ME & FLP

http://flp.or.id/

BERKARYA, BERBAGI, BERARTI

Forum Lingkar Pena. Sudah hampir satu dasawarsa saya mengenal forum yang satu ini. Forum yang telah banyak memberikan warna tersendiri dalam setiap karya tulis saya (walau hanya kebanyakan postingan di blog, hehehe). Saya sendiri mengenal FLP ketika masih berstatus sebagai mahasiswa. Saat masih jomblo dan hidup seorang diri di tanah Jogja. Jauh dari keluarga dengan suasana Jogja yang sangat kondusif, membuat hobi saya dalam membaca dan menulis dapat tersalurkan dengan sangat sempurna. Membaca banyak buku di sela-sela kuliah dan menjadi peserta di berbagai acara organisasi intra dan ekstra kampus. Mengenang kembali masa-masa SMA, lalu kemudian menuliskannya kembali dalam sebuah diary. Membaca dan menulis, dua aktivitas yang entah kenapa menjadi aktivitas yang sangat-sangat menyenangkan saat berada di Jogja. Selain main bola tentunya (karena dimanapun saya berada, main bola selalu saja menyenangkan).

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru, dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapamu, bersahaja
Penuh selaksa mana
Kla Project-Yogyakarta

Mungkin ini semua karena faktor Jogja teman. Maka mengenal FLP saat berada di Jogja, ibarat mengenal kekasih hati di tempat yang paling romantis. Apalagi saat saya sedang baper. Maka mengenalnya hanya menjadi awalan untuk memilikinya. Bak gayung bersambut, FLP saat itu juga sedang membuka lamaran untuk para anggotanya. Saya lupa saat itu Open Recruitment FLP Jogja angkatan ke-V atau ke-VI, yang jelas, seperti orang yang baru jatuh cinta, dengan sangat pede dan nekat, saya memutuskan untuk nembak si doi. Dengan surat cinta seadanya, saya nyatakan cinta untuk FLP Jogja.

Dan tahukah kawan, bagaimana rasanya ditolak cinta? Ketika kita mencintai seseorang, namun cinta itu tak berbalas. Tahukah kawan, bagaimana rasanya mencintai tanpa memiliki? Ingin selalu bersama, tetapi hanya sebatas pemuja rahasia.

Dan biarkan aku jadi pemujamu
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
Aku tak akan sampai hati bila menyentuhmu
Sheila on 7-Pemuja Rahasia

Maka seperti itulah nasib saya. Saya tidak lolos seleksi menjadi anggota FLP Jogja. Sepertinya tulisan bertema “Aku, FLP dan Dakwah Kepenulisan” yang saya kirimkan belum mampu mengetuk hati teman-teman kaderisasi FLP Jogja. Sedih. Kecewa. Mungkin memang bukan jodohnya. Saat itu saya berusaha bijak. Move on. Bukankah wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik (lho?!?). Penolakan dari FLP sangat berbekas. Menyisakan luka. Dan memang benar, hanya waktulah yang dapat menyembuhkan luka. Dunia perkuliahan disertai berbagai praktikumnya, aktivitas organisasi intra dan ekstra kampus, serta sepakbola dengan segala turnamennya telah menyita banyak waktu saya. Menghabiskannya tidak bersisa, walau hanya sedetik saja. Yah, luka itu sembuh dengan sendirinya.

Jatuh cinta ‘tuk kali kedua…
Di penghujung tahun 2007, entah kenapa rasa itu kembali muncul. Istilahnya jaman sekarang, CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Desirannya kembali menyusuri hati. Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Kesempatan itu kembali terbuka. Namun kali ini dengan pemahaman yang jauh lebih baik. Dengan semangat yang agak sedikit berbeda. Perpisahan dulu ternyata memberikan banyak pelajaran untuk saya. Menulis itu ternyata tidak hanya sekedar pelampiasan emosi jiwa. Namun lebih jauh dari itu. Menulis itu ternyata adalah bagian dari kerja-kerja peradaban. Dan saya baru paham, bagi FLP menulis adalah dakwah, menyeru kepada kebaikan. Allahu Akbar!

Open Recruitment FLP Jogja angkatan VII menjadi sarananya. Kembali saya mengirimkan surat cinta yang menurut saya jauh lebih romantis, hehehe. Juga sebuah tulisan tambahan tentang pengalaman saya mendaki Gunung Merbabu. Dua hal itulah ikhtiar bumi yang telah saya lakukan, tinggal disempurnakan dengan ikhtiar langit. Apapun jawaban dari si doi, kali ini saya jauh lebih siap untuk menerimanya.

Banjarmasin : Bertemu di Sabilal Muhtadin
Saat Ramadhan 1431 H atau sekitar bulan Agustus tahun 2010, saya menerima SK untuk bertugas di salah satu bank syariah milik BUMN yang ada di Banjarmasin. Kurang lebih setahun setelah meninggalkan Jogja yang penuh dengan kenangan dan cinta. Ah, Jogja memang selalu ngangenin ‘Dab! Jikalau boleh memilih, tentu saya akan memilih untuk stay dan berkarya disana. Tapi memang benar nasihat Imam Syafii :

Merantaulah. Gapailah setingi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu; Melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

Bukankah Allah selalu tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang kita inginkan, boleh jadi tidak lebih baik daripada yang Allah kehendaki. Begitu juga sebaliknya. Apa yang tidak kita inginkan, boleh jadi jadi lebih baik seperti yang Allah kehendaki. Seperti hal-nya Jogja. Meskipun hati kecil saya belum bisa move on dari Jogja, boleh jadi Banjarmasin adalah kota terbaik yang telah Allah persiapkan untuk saya. Mungkin akan ada banyak kejutan yang telah Allah siapkan untuk menjadikan hidup saya lebih ceria & berwarna. Tugas saya sekarang hanyalah berbaik sangka sebaik mungkin atas semua takdir Allah.

Dan tahukah kawan? Allah ternyata kembali mempertemukan saya dengan si doi di Banjarmasin. Di sebuah Masjid Agung yang berada tepat di jantung kota Banjarmasin. Di sebuah masjid yang namanya berasal dari nama sebuah kitab legendaris karya salah seorang ulama besar Banjar, Syekh Arsyad Al Banjari atau dikenal juga dengan Datuk Kalampayan. Kitab itu bernama Sabilal Muhtadin yang kemudian diabadikan menjadi nama masjid tempat dimana saya kembali bertemu dengan si doi.

My First Meet w/ FLP Banjarmasin

Subhanallah. FLP-FLP. Entah kenapa si doi selalu mengikuti kemanapun saya berada (halah). Oiya, saya mungkin belum menceritakan bagaimana hasil akhir dari ikhtiar kedua saya. Apakah happy ending or sad ending? Apakah diterima atau kembali ditolak untuk kali kedua. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, apapun jawaban dari si doi, hati ini jauh lebih lapang untuk menerimanya. Dakwah bil qalam tidak hanya melalui FLP bukan? Meski akhirnya, Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan untuk bergabung bersama para pejuang pena di tanah Jogja, melalui FLP Jogja angkatan VII lebih tepatnya. Bersama Prima yang kemudian menjadi ketua FLP Jogja beberapa tahun kemudian; bersama Haris dari Indonesia bagian timur yang selalu gembira; bersama Alit yang sampai sekarang masih berkarya dengan berbagai tulisan essai dan ilmiahnya; bersama Juki si putra betawi asli yang sangat mellow dan romantis; bersama Iim yang menyimpan duka dibalik keceriaannya; bersama Budi Shio yang tulisan indie-nya pernah menggemparkan tanah Jogja; bersama Anjar sang arsitek yang ternyata menjadi rekan KKN saya di Pulau Bintan nantinya; juga bersama rekan-rekan lain di angkatan VII juga angkatan lainnya, yang saya yakin seyakin-yakinnya sampai sekarang masih berjuang dengan penanya dibelahan dunia manapun kalian berada.

Sayangnya kebersamaan saya dengan FLP Jogja tidak berjalan sempurna. Setelah mengikuti Pelatihan Dakwah dan Karya Tulis (PDKT) di Kaliurang sana, saya memang masih sering mengikuti Forum Kepenulisan (FK) yang diadakan setiap Selasa dan Kamis sore di Balairung UGM. Selasa khusus non fiksi seperti essai, opini dan karya tulis ilmiah lainnya, sedangkan Kamis khusus untuk fiksi seperti novel, cerpen dan lain sebagainya (kalau tidak tertukar jadwalnya seperti itu). Juga Katakan Cinta, semacam kajian islam ala FLP Jogja, satu-dua kali saya juga masih sempat menghadirinya. Namun setelahnya, berbagai aktivitas organisasi selain FLP Jogja yang saya ikuti sangatlah menyita waktu. Apalagi kali ini saya bukanlah peserta yang dengan sesuka hati dapat datang dan pergi mengikuti organisasi apa saja yang ingin saya ikuti. Jebakan betmen dari para senior di kampus telah berhasil menjerumuskan saya untuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah kampus, bukan sekedar sebagai peserta. Dan FLP Jogja, akhirnya menjadi korban ketidakmampuan saya berlaku adil (halah). Tapi ilmu yang telah saya dapat dari FLP Jogja Insya Allah telah menjadi amal jariah. Meskipun saya tidak bisa optimal di sana, dakwah bil qalam harus tetap berjalan bukan? Aktivitas menulis untuk kebaikan itu tetap saya lakukan, meskipun hanya sekedar blogging. Gomenasai.

Singgah Sejenak ke Jakarta
Ketika akhirnya saya harus meninggalkan Jogja pasca lulus Agustus 2009, saya memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta. Ah, sebenarnya berat hati saya meninggalkan Jogja. Seberat hati saya untuk kembali ke Jakarta. Ada sedikit luka di Jakarta. Bukan luka mungkin tepatnya. Jakarta adalah tempat saya tinggal saya dan dibesarkan. Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Jogja dan menemukan cinta disana. Jakarta adalah impian, Jakarta adalah cita-cita, Jakarta adalah ambisi. Disanalah saya menghabiskan masa kecil saya. Bermain bersama enam adik saya. Belajar bersama mereka. Membantu kedua orang tua saya menjaganya. Dan ketika saya akhirnya saya ditinggal pergi adik pertama saya karena Guillain Barre Syndrome. Saya pun merasakan sakitnya. Saya merasakan sedihnya. 8 Januari 2006, Fajar Arohman (semoga Allah merahmatinya), adik pertama saya, sahabat sekaligus rival terbaik saya, akhirnya pergi memenuhi panggilan-Nya. Di usianya yang teramat muda, menjelang 17 tahun, ternyata Allah jauh lebih mencintainya. Di usianya yang teramat belia, beliau sudah mengenal Islam jauh lebih baik dari saya. Beliau salah satu aktivis Rohis SMA 91 Jakarta. Aktif juga di Ikatan Rohis se-Jakarta Timur (IKRAR). Juga aktif di halaqoh tarbiyah setiap minggunya. Ya Allah, mengapa orang-orang baik selalu Engkau panggil lebih dulu. Engkau gugurkan dosa-dosanya dengan sakitnya. Dan Engkau memanggilnya kembali ketika tiba waktunya. Maka Jakarta selepas kepergiannya adalah luka. Terlalu banyak kenangan dengan adik saya. Saat main bola, badminton dan catur bersama. Saat ikut acara IKRAR dan Konser Palestina di UI sana. Saat berantem ala adik-kakak sebagaimana biasa. Yah, Jakarta dengan segala kenangannya bersama Fajar telah menjadi semacam duka. Fajar itu benar-benar terbenam, menjadikannya gelap. Hitam.

Namun gelapnya malam selalu memunculkan bulan dan juga bintang bukan? Tapi terkadang karena kita terlalu larut dalam kesedihan, kehadiran bulan dan bintang di kala malam seperti menjadi sebuah rahasia kecil yang tidak pernah terbongkar. Seperti halnya rahasia kecil yang terjadi saat tiga bulan Fajar dirawat di ICU RS Islam Pondok Kopi Jakarta. Rahasia kecil yang akhirnya baru saya tahu dikemudian hari. Di ICU RS Islam saat itu ada beberapa pasien yang menjadi penghuninya. Pasien yang selalu keluar dan masuk. Bisa jadi keluar karena sudah sehat dan melewati masa kritis, namun kebanyakan karena Allah telah memangginya. Nah, bersebelahan dengan ruang ICU, ada ruangan khusus untuk keluarga pasien bermalam, stand by menanti sebuah jawaban. Lamanya para pasien di ruang ICU, membuat keluarga pasien juga saling mengenal satu sama lain. Pun halnya dengan saya. Saya sempat berkenalan dengan seorang ibu yang sudah agak sepuh. Jika saya menemani adik saya, beliau menemani suaminya. Ketika saya bercerita bahwa saya sedang kuliah di Fakultas Pertanian UGM Jogja, beliau juga bercerita kalau menantunya juga ada yang lulusan Fakultas Pertanian UNS dan sedang mengambil kuliah S2 di UGM. Beliau juga memberitahukan bahwa menantunya adalah salah seorang penulis. Saya sendiri sebenarnya pernah berpapasan dengan menantu ibu tersebut dan suaminya, tapi hanya sekilas pintas. Kemudian saat si ibu memberi tahu saya nama menantunya, sepertinya tidak asing saya mendengarnya, Izzatul Jannah. Salah seorang penulis cerpen Islam yang sudah cukup tenar bersama nama-nama besar lainnya seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Boim Lebon, Pipit Senja, Gola Gong, Habiburahman El Shirazy dan nama besar lainnya. Sebuah rahasia kecil yang menarik bagi saya, karena Mb Izzatul Jannah kemudian menjadi ketua FLP tahun 2009 s/d 2013. Ternyata FLP juga pernah singgah ke Jakarta, meski hanya sejenak.

Jakarta-Surabaya-Banjarmasin : FLP kian terlupa
Pada bulan November 2009, tiga bulan setelah kelulusan, akhirnya saya bergabung dengan salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia. Melalui jalur Management Trainee atau lebih dikenal dengan ODP (Officer Development Program). Sebenarnya saat memutuskan untuk teken kontrak, saya masih merasa ada yang mengganjal di hati. Hati kecil saya berbisik kalau ini bukanlah pilihan. Namun bagi seorang fresh graduate seperti saya, ini adalah sebuah kesempatan langka yang teramat sayang untuk dilewatkan. Bukankah wisuda Agustus lalu sudah terlewat karena serangkaian seleksi ODP ini. Mempertimbangkan banyak hal, manfaat-mudharat, diskusi dengan banyak orang dan tentu saja dengan kedua orang tua. Finally, saya memutuskan untuk bergabung terlebih dulu di ODP selama satu tahun ke depan. Insya Allah.

Belum genap setahun saya bergabung, saya tetap mencari celah untuk bisa hijrah sesegera mungkin. Mempelajari hal baru saja sudah membuat saya berpikir sangat keras. Program klasikal, On Job Training (OJT) kemudian membuat makalah dan presentase. Sungguh menantang ternyata dunia perbankan. Apalagi bagi saya, terlintas dalam pikiran saja tidak ketika harus berkarya di dunia perbankan. Belum lagi hal prinsipil yang mengganjal hati. Semua ini padahal baru sebatas teori, apalagi praktiknya kelak. Hingga akhirnya pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Sesaat sebelum Unit Syariah Spin Off dan menjadi Bank Umum Syariah (BUS), ada tawaran bagi kami para peserta ODP untuk berpindah. Dan tanpa perlu pikir panjang, saya memutuskan untuk berhijrah yang artinya saya juga harus berhijrah secara fisik ke Kota Pahlawan, Surabaya.

Allahu Akbar! Seperti pekik takbir Bung Tomo saat berjihad melawan penjajah Belanda. Hati kecil saya juga bertakbir lantang ketika akhirnya saya memutuskan untuk OJT di Surabaya, tidak lama setelah saya mendapatkan perbekalan mengenai perbankan syariah. Ibarat pasukan yang siap tempur, tidak pakai lama kami diberi bekal teori, sisanya praktik lapangan teman. Sepertinya halnya menulis, kalau hanya menguasai teori tanpa mempraktikan, tulisan itu tidak akan pernah ada bukan?

Lalu saat mulai memasuki dunia kerja secara langsung, sungguh jauh panggang dari api. Realita yang ada sangat jauh berbeda dengan idealita. Teori yang saya pelajari hampir setahun benar-benar hanya sebuah prolog, bahkan hanya seperti sekapur sirih. Beruntung bagi saya, Cabang Syariah Surabaya saat itu masih dipimpin oleh Branch Manager yang level-nya menurut saya sudah level dewa. The best-lah kalau teman-teman di Surabaya bilang. Bahkan seluruh Indonesia pun mengakuinya. Karena itulah, interaksi saya dengan beliau pun tidak lama, beliau harus promosi ke Jakarta menjadi salah satu pemimpin divisi, General Manajer (GM). Nah, kembali lagi ke urusan pekerjaan, saya benar-benar diajarkan memulai segalanya dari hal yang paling mudah dan simple. Bekerja dengan suasana yang santai tapi memiliki pencapaian yang luar biasa. Setengah mati saya mempersiapkan diri untuk presentase di Jakarta membawa salah satu advis pembiayaan produktif yang ada di Surabaya. Dan karena saya tidak menemukan advis yang bisa saya kerjakan sendiri saat di Surabaya, akhirnya saya hanya mempelajari advis Muhammadiyah senilai + Rp 5 Milyar milik salah seorang senior disana.

Allahu Akbar! Perjuangan di ranah profesi ini sungguh sangat menantang teman. Maka ketika tantangannya sudah teramat berat, rehat yang saya lakukan hanyalah blogging. Memposting banyak hal yang saya temui di Surabaya. Memprovokasi teman-teman di ODP untuk juga membuat blog dan menghidupkan kembali blognya yang telah lama mati suri. Chat dengan teman-teman di kampus dan SMA dulu ketika melihat mereka online di YM (saat itu YM sedang jaya-jayanya tuh, hehehe). Bahkan terkadang, ketika menurut saya chat-nya menarik, saya posting saja di blog untuk berbagi hikmah dan refreshing. Yah, saat itu FLP memang kian terlupa, di Surabaya saya tidak sempat bersua dengan FLP Surabaya. Tapi sepertinya Allah telah menyiapkan rencana lain antara saya dengan FLP di kota lain. Kota itu adalah berada di ujung selatan Pulau Kalimantan, Banjarmasin.

FLP Banjarmasin : Would you marry me?
Dan inilah interaksi paling mengesankan dengan FLP. Interaksi yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak pikiran saya. Membayangkannya saja tidak. Tapi inilah menariknya hidup. Selalu ada rangkaian makna yang saling terhubung satu sama lain. Tugas kita hanyalah menyambungkan makna dalam sebuah kata, lalu menjadi paragraf. Kemudian paragraf tersebut menjadi sebuah tulisan yang sempurna. Di dalamnya terdapat hikmah dan kebaikan untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam konteks ini, FLP Jogja menyebutnya dengan “Menggapai Takwa dengan Tinta”.

Yah, semuanya memang berawal dari FLP Jogja. Pertemuan saya hampir sepuluh tahun yang lalu ternyata menjadi kata pertamanya. Awalnya memang huruf-huruf dalam kata itu memang tidak tersusun sempurna. Tidak memiliki arti dan makna. Untuk kemudian Allah memberikan saya kesempatan merangkai huruf tersebut menjadi sebuah kata yang singkat, padat, jelas dan teramat sederhana. Hanya terdiri dari tiga huruf konsonan. Mati. Tapi sejatinya huruf-huruf telah menghidupkan semangat banyak orang ketika terangkai dengan sempurna. Dan Alhamdulillah, Allah memperkenankan saya untuk menyusunnya dengan tepat menjadi F-L-P alias Forum Lingkar Pena.

Penyair besar Indonesia, Taufik Ismail bahkan menyebut bahwa FLP adalah anugerah untuk Indonesia. Bagi saya sendiri, FLP adalah forum tempat saya belajar dua hal penting dalam hidup saya. Menulis dan berdakwah. Menuliskan banyak hal tentang dakwah. Juga mendakwahkan banyak hal lewat tulisan. Bukankah terlalu banyak hikmah yang teramat sayang untuk tidak diceritakan (melalui tulisan).

My Book : Dua Antalogi Cerpen (keroyokan)

My Book : Dua Antalogi Cerpen (keroyokan)

Jikalau saya nanti sudah tiada, semoga tulisan-tulisan saya yang pernah ada bisa menjadi amal jariah. Karena tulisan itu tidak akan pernah mati bukan, meskipun penulisnya sudah lama tiada.

Kembali lagi ke FLP Banjarmasin. Sebenarnya saya sekalipun tidak mencari tahu apakah di Banjarmasin juga ada FLP atau tidak. Pekerjaan di kantor saja sudah sangat menyita waktu, energi dan pikiran. Belum lagi urusan tentang rusuk kiri yang saat itu mengambil porsi besar di awal-awal kepindahan saya ke Banjarmasin. Manalah sempat saya mencari yang namanya FLP di kota yang baru pertama kalinya saya singgahi. Apalagi saat itu saya tidak memiliki kendaraan bermotor sehingga mobilitas juga sangatlah terbatas. Tapi mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Ternyata salah seorang teman pengajian saya, Pak Haris namanya, beliau adalah salah satu pengurus FLP Wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel). Istrinya sendiri ternyata adalah ketuanya. Ya Allah, mungkin inilah jalannya. Mungkin inilah rencana lain yang telah Allah persiapkan.

Setelah mengetahui bahwa saya juga dulu sempat ikut FLP Jogja. Pak Haris yang juga ternyata senior saya di UGM (beliau ternyata lulusan Fakultas Geografi angkatan 1999) mengajak saya untuk ikut acara FLP. Saya lupa waktu itu apa acaranya. Kalau tidak salah launching buku antalogi cerpen FLP Kalsel. Turut hadir juga Ketua Umum yang dulu pernah singgah di Jakarta, Mb Izzatul Jannah. Acaranya Sabtu dan Minggu. Dan karena saya masih minjam motor kantor, saya hanya bisa berhadir di hari Sabtunya saja. Itu pun hanya beberapa jam. Nah, beberapa jam inilah yang sepertinya membuat FLP Banjarmasin jatuh cinta dengan saya, untuk kemudian di cerita selanjutnya berkata, “Would you marry me?”

FLP Banjarmasin : Bukan Sekedar Amanah
Mengapa akhirnya saya berani berkata bahwa FLP Banjarmasin melamar saya? Kali ini kondisi antara FLP dan saya sudah sangat jauh berbeda. Dulu sewaktu di Jogja, FLP adalah kemapanan. Telah memiliki Rumah Cahaya. Untuk menjadi bagian didalamnya saja saya harus melamar sampai dua kali. Pun orang-orang didalamnya. Mereka bukan hanya para penulis yang produktif. Bukan hanya organisatoris yang unggul. Mereka semua adalah para pejuang pena yang ingin menggapai takwa dengan tinta. Kehadiran mereka dan nama besar FLP Jogja telah membuat saya ibarat remahan rengginang dalam sebuah toples Khong Guan.

Sedangkan FLP Banjarmasin ketika itu bahkan sedang ditinggal sang ketua. Tidak memiliki Rumah Cahaya. Dan masih berumur Jagung. Beruntungnya, pengurus lain yang kebanyakan masih berstatus mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) masih memiliki semangat juang yang tinggi. Saya merasakan semangat itu ketika pertama kali bersua di Sabilal Muhtadin saat Open Recruitment anggota baru. Mereka hanya butuh arahan dari seorang yang dituakan. Jadi mungkin ini maksud dari Pak Haris meminta saya untuk ikut aktif di FLP Banjarmasin. Jebakan betmen jilid dua sepertinya sudah menanti saya. Hanya tinggal menunggu waktu saja kapan amanah itu akan bergulir ke saya.

Membersamai FLP Banjarmasin dengan segala kelebihan dan kekurangannya akhirnya menjadi salah satu agenda wajib saya setiap Sabtu atau Ahad. Sebagai anggota baru dengan status Free Transfer dari FLP Jogja, saya tahu diri dengan berusaha semaksimal mungkin membantu FLP Banjarmasin di setiap acaranya. Hingga akhirnya waktu itu pun tiba. Ketika akhirnya Pak Haris meminta saya untuk hadir di hari Ahad yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Masih bertempat di lokasi yang sama, Masjid Sabilal Muhtadin.

acaraflp

Epilog
FLP Banjarmasin sejak awal tahun 2012 hingga awal tahun 2014 sungguh mewarnai hidup saya. Awalnya hanya tertarik, kemudian coba-coba, hingga akhirnya kecanduan (hehehe, memangnya narkoba). Amanah itu memang tidak berjalan sempurna, tapi setiap momennya saling menyempurnakan satu sama lain. Mulai dari FK di Sabilal Muhtadin setiap Sabtu atau Ahad, rihlah pengurus dan anggota ke Pasar Apung (sayangnya saya malah tidak ikut), buka puasa bersama dan syawalan akbar (agenda utamanya tukar kado), acara Creative Comedy bersama Faber Castle, rujak party, Orientasi Anggota FLP Banjarmasin feat.Banjarbaru hingga rangkaian talkshow kepenulisan bersama Bang Andi Arsyil, Boim Lebon dan Gola Gong.

Dua tahun yang penuh perjuangan. Dengan kepengurusan yang mengalami reshuftle beberapa kali serta naik turunnya iman dan takwa, akhirnya amanah ini harus berakhir pada waktunya. Saya mengakui bahwa FLP telah banyak mengubah hidup saya. Jujur saya bukanlah penulis yang produktif, bukan juga organisatoris yang handal, apalagi pejuang pena yang tangguh. Tapi karena FLP-lah saya belajar untuk menjadi seperti itu semua. Pembelajaran tanpa akhir. Ibarat sebuah buku, cerita ini masih terus berlanjut hingga Allah memanggil saya kelak. Oleh karena itulah, saat itu saya mau menerima amanah dari FLP Banjarmasin. Mencoba membayar hutang budi atas semua kebaikan yang telah saya peroleh dari FLP (meskipun tidak akan pernah saya sanggup melunasinya). Mengharapkan ridho Allah SWT. Berharap amanah ini tercatat sebagai salah satu amal kebaikan yang mungkin saja menjadi kunci untuk membuka surga-Nya. Bukankah kita tidak pernah tahu catatan takdir yang telah Allah tuliskan untuk kita? Kita memang memiliki pena dan penghapusnya, sehingga kita bisa menambahkan dan menguranginya sesuka hati kita.

Me, My Satria & Jaket FLP Jogja ^^

Me, My Satria & Jaket FLP Jogja ^^

 

Dan saya beruntung dipertemukan Allah dengan sebuah forum dimana saya diajarkan untuk menggunakan pena dan penghapusnya dengan bijaksana. Forum itu adalah Forum Lingkar Pena.

Banjarmasin, 27 September 2016
Untuk FLP Sedunia ^_^

8 thoughts on “ME & FLP

  1. Tulisannya menarik mas :) wah mas panji produktif banget ngeblog.
    Tapi rasanya terlalu panjang untuk artikel di blog, coba dibuat beberapa bagian mas :D
    Sesekali mampir ke blog saya juga ya hehe ^^

  2. @yeni : kece opone? hahaha
    @joniganteng : dari komennya gw udah bisa nebak klo ini pasti sih reja ikhwan, wkwkwk
    @andhika : oiya dhik, biasanya ane potong2 sih jadi beberapa bagian. Tapi kali ini emang ane jadiin satu postingan (komen yang bener kayaknya punya andhika ini aja nih =)

  3. Pingback: Daftar Peserta Lomba Menulis: Aku dan FLP - FLP | Forum Lingkar PenaFLP | Forum Lingkar Pena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s