OBITUARI : UDA DOLES

Jogja medio Agustus 2004. Saat itu gw kembali berkesempatan kembali mengunjungi kota Jogja. Bukan sekedar untuk jalan-jalan. Tapi lebih dari itu. Bersama Reza Ikhwan, Barnard Wiraharja dan Satrio Dwi Cahyo yang merupakan calon mahasiswa FE UGM, gw tuk kali pertama ke Jogja dengan kereta Senja Utama Jakarta-Jogja. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan, tidak terlupakan. Berangkat sekitar ba’da Maghrib dari Stasiun Jatinegara untuk kemudian tiba di Stasiun Tugu Jogja sekitar jam 6-an pagi. Dan disinilah kisah gw bermulai, sebelum akhirnya kami melanjutkan daftar ulang mahasiswa baru di Grha Sabha Pramana (GSP), kami singgah sejenak ke rumah kontrakan ikhwah paling legendaris saat itu, Ar Ruhul Jadid (RJ) yang dipimpin langsung oleh Akhina Septa Dolesri atau lebih dikenal dengan panggilan Uda Doles.

Yah, Uda Doles. Inilah pertemuan pertama kali gw dengan beliau. Uda Doles bersama teman-temannya di RJ mayoritas adalah alumni SMA 2 Payakumbuh. Nah, Reza Ikhwan sendiri ternyata punya kakak yang bernama Hendra Ikhwan yang kenal dekat dengan Uda Doles dan teman2nya. Karena itulah, kami yang notabene alumni SMA 14 Jakarta menjadikan RJ sebagai sekutu pertama kami di Jogja. Thanks a lot Uda Doles.

Di RJ sana gw juga ketemu dengan Uda Angga, Uda Uul, Uda Riki, Uda Dendi, Uda Ronal dan juga Abud-alumni SMA 13 Jakarta yang jadi anomali karena tidak bergelar Uda. Hehehe. Kesan pertama gw bertemu dengan ikhwah dari tanah Minang ini sangat luar biasa. Kami seperti sahabat Muhajarin yang disambut dengan penuh kehangatan oleh sahabat Anshar. Bedanya, Uda Doles dan teman2 bukanlah warga asli Jogja, namun mereka dengan ringan hati dan gembira melayani kami, menjadikan kami seperti adik yang dibantu dengan hati riang dan tanpa beban sama sekali. Uda Doles, gw sempat bertanya2 dalam hati saat itu, gw sebenarnya kuliah di Jogja apa di Padang yah? Karena percakapan yang pertama kali familier saat pertama gw tiba di Jogja tidaklah menggunakan bahasa Jawa, melainkan bahasa Minang, “Onde mande”.

Uda Doles. Perkenalan pertama gw dengan beliau melalui RJ akhirnya menginspirasi kami dari alumni SMA 14 Jakarta untuk memberi nama rumah kontrakan yang kami diami kemudian. Bersama personil SMA 14 lainnya seperti M.Hasanudin (Psikologi), Bowo Oetomo (HI), Yudha Endriandi (Teknik Kimia) dan (lagi-lagi) Abud yang kembali menjadi anomali karena tidak berasal dari SMA 14, kami akhirnya menyepakati untuk menamakan kontrakan kami dengan Muslim Top Appartment atau lebih familier dikenal dengan MTop.

Uda Doles, lepas dari pertemuan itu, dan setelah gw resmi menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian, sedikit demi sedikit gw jadi tahu klo Uda Doles adalah salah satu aktivis dakwah kampus di Fakultas Kehutanan (secara Fakultas Pertanian belum punya Mushola sendiri, jadinya sering numpang di Kehutanan deh).

Ketika akhirnya perguliran amanah itu terjadi, gw akhirnya berkesempatan untuk berada dalam satu forum dengan Uda Doles. Bersama dengan rekan-rekan fakultas agrokompleks lainnya, gw mewakili Fakultas Pertanian untuk berkoordinasi setiap minggu dengan beliau. Yah, beliau menjadi koordinatornya. Dan Mushola Pasca akhirnya menjadi lokasi ketiga gw sering berinteraksi dengan beliau setelah RJ dan Masjid Fakultas Kehutanan.

Dari sana gw semakin takjub dengan Uda yang satu ini. Kafaah diniyah-nya luar biasa. Benar-benar mewakili orang Minang yang kental dengan Islamnya. Semangat beliau dalam membina tidak perlu dipertanyakan kembali. Gw menjadi saksi bagaimana beliau membentuk kader-kader baru, yah, bener-bener kader dakwah baru di Fakultas Kehutanan. Di angkatan 2004, gw mengenal M.Robby Qowi (Ketua BEM Fakultas Kehutanan), Cak Syamsi (Ketua DPM-nya), Imam (Ketua Forestry Study Club), Grandis, Eko Prasetyo dan masih banyak lagi. Mereka semua menjadi saksi atas segala amal kebaikan Uda Doles di Fakultas Kehutanan.

Kemudian di penghujung masa kuliah gw, Uda Doles menyempurnakan amalannya di kampus dengan menjadi Mas’ul UGM. Beliau menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan dakwah di kampus UGM. Bukan amanah sembarangan teman. Dan bukan orang sembarangan yang dapat mengemban amanah itu. Amanah yang kelak dimintakan pertanggungjawabannya kelak di Yaumul Akhir. Uda Doles, the choosen one, menurut gw berhasil menjalankan amanah tersebut dengan sempurna untuk kemudian dilanjutkan ke Abe dan temen-temen seangkatan gw yang lebih dikenal dengan Laskar 2009 (Inspired by Laskar Pelangi).

Uda Doles, semenjak itu gw jarang berinteraksi lagi dengan beliau. Di penghujung 2009, gw meninggalkan kampus, meninggalkan Jogja. Selentingan terdengar kabar bahwa Uda Doles akhirnya menjadi PNS di Padang sana. Kemudian berkesempatan untuk melanjutkan S2 di Fakultas Kehutanan UGM. I’m so happy to hear that. Benar-benar kabar yang menyenangkan. Apalagi beliau juga telah menggenapkan dien dan dikaruniai dua orang anak. Allahu Akbar! I feel glad when you’re glad Uda.

Hingga akhirnya, Allah kembali menyapa Uda Doles dengan ujian terbaiknya. Beliau klo tidak salah divonis dokter ALS. Gw kurang tahu ALS itu apa. Tapi ujian ini berlangsung cukup lama. Ya Allah, pasti ada hikmah terindah yang sedang Engkau siapkan untuk Uda Doles. Beberapa kali gw mendengar kabar Uda Doles terapi di Jakarta, Surabaya hingga Solo. Dan gw hanya bisa membantu lewat doa dari Banjarmasin sana. Uda Doles, seperti dulu Uda Angga berhasil melewati ujian yang kurang lebih sama, gw yakin beliau pasti bisa melaluinya.

1 November 2016. Allah SWT akhirnya memanggil beliau. Satu hal yang gw sesali, kenapa pas kemaren sempet ke Jogja malah enggak silaturahim ke tempat Uda Doles. Sama saat dulu pas di Jakarta enggak sempet besuk Almarhum Reza Perdana.

Ya Allah, kami semua menyayangi Uda Doles, tapi bukankah Engkau jauh lebih menyayangi beliau dan jauh lebih berhak. Ya Allah, kami semua menjadi saksi atas segala kebaikan beliau, teman-teman gw di MTop, teman-teman gw di Fakultas Kehutanan UGM, teman-teman gw di Laskar 2009, dan semua teman-teman yang pernah mengenal Uda insyaallah menjadi saksi bahwa Uda Doles adalah orang yang baik, sangat-sangat baik bahkan.

taken-from-twitter-hanief-cahya

Maka lapangkanlah kubur beliau, terangilah kuburnya, semoga Allah memberi Jannah Firdaus-Nya. Semoga istri dan anak-anaknya diberikan kesabaran dan ketabahan. Ya Allah, semoga kelak Engkau mempertemukan hamba dengan beliau di Surga-Mu kelak. Aamiin.

Banjarmasin, 4 November 2016

Untuk Uda Doles, we love u ‘coz Allah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s