#DiaryBanker4 : Ramadhan Front Loading

Pertengahan tahun adalah salah satu momen dimana kinerja kita akan dinilai oleh KP. Istilah keren yang sudah dipopulerkan beberapa tahun sebelumnya adalah Target Front Loading. Nah, untuk Target Front Loading tahun ini menurut gw sih cukup berat. Kita harus bisa achieve 75% dari target akhir tahun pada saat akhir Juni nanti. Hmm, entah bagaimana caranya, gw masih belum dapat ide untuk bisa mewujudkan itu semua, setidaknya sampai pertengahan bulan Juni.

Alhamdulillah-nya, ramadhan tahun ini berlangsung di pertengahan tahun. Jadi spirit ramadhan juga menjadi spirit kami tuk bisa achieve Target Front Loading. Sebenarnya klo run off kita gak tinggi-tinggi amet, gw masih yakin tuk bisa dapet outstanding 75% di pertengahan tahun. Tapi karena portopel pembiayaan kita yang memang kurang sehat karena didominasi oleh satu CIF yang jangka waktunya hanya setahun, maka konsekuensi run off itu harus kita jalani dengan hati lapang dan galau, hehehe.

taken from google

picture taken from google

Gw masih inget betul saat itu sekitar pertengahan bulan. Gw dan analis gw, sebut aja SS-bukan nama sebenarnya, mendengar ada wacana pembiayaan dengan nominal relatif besar akan diajukan oleh nasabah prospekan kita. Wacana yang membangkitkan semangat gw lagi tuk bisa achieve Target Front Loading. Maka sejak mendengar wacana itu, setiap harinya selepas Ashar, unit SME yang beranggotakan gw selaku (Pjs) SFH, dua orang analis ti Sunda yaitu SS dan IF serta Asisten WUS yang asli urang Banjar yaitu AR, selalu mengadakan rapat terbatas untuk dapat meng-closing pembiayaan tersebut. Menjadikannya tidak sekedar wacana, tapi juga realita!

Ternyata memang pusing memikirkannya kalau hanya terbatas di unit SME. Saat itu kami memang bersepakat untuk belum menyampaikan wacana ini ke pak bos. Tapi akhirnya malah pak bos jadi tahu dari kantor pusat. Pelajaran pertama, jangan sampai pak bos tahu dari orang lain. Beliau selaku pimpinan tertinggi harus tahu langsung dari kita. Diskusi pun menjadi semakin alot. Apalagi nasabah prospekan kita juga ternyata menjadi nasabah prospekan cabang lain, sebut saja cabang XYZ. Makin pusinglah kita dibuatnya. Dan salahnya kami lagi, kami hanya memikirkannya terbatas di unit SME saja, belum melibatkan pak bos. Padahal gw dulu pernah dinasehati bahwa kalau kita sudah mentok mikir, kita lapor aja sama atasan kita. Tapi saat itu sepertinya gw lupa nasehat tersebut. Jadilah pusingnya makin memusing. Untungnya saat itu Ramadhan, jadi pusing dan lelahnya kita mencari nafkah untuk keluarga Insya Allah akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Aamiin.

Hingga akhirnya pada suatu sore, unit SME berhasil menemukan simulasi formula yang teramat jitu. Solusi yang nampak sangat sempurna. Hanya tinggal di-clear-kan ke dua pihak. Satu nasabahnya, dan kedua adalah pak bos. Dan pagi harinya kami langsung bergerilya untuk closing dengan nasabah atas solusi ini. Alhamdulillah-nya, Allah mudahkan urusan yang satu ini. Nasabah tidak ada masalah, mereka bersedia saja membantu kami. Alhamdulillah. Berarti tinggal satu pihak lagi, pak bos. Nah, inilah pelajaran paling berharga dari kisah Ramadhan Front Loading ini. Komunikasi dengan pak bos haruslah intens, transparan dan komunikatif. Sebenarnya pak bos oke aja udah, bahkan beliau sudah tanda tangan. Tapi kesalahan terbesar kita adalah, kita belum meng-clear-kan latar belakang, analisa dan tujuan dari semua solusi ini. Dan ketika beliau tahu itu semua setelah beliau tanda tangan, beliau merasa ada yang ditutup-tutupi, mengapa untuk case sebesar dan segenting ini beliau tidak dilibatkan sama sekali. Tepat sebelum Dzuhur, gw dan SS pun dipanggil, pesan pak bos singkat :

“Dibatalin aja ‘Ji”…

Allahu Akbar!!!

Gw dan SS saat itu langsung lemes seketika. Bayang-bayang kemenangan yang di depan mata pun sirna dalam sekejap mata. Saat itu akhir Juni. Saat itu, kehidupan gw seperti akan berakhir. Gw udah membuat sebuah kesalahan besar, fatal. Ramadhan Front Loading is over! Game over!!

Lalu gw dan SS mencoba untuk berdiskusi, menjelaskan. Ini semua hanya salah paham. Gak mungkin kita tidak menjelaskan semuanya ke pak bos. Apalagi masalah ini sangat pelik dan krusial. Semuanya hanya masalah waktu, kita belum sempat menjelaskan ke pak bos. Beliau tetap diam. Gw makin lemes dan pusing, klo boleh batal puasa, mungkin saat itu gw pengen batal dah. Hiks-hiks-hiks. Sedih banget gw waktu itu. Gw lihat SS pun kurang lebih sama aja. Dia juga udah speechless dan hopeless. Mungkin karena prihatin ngelihat gw dan SS yang udah ngenes banget tampangnya, beliau mencoba untuk memikirkannya kembali. Alhamdulillah. Gw dan SS pun langsung keluar ruangan setelah mendengar statement tersebut. Dan setelahnya tinggal pasrah. Berdoa kepada Allah SWT, semoga diberikan yang terbaik, apapun keputusan pak bos nanti.

Waktu menunggu itu pun berjalan sangat lambat. Sangat menegangkan. Sangat mendebarkan. Kurang lebih sama saat gw menunggu jawaban dari calon adik ipar, apakah kakaknya bersedia ta’aruf sama gw atau enggak, eh-CURCOL. Yah, apapun jawaban dari pak bos nanti, gw tetap berencana untuk silaturahim ke rumahnya nanti malam, selepas taraweh. Skaligus pamitan akan cuti lebaran keesokan harinya. Fuih…

And you know what? Ternyata Allah masih berbaik hati sama gw dan SS. Allah masih pengen bantuin temen-temen Unit SME. Sore harinya, sesaat sebelum pak bos masuk ruangannya, beliau berkata pelan ke gw :

 “Yang tadi udah dibuku aja”.

 Alhamdulillah. Allahu Akbar!! Saat itu gw langung plong. Nyes banget ngedengernya. Kayak dapat bonus berlipat-lipat. Subhanallah. Dan langsung aja gw minta SS untuk segera berkoordinasi dengan Unit Operasional. Segera dibuku sebelum pak bos kembali berubah pikiran, hehehe. Pelajaran kedua, yang namanya eksekusi harus cepat, tepat dan cermat. Subhanallah, gw gak bakal bisa melupakan hari kamis di akhir Juni 2016. Begitu bersejarah!

Malamnya, sesuai komitmen awal, gw pun silaturahim ke rumahnya pak bos bareng SS. Selepas taraweh, gw pamit sama anak-istri, tak lupa buah tangan sebuah baju dagangan istri telah dibungkus rapih buat hadiah saat kunjungan nanti. Sesampainya disana, untung pak bos belum istirahat. Walau sebenarnya gak nyunnah sih silaturahim di malam hari. Tapi karena keterbatasan waktu, mau gak mau silaturahim ini tetep jadi. Now or never.

Pak bos sebenarnya enak-enak aja diajak ngobrol. Sesekali bahkan beliau suka ngelucu. Cerita tentang pengalaman saat di Jogja, Kudus, Solo, Bogor hingga Cirebon. Tentang keluarganya. Dan banyak hal lainnya. Kita sama sekali tidak membahas insiden di kantor tadi. Sedikit pun tidak disinggungnya. Gw sendiri akhirnya juga keep silent aja tentang insiden tadi, begitu juga SS. Hingga akhirnya waktu sudah cukup malam, gw dan SS pun pamitan. Gw pribadi sekalian pamitan cuti. Sekalian minjem mobil dan pilotnya buat nganter ke bandara besok ba’da Subuh. Tidak lupa menyerahkan buah tangan ala kadarnya. Terakhir, minta maaf atas insiden di kantor tadi. Jawaban pak bos ternyata simple.

“Itu cuma masalah komunikasi aja.”

Pelajaran ketiga, skill of communication. Kita harus mengetahui siapa lawan bicara kita. Pahami latar belakang dan karakternya. Tentukan goal yang ingin dicapai. Apa saja yang wajib dan tidak perlu disampaikan. Kapan waktunya kita menjadi pendengar. Kapan waktunya kita berbicara. Semuanya tidak bisa sembarangan. Ada ilmunya. Ada seninya. Dan seiring berjalannya waktu, Insya Allah kita akan mahir dengan sendirinya. Agar lisan yang terucap itu tidak hanya menyampaikan kebenaran, namun juga dengan cara yang benar. Wallahu’alam.

Banjarmasin, 29 Desember 2016

Baru sempat ter-posting enam bulan setelahnya…

2 thoughts on “#DiaryBanker4 : Ramadhan Front Loading

  1. Subhanallah.. makasih nji.. semoga bermanfaat buat gw dan team SME di cabang ABC kedepannya.. hehehe… * kalo gw in sya Allah masih ditempatkan cabang ini.. 😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s