Assalamu’laikum Akh Ryma

 Rabu tepat di hari ketujuh di Januari 2015. Malam ini seharusnya menjadi agenda pengajian rutin malam Kamis di Jalan Ahmad Yani KM 5. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya kami mengganti agenda tersebut dengan sidak ke rumah salah satu anggota pengajian yang sudah dua bulan berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Janjian shalat Isya di Mushola dekat rumah si doi, dari tujuh orang anggota aktif pengajian, hanya empat orang yang dapat hadir. Tiga orang sisanya absen; satu karena masih dirawat di RS Ansari Saleh (insyaallah kamis kami berencana membesuk), satu karena ada urusan yang harus diselesaikan di Batola (Barito Kuala) dan satu karena motor-nya tiba-tiba ngambek gak mau nyala saat mau berangkat Isya ke TKP (Syafakallah ya motor =D ).

Notes : malam ini kebetulan guru ngaji-nya juga berhalangan hadir karena ada operasi di RS Ulin, jadi beliau pun meng-ACC rencana sidak ini.

Alhamdulillah, selepas Isya, ngobrol-ngobrol sebentar dengan si doi, akhirnya kami memutuskan untuk nonton bareng salah satu film yang recommended banget untuk ditonton. Satu-satunya film yang menurut ketua pengajian kami layak tonton, sedang sisanya adalah sampah. Hahaha. No comment dah klo saya mah. Karena sudah lama juga saya tidak nonton di Bioskop setelah terakhir kali nonton The Raid 2 : Berandal.

Gak pake lama, berangkatlah kami berlima menuju the one and only mall in Banjarmasin, DM alias Duta Mall. Bapak dosen yang buka praktek dokter gigi, pegawai pajak, pegawai bank, sekretaris koperasi dan wakasek SMPIT alias si ketua pengajian yang meluncur paling awal untuk memastikan tiket nonton pukul 21.25 WITA ada di tangan kami berlima.

Sesaat kemudian, si ketua melaporkan bahwa tiket film sudah berada di tangannya. Eng-ing-eng :

“Assalamu’alaikum Beijing”

Nah, mari kita sedikit bercerita tentang film yang diangkat dari salah satu novel Asma Nadia ini. Ceritanya berawal dari kisah asmara yang kandas antara Asmara dan Dewa, tepat di malam menjelang pernikahan mereka. Tentang penyebab kandasnya hubungan mereka, seperti hal-nya kredit macet di dunia perbankan, maka itu sudah menjadi resiko yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi akibat ekspansi kredit yang dilakukan demi mengejar target. Zero NPF is possible if we don’t expand. Begitu pun dengan urusan cinta. Tapi kita gak akan bahas panjang lebar tentang penyebab kegagalan cinta tersebut, karena akhirnya Asmara memutuskan untuk move on, hijrah ke Beijing menjadi koresponden salah satu koran nasional dengan kolom tetap-nya yang bertajuk, Assalamu’alaikum Beijing.

Yah, menjadi kolumnis sungguh sangat menarik teman. Menuliskan banyak hikmah yang ditemui di Beijing menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi Asmara. Apalagi ketika karier tersebut berjalan beriringan dengan jodoh. Pelajaran moral nomor satu, bagi wanita khususnya, karier dan jodoh itu harus seimbang, jangan kalian fokus mengejar salah satunya, bismillah, kejar keduanya bersamaan, agar tidak timpang dan bermasalah di kemudian hari. Kalau kemudian ternyata belum seimbang juga, positive thinking saja, pasti ada hikmah dari semua ikhtiar yang telah kita lakukan.

Begitu pun yang dialami oleh Asmara yang diperankan dengan sangat apik oleh Revalina S. Tarnat. Saat traveling keliling Beijing untuk mencari bahan tulisan, dirinya ternyata dipertemukan oleh Chung Wen yang juga diperankan dengan sangat sempurna oleh Morgan ex Smash. Pertemuan yang begitu membekas di hati kedua anak manusia itu. Bagi Asmara, mungkinkah ini hikmah dari perpisahannya dengan Dewa? Bagi Chung Wen, pertemuannya dengan Asma, begitu Asmara menyebut namanya saat perkenalan, mengingatkannya dengan legenda Ashima, seorang putri cantik nan baik yang menjadi batu akibat tragedi banjir yang menimpanya. Klo versi Indonesia, mirip-miriplah sama legenda Tangkuban Perahu-nya Dayang Sumbi atau Candi Roro Jonggrang akibat ulah Bandung Bondowoso.

Semakin menarik ketika sahabat baiknya Asmara yaitu Sekar mengetahui cerita pertemuan antara Asma dan Chung Wen. Sekar yang sudah kecanduan akut film korea meyakini bahwa si Chung-Chung, begitu si Sekar memanggil Chung Wen dengan asalnya, adalah jodoh-nya Asma. Dan semakin lucu ketika Mas Ridwan, suaminya Sekar yang cukup cool dimainkan dengan sangat janggal oleh drummer paling lucu se-Indonesia, Desta ex Club 80’s. Mungkin karena label kocak abis sudah melekat erat pada Desta, maka karakter cool yang dimainkan justru menjadi bumbu humor tersendiri di film ini. Pelajaran moral nomor dua, kita pun harus memiliki karakter kuat yang melekat dalam diri kita, contoh sederhana-nya yah Mas Ridwan ini, eh si Desta maksudnya.

Lalu seperti apa ending dari film ini? Saya tidak akan menceritakannya disini teman. Because I’m not spoiler. Sungguh sangat tidak menarik ketika kita mengetahui endingnya terlebih dahulu. Alangkah baiknya jika kita mengikuti jalan-nya alur cerita, menikmati destinasi wisata yang teramat menarik yang ada di Beijing, yang sesungguhnya pun Indonesia memiliki itu semua, bahkan mungkin jauh lebih menarik. Mengikuti konflik-konflik yang terjadi pada diri Asma atau Ashima, begitu Chung-Chung memanggilnya. Mengetahui bahwa iman itu adalah landasan yang paling utama dalam menjalin sebuah hubungan paling serius di dunia (red.pernikahan). Dan menyadari petuah bijak dari Mas Ridwan, bahwa romantisme itu bisa nyusul setelah iman menjadi alasan utama kita untuk menikah. Lucu banget dah pas  si Desta menyampaikan pelajaran moral nomor tiga itu.

Ah, tidak elok nampaknya jika saya harus berpanjang kisah tentang Ashima dan lika-liku kehidupannya. Lebih baik kalian membaca langsung novelnya, meskipun saya juga belum membacanya, hehehe. Tapi sekali lagi, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton teman-teman yang sedang galau hatinya karena permasalahan cinta. Harapannya sih satu, biar temen-temen bisa dapat hidayah dan bisa mengalihkan kegalauan tersebut ke hal-hal yang positif. Seperti hal-nya yang dilakukan oleh Ashima. Seperti juga yang dilakukan oleh ketua pengajian kami, Akh Ryma, yang membuat kami berempat, para suami, akhirnya ikut menonton film romantis religius ini tepat di malam kamis, pas jadwal pengajian rutin kami. Hohoho.

Labios Land, 8 Januari 2015

Doakan semoga Akh Ryma segera menyusul kami, Assalamu’alaikum Akh Ryma ^_^

 

3 thoughts on “Assalamu’laikum Akh Ryma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s