OBITUARI : UNTUK BABU, THE BEST GRANDMOTHER I EVER HAD

إنا لله وإنا إليه راجعون

Pagi ini mamah menelpon saya. Mengabarkan sebuah berita duka. Nenek saya, telah tiada. Allah memanggilnya.

Babu, begitu kami semua memanggilnya. Beliau adalah nenek yang baik. Sangat baik bahkan. Sabar, sangat sabar bahkan. Satu hal yang paling saya ingat dari beliau adalah nasehatnya untuk selalu berdzikir saat di perjalanan. Ketika berpamitan ingin meninggalkan beliau, Babu selalu berpesan tentang dzikrullah.

img-20161010-wa0056
Saya memang jarang sekali bertemu dengan beliau. Minimal setahun sekali pada saat libur lebaran. Karena itulah, pertemuan dengan beliau selalu menyenangkan hati saya. Bagi seorang cucu, bertemu dengan neneknya di kampung halaman adalah hal yang sangat menggembirakan. Kegembiraan yang sederhana. Dan bagi seorang nenek, cucu itu katanya bahkan jauh lebih disayang dibanding anak-anaknya sendiri, hehehe.

Babu, beliau Alhamdulillah dikarunai banyak anak. Mamah, Bi Yoyoh, Mang Maman, Bi Idah, Mang Yaya, Bi Emar, Bi Mamah, Bi Emah, Bi Eha dan dua kakak mamah yang sudah lama tiada. Kurang lebih sebelas bersaudara. Bersama dengan kakek saya, Babu menurut saya telah berhasil menjaga amanah sebagai orang tua yang dikarunai banyak sekali anak. Allah Akbar!

Tidak hanya anak bahkan, Babu juga memiliki banyak sekali cucu. Lebih dari dua puluh lima menurut saya. Tidak hanya itu, Babu juga telah memiliki cicit kurang lebih sepuluh, termasuk Syahdan anak saya. Dan saya sangat yakin, dengan kebaikan yang telah Babu tanam selama hidupnya, anak-cucu-cicitnya akan selalu mendoakan beliau. Babu insyaallah tinggal menyemai pahalanya di akhirat kelak.

Saya dulu sering mendengar cerita dari mamah, betapa sulitnya dulu kehidupan keluarga Babu. Dengan anak yang tidak sedikit, Babu tetap mampu menyekolahkan anak-anaknya. Babu mampu membesarkan dan merawat mereka. Menjadikan seluruh anak-anaknya menjadi orang-orang yang hebat dan mandiri seperti sekarang ini. Saat mamah bercerita tentang Babu, saya dapat membayangkan ketika keluarga Babu ikut transmigrasi ke Bengkulu. Membuka hutan. Bercocok tanam. Sampai melahirkan Bi Emar di Bengkulu sana. Hanya setahun katanya Babu dan keluarga bertahan, hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke pulau Jawa.

Mamah juga pernah bercerita saat babu berjualan gado-gado bersama kakek di Jakarta, saat mamah juga diminta untuk ikut membantu Babu berjualan di kampung Maleber sana. Hingga saat babu berkesempatan naik haji bersama mamah dan almarhum bapak. Selalu menyenangkan saat mendengarkan cerita mamah tentang Babu.

Babu, beliau juga sangat senang membaca. Buku apa saja yang ada pasti dibacanya. Beliau juga senang mengaji. Bahkan kalau di Maleber, beliau dengan senang hati shalat lima waktu di langgar, di Masjid Hikmatul Islam, hingga menghadiri pengajian disana. Beliau juga sangat senang bersedekah untuk anak-anak yatim dan orang yang tidak mampu disana. Di penghujung hidupnya (bahkan mungkin sepanjang hidupnya), beliau sangat menikmati beribadah kepada-Mu Ya Allah. Puasa sunnah senin-kamis, shalat tahajud, berdzikir sepanjang waktu, dan amalan rahasia lain yang mungkin hanya Engkau yang tahu. Seperti sudah sangat siap untuk menghadap dan bertemu dengan-Mu. Hamba terkadang malu saat menyaksikan itu semua. Ketika sangat disibukkan dengan urusan dunia, bertemu dan ngobrol dengan Babu seperti menjadi nasehat tersendiri buat saya agar jangan pernah melupakan urusan yang paling penting, urusan akhirat.

Babu, saya terakhir bertemu dengannya saat libur lebaran kemarin. Alhamdulillah Allah masih memperkenankan saya dan anak-istri untuk dapat silaturahim ke tempatnya, di Desa Maleber, Kuningan, Jawa Barat. Yah, disanalah saya dilahirkan oleh mamah. Karena itulah, saya merasa sangat dekat dengan Babu yang tinggal di sana. Inilah tanah kelahiran saya. Tempat saya dilahirkan. Tempat dimana saya pertama kali mengenal Allah melalui suara Adzan yang dikumandangkan pada saat kelahiran saya. Tempat dimana saya melalui masa kecil yang sangat menyenangkan pada saat mudik lebaran. Pulang kampung. Bermain ke sawah. Jalan-jalan seputaran desa. Jajan di pasar. Bertemu dengan sepupu-sepupu dan teman-teman-teman di kampung. Menghabiskan waktu. Ya Allah, masa kecil yang sangat menyenangkan dan menggembirakan di Maleber, tempat dimana Babu tinggal.

Babu, aa Panji minta maaf belum bisa membesuk babu saat sakit di Jakarta. Saat akhirnya dibawa ke Bandung pun aa belum sempat kesana. Seperti dulu kakek tiada, aa kehilangan Babu hanya melalui kabar berita, seperti dulu aa juga kehilangan Fajar dan Bapak. Maafin aa yah ‘Bu…

Nasehat babu akan selalu akan kenang. Dzikir selalu, ingat Allah selalu. Saat di jalan atau dimanapun aa berada. Ya Allah, mungkin inilah waktunya. Setelah Engkau menghapuskan seluruh dosa-dosanya dengan sakitnya. Engkau memanggilnya. Aa bersaksi, Babu adalah orang yang baik, Babu adalah nenek terbaik yang pernah aa miliki. Babu telah menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya. Menjadi istri terbaik buat kakek. Dan paling utama, Babu selalu ingat kepada-Mu Ya Allah, Babu sangat mencintai-Mu. Babu telah mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan-Mu, khusnul khotimah…

اللهم اغفر لها وارحمها وعافيها واعف عنها

Ya Allah, maka lapangkanlah kuburnya, terangilah kuburnya, hapuslah seluruh dosanya. Semoga kelak Engkau mempertemukan beliau dengan kakek hamba, dengan almarhum ayah dan adik hamba, dengan dua anaknya yang telah lama tiada, dengan kedua orang tuanya, dengan Rasul-Mu, Nabi Muhammad SAW, dan dengan seluruh orang-orang yang saling mencintai karena-Mu Ya Allah, di Jannah Firdaus-Mu. Aamiin…

Banjarmasin, 27 Oktober 2016
Untuk Babu yang aa Panji sayangi dan cintai karena Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s