#DiaryBanker5 : JAKARTA & KOMITE

istiqlal

istiqlal-taken from google

Saat ini Jakarta buat gw identik dengan kantor pusat, komite dan tentu saja kata terlarang yang dengan amat sangat terpaksa gw tuliskan kembali, berulang-ulang, TARGET (tapi gw gak bakal ngebahasnya disini, jadi santai aja). Kota yang satu ini sebenarnya adalah kampung halaman gw. Tempat gw tinggal dan dibesarkan. Walau bukan asli warga Jakarta (red.Betawi), karena memang gw asli berasal dari Kuningan (Sunda), Jakarta selalu menjadi alternatif jawaban ketika ada orang kantor pusat bertanya ke gw.

“Aslinya mana mas Panji?”.

Hehehe, bukan kode agar kembali ditarik ke homebase sih (dengan segala definisi homebase yang ada). For now, gw masih prefer untuk tetap stay dan berjuang di Banjarmasin. Masih banyak amanah yang belum gw selesaikan disana, dan selagi masih ada kesempatan, gw pribadi prefer to choose Banjarmasin. Tapi karena gw hanyalah seorang jundi di Jamaah Hasanah ini, maka dimanapun akhirnya gw diamanahkan tuk mengembangan ekonomi Islam, jawaban gw hanyalah kami mendengar dan kami taat, Sami’na Wa Atho’na.

Sepanjang tahun 2016 ini, gw bahkan udah tiga kali berkesempatan untuk memenuhi undangan dari kantor pusat di Jakarta. Pertama di awal Mei atau Juni 2016 (lupa gw persisnya), dimana gw bersama pak bos dan analisnya diminta untuk presentase dan pra-komite; dua nasabah sekaligus. Keduanya nasabah eksisting, track record lancar dengan maksimal pembiayaan diatas 10 M (hehehe, ya iya lah, klo sampai dipanggil ke Jakarta tentu nominalnya diatas 10 M). Kedua di pertengahan Juli 2016. Kembali diminta hadir dua hari untuk melanjutkan pra-komite awal Mei/Juni kemaren. Kali ini gw hanya berhadir dengan analisnya, tanpa pak bos. Dan untungnya pra-komite kali ini pun hanya dihadiri oleh rekan sejawat, dalam artian masih selevel jabatan dan umur, jadi pressure-nya jauh lebih ringan. Yah, anggaplah presentase terakhir sebelum komite nanti. Ketiga di bulan Agustus 2016, komite bersama Direktur Utama dan pihak berwenang lainnya. Kali ini Banjarmasin full team dengan pak bos yang memiliki teknik lobi-lobi tingkat dewa dan analisnya yang menguasai seluruh detail teknis dan angka. Maka bismillah, dengan doa restu dari nasabahnya serta orang tua dan keluarga kami masing-masing, lengkaplah sudah seluruh amunisi yang ada untuk komite nanti.

Time Flies…

Selalu ada yang pertama dalam hidup. Begitu juga halnya dengan komite yang satu ini. Ibarat pertandingan home-away, kali ini gw bertandang ke kantor pusat di Jakarta. Kampung halaman gw yang sayangnya untuk saat ini menjadi markas besarnya kantor pusat. Dan mungkin kalian tahu sendiri bukan, bagaimana rasanya bertanding dibawah tekanan supporter tuan rumah (halah). Tiga orang lawan rame-rame. Persiapan mental menjadi salah satu faktor utama. Ketika sudah kalah di mental, materi yang sudah kita kuasai luar dalam, berbulan-bulan, bisa jadi tidak dapat tersampaikan dengan bahasa yang baik dan benar. Pertanyaan-pertanyaan pada saat komite yang jawabannya tinggal merem aja, bisa jadi malah bener-bener gelap, blank dan gak bisa kita jawab dengan sempurna. Maka saling back up antara kami bertiga ketika salah satu dari kami mentok dan terpojok, menjadi senjata rahasia kami.

Nah, pada saat komite ini, entah kenapa waktu terasa berjalan sangat lambat di Jakarta. Babak pertama dimulai pukul 14.30-15.30 WIB, sedangkan babak kedua dimulai pukul 16.00-18.00 WIB karena ada break Ashar terlebih dahulu. Babak pertama, gw rasa berjalan dengan cukup baik untuk tidak mengatakan sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. Pak bos bermain dengan sangat cantik dengan prolog yang mengesankan. Jokes yang fresh dan pembawaan yang tenang ternyata mampu membuat komite berjalan dengan smooth. Analisnya memback up dengan sangat baik semua isi power point yang ada. Sedang gw selaku SFH, cukuplah jadi sweetener dengan duduk manis diantara mereka berdua dan tidak lupa berdoa, hehehe.

Break Ashar. Kita bertiga yang kebetulan diberi kemudahan oleh Allah, mengambil ruqshah tersebut, Ashar sudah kita jamak dengan Dzuhur. Gw dan analisnya mempersiapkan diri menyambut babak kedua yang sangat krusial karena akan banyak bermain dengan angka-angka. Menurut info terpercaya, cabang Surabaya habis-habisan dibantai saat komite sudah mulai membahas angka-angka. Sebuah informasi berharga yang akhirnya membuat kami harus konsen bahkan wajib hafal diluar kepala tentang angka-angka tersebut. Nah, di saat yang bersamaan, pak bos juga mulai memainkan lobi-lobi tingkat dewa yang sebenarnya bahkan sudah beliau mainkan jauh sebelum komite ini dimulai. Yah, someday gw bakal ceritakan lebih detail deh tentang lobi-lobi tingkat dewa dari beliau yang gw saksikan dengan mata kepala gw sendiri.

Babak kedua. Pertandingan berjalan sangat ketat. Jual beli serangan terus terjadi. Namun skor masih sama kuat. Alhamdulillah, tuan rumah dalam hal ini Direktur Utama selaku ketua komite dan anggota lainnya tidak menakutkan seperti yang dibayangkan dan diceritakan. Mereka ternyata sangat mensupport kami dalam komite kali ini. Pertanyaan dan masukan sangat konstruktif. Arahan tersampaikan dengan sederhana dan mudah kami pahami. Bahkan merekalah yang akhirnya membuat komite kali ini berjalan sangat akrab dan ramah dengan candaan-candaan yang membuat kami bertiga menjadi rileks dan tidak tegang. Serius tapi santai. Alon-alon asal kelakon. Allahu Akbar! Allah mengabulkan doa gw, doa pak bos dan analisnya, juga doa nasabahnya yang selalu minta kemudahan, “Allahuma yassir wa tu’assir”.

Dan sesaat sebelum adzan maghrib Jakarta berkumandang di kantor pusat, sekretaris komite pun menyempurnakan komite ini dengan doa kafaratul majelis. Alhamdulillah wa syukurillah. Tidak hanya tujuh milyar yang disetujui, tapi juga Pre Approval Line (PAL) diberikan untuk project yang lebih besar. Terlepas dari project besar yang kemungkinan besar menjadi jatahnya kantor pusat, gw yakin pasti cabang juga bakal dapat jatah dari rejeki yang lain. Tugas kita hanyalah berusaha dengan ikhtiar bumi, sisanya tinggal kita sempurnakan nanti dengan ikhtiar langit.

Subhanallah. Jakarta dengan komite dan kantor pusatnya kali ini begitu bersahabat. Dan oleh-oleh dari komite senilai tujuh milyar itu harus bisa kami sampaikan ke nasabahnya sesegera mungkin. Paling lambat Agustus ini sudah harus ditangan mereka. Kalau Owi dan Butet mendapatkan lima milyar karena medali emas di Rio 2016, kami pun tidak mau kalah, tujuh milyar sudah kami bawa dari komite di Jakarta. Kalau Owi dan Butet hari Selasa ini tiba di Soetta dan diarak hingga Istana Negara, kami cukuplah pulang dengan selamat di Syamsudin Noor nanti dan dapat menyerahkan tujuh milyar itu kepada nasabahnya paling lambat 31 Agustus 2016 ini. Allahu Akbar! Merdeka!!

Pangkalan Jati V, 24 Agustus 2016-Home sweet home ^^

 

2 thoughts on “#DiaryBanker5 : JAKARTA & KOMITE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s