Batu Licin

Hari ini selasa, sudah memasuki pekan ketiga Januari. Finally, perjalanan itu akhirnya terlaksana juga. Rute-nya Sungai Danau-Batu Licin, maintenance nasabah yang berdomisili di daerah sana, baik yang prospektif, lancar jaya dan batuk berdahak. Memang agak berat meninggalkan Banjarmasin pada saat pendingan pekerjaan banyak tersisa. Tapi proyek besar tahun ini memang harus segera diselesaikan, paling lambat akhir Januari 2015. Maka doakan saya teman.
Dalam sebuah perjalanan memang akan ada banyak hikmah yang bisa kita dapat. Tapi saya tidak dapat membahasnya panjang lebar pada cerita kali ini. Satu hal yang menjadi modalnya adalah nikmati saja perjalanan ini dengan hati yang riang dan lapang. Pada hal-hal yang menyenangkan, tentu sangat dinantikan dalam sebuah perjalanan, sedangkan perihal yang kurang menggembirakan, ambil saja sisi positifnya.

Seperti pada perjalanan kali ini, déjà vu, layaknya mengulang travelling saat ke Muara Teweh lebih setahun yang silam. Bersama Om Ipul, pilot andalan bos. Jadilah kami bertiga mengunjungi sebuah lokasi yang mendengar namanya saja sudah membuat teman-teman satu kantor merinding, sebut saja di Bali alias Batu Licin. Sebuah kota kecil di ujung Kalimantan Selatan.

Maka berbicara tentang kota ini, tidak lengkap rasanya jika tidak mengisahkan tentang episode MPKM I yang belum sempat saya ceritakan. For the first time, pada saat pergantian tahun, akhirnya saya melewati Batu Licin, hanya sekedar melewati karena tujuan utama saya saat itu adalah Kotabaru, sebuah pulau tersendiri yang masih menjadi bagian dari Kalimantan Selatan. Menggapainya pun harus dengan sebuah kapal feri. Itulah salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang jauhnya melebihi Batu Licin, ibukota dari Kabupaten Tanah Bumbu. Ah iya, kembali ke Batu Licin. Sebenarnya hanya satu kekurangan yang dimiliki kota ini, tulisannya itu berada di ujung peta Provinsi Kalimantan Selatan, jadi nampak jauh di mata dan rasa, hahaha.

Dan berbicara tentang Batu Licin, tidak lengkap rasanya juga jika tidak bercerita tentang Sudan alias Sungai Danau, yang bisa dibilang adalah kakak kandung dari si Batu Licin. Jika saat ini Sungai Danau semakin sepi secara fisik dan bisnis, maka Batu Licin justru berkembang pesat dan menggeliat. Yah, habis manis sepah dibuang. Sudah habis batubara di Sungai Danau, Batu Licin sebagai kota-nya justru merasakan dampak pembangunan yang luar biasa. Tapi ini sungguh berasal dari kacamata sempit yang saya pakai, jadi jangan dijadikan kesimpulan, apalagi di broadcast ke media sosial, plis jangan. Namun kita lupakan saja komparasi yang saya bahas diatas, mari kita berbicara yang ringan-ringan saja tentang travelling kali ini.

Kami berangkat dari Banjarmasin sekitar pukul 9 pagi. Kemudian transit beberapa kali. Di Honda Pal 7, simpang empat bentok, bengkel duco bati-bati, Hotel Duta Pelaihari, pembibitan dan kebun sawit KJP, RM Ikan Bakar Asian, Hotel Wenny dan terakhir BNIS Sungai Danau, sekitar pukul 3 sore. Berarti Banjarmasin-Sungai Danau kurang lebih 6 jam perjalanan santai, dengan beberapa pitstop.

Lalu dari BNIS Sungai Danau pukul 16.30, kami tiba di BNIS Batu Licin sekitar pukul 18.30 dengan dua kali pitstop di Pantai Pagatan dan SPBU. Sudan-Bali berarti hanya 2 jam perjalanan santai, dua kali pitstop. So, the conclusion is : Banjarmasin-Batu Licin membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam jika dilalui dengan perjalanan darat. Hmm, no comment for that.

Back to Batu Licin, tentang sejarah dan asal muasal nama Batu Licin itu sendiri, saya tidak tahu pasti. Tapi teman-teman dapat menemukannya melalui Wikipedia via google, yang tentu saja akan tidak senang ketika hak-nya untuk bercerita tentang sejarah sebuah kota diambil alih oleh saya, hehehe.

Nah, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 WITA, cerita tentang Batu Licin saya cukupkan dulu sampai disini. Alakulihal, semoga dalam perjalanan kali ini saya bisa mengambil momen untuk dapat menjadi seorang banker’s yang lebih baik lagi. Mampu memahami bisnis dan resiko yang ada pada sebuah daerah. Dan tentu saja, mampu memberi manfaat bagi penduduk di daerah tersebut melalui institusi tempat dimana saya belajar untuk berhasanah, titik.

Batulicin, 20 Januari 2015
HotelGC77, itu password wi-finya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s