Ganjil 365 Hari

“23 Juli 2014. Dini hari. Sudah masuk 25 Ramadhan 1435 H. Lahirlah seorang anak laki-laki di RSIA Bunda Aliyah yang berada di bilangan kota Jakarta. Tanpa ditemani ayah tercinta, untung saja masih ada kakek-neneknya, paman dan juga bibinya. Momen yang terlewatkan ini akan selalu dikenang oleh sang ayah. Sedikit salah prediksi HPL. Perkiraan akhir bulan, namun meleset jauh ke tujuh hari sebelumnya. Tiket Banjarmasin-Jakarta yang sudah berada di genggaman tercatat di hari Jumat. Akan tetapi, Rabu dini hari, putra pertama ayah dan ibunya diizinkan Allah ‘tuk menghirup udara bumi. Alhamdulillah. Akhirnya hanya lantunan adzan via handphone dari sang ayah menjadi pengobat rindu. Wujud syukur. Memperkenalkan si anak kepada pemiliki dunia dan seisinya, Allah Azza wa Jalla.”

Lewat sudah 365 hari ‘Nak. Ayah memang tidak dapat menemanimu selalu. Kehadiran ayah pertama kali di hadapanmu bahkan setelah dua hari engkau lahir. Tidak sampai sebulan setelahnya, ayah bahkan harus kembali meninggalkanmu. Meninggalkan Jakarta, menuju Banjarmasin. Bekerja demi mencari nafkah untuk keluarga. Berusaha untuk dapat singgah sebulan sekali menjenguk dan menemuimu. Berat ‘Nak. Faktor finansial menjadi kendala utama. Untungnya rata-rata dalam sebulan, ada saja tugas untuk ayah selesaikan di Jakarta. Alhamdulillah. Enam bulan perpisahan yang sungguh menyedihkan. Seperti enam tahun rasanya.

Maka setelah genap enam bulan usiamu. Terlewat sudah masa-masa mengesankan dimana begadang sudah menjadi agenda sehari-hari. Dirimu sudah terlihat begitu besar ‘Nak. Enam bulan yang telah berlalu, sungguh membuat ayah kehilangan waktu-waktu spesial bersamamu. Tapi ayah berjanji, akan menggantikan enam bulan yang telah lalu itu dengan quality time di enam bulan yang akan datang, juga waktu-waktu setelahnya nanti. Jikalau Allah masih mengizinkan ayah untuk membersamaimu.

Januari 2015. Engkau bersama ibumu akhirnya diperkenankan untuk terbang jauh menuju Banjarmasin. Dengan ditemani nenek dan bibimu, akhirnya resmi engkau menjadi urang banjar ‘Nak. Entah sampai kapan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi tidak mengapa ‘Nak. Dimana saja ayah akan bertugas nantinya, asalkan bersama engkau dan ibumu, itu sudah lebih dari cukup. Menjadi pengobat lelah setelah seharian bekerja. Menatap wajah polosmu. Menikmati rupa lucumu. Menyaksikan canda tawamu. Melihat tangis dukamu. Semuanya itu adalah anugerahterindah yang pernah kumiliki. I love you my son.

23 Juli 2015. Déjà vu ‘Nak. Ayah kembali berada di Banjarmasin seorang diri. Engkau dan ibumu masih berada di Jakarta sana. Titah dari pimpinan di kantor tidak bisa dihindari. Ayah harus kembali masuk bekerja di hari pertama setelah cuti bersama hari raya. Kondisi kantor yang masih low performance menjadi salah satu pertimbangan kenapa akhirnya ayah harus stand by sesegera mungkin setelah libur panjang. Maka sekali lagi ayah kembali meminta maaf kepadamu ‘Nak. Untuk kali kedua, ayah tidak bisa menemani saat milad pertamamu. Sedih. Tapi apa mau dikata. Berdoa sajalah, semogengkau baik-baik disana. Sehat dan terjaga. Berkah umurnya. Dan selalu menjadi mutiara kebanggan ayah dan ibumu ‘Nak. Dengan keshalihanmu kelak, juga dengan hafalan Quranmu (insyaallah, aamiin), ayah dan ibu berharap mendapatkan mahkota kemulian darimu. Doakan kami selalu ‘Nak, dapat menjaga dirimu dari jahatnya dunia. Mengingatkanmu selalu tentang Islam yang menjadi pedoman dan petunjuk hidupmu,dunia hingga akhirat. Aamiiin.
Labios Land, 23 Juli 2015
Barakallah fii umurik yah ‘Nak, Muhammad Syahdan Alif Arohman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s