The Day After Holiday

Libur lebaran bagi seorang banker yang penempatan kerjanya berada jauh dari daerah domisilinya, tentu menjadi waktu yang sangat teramat spesial untuk cuti panjang. Tidak terkecuali saya, yang saat ini sudah memasuki tahun kelima berkarya di bumi antasari. Tepat lima tahun, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki disini, bulan Ramadhan 1431 H silam. Time flies too fast I think.

Nah, persoalannya adalah ketika cuti panjang tersebut tidak disetujui oleh bos. Padahal saya sudah mengatur strategi dengan mengajukan permohonan cuti yang hanya 6 hari (jika dibandingkan satu tahun yang berjumlah 365 hari, atau dikurangi 24 hari libur sabtu-minggu plus +11 hari libur nasional, sehingga menjadi 330 hari) pada saat THR kita cair, tepat di hari Jumat yang penuh berkah. Harapannya sih, agar bos meng-ACC. Bahkan bagian umum kantor yang mengurus cuti pegawai sudah menyerahkan permohonan cuti saya sebelum Jumat’an, tapi hingga akhirnya adzan Maghrib berkumandang dan si bos pulang, permohonan cuti saya masih menggeletak anteng tanpa ada goresan persetujuan ataupun penolakan. Hmm, sepertinya terinspirasi oleh “Gantung”-nya Melly Goeslow dan “Sadis”-nya Afghan nih beliau. Bagus bener dah ah!

Dua hari berselang, selepas Sabtu-Minggu, tepat di Senin pagi. Bos memanggil saya dan salah seorang analis senior, sebut saja Bang Veb (mirip nama sebenarnya), untuk berdiskusi terkait kondisi kantor. Yah, lebih tepatnya sih “Dengarlah curhatku…”. Panjang lebar si bos menjelaskan tentang buruknya kinerja kantor, wabil khusus unit pembiayaan produktif, dimana target ekspansi masih jauh dari langit dan malah NPF yang meningkat tinggi hampir mencapai langit. Tambah parahnya lagi, ada aja yang masih memberanikan diri mengajukan cuti panjang sampai 6 hari. Hadeh. Alamat bakal dikeramas dah jikalau begini jadinya.

“Harusnya gak boleh nih, cuti kalau belum tercapai target”
“Dulu saya malah gak pernah cuti kalau lagi libur lebaran”
“Apalagi unit kalian masih parah performance-nya”
“Jadi semakin pusing saya jadinya nih”

Ckckckck. Strategi saya meleset total, cairnya THR di hari Jumat yang penuh berkah ternyata tidak mampu mengetuk pintu hatinya untuk berempati kepada anak rantau yang jauh dari sanak saudaranya. Aroma balas dendam saat beliau masih menjadi anak buah yang tidak pernah diberi cuti oleh bos-nya tercium tajam. Tapi apalah daya cecunguk kecil macam saya ini. Jadi untuk menghindari konflik berkepanjangan, saya menawarkan win-win solution agar cuti saya disetujui menjadi 3 hari saja (sebelum hari raya). Habis hari raya, saya berjanji untuk langsung masuk kerja. Sebab tiket mudik sudah saya pesan jauh-jauh hari, dan jelas tidak mungkin dapat dibatalkan. Alhamdulillah-nya, saya belum pesan tiket ‘tuk kembali ke Banjarmasin hingga akhirnya saya menawarkan diri agar lepas hari raya, saya langsung siap tempur dan bekerja.

Lalu respon beliau? Alhamdulillah, Allah menggerakan hati beliau untuk sedikit berempati, mengizinkan.

Kalau saya analisa, sebenarnya saya masuk di Rabu tanggal 22 Juli itu nyaris tiada berbeda dengan saya masuk di Senin tanggal 27 Juli. Penagihan itu efektif itu lepas tanggal 25. Masih juga suasana lebaran. Tapi yah gitu deh. Pasal 1 (bos selalu benar) akan selalu berlaku, sehebat apapun analisa kita. Dan jangan lupa, kalau bos ada salah, masih ada pasal 2 (kalau bos salah, tolong lihat kembali pasal 1).

Lalu dengan amat sangat terpaksa, saya kembali ke Jakarta tanggal 19 Juli, menjalani kisah sedih di hari Minggu. Kemudian terbang kembali ke Banjarmasin di hari Selasa tanggal 21 Juli yang teramat pagi. Meninggalkan anak-istri di Cirebon sana. Dan seperti kejadian setahun yang silam, 23 Juli 2014 (saat anak saya lahir di Jakarta, saya di Banjarmasin), saya tidak bisa menemani anak saya kembali, tepat di 365 hari usianya. Hiks-hiks-hiks.

Dan fakta paling mengejutkan dari tragedi yang saya alami ini, terungkap pada Rabu tanggal 22 itu, The Day After Holiday. Dari semua penyelia yang ada di kantor, mulai dari consumer, frontliner, processing, collection dan umum, semuanya masih menikmati cuti lebaran, dan baru aktif bekerja di hari Senin tanggal 27. Exception untuk penyelia operational yang mungkin berempati kepada saya, karena dia sudah masuk tanggal 22 (menurut saya, itu pun karena ybs tidak mengajukan cuti). Luar biasa bukan! Fakta yang berhasil diungkap oleh Bang Veb ini membuat saya harus introspeksi diri. Mencoba mencari hikmah dari semua kenyataan pahit ini. Mungkin bos merasa kehadiran saya bisa membuat kinerja kantor bisa membaik, atau apalah. Nikmati saja teman. Insyaallah ada hikmah dari semuanya.

Banjarmasin, 23 Juli 2015
Ganjil setahun usiamu ‘nak, barakallah fii umurik

#baru sempet posting hampir satu tahun kemudian

2 thoughts on “The Day After Holiday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s