adek gw yang paham. Gw mulai menulis dengan juga memperhatikan sudut pandang pembaca (halah, gaya banget). Gw juga mulai belajar banyak gaya tulisan orang, mulai memperhatikan model blog orang. Dan gw mulai sadar, klo menulis itu akan berarti klo kita juga membaca. Bukankah apa yang kita tulis itu merupakan representasi dari apa yang kita baca?

Kemudian medio 2008-2009, blog gw udah mulai rame. Hehehe, dalam hal ini gw udah punya beberapa temen baik di dunia per-blog-an, wabil khusus di UGM dan alumni SMA 14. Yah mungkin karena gw mulai belajar banyak hal dari FLP Jogja, tempat dimana gw diperkenalkan dengan dakwah media (glegh, berat banget). Gw juga mulai on fire ketika akhirnya terlibat banyak dengan Biro Media Opini (BIMO)Forsalamm (Forum Silaturahim Mahasiswa Muslim UGM). Subhanallah, luar biasa memang dakwah media itu, menakjubkan dan mengagumkan.

Pasca kampus, gw semakin menyadari klo bercerita di blog itu memang harus rapih. Hikmah dalam kisah baru dapat dimengerti klo tulisan kita juga rapih bukan? Apalagi di tengah kerasnya kehidupan pasca kampus yang sangat keras. Allahu Akbar! Ternyata dunia kerja itu memang luar biasa menantang teman. Dan teramat sayang ternyata klo kita tidak mendokumentasikan via blog. Rancak bana deh klo kata orang Minang.

Dan puncaknya mungkin ketika gw harus meranta hingga ke Surabaya dan Banjarmasin akibat tuntutan profesi. Maka nge-blog menjadi salah satu alternatif pelampiasan kegalauan yang melanda, selain tentunya dengan futsal dan membaca. Yah, apalagi motor Satria gw udah lama gw tinggal di Jogja. Alhamdulillah, setidaknya nge-blog bisa sedikit meringankan beban hidup gw, hohoho.

And the last but not least, semenjak gw memiliki pasangan hidup tempat gw bisa bercerita banyak, gw mulai jarang nge-blog. Tidak lama berselang, setelah bapak gw meninggal, gw juga semakin males untuk cerita-cerita di blog. Sayang sekali teman, sungguh sangat sayang sebenarnya. Bukankah terlalu banyak hal menarik yang teramat sayang untuk tidak diceritakan?

Banjarmasin, 11 Maret 2014 #sembari merenung#

One thought on “1.345

  1. lama gak berkunjung,

    dan hanya ingin menegaskan; iya, orang yang udah punya pasangan cenderung tak kelihatan lagi di dunia (maya). blog, twitter, fb, hm.. sms, wa, atau semacamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s