CITA-CITA AYAH

Dulu waktu gw masih berada di bangku SMA, ayah gw sangat ingin anaknya dapat melanjutkan cita-citanya. Walau sebenarnya gw juga belum pernah menanyakan secara langsung cita-cita beliau sebenarnya apa. Tapi gw coba menyimpulkan, beliau sangat ingin gw nantinya berkecimpung di dunia per-akutansi-an. Secara, bokap gw kerja di bagian akutansi sebuah perusahaan konstruksi yang berlokasi di Daan Mogot, Jakarta. Belum lagi, sewaktu gw masih kecil, beliau dengan sangat semangat dan antusias mengajarkan gw dan adek-adek gw pelajaran matematika. Dasar-dasar matematika meliputi penambahan, pengurangan, pengalian hingga pembagian. Bahkan saking semangatnya ngajarin, gw hampir mau nangis, putus asa, ketika menemukan soal yang teramat sulit untuk dipahami anak SD seusia gw.

Kemudian ketika beranjak memasuki usia SMP. Gw mulai bisa memahami dasar-dasar matematika yang telah diajarkan oleh bokap. Dahsyat. Masa SMP yang sangat cerah. Berkat ilmu yang diturunkan oleh bokap (atas seizin Allah SWT juga tentunya), pelajaran MTK, Fisika dan yang ada hubungannya dengan angka-angka bisa gw pahami dengan cukup mudah. Malahan bokap yang agak kesulitan ketika ketemu ama soal-soal matematika terapan yang kadang-kadang gw bawa ke rumah. Hehehe, sotoy banget yah gw. Maaf ‘Pak, aa cuma becanda 

Dan ketika akhirnya gw memasuki masa SMA yang teramat menentukan, gw mulai menyadari bahwa masih ada langit di atas langit. Ternyata banyak banget anak-anak yang jauh lebih cerdas dan jenius daripada gw. Ternyata pelajaran SMA itu jauh lebih sulit beberapa tingkat dari pelajaran SMP. Gw mulai sadar, klo gak belajar lagi di rumah dan ikut bimbel, kayaknya agak berat tuk gw bisa melanjutkan kuliah di PTN. Yah, target minimal gw di bidang akademik saat itu sangatlah sederhana. LULUS UAN & DAPET PERGURUAN TINGGI NEGERI!

Nah, balik lagi ke pembahasan awal tentang cita-cita bokap. Gw harusnya masuk IPS biar nanti bisa milih Akutansi atau Manajemen pas SPMB. Tapi dengan berbagai pertimbangan yang gw sendiri sekarang udah lupa, akhirnya gw malah masuk IPA, dengan nilai IPA gw yang tentu saja biasa-biasa saja. Mungkin karena dulu gw sangat berobsesi tuk jadi hacker, dimana kuliahnya harus di Ilmu Komputer, gw lebih memilih masuk IPA daripada IPS. Sebenarnya ketika gw udah di IPA, gw bisa aja ambil IPC ketika nanti SPMB. Maksudnya IPC, gw masih bisa milih jurusan IPS tuk kuliah nanti dengan konsekuensi gw harus ikut ngerjain soal-soal IPS pas SPMB. Sadar dengan kemampuan otak gw yang untuk memahami soal-soal IPA harus setengah mati, gak mungkin banget gw milih IPC. Lah wong milih IPA aja peluangnya cuma ada di jurusan-jurusan yang kurang begitu favorit, macam Ilmu Kelautan, Perikanan dan sejenisnya. Passing grade Ilmu Komputer UI, Teknik Informatika dan Teknik Industri ITB terlampau jauh untuk bisa gw raih. Allahu Akbar!

Untungnya bokap dan juga nyokap gw adalah orang-orang yang demokratis dan selalu mensupport cita-cita anaknya. Maka demi target akademik minimal yang udah gw canangkan jauh-jauh hari, gw pun bimbel di NF. Gw juga mengikuti semua jalur masuk PTN yang ada. Mulai dari Ujian Mandiri (UM) UGM, dimana tanpa persetujuan dan doa restu ortu, gw memilih jurusan Ilmu Komputer, Teknologi Pertanian dan Manajemen Sumberdaya Perikanan. Lalu SPMB, dimana gw memilih jurusan Ilmu Komputer UI dan Teknik Industri ITB karena Alhamdulillah-nya pas SPMB gw udah dinyatakan lulus UM UGM walaupun hanya dapat di pilihan ketiga, yaitu perikanan. Awalnya gw mau milih Psikologi UNPAD karena pas SMA gw juga mulai aktif ikut berbagai organisasi sehingga menurut gw, pas aja klo nantinya gw bisa kuliah di psikologi UNPAD, apalagi Psikologi di UNPAD juga masuknya IPA. Tapi karena menurut bokap, pekerjaannya nanti klo udah lulus gak jelas, akhirnya gw mengikuti saran beliau dan memilih jurusan yang favorit dan bonafid itu, dengan salah satu pertimbangan utamanya juga toh gw udah dapet UGM.

Kemudian ujian seleksi yang terakhir gw ikutin adalah STAN. Yah, untungnya STAN adalah anak IPA pun bisa daftar untuk ikut ujian masuknya. Dan bokap gw tentu saja sangat ingin anaknya bisa masuk STAN. Selain karena ada ikatan dinas-nya, cita-cita beliau agar anaknya bisa melanjutkan pekerjaan di bidang yang sama, dapat dilanjutkan turun temurun. Tentu saja, menjaga tradisi yang baru dimulai dari bokap gw.

And you know the result? Pas pengumuman SPMB dan STAN, ternyata gw gak lolos. Asli, gw sempet nangis pas mengetahui fakta itu. Sedih banget. Gw belum bisa melanjutkan cita-cita gw tuk jadi hacker dengan gagal masuk Ilmu Komputer UI. Gw juga belum bisa melanjutkan cita-cita bokap di dunia per-akutansi-an. Dua hal yang membuat hari itu gw jadi males ngapa-ngapain. Tapi untungnya sekali lagi, bokap dan nyokap gw tetap membesarkan hati gw. Sama sekali tidak menyalahkan. Toh, target minimal yang udah dibuat anaknya masih bisa terpenuhi, kuliah di PTN, UGM lagi (walau hanya di jurusan perikanan yang masih banyak dipandang sebelah mata oleh orang-orang).

Dan ketika akhirnya gw berangkat ke Jogja untuk menimba ilmu Manajemen Sumberdaya Perikanan di UGM, ketika itu pula gw mengubur dalam-dalam cita-cita bokap gw. Good by accountant.

Time Flies…

Ternyata memang benar ridho Allah ada pada ridho orang tua. Ketika akhirnya ortu gw, wabil khusus bokap gw ridho pada gw yang kuliah di perikanan UGM, saat itulah ternyata Allah udah menyiapkan jalan buat gw tuk bisa mewujudkan cita-cita bokap.

You know what? Gak lama setelah gw wisuda di Agustus 2009, sekitar 3 bulan setelahnya, November 2009. Ternyata gw diterima bekerja di salah satu Bank BUMN terbesar yang ada di Indonesia, sebut saja BNI 46. Jalur masuknya pun cukup bergengsi teman, ODP! Meski pada awalnya gw memiliki keraguan karena ini bank konven. Tapi satu hal yang gw yakini, pasti ada jalannya buat gw nanti bisa pindah ke yang syariah-nya. Dan Allah sekali lagi memang sudah menyiapkan jalannya. Maret 2010, gw resmi hijrah dari BNI 46 ke BNI Syariah.

“Hubungannya dengan cita-cita bokap elu apa jadinya ‘Ji?” Mungkin itu pertanyaan yang belum bisa terjawab oleh sidang pembaca sekalian.

Pada saat hijrah ke BNI Syariah, posisi gw ternyata udah ditentukan oleh SDM. Become what? Become an Analyst. Menjadi analis. Analis pembiayaan. Pembiayaan Produktif. Yah, sebuah profesi yang dunia perbankan lazim mengenalnya dengan istilah Account Officer. Atau klo di BNI Syariah sekarang dikenal dengan SAO, SME Account Officer. Allahu Akbar! Terjawab sudah cita-cita besar bokap yang dulu sering diutarakan oleh bokap, “Harusnya aa Panji masuk ekonomi, nanti jadi akuntan kayak bapak”.

Royal Kuningan Hotel, 25 Februari 2016
Kurang lebih tiga tahun setelah ayah berpulang, Love U ‘Dad…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s